Perayaan Ekaristi Bersama Anak


misa2

Pembuka

Gereja hidup dari liturgi. Melalui liturgilah karya keselamatan Allah yang berpuncak pada kurban Kristus di salib, dirayakan dan dilestarikan oleh Gereja. Lewat liturgi, Gereja memuliakan Allah di dalam Kristus dan menerima rahmat pengudusan sebagai daya kekuatan untuk hidup. Di antara perayaan liturgi Gereja, Ekaristi merupakan perayaan yang paling istimewa. Sebab, di dalam Ekaristi, Yesus Kristus sendiri hadir secara nyata dalam rupa Korban Ekaristi.

Dalam perayaan Ekaristi itulah karya penebusan umat beriman terlaksana secara penuh. Karena itu, para Bapa Konsil tidak ragu menyebut bahwa Ekaristi merupakan “sumber dan puncak seluruh hidup kristiani” (LG 11). Ekaristi disebut “sumber” sebab darinyalah mengalir rahmat/berkat Allah pada diri umat beriman. Ia disebut “puncak” sebab dalam Ekaristilah seluruh umat beriman yang terhimpun dalam Gereja mempersembahkan segenap suka-duka hidup kesehariannya.

Berpijak dari diskursus tersebut, maka tak ayal, Misa sekolah menjadi satu momentum iman yang bernas bagi siswa didik. Dengan mengikuti Misa sekolah, siswa didik dihantar untuk mencecap pengalaman iman akan kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Pengalaman iman merupakan tahapan lanjut dari pengenalan iman. Pengenalan iman Kristiani lewat pengajaran atau pembelajaran teoritis, entah di ruang kelas atau di tengah keluarga, menemukan bentuknya yang nyata lewat pengalaman iman Gerejani, khususnya Ekaristi. Dengan mengalami Ekaristi, siswa didik diajak untuk mendengar, melihat, dan merasakan secara konkret kekayaan misteri iman yang dihadirkan dalam kurban Ekaristi.

Bahasan tentang Misa sekolah menjadi poin menarik manakala Misa diselenggarakan untuk siswa Sekolah Dasar (SD). Siswa SD merentang dari usia tujuh sampai dua belas tahun. Secara psikologis, pemahaman mereka akan kedalaman misteri iman dalam Ekaristi jelas tidaklah bisa dituntut seperti orang dewasa, yang mampu menggunakan akal budi dan penghayatan iman secara penuh.

Menimbang persoalan tersebut, pertanyaan yang kemudian muncul adalah seberapa mendesaknya memasukkan anak-anak dalam pengalaman akan Ekaristi? Jangan-jangan mereka hanya akan menjadi penonton saja dalam perayaan Ekaristi! Seberapa penting sekolah berkewajiban menghantar anak pada misteri iman dalam Ekaristi? Yang tak kalah penting, Ekaristi model bagaimana yang pas untuk anak-anak? Bagaimana konkritnya menghantar anak-anak untuk sadar-aktif dalam perayaan Ekaristi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut secara panoramik akan coba penulis jawab dalam tulisan ini.

 Sekolah dan Identitas Katolik

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, term “sekolah” didefinisikan sebagai “bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran (menurut tingkatannya).” Dari definisi tersebut, termaktub dua pengertian dasar tentang sekolah. Pertama, sekolah mendapat wujudnya dalam ruang lingkup yang konkret; ada lokasi dan bangunan fisik tempat proses belajar-mengajar berlangsung. Kedua, di dalam sekolah terdapat dua subjek yang saling berinteraksi; guru sebagai pengajar dan murid sebagai yang belajar. Ruang lingkup yang konkret serta interaksi dua subjek sekolah (guru-murid) menjadikan sekolah sebagai komunitas sosial yang hidup.

Sebagai komunitas sosial yang hidup, sekolah tak hanya berhenti pada proses transfer ilmu dari guru ke murid, melainkan juga menemukan maknanya yang terdalam pada proses pendidikan. Dalam kerangka pendidikan, sekolah menjadi tempat untuk “menumbuhkan kemampuan memberi penilaian yang cermat, memperkenalkan harta warisan budaya yang telah dihimpun oleh generasi-generasi masa silam, meningkatkan kesadaran akan tata nilai, menyiapkan siswa untuk mengelola kejujuran tertentu, memupuk kerukunan-persahabatan antara para siswa yang beraneka watak-perangai maupun kondisi hidupnya, dan mengembangkan sikap saling memahami” (GE 5).

Pendeknya, sekolah merupakan kawah candradimuka bagi seseorang untuk mengubah cara berpikir, cara merasa, cara bertindak, dan cara besikap, sebagai bekal hidup dalam masyarakat. Sebab, tujuan pendidikan yang sesungguhnya adalah pembinan pribadi manusia demi kesejahteraan masyarakat (bdk. GE 1).

Sementara itu, tanggung jawab pendidikan yang khas diemban oleh sekolah Katolik. Identitas “Katolik” membawa konsekuensi yang serius dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Identitas tersebut membuat sekolah Katolik (dituntun untuk) berbeda dengan sekolah pada umumnya. Pertanyaan yang bisa diajukan di sini adalah, ciri khas apa yang membedakan sekolah Katolik dengan sekolah pada umumnya?

Mengutip uraian Bapa Konsili, yang menjadi ciri khas sekolah Katolik adalah “menciptakan lingkungan hidup bersama sekolah, yang dijiwai oleh semangat Injil kebebasan dan cinta kasih, dan membantu kaum muda, supaya dalam mengembangkan kepribadian mereka sekaligus berkembang sebagai ciptaan baru” (GE 8). Nilai-nilai Injil, dengan demikian, menjadi titik tolak dalam pendidikan di sekolah Katolik. Nilai-nilai Injil tersebut kiranya tak sebatas diwartakan secara teoritis, tapi sungguh mengakar dalam kepribadian siswa didik.

Lebih lanjut, Bapa Konsili juga menandaskan bahwa “termasuk ciri sekolah katolik pula, mengarahkan seluruh kebudayaan manusia akhirnya kepada pewartaan keselamatan, sehingga pengetahuan yang secara berangsur-angsur diperoleh siswa tentang dunia, kehidupan, dan manusia disinari oleh terang iman” (GE 8). Dari sini, bisa disimpulkan bahwa perspektif iman menjadi tujuan akhir pendidikan di sekolah Katolik. Sekolah Katolik tidak hanya bertindak sebagai sumber ilmu pengetahuan, tapi juga memberi frame berpikir bagi siswa didik untuk melihat dunia, kehidupan, dan manusia dalam perspektif iman akan Kristus.

Dari uraian di atas, tepatlah yang ditandaskan oleh Kongregasi Pendidikan Katolik. “Di satu sisi, sekolah Katolik merupakan institusi publik yang menyelenggarakan pendidikan seperti sekolah pada umumnya. Di sisi lain, sekolah Katolik menjadi komunitas Kristiani yang tujuan pendidikannya berakar pada Kristus dan semangat Injil.”[1]

Contoh bernas komunitas Kristiani yang ideal adalah komunitas para murid awali (jemaat perdana). Dalam Kisah Para Rasul 2:42-47, dikisahkan bagaimana jemaat perdana menghayati dan merayakan iman mereka akan Kristus. Mereka hidup dalam persekutuan cinta kasih, bertumbuh dalam iman yang mereka amini lewat pengajaran dan terutama Ekaristi (memecahkan roti dan berdoa). Ekaristi kiranya menjadi pondasi dalam tiap komunitas Kristiani. Lewat Ekaristi, Injil diwartakan dan Kristus dihadirkan. Dari sanalah hidup iman dan hidup pribadi mendapat kepenuhan maknanya.

Sadar akan kenyataan itu, Kongregasi Pendidikan Katolik pun menandaskan perlunya memasukkan siswa didik pada pengalaman akan Ekaristi. “Para siswa perlu dihantar untuk memahami dan mengamini bahwa Yesus Kristus hadir nyata dalam sakramen, dan kehadiran-Nya mengalirkan rahmat. Momen perjumpaan paling dekat dengan Yesus adalah lewat Ekaristi. Di dalam Ekaristi, dua tindakan cinta yang paling besar disatukan; Tuhan kita memperbaharui tindakan penyelamatan-Nya pada kita, dan Dia benar-benar memberkan diri-Nya untuk kita.”[2]

Ekaristi di Sekolah Katolik

Inti iman Kristiani ada dalam misteri Paskah Kristus. Misteri Paskah adalah peristiwa penyelamatan dan penebusan umat manusia lewat sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Dengan sengsara dan kematian-Nya, Kristus membebaskan kita dari dosa; dengan kebangkitan-Nya, Ia membuka pintu masuk menuju kehidupan baru – hidup dalam rahmat Allah (bdk. KGK 654). Kenangan akan misteri Paskah Kristus inilah yang dihadirkan Gereja dalam perayaan Liturgi, khususnya Ekaristi.

Lebih jauh, Ekaristi tidak hanya mengandaikan iman, tapi juga memupuk, meneguhkan, dan mengungkapkan iman secara meriah dalam kata-kata dan tindakan liturgis. Apalagi, Kristus sendirilah yang hadir menjadi Korban Misa, baik dalam pribadi imam sebagai pelayan Ekaristi, maupun terutama dalam kedua rupa Ekaristi, yakni roti dan anggur (bdk. SC 7).

Sementara itu, dalam kerangka pendidikan di sekolah Katolik, perayaan Ekaristi yang diselenggarakan sekolah memiliki nilai edukatif yang amat penting. Diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Perayaan sebagai bagian dari Gereja

Perayaan Ekaristi tidak pernah bisa dirayakan secara pribadi atau dengan sekehendak hati. Semua siswa didik yang merayakan Ekaristi berkumpul sebagai bagian dari Gereja yang Satu. Dengan merayakan Ekaristi, maka mereka dimasukkan dalam ritus Gereja yang memiliki susunan baku (Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi), simbol-simbol yang penuh makna (mendengarkan Sabda Allah, memakan Hosti suci, dst), dan aktif terlibat dalam tindakan liturgis (menjawab doa, menyanyi, membuat tanda salib, memberi salam damai, dst). Dengan demikian, Ekarsti yang dirayakan oleh siswa didik di sekolah Katolik menjadi kesempatan bagi mereka untuk ambil bagian dalam persekutuan Gereja universal.

b. Perayaan dalam Keragaman

Tak bisa dipungkiri bahwa siswa didik sekolah Katolik tak semuanya beragama Katolik. Meski jumlahnya tidak banyak, beberapa siswa ada yang beragama Islam, Budha, dan Konghucu. Mereka jelas tidak punya pengalaman personal apa pun sebelumnya dalam merayakan Ekaristi. Namun, justru hal inilah yang membuat perayaan Ekaristi di sekolah Katolik terasa istimewa. Perayaan Ekaristi dirayakan dalam keragaman agama siswa didik. Sekalipun siswa didik non-Katolik tidak diperkenankan untuk menerima kehadiran Kristus secara nyata dalam komuni suci, paling tidak mereka mendapat pengalaman rohani ketika Sabda Allah diwartakan dan dikupas.

c. Pengalaman akan Yang Sakral

Perayaan Ekaristi tak pelak menghantar siswa didik untuk mencecap pengalaman akan Yang Sakral. Pengalaman ini amat penting, terutama bagi siswa usia sekolah dasar. Ketika masuk ke dalam Gereja untuk merayakan Ekaristi, mereka tidak bisa lagi bertingkah seenaknya; lari ke sana ke mari, bermain, atau ramai berceloteh. Mereka telah masuk dalam tempat yang dikuduskan; dalam suasana yang sakral. Lewat pengalaman itu, disposisi batin siswa didik pun perlahan dibentuk menjadi pribadi religius; pribadi yang memiliki kesadaran dan penghormatan akan Yang Sakral.

Pedoman Pastoral Ekaristi Bersama Anak

Petunjuk tentang bagaimana Ekaristi dirayakan telah digariskan Gereja dalam Pedoman Umum Missale Romanum (PUMR, 1969). Meski demikian, dalam perayaan Ekaristi bersama anak, beberapa penyesuaian perlu diadakan. Sebab, kondisi psikologis anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Gereja sendiri mengakui bahwa pendidikan iman bagi anak memiliki kompleksitas tersendiri. Anak-anak belum cukup mampu untuk mengambil manfaat yang sepenuhnya dari perayaan liturgi, khususnya Ekaristi.[3] Di sisi lain, upaya untuk menuntun anak-anak pada pengalaman akan kehadiran Tuhan dalam Ekaristi menjadi sebuah keharusan.

Menimbang hal tersebut, Gereja melalui Kongregasi Ibadat Suci pun mengeluarkan pedoman-pedoman pokok tentang perayaan Ekaristi bersama anak-anak (1973). Berikut akan disarikan beberapa pedoman pastoral yang penting untuk dikaji bersama.

a. Nyanyian dan Musik[4]

Dalam misa bersama anak-anak, nyanyian harus diberi tempat yang lebih banyak. Sebab, secara psikilogis, anak-anak gemar akan nyanyian. Apalagi, bapa Konsili sendiri telah menandaskan bahwa nyanyian dan musik liturgi amatlah berguna untuk “mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, memupuk kesatuan hati, dan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak” (SC 112).

Sementara itu, supaya anak-anak lebih mudah ikut serta dalam nyanyian ordinarium (Kemuliaan, Kudus, Anak Domba), dapat digunakan lagu-lagu dengan terjemahan yang lebih cocok untuk anak-anak. Tetapi, gubahan tersebut harus memiliki imprimatur (ijin resmi Uskup).

Penggunaan alat-alat musik juga tak kalah penting, terlebih jika anak-anak sendiri yang memainkannya. Selain menjadi pengiring nyanyian atau pengisi saat hening, penggunaan alat musik mampu mengungkapkan rasa gembira dan pujian kepada Allah. Akan tetapi, harus diperhatikan agar permainan dengan alat musik mengalahkan nyanyian atau membelokkan perhatian anak dari penghayatan liturgi.

b. Perarakan[5]

Beberapa anak dapat ikut dalam perarakan Injil, supaya lebih tampak bahwa Kristus hadir untuk mewartakan Sabda-Nya kepada mereka. Kemudian, ketika persiapan persembahan, beberapa anak juga bisa bertindak sebagai pengantar piala, hosti, dan persembahan lain. Hal ini dimaksudkan agar mereka mampu mengungkapkan secara lebih nyata arti dan maksud persiapan persembahan.

c. Saat Hening[6]

Dalam misa anak-anak, harus ada saat hening sebagai bagian penting dari perayaan, misalnya sesudah komuni atau sesudah homili. Pada kesempatan itu, anak-anak perlu diberi waktu untuk menenangkan hati, mengadakan renungan singkat, atau berdoa memuji Tuhan dalam batin.

d. Pembacaan Sabda[7]

Bacaan-bacaan Kitab Suci merupakan bagian pokok Liturgi Sabda. Oleh karena itu, dalam misa bersama anak, pembacaan Kitab Suci harus selalu diadakan. Bila anak-anak terlalu sukar untuk mendengarkan tiga atau dua bacaan, dapat juga dikurangi menjadi dua atau cukup satu saja. Tetapi bacaan Injil tidak pernah boleh ditiadakan.

Dapat terjadi bahwa semua bacaan pada hari yang bersangkutan tidak cocok untuk anak-anak. Jika demikian, boleh dipilih bacaan lain yang diambil dari Buku Bacaan Misa atau langsung dari Kitab Suci, asal saja tidak bertentangan dengan tahun liturgi.

Dalam memilih bacaan, lebih penting memperhatikan isi daripada jumlah dan panjangnya bacaan. Belum tentu bacaan yang lebih singkat dengan sendirinya cocok untuk anak-anak. Dalam hal ini hendaknya diutamakan santapan rohani yang bisa diambil anak-anak dari pembacaan tersebut.

Bacaan-bacaan hendaknya diselingi dengan mazmur tanggapan atau nyanyain lain yang seirama dengan mazmur. Nyanyian tanggapan boleh diganti dengan saat hening berupa renungan. Kalau hanya diadakan satu bacaan saja, nyanyain tersebut boleh dibawakan sesudah homili.

Sementara itu, agar anak-anak mampu menangkap isi bacaan, bisa diadakan penjelasan singkat sebelum bacaan. Tujuannya untuk menggugah anak-anak untuk mendengarkan dengan penuh perhatian, menjelaskan konteks bacaan, serta menyiapkan mereka untuk menangkap intinya. Lebih jauh, dalam misa yang diadakan pada perayaan seorang Kudus, bacaan-bacaan lebih mudah dimengerti bila riwayat hidup santo/santa yang bersangkutan diceritakan secara singkat, entah sebelum bacaan, entah dalam homili. Kalau struktur bacaan mengijinkan, beberapa anak dapat memvisualisasikan isi bacaan.

e. Doa-Doa Imam[8]

Imam sebagai pemimpin Ekaristi harus dapat mengikutsertakan anak-anak dalam doa-doa yang dibawakan. Maka dari itu, hendaknya imam memilih doa-doa misa yang paling cocok untuk anak-anak, asal tidak bertentangan dengan tahun liturgi. Kadang-kadang doa yang dipilih belum cukup mengungkapkan pengalaman hidup atau penghayatan iman anak-anak. Karena itu, rumus doa dari buku misa bisa diubah dan disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak. Namun hendaknya diusahakan agar maksud dan inti doa sedikit banyak dipertahankan.

f. Komuni dan Upacara Penutup[9]

Dalam misa anak-anak, sangat berguna bila sebelum berkat penutup, imam memberikan kata penutup, sebab sebelum pulang, anak-anak masih memerlukan sekadar ulangan atau petunjuk konkret tentang cara penerapan amanat perayaan. Namun, amanat itu hendaknya singkat saja. Di sini tepat sekali bila ditunjukkan dan ditegaskan hubungan erat antara liturgi dan kehidupan sehari-hari.

Beberapa Catatan

a. Partisipasi Aktif

Perayaan Ekaristi bersama mensyaratkan adanya keterlibatan umat yang hadir. Sebab, Ekaristi bukanlah tontonan, di mana imam berperan sebagai aktor utama di altar. Ekaristi adalah perayaan iman dalam persekutuan. Maka, keterlibatan umat amatlah diperlukan. Mengutip pesan bapa Konsili, “..jangan sampai umat beriman menghadiri misteri iman itu sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa itu memahami misteri itu dengan baik, dan ikut serta penuh khidmat dan secara aktif” (SC 48).

Partisipasi aktif siswa didik dalam Misa sekolah pertama-tama diupayakan dalam peran sebagai petugas liturgi. Misalnya saja menjadi petugas lektor, pemazmur, misdinar, pembaca doa umat, pembawa persembahan, kolektan, dan koor. Dalam hal ini, guru yang bersangkutan menunjuk beberapa siswa yang memiliki kompetensi memadai untuk menjadi petugas liturgi.

Para petugas liturgi tersebut hendaknya tidak asal ditunjuk, tapi juga dipersiapkan dengan serius. Beberapa hari sebelum Misa sekolah diselenggarakan, dua-tiga kali mereka hendaknya dilatih di bawah bimbingan guru. Lebih jauh, sebelum para petugas liturgi yang telah ditunjuk menjalankan tugas dan perannya dalam perayaan Ekaristi, ada baiknya bila guru pembina mengajak mereka untuk melakukan persiapan batin. Misalnya, berdoa bersama sebelum Ekaristi dimulai. Dalam kesempatan tersebut, ada baiknya guru pembina menerangkan secara singkat dan sederhana arti tugas dan peran mereka dalam kerangka perayaan Ekaristi.

Partisipasi siswa didik selama perayaan Ekaristi berlangsung juga diupayakan lewat nyanyian. Berkaitan dengan hal ini, ada baiknya bila anak-anak diwajibkan untuk membawa buku “Puji Syukur” setiap kali ada Misa sekolah diselenggarakan. Selain mengakrabkan anak-anak pada buku nyanyian liturgi resmi Gereja Indonesia, kewajiban membawa buku “Puji Syukur” juga meminimalkan penggunaan lembar fotokopi teks lagu Misa yang seringkali terbuang percuma selepas Misa selesai. Namun, pengecualian dimungkinkan bila guru pembina menggunakan lagu-lagu lain di luar buku “Puji Syukur”.

b. Katekese Ekaristi

Liturgi Ekaristi yang dirayakan di Gereja Katolik sangat kaya akan simbol. Setiap simbol mengandung makna tersendiri. Simbol terutama, tentu saja, roti dan anggur yang melambangkan tubuh dan darah Kristus sebagai kurban Ekaristi. Selain itu, simbolisasi liturgi Ekaristi juga hadir dalam warna litugi (hijau, putih, merah, ungu), pakaian liturgi (alba, kasula, stola, singel, dalmatik, dst), perlengkapan liturgi (salib, altar, meja altar, mimbar, tabernakel, lampu Tuhan, lilin, dst), juga peralatan liturgi (wiruk, dupa, sibori, purificatorium, piala, pala, dst).

Sementara itu, ada pula bermacam-macam gerak atau sikap liturgi, seperti : berjalan, berdiri, duduk, berlutut, membungkuk, tengkurap, mencium, berjabat tangan, menebah dada, dst. Semuanya memiliki arti masing-masing. Semuanya memegang peranan untuk mengungkapkan kekayaan liturgi dan kedalaman misteri Ekaristi yang dirayakan.

Sadar akan betapa kaya simbolisasi yang (di)hadir(kan) dalam perayaan Ekaristi, maka katekese Ekaristi untuk siswa didik kiranya sangat perlu dilakukan. Untuk usia anak-anak, pokok katekese cukuplah sampai pada arti dan fungsi masing-masing simbol dalam perayaan Ekaristi. Lebih dari itu kiranya belum cukup perlu dan mendesak untuk dipahami anak, misalnya soal makna teologisnya. Yang terpenting, anak-anak tahu mengapa ada berbagai warna dalam pakaian liturgi? Apa yang mau dirayakan? Apa fungsinya mimbar? Apa gunanya altar? Mengapa harus mengambil sikap hormat pada tabernakel? Apa artinya sikap berdiri? Dst.

Selain penjelasan tentang hal-hal liturgis di atas, katekese Ekaristi juga penting untuk menggali perihal nilai-nilai manusiawi yang terdapat dalam perayaan Ekaristi. Nilai-nilai manusiawi yang dimaksud misalnya penghayatan akan kebersamaan sebagai satu umat Allah, kemampuan untuk memasang telinga baik-baik pada Sabda Tuhan, kemauan untuk meminta dan memberi ampun, pentingnya ungkapan syukur, dan lain sebagainya. Lewat katakese tersebut, harapannya anak-anak makin hari makin mampu untuk ikut serta dalam perayaan Ekaristi secara aktif dan sadar.

Sementara itu, agar tidak mengganggu proses belajar-mengajar di kelas, katekese Ekaristi bisa mengambil jam pembinaan tersendiri atau bisa juga disisipkan dalam materi pelajaran agama di ruang kelas. Lantaran subjek sasaran katekese Ekaristi ini adalah anak-anak, maka penyampaian materi katakese sedapat mungkin dikomunikasikan dengan bahasa sederhana dan menarik, sesuai dengan alam pikiran dan daya tangkap anak-anak. Berkaitan dengan hal tersebut, penggunaan media seperti gambar atau video bisa menjadi salah satu sarana yang efektif untuk menarik minat anak.

Penutup

Anak-anak merupakan subjek iman yang potensial. Menyadur gambaran nabi Yeremia, mereka ibarat tanah liat di tangan tukang periuk. Dalam kerangka iman, seberapa besar kualitas iman mereka kelak, tergantung dari bagaimana saat ini kita membentuk. Pembentukan iman yang paling berdaya adalah lewat pengalaman konkret akan misteri iman. Dalam Gereja Katolik, misteri iman itu (di)hadir(kan) dalam perayaan Ekaristi. Dengan demikian, memasukkan anak-anak dalam peristiwa Ekaristi kiranya menjadi pengalaman iman yang amat berharga bagi mereka.

Dalam kerangka itu, maka Misa sekolah yang diadakan secara rutin oleh sekolah Katolik tampil mengemuka sebagai lahan subur untuk pertumbuhan iman anak, terutama bagi siswa didiknya. Apalagi identitas “Katolik” yang melekat pada nama sekolah Katolik mengandung tanggung jawab yang tidak mudah; (nilai-nilai) iman ke-katolik-an harus meresap dalam setiap segi pendidikan, terutama merasuk dalam relung pribadi siswa didiknya.

Lain dari itu, menyelenggarakan Misa sekolah dengan mayoritas siswa didik berusia anak-anak bisa menjadi perkara tersendiri. Misa bersama anak-anak tidak bisa serta merta disamakan dengan Misa bersama umat dewasa. Kebijaksanaan pastoral perlu dicermati ketika menyelenggarakan Misa bersama anak. Beruntung bahwa Gereja Katolik tidak menutup mata terhadap persoalan tersebut. Lewat Directory for Masses with Children, Gereja Katolik memberikan garis-garis pedoman yang perlu untuk Misa bersama anak.

Dalam dokumen yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat Suci tersebut, memang ada beberapa hal pokok yang tidak bisa diubah, misalnya soal tata cara upacara liturgi atau juga soal simbolisasi liturgis. Namun, hal-hal lain menyangkut partisipasi aktif anak-anak dalam perayaan Ekaristi diberi ruang yang seluasnya. Partisipasi itu misalnya bisa diusahakan lewat porsi nyanyian yang lebih banyak, kreativitas penyampaian Sabda Allah agar lebih menarik, atau juga rumusan doa yang lebih dekat dengan dunia-pikir anak.

Akhir kata, mengikuti jejak Yesus yang “memeluk anak-anak dan memberkati mereka” (Mrk 10:16), kesempatan Misa sekolah kiranya menjadi upaya konkret untuk makin mendekatkan siswa didik di sekolah Katolik pada Yesus, Tuhan dan Sang Guru sejati.

[1] Congregation for Chatolic Education, The Religious Dimension of Education in a Chatolic School : Guidelines for Reflection and Renewal, art. 67.

[2] Ibid., art. 78.

[3] Bdk. Congregation for Divine Worship, Directory for Masses with Children, art. 2.

[4] Ibid., art. 30.

[5] Ibid., art. 34.

[6] Ibid., art. 37.

[7] Ibid., art. 41-47.

[8] Ibid., art. 51.

[9] Ibid., art. 54.

 Sumber Pustaka

_____. Katekismus Gereja Katolik, terj. Herman Embiru. Ende: Percetakan Arnoldus, 1998.

Congregation for Chatolic Education, The Religious Dimension of Education in a Chatolic School : Guidelines for Reflection and Renewal, 1988, diambil dari http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/ccatheduc/documents/rc_con_ccatheduc_doc_19880407_catholic-school_en.html (akses tanggal 31 Oktober 2015).

Congregation for Divine Worship, Directory for Masses with Children, 1973, diambil dari http://www.adoremus.org/DMC-73.html (akses tanggal 31 Oktober 2015).

Vatikan II. Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana (Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI). Jakarta: OBOR, 2002.

 

Keterangan :

GE : Gravissimum Educationis (Pernyataan tentang Pendidikan Kristen)

LG : Lumen Gentium (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja)

SC : Sacrosanctum Concilium (Konstitusi tentang Liturgi Suci)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s