Loyalitas (Belajar dari Petrus)


Loyalitas merupakan salah kata kunci untuk melihat solid tidaknya sebuah komunitas (kerja). Bila sebuah komunitas (kerja) diibaratkan sebagai sebuah rumah, maka loyalitas pribadi-pribadi yang berkecimpung di dalamnya adalah tiang-tiang penyangganya. Sekalipun ada “angin badai” yang datang menerjang, sebuah rumah yang punya tiang penyangga kokoh-kuat tidak akan bergeming karenanya.

Salah satu contoh komunitas yang solid, bahkan mampu bertumbuh-kembang melampaui beragam jaman, adalah komunitas para murid Yesus. Dalam tulisan sederhana ini, akan dipaparkan secara sekilas bagaimana salah seorang murid utama Yesus, yakni Petrus, jatuh-bangun memegang loyalitasnya di hadapan Yesus.

Petrus adalah salah satu tiang utama penyangga komunitas Gereja Perdana. Ia termasuk dalam bilangan murid pertama yang dipilih Yesus. Kisah Injil cukup banyak memuat adegan-adegan seputar Petrus. Keseharian dan lingkungan hidup Petrus sebagai seorang nelayan (sebelum mengikuti Yesus) menjadikan sosoknya sebagai pribadi yang tegas dan cenderung emosional. Meski demikian, Petrus kerap tampil mewakili para murid yang lain untuk berbicara dengan Yesus.

Loyalitas Petrus tak terbantahkan selama mengikuti perjalanan Yesus mewartakan Injil. Namun, loyalitas Petrus diuji pada saat-saat menentukan dalam hidup Yesus, yakni dalam episode sengsara Yesus. Petrus mengingkari Yesus, Guru yang dianutnya. Namun, justru dari pengalaman itulah, loyalitas Petrus terbentuk kuat. Dari cerita Kitab Suci, kemudian kita tahu bahwa Petrus tampil sebagai pewarta Injil yang mumpuni, bahkan sampai akhirnya meregang nyawa di salib.

Pengertian Awal

Secara linguistik, “loyalitas” berakar dari kata “loyal” yang artinya “patuh, setia”. Loyal merupakan kata benda. Imbuhan –itas, di belakang kata “loyal” menjadikan kata tersebut sebagai kata sifat. Maka, kata “loyalitas” bisa didefinisikan sebagai “kepatuhan, kesetiaan.”

Sebagai kata sifat, term “loyalitas”, mau tidak mau, merujuk pada pribadi seseorang. Seorang pribadi dikatakan memiliki loyalitas bila padanya ditemukan sifat-sifat yang patuh dan setia. Bagaimana sifat-sifat tersebut dapat ditemukan? Gampang sekali. Kepatuhan dan kesetiaan mengambil bentuknya yang paling konkret dalam kesesuaian antara perkataan dan tindakan.

Kepatuhan dan kesetiaan merupakan keutamaan hidup. Sebagaimana keutamaan hidup yang lain, keduanya bukanlah keutamaan yang jatuh langit. Kepatuhan dan kesetiaan merupakan buah dari proses habituasi. Hidup harian adalah latihan panjang dari kepatuhan dan kesetiaan.

Peluang

Pertama, loyalitas diuji ketika seseorang menghadapi kenyataan yang tak berbanding lurus dengan harapan. Ketika Yesus berbicara perihal Roti Hidup, banyak orang merasa bahwa perkataan Yesus amatlah keras (baca Yoh 6:25-67). Murid-murid Yesus sendiri pun protes dan bersungut-sungut. Iman mereka tergoncang. Bagaimana mungkin untuk sampai pada kehidupan kekal, Yesus menyuruh mereka makan daging-Nya dan minum darah-Nya? Perkataan macam apa ini?! Mereka yang mulanya tertarik mendengar dan mengikuti Yesus lantaran pengajaran-pengajaran-Nya yang berwibawa dan mukjijat-mukjijat-Nya yang ajaib, mulai berpikir ulang. Bahkan meraka saling bertengkar di antara mereka sendiri tentang maksud perkataan Yesus. Dikisahkan bahwa mulai dari waktu itu, banyak murid-murid Yesus yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia.

Petrus barangkali juga sependapat dengan sebagian besar pendengar Yesus. Perkataan Yesus yang menyebut diri-Nya sebagai Roti Hidup memanglah amat keras. Pemahaman para pendengar Yesus belumlah cukup dalam untuk menerimanya. Pun juga, Petrus tidak sepenuhnya memahami apa yang Yesus katakan tentang Ia sebagai Roti Hidup. Namun, berbeda sikap dengan sebagian besar murid Yesus yang lain, Petrus memutuskan untuk tetap setia bertahan. ‘Tuhan kepada siapakah kami harus pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” ujarnya. Loyalitas Petrus jelas diuji di sini. Di saat yang lain memilih untuk tidak setia, Petrus memilih untuk bertahan dan setia.

Kedua, loyalitas ditumbuhkan dalam koreksi atas kesalahan. Sedikit demi sedikit, Yesus menyingkapkan berbagai kebenaran penting perihal Mesias kepada para murid-Nya, termasuk bahwa Ia harus menderita dan mati di Yerusalem (baca Matius 16:21-28). Sebagai murid yang lama dekat dengan Yesus, Petrus jelas risau mendengar pernyataan itu. Petrus pun mengambil tindakan spontan. Ia menarik Yesus ke samping dan menegur lalu Yesus. Bukannya simpatik dengan tindakan Petrus, Yesus malah berkata keras padanya. “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku…”, hardik Yesus.

Yesus mengoreksi pikiran Petrus. Yesus tahu bahwa Petrus bermaksud baik. Ia tidak ingin Gurunya celaka. Namun, apa yang dipikirkan Petrus adalah pikiran manusia, bukan apa yang dipikirkan oleh Allah. Satu-satunya jalan penebusan dan keselamatan manusia adalah lewat sengsara dan wafat Yesus. Ketika mendengar hardikan atau tepatnya koreksian dari Yesus, apakah Petrus menjadi marah, kesal, dan membantah? Tidak dikatakan dalam Injil. Tapi dalam kisah-kisah selanjutnya, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Petrus menerima dengan rendah hati koreksian dari Yesus. Sekali lagi, Petrus menunjukkan loyalitasnya sebagai murid Yesus.

Hambatan

Satu-satunya cerita perihal lunturnya loyalitas Petrus adalah kisah penyangkalannya akan Yesus (baca Markus 14:66-72). Kesalahan Petrus cuma satu; demi menyelamatkan dirinya sendiri, Petrus menafikan loyalitasnya pada Yesus selama ini.

Petrus yang sempat membanggakan diri sebagai murid Yesus yang setia, bahkan rela mati bersama Yesus daripada harus menyangkal Yesus (bdk. Markus 14:27-31), ternyata harus menelan ludahnya sendiri. Ketika Yesus ditangkap dan digiring di hadapan Mahkamah Agama, Petrus mengikuti Gurunya dari kejauhan. Salah seorang yang berkumpul di halaman Mahkamah Agama mengenali Petrus sebagai murid Yesus. Petrus menyangkalnya. Begitu pun yang terjadi dengan orang kedua. Dan, puncaknya ketika orang banyak mulai mengenali Petrus dan mencecar pertanyaan yang sama, Petrus sampai-sampai mengutuk dan bersumpah bahwa ia tidak kenal dengan Yesus. Saat itulah Petrus mendengar dengan jelas bunyi ayam jantan berkokok dan lantas teringat akan perkataan Yesus mengenai dirinya.

Hati Petrus benar-benar terpuruk. Ia menangis tersedu-sedu. Barangkali, itulah saat terburuk dan hari terburuk yang pernah dialami Petrus. Pastilah Petrus memaki-maki dirinya sendiri ketika akhirnya Yesus meninggal di kayu salib setelah berjam-jam mengalami siksaan lahir dan batin. Loyalitas Petrus pun seakan terkubur dalam dorongan untuk mengamankan diri sendiri. Petrus barangkali tidak membayangkan bahwa loyalitas yang harus ia berikan mengusik pula kenyamanan pribadinya.

Meski demikian, menarik untuk dilihat bahwa meski Petrus telah melakukan kesalahan yang teramat besar, ia tidak tenggelam dalam keputusasaan. Ia menyesali perbuatannya dan bergabung lagi dengan komunitas para murid yang tetap setia pada Yesus.

Penutup

Penggalan kisah Paulus di atas saya angkat bukan tanpa alasan. Sebagai seorang murid pertama dan utama Yesus, nyatanya Petrus tampil tidak tanpa cela. Loyalitas Petrus yang mulanya berkobar-kobar, sempat pula padam ketika kenyamanan pribadinya diusik. Dari Petrus, kita bisa belajar  bahwa loyalitas (kepatuhan dan kesetiaan) bukanlah keutamaan yang sekali jadi. Loyalitas merupakan buah dari proses habituasi. Dan, hidup harian adalah latihan panjang untuk loyalitas yang mumpuni.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s