Menuju Allah yang Satu: Belajar dari Kisah-Kisah Kitab Suci


Catatan Pembuka

Agama selalu saja menarik untuk diperbincangkan. Ia serupa magnet yang menarik lekat hasrat jiwa untuk bersimpuh pada yang Entitas sesembahannya yang transenden serta juga mengundang gelora budi kita untuk tak henti mengerti baik itu artikulasi historis, dogmatis, maupun liturgisnya yang mengemuka. Dalam agama, kita seolah menjadi anak kecil yang penuh dengan naluri ketakjuban dan keingintahuan. Secara anthropologis, dapat dikatakan bahwa ketakjuban itulah yang menjadi cetusan awal dari agama. Agama lahir karena manusia takjub pada realitas ilahi di luar dirinya, yang tidak bisa ia kuasai, yang memaksanya untuk menyembah dan bertekuk lutut, yang memuatnya merasa kagum sekaligus juga takut. Keingintahuan lantas mendorong manusia untuk mencari tahu siapa realitas ilahi yang trensenden itu. Nama untuk-Nya pun dilekatkan, diseru, dan lalu diajarkan dari satu keturunan ke keturunan yang lain. Formulasi pemujaan pun juga dicanangkan. Ajaran tentang-Nya dan tata cara liturgi untuk berhadapan dengan-Nya pun disistematisasi.

Agama memang tak pernah secara niscaya turun dari surga, di mana atap-atap langit seketika terbuka, para malaikat berjajar sembari menaburkan bunga-bunga, dan manusia berdiri takzim melihat semua pemandangan tak lazim di hadapannya. Agama, sebagaimana yang kita kenal sekarang, lahir dari proses sejarah yang sedemikian panjang, diwariskan secara dinamis-memetis dari generasi ke generasi, dimurnikan oleh berbagai bentuk afirmasi dan/atau negasi intelektual dan spiritual, pun juga berkelindan dengan berbagai macam tradisi iman dan kebudayaan. Intinya, agama adalah cetusan iman yang sangat historis.

Artikulasi historis tersebut terdapat pula dalam sistem agama yang besar dan mapan saat ini, yakni agama-agama monoteis (Yahudi, Kristen, dan Islam). Keyakinan akan satu Allah tidak serta merta dipeluk begitu saja oleh para monoteistik, melainkan diperoleh dari proses pemurnian keyakinan iman selama beberapa abad lamanya, pun pula dijernihkan dari keyakinan politeis yang telah ada sebelumnya. Di dalamnya, tentu saja, kita tidak boleh menafikan peran pewahyuan diri Allah pada pribadi-pribadi tertentu dalam sejarah yang makin mengentalkan pemahaman manusia tentang siapa pribadi yang ia sembah.

Jejak awal monoteisme, pertama-tama, bisa kita lacak dari Kitab Suci, khususnya dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Adalah Abraham, tokoh Kitab Suci, bapa bangsa Israel, yang disebut oleh agama-agama monoteis sebagai penganut monoteis yang pertama. Kepada dialah, Tuhan mengkomunikasikan diri-Nya secara personal dan memberikan janji berkat-Nya yang berlimpah asal Abraham mau tunduk dan percaya kepada-Nya. Seterusnya, Tuhan yang diyakini Abraham itu kemudian mengkomunikasikan diri-Nya pada anak cucu keturunan Abraham (kita bisa menyebut nama-nama seperti Ishak atau Yakub), dan juga pada nabi-nabi utusan-Nya. Kepada mereka, secara bertahap, Tuhan menandaskan diri-Nya sebagai Yang Satu yang harus disembah. Kepercayaan politeis yang tumbuh subur di jaman itu pun ditolak dengan tegas. Jejak monoteisme menemukan wujudnya di sini. Sementara itu, pada jaman Perjanjian Baru, monoteisme mendapatkan kepenuhan pewahyuannya dalam inkarnasi Sang Putra Allah, Yesus Kristus. Sejak Kristus, dalam keyakinan Kristiani, substansi monoteisme menjadi tidak sama lagi. Yang disembah bukan semata Allah yang satu, melainkan kesatuan Allah dalam tiga pribadi, yakni Bapa-Putra-Roh Kudus.

Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba untuk menyusun secara sederhana narasi-narasi dalam Kitab Suci yang menunjukkan historisitas dan dinamika pemahaman bangsa Israel tentang Allah yang satu. Sebelumnya, perlu dipahami bahwa yang disebut historis di sini tidaklah sama dengan pengertian historis dalam kacamata modern. Sebab, Kitab Suci bukanlah buku sejarah, melainkan buku iman. Maka, yang dimaksud historisitas di sini adalah soal sejarah perkembangan iman atau dinamika pengenalan bangsa Israel tentang Allah yang satu. Selain mencari pemahaman akan Allah yang satu dalam Kitab Suci, penulis juga akan melangkah ke dalam diskusi awali dari pemikiran Kristen tentang Allah yang Trinitaris: satu Allah, tiga pribadi. Kemudian, pada bagian akhir tulisan ini, penulis akan memberi catatan khusus yang mengemuka seputar fenomen penegasan keallahan yang satu.

Dari Politeisme ke Monoteisme: Abraham

Israel awali hidup dalam dunia sosio-religius Asia Barat kuno yang kental dengan kepercayaan politeis di mana ada begitu banyak dewa yang disembah. Tiap dewa merepresentasikan berbagai macam manifestasi kekuatan alam yang begitu galib dan misterius, namun juga begitu dekat dan bersinggungan dengan kehidupan manusia. Para dewa disembah lantaran keberadaan mereka, beserta dengan kekuatan gaibnya, menciptakan kegentaran dan ketakjuban dalam batin manusia. Karen Amstrong mencatat bahwa:

“Kekuatan gaib dirasakan oleh manusia dalam cara yang berbeda-beda – terkadang ia menginspirasikan kegirangan liar dan memabukkan; terkadang ketentraman mendalam; terkadang orang merasa kecut, kagum, dan hina di hadapan kehadiran kekuatan misterius yang melekat di setiap aspek kehidupan. Ketika manusia mulai membentuk mitos dan menyembah dewa-dewa, mereka tidak sedang mencari penafsiran harfiah atas fenomen alam…(namun sebagai) usaha untuk mengungkapkan kekaguman mereka dan untuk menghubungkan misteri yang luas ini dengan kehidupan mereka sendiri”.[1]

Demikianlah, kepercayaan politeis kemudian ditradisikan dalam bentuk pemujaan dan dihidupkan di relung batin tiap orang dalam bentuk mitos. Dalam perkembangan selanjutnya, kepercayaan pada banyak dewa kemudian merujuk pada adanya satu dewa yang tertinggi di mana para dewa yang lain berada di bawahnya. Kepercayaan ini disebut henoteisme atau monolatri. Dewa yang tertinggi biasanya dianggap sebagai dewa suku. Dewa-dewa yang lainnya tetap ada dan dalam kesempatan-kesempatan tertentu dihormati, tetapi terutama ada satu dewa yang diyakini sebagai pelindung suku. Sebagai contoh, Kanaan, tanah tempat orang Israel berdiam, memiliki satu dewa tertinggi, yakni dewa El, ayah dari Baal. Menurut Georg Kircberger, El dikenal sebagai raja para dewa, pencipta dunia, bapa segala dewa dan manusia, yang bertahta bersama isterinya, Ashera, mereka dihormati sebagai dewa suku Kanaan.[2] Perkembangan keagamaan Israel pun tidak bisa dilepaskan dari penyembahan terhadap dewa-dewa tersebut.

Adalah Abraham, Bapa bangsa Israel, yang menjadi cikal bakal dari keturunan Israel yang berdiam di tanah Kanaan. Tersebutlah dalam Kej 12, Tuhan (Yahwe) berfirman pada Abram – yang di kemudian hari mendapat nama baru sebagai tanda perjanjian dengan Tuhan, yakni Abraham (Bapa sejumlah besar bangsa) – dan menyuruhnya untuk pergi dari daerah asalnya (Ur-Kasdim) ke negeri yang akan Ia tunjukkan padanya. Dalam perintah tersebut, Tuhan tak lupa menyertakan janji berkat pada Abraham. Maka berangkatlah Abraham dan tibalah ia di suatu tempat dekat Sikhem. Waktu itu, orang Kanaan diam di negeri itu. Menurut studi para ahli, Abraham mungkin sekali merupakan salah seorang pemimpin kafilah pengembara yang membawa rakyatnya dari Mesopotamia menuju Laut Tengah pada akhir milenium ketiga SM.[3] Dan, sebagaimana pola hidup para pengembara yang lain, alasan kepindahan Abraham beserta dengan rombongannya barangkali adalah soal pencarian daerah huni yang lebih laik dan lebih subur. Yang menjadi pertanyaan di sini, “Siapakah Tuhan yang menampakkan diri dan terlibat dalam dunia kehidupan Abraham itu?”

Adalah sangat mungkin bahwa Tuhan yang dikenal Abraham bukanlah Tuhan monoteis sebagaimana yang disembah dan dirumuskan secara pasti oleh orang Israel di kemudian hari. Menyitir pendapat Karen Amstrong, sangat mungkin bahwa Tuhan Abraham adalah El, Tuhan Tertinggi Kanaan. Mengapa? Sebab, Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Abraham sebagai El Shaddai (El Pegunungan), salah satu gelar tradisional El, dan di tempat lain, Ia disebut sebagai El Eliyon (Tuhan yang Mahatinggi) atau El dari Betel.[4] Penjelasan yang lebih gamblang disampaikan oleh Tom Jacobs. Ia menulis:

Allah ini (Tuhan yang disembah Abraham – red.) tidak punya nama khusus; Ia disebut El, Allah (lih. Kel 33:20: El, Allah Israel). Kadang-kadang ditambahkan sesuatu: el-syaddai, Allah Mahakuasa (Kej 17:1; 28:3; 35:11), yang sementara oleh ahli dipandang sebagai nama yang paling asli. Di samping itu, ditemukan pula nama seperti el-eliyon, Allah Mahatinggi (Kej 14:18-20); el-olam, Allah kekal (Kej 21:33), dsb…(Jadi) Kata El tidak hanya dipakai oleh bangsa Israel, tetapi juga oleh bangsa-bangsa Semit yang lain. Dan mungkin yang disebut El itu adalah Allah yang tertinggi di antara semua ilah dalam kebudayaan bangsa-bangsa Aram.[5]

Dengan demikian, barangkali pada saat itu memang tidak ada pendefinisian secara tegas antara Yahweh (Tuhan yang disembah Abraham) dengan El (dewa orang Kanaan). Meski demikian, yang jelas, pada Abraham, Tuhan mengkomunikasikan diri-Nya sebagai yang Mahatinggi dan yang dari-Nya Abraham beserta dengan keturunannya mendapat janji berkat yang berlimpah (berkat keturunan dan kemuliaan sebagai bangsa). Janji Tuhan Allah itu semakin menjadi niscaya manakala Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abraham, di mana sunat menjadi tanda perjanjian di antara keduanya. Demikianlah, dalam perjanjian tersebut, Tuhan menjadikan diri-Nya sebagai Allah Abraham dan Allah keturunannya (bdk. Kej 7:7). Dengan demikian, ada relasi yang dekat lagi khusus yang terbangun antara Yahweh dengan Abraham beserta dengan keturunannya. Konsekuensinya, Abraham beserta dengan keturunannya haruslah setia pada Tuhan yang telah memberikan janji berkat tersebut dan mengesampingkan tuhan-tuhan lain yang ada di antara mereka. Selepas kematian Abraham, secara berturut-turut, Tuhan juga menampakkan diri dan menegaskan janji berkat-Nya kepada Ishak (bdk. Kej 26:24), kemudian juga kepada Yakub (bdk. Kej 28:14). Menarik bahwa perihal janji berkat berulang kali ditegaskan oleh Tuhan baik kepada Abraham, kemudian pada Ishak, dan lalu kepada Yakub.

Monoteisme dalam Penegakan: Musa

Musa lahir pada jaman di mana Israel mengalami masa perbudakan di Mesir. Ia adalah anak yang lahir dari keluarga Lewi yang kemudian dihanyutkan di sungai oleh orangtuanya karena takut pada perintah Raja Mesir, sebab ia menitahkan bahwa anak laki-laki keturunan Israel harus dibunuh. Namun, beruntung ia diselamatkan oleh puteri Firaun dan diangkat menjadi anak olehnya. Di kemudian hari, Musa diutus oleh Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel yang mengeluh serta berseru-seru meminta pertolongan karena perbudakan yang mereka alami. Dan, karena Tuhan mengingat perjanjian yang dibuat oleh-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub, Tuhan pun memperhatikan mereka. Maka, dipilih dan diutuslah Musa sebagai tangan Tuhan untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan Mesir.

Perjumpaan pertama antara Tuhan dengan Musa terjadi di gunung Horeb (gunung Allah) sewaktu ia menggembalakan domba Yitro. Kepada Musa, Tuhan mengenalkan diri sebagai “Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub” (Kel 3:6). Nama inilah yang juga ditandaskan oleh Tuhan ketika Musa bertanya soal siapakah nama Allah yang telah mengutus Musa kepada Israel (bdk. Kej 3:13-15). Amat menarik untuk dicermati, “Adakah Musa dan orang-orang Israel jaman itu sudah tidak mengenal lagi Allah nenek moyang mereka sehingga Tuhan harus mengenalkan diri sekali lagi pada mereka?” Tentu ada penjelasan dan penafsiran tertentu mengenai hal ini. Tapi kita tidak akan masuk ke bagian ini. Yang jelas, dalam peristiwa ini Tuhan hadir secara pribadi pada Musa dan berintensi untuk menyelamatkan bangsa-Nya. Patut dicatat pula bahwa kepada Musalah, untuk pertama kalinya, Tuhan memberitahu siapa sebenarnya diri-Nya. “Aku adalah AKu (Ehyeh asher Ehyeh)”, demikian Tuhan memberitahu Musa (Kel 3:14). Dia adalah Yahweh (Kel 6:1). Dia adalah pribadi yang menjadi Allah dari para Bapa bangsa Israel. Dan, karena janji-Nya pada nenek moyang Israel, Dialah pula yang akan membebaskan mereka dari perbudakan Mesir.

Sesuai dengan janji-Nya, Tuhan pun memimpin Israel keluar dari Mesir (bdk. Kel 14:15-31). Dalam peristiwa ini, Tuhan menjadi “Allah pembebas” bagi Israel. Selanjutnya, dalam penampakan di gunung Sinai (Kel 19:1-20:17), Tuhan menandaskan sesuatu yang besar bagi Israel. Tuhan menetapkan sebuah kontrak perjanjian. Terhadap hal ini, Georg Kirchberger menulis:

“Israel telah melihat karya agung yang dikerjakan oleh Allah bagi mereka. Sebagai jawabannya, Israel (harus) berjanji untuk menghormati hanya Yahweh saja, mencintai Dia dan mengikuti kehendak-Nya. Kalau Israel hidup menurut perjanjian itu, maka ia akan mendapat berkat dan hidup sejahtera. Bila ia mengingkari perjanjian, maka ia dikutuk dan akan binasa”.[6]

Oleh Tuhan, kontrak perjanjian itu ditetapkan dalam rumusan firman yang kita kenal sebagai 10 perintah Allah. Sebelum kesepuluh firman itu diberikan, pertama-tama Tuhan menegaskan sekali lagi siapa diri-Nya: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Kel 20:1). Seterusnya, firman-firman yang bernada larangan itu pun ditetapkan. Sementara itu, dasar dari iman monoteis Israel terdapat pada dua firman awal dari Allah: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku…Jangan sujud menyembah kepada atau beribadah kepada mereka, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu…” (bdk. Kel 20:2-6). Dari sini dapat dilihat bagaimana Tuhan menegakkan keberadaan-Nya bagi Israel. Dia adalah Allah yang pencemburu, yang tidak menghendaki Israel menyembah tuhan-tuhan lain, melainkan hanya Dia seorang sajalah yang harus disembah. Dengan kata lain, penyembahan pada Tuhan yang telah membebaskan Israel harus bersifat eksklusif. Tidak boleh ada allah lain selain Dia. Penegakan akan ekslusivitas penyembahan pada Tuhan Israel itu semakin nyata manakala murka Tuhan bangkit atas Israel ketika mereka membuat patung anak lembu emas untuk disembah dan diberi kurban persembahan (bdk. Kel 32). Tuhan murka sebab Ia diduakan. Ia menuntut penyembahan yang satu terhadap-Nya.

Monoteisme dalam Penegasan: Para Nabi

Pada zaman para nabi, Israel telah menjadi sebuah bangsa yang cukup besar dan memiliki pemerintahan yang tetap dalam bentuk kerajaan. Masa pemerintahan Daud dan kemudian Salomo adalah jaman dimana Israel mengalami masa-masa kejayaannya sebagai sebuah kerajaan. Janji berkat Tuhan pada Abraham terasa nyata pada masa pemerintahan kedua raja tersebut. Namun, selepas Salomo meninggal, kerajaan Israel terpecah menjadi dua lantaran perebutan kekuasaan antara Rehabeam dan Yerobeam. Rehabeam menjadi raja di kerajaan Yehuda (kerajaan Selatan), sementara Yerobeam menjadi raja di kerajaan Israel (kerajaan Utara). Perpecahan politik tersebut kemudian juga diikuti dengan dekandensi moral dan iman. Israel tidak taat lagi pada Allah. Mereka jatuh pada penyembahan-penyembahan berhala. Sebenarnya, praktik penyembahan berhala itu sendiri sudah mulai berlangsung semasa pemerintahan raja Salomo. Salomo terkenal dengan ratusan perempuan asing (non-Israel) yang dijadikannya sebagai istri. Ketika diperistri, masing-masing perempuan tersebut membawa serta dewa-dewa mereka di tengah kerajaan Israel, bahkan Salomo pun tak segan-segan untuk mendirikan kuil bagi mereka (bdk. 1 Raj 11:4-8). Selepas Salomo meninggal, kuil-kuil penyembahan berhala beserta dengan praktik-praktiknya masih ada di tengah umat Israel, baik di kerajaan Utara maupun di kerajaan Selatan.

Di tengah situasi masyarakat yang tidak setia pada Allah yang satu tersebut, para nabi tergerak untuk memperjuangkan ibadat eksklusif kepada Yahweh. Para nabilah yang dengan keras menyuarakan bahwa dewa lain tidak ada: ilah lain itu tidak ada apa-apanya, tidak berdaya, hanya buatan tangan manusia saja. Dalam Kitab Para Nabi, kita bisa melihat beberapa ilustrasi yang mendeskripsikan bagaimana para nabi mengolok-olok dewa-dewa yang mereka anggap sebagai buatan tangan manusia. Dan, dalam perjuangan para nabi tersebut, terdengar monoteisme tegas, sadar dan eksplisit.[7]

Sebagai contoh, kita bisa menyebut satu-dua nama nabi di sini yang dipakai Tuhan untuk menyadarkan Israel akan dosa ketidak-setiaan mereka, kemudian juga memanggil mereka kembali pada penyembahan Allah yang benar dan yang sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat oleh nenek moyang mereka dengan Allah. Pertama, nabi Elia. Kisah tentang Elia yang bersiteru dengan nabi-nabi Baal bisa disimak dalam 1 Raj 17-19. Elia hidup di jaman pemerintahan raja Ahab (kerajaan Utara). Pada masa itu, orang Israel banyak yang meninggalkan Tuhan dan beralih kepada Baal, dewa orang Kanaan. Hal ini terjadi lantaran Ahab memberikan keluasan pada Izebel, istrinya, untuk melakukan pemujaan dan penyebaran kepercayaan pada Baal dan Asyera (dewa-dewa Kanaan) di wilayah kerajaan Israel. Akibatnya, cukup banyak mezbah untuk Baal didirikan dan patung-patung Asyera dipahat. Cukup banyak orang Israel yang terpengaruh dan ikut serta dalam pemujaan berhala tersebut. Melihat itu, Elia menjadi marah, sebab Tuhan, Allah nenek moyang mereka, disingkirkan dan diganti dengan Baal. Akhirnya, di Gunung Karmel, Elia dengan lantang menyerukan adu tanding membakar kurban persembahan dengan nabi-nabi baal yang berjumlah 450 orang banyaknya. Elia ingin membuktikan pada Israel, siapa sebenarnya yang lebih kuat: Tuhan Allah atau Baal?! Singkat kata, dengan kehadiran kuasa Allah, Elia mampu mengalahkan nabi-nabi Baal yang sama sekali tidak berhasil menunjukkan kehadiran dewa mereka sekalipun dengan beragam ritual pemujaan.

Kedua, Hosea. Hosea hidup di kerajaan Israel (Utara), selama pemerintahan Yerobeam II. Ia merasa amat terganggu dengan kenyataan bahwa orang Israel melanggar pasal-pasal perjanjian antara Israel dan Tuhan dengan menyembah tuhan-tuhan lain, seperti Baal.[8] Oleh Tuhan, dosa ketidak-setiaan Israel terhadap Tuhan dianalogikan sebagai tindakan persundalan yang hebat (bdk. Hos 1:2). Ketidak-setiaan Israel dikatakan persundalan lantaran sejak menerima perjanjian dengan Tuhan, Israel sebenarnya telah menjadi istri dari Tuhan. Sebagai warta kenabiannya, Tuhan pun meminta Hosea untuk mengawini seorang sundal yang bernama Homer. Perkawinannya merupakan simbol dari hubungan Yahweh dengan Israel yang tidak beriman (bdk. Hos 3:1). Dengan warta kenabian semacam itu, Hosea sebenarnya hendak berkata bahwa tidak ada yang lebih menyakitkan daripada cinta kasih nan lembut (dari Allah) yang dikhianati dan dinodai (oleh Israel). Dalam nubuatnya, Hosea menyerukan hukuman dari Tuhan atas ketidak-setiaan Israel (bdk. Hos 10). Tetapi juga, ia menyerukan kasih Tuhan yang ingin Israel kembali berpaling pada-Nya dan meninggalkan praktik penyembahan berhala yang serupa persundalan di mata Tuhan itu (bdk. Hos 11).

Nabi-nabi yang lain, seperti Yesaya, Yeremia, dan atau Amos, mengemban tugas kenabian yang serupa, yakni membuka mata Israel akan kejahatan dosa mereka di hadapan Allah, terutama dengan menyembah dewa-dewa lain. Dalam pewartaan para nabi, hanya Tuhan Allahlah yang harus disembah. Tuhan Israel itu hanya satu. Dialah Tuhan yang telah mengadakan perjanjian dengan Abraham, nenek moyang Israel, dan yang telah membebaskan nenek moyang mereka dari Mesir serta menuntun mereka ke tanah terjanji. Usaha untuk menegakkan monoteisme sangat kental terasa dalam pewartaan para nabi. Menyitir pendapat Robert Karl Gnuse, usaha penegasan monoteisme Israel mereka lakukan dengan penolakan secara total pada setiap bentuk penyembahan berhala dan politeisme; dalam usaha tersebut, status dewa-dewa pada akhirnya dianggap sebagai suatu kekuatan yang jahat yang menjauhkan Israel dari Tuhan mereka yang satu.[9]

Monoteisme dalam Kepenuhan Pewahyuan: Yesus Kristus

Dalam Perjanjian Lama, telah kita ketahui bahwa para bapa Bangsa Israel mengenalkan sebuah iman akan satu Allah, yakni Yahweh. Sementara itu, di kemudian hari, para nabi juga telah menggariskan sebuah iman monoteis yang amat ketat. Allah yang harus disembah oleh Israel hanyalah Yahweh semata, dan bukan yang lain. Dia adalah Allah yang satu. Tidak ada tuhan-tuhan lain selain diri-Nya.

Memasuki Perjanjian Baru, iman monoteis Israel mendapat makna yang baru. Kehadiran Yesus Kristus, Sang Putra Allah, yang turun ke dunia membuka cakrawala pemahaman yang baru tentang kesejatian hakikat diri Allah, pribadi ilahi yang telah disembah Abraham, Bapa leluhur Israel. Melalui peristiwa inkarnasi Kristuslah kita dikenalkan pada misteri Allah yang trinitaris, yakni kesatuan Allah dalam tiga pribadi: Bapa-Putra-Roh Kudus.[10] Ketunggalan Allah dalam diri-Nya sendiri rupanya menyimpan misteri yang baru Ia buka setelah sekian lama, paling tidak kita baru benar-benar mengenal misteri Trinitarisnya setelah Yesus, Putra Allah yang Mahatinggi mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (bdk Fil 2:7). Kini, khususnya dalam Kekristenan, ketunggalan diri Allah dimengerti tidak lagi sebagai satu pribadi ilahi yang berdiri sendiri, tetapi tiga pribadi (Bapa-Putra-Roh Kudus) dalam satu substansi keallahan yang saling terikat dan berelasi dalam kesatuan cinta yang lekat dan utuh.

Tidak mudah memang bagi akal budi kita untuk mengerti dan menjelaskan secara mudah misteri kesatuan diri Allah dalam tiga pribadi ini. Dalam sejarah Gereja, terlebih setelah Kekristenan berkembang dan masuk dunia Helenis, kita menemukan bagaimana umat beriman, dalam keterbatasan pikirnya mengerti misteri Allah, jatuh-bangun memahami ketiga-pribadian pada iman monoteis mereka.

Berikut ini penulis akan memaparkan beberapa dinamika pemikiran seputar keallahan dalam tiga pribadi[11]: (1) Monarkianisme. Monarkianisme mengajarkan bahwa Allah itu memang hanya satu dan esa. Sementara, Putra Allah dan Roh Kudus itu hanyalah manifestasi dari Allah yang satu. Secara lebih terperinci, monarkianisme terdiri atas dua macam, yakni monarkianisme dinamistik (dalam manusia Yesus berkaryalah satu kekuatan ilahi tetapi impersonal) dan monarkianisme modalistik (Allah Putra dan Roh Kudus hanyalah semata-mata cara Allah yang satu itu menampakkan diri). Pandangan monarkianisme ini dilawan oleh Tertulianus. Ia mengatakan bahwa dalam Allah yang satu terdapat tiga pribadi (persona), tetapi adanya tiga pribadi itu tidak berarti bahwa ada lebih dari satu Allah. Ketiga pribadi itu berbeda, bukan dalam hakikat, melainkan dalam bentuk, bukan dalam kuasa, melainkan dalam rupa. (2) Doketisme. Dalam aliran pemikiran ini, diajarkan bahwa Yesus Kristus tidak sungguh-sungguh manusia, tetapi kelihatannya saja sebagai manusia. Tubuh-Nya di dunia ini hanyalah tubuh yang semu saja. Sebelum penyaliban, Ia meninggalkan tubuh semunya. Salah satu Bapa Gereja yang menentang pendapat kaum doketis ini adalah Ireneus. Ia mempertahankan keyakinan bahwa Yesus Kristus adalah benar-benar dan sungguh-sungguh manusia yang lahir, menderita, dan wafat di kayu salib. (3) Arianisme. Tokoh aliran pemikiran ini adalah Arius. Ia mengajarkan transendensi dari Allah Bapa. Menurutnya, Allah Putra itu ciptaan Allah Bapa yang pertama dan utama. Ia dijadikan dari yang tidak ada (jadi pernah ada suatu masa di mana Allah Putra tidak ada). Karena itu, Ia berbeda secara hakiki dari Allah Bapa. Keallahan Putra itu tidak melekat pada keberadaan-Nya, melainkan dianugerahkan kepada-Nya. Dialah yang lantas menciptakan dunia, termasuk juga Roh Kudus. Ajaran Arius ini ditentang dalam sebuah Konsili di Nicea (325) yang diprakarsai oleh Kaisar Konstantin. Dalam Konsili Nicea digariskan bahwa Allah Putra itu dilahirkan, bukan dijadikan. Ia memiliki hakikat keilahian yang sama (homo-ouisos) dengan Allah Bapa. Hasil Konsili Nicea kemudian ditandaskan dalam sebuah rumusan iman (syahadat). Dalam perkembangannya, rumusan iman Konsili Nicea itu lantas diperdalam lagi di Konsili Konstantinopel (381). Keasalan pribadi Allah Putra ditegaskan. Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Jadi, Allah Putra dan Allah Bapa ada dan hadir bersama-sama sejak semula. Lebih dari itu, pribadi Roh Kudus, yang sebelumnya tidak banyak diperbincangkan dan diperdebatkan, ajaran tentang-Nya dirumuskan secara pasti dalam konsili ini: “Ia adalah Tuhan yang menghidupkan, Ia berasal dari Bapa, yang serta Bapa dan Putera disembah dan dimuliakan”. Demikianlah, dengan keputusan yang dibuat oleh kedua konsili tersebut, maka masalah Allah Tritunggal diakhiri secara berwenang dan tuntas. Dogma Trinitas pun ditetapkan secara berwibawa di sini.

Moneteisme dan Hal-Hal yang Tak Selesai: Intoleransi terhadap Yang Lain

Sub bagian ini sebenarnya hanya semacam ekskursus. Tapi penulis merasa perlu untuk menambahkannya, mengingat fenomen intoleransi terhadap yang lain[12] kuat terasa dalam agama-agama monoteis. Fenomen intoleransi tersebut bisa kita lacak sejak monoteisme masih berupa “ulat dalam kepompong” sampai kini yang telah bermetamorforsis menjadi “kupu-kupu”. Beberapa contoh bisa kita sebut di sini. Tengok saja bagaimana Musa memerintahkan Bani Lewi untuk membunuh saudara, teman, dan tetangga mereka yang telah mengalihkan pemujaan mereka pada anak lembu emas (bdk. Kel 32:27). Tengok pula bagaimana demi menegaskan Keesaan Tuhan di hadapan para lawannya (nabi-nabi Baal), Elia menantang mereka, dan setelah menang, ia meyembelih mereka di sungai Kison (bdk. 1 Raj 18:40). Ketika agama-agama monoteis telah mapan, mereka pun menunjukkan sikap intoleransi terhadap yang lain. Kita masih ingat bagaimana sebelum bertobat, Saulus, didorong oleh keyakinan agama Yahudinya, berkobar-kobar untuk membunuh setiap pengikut Kristus yang mulai bertambah (bdk. Kis 9:1-2). Hal yang sama juga terjadi ketika Kekristenan telah menjadi agama yang telah mapan. Lembaga-lembaga akusisis didirikan untuk menghukum tiada ampun bagi mereka yang menolak atau mengkritik keyakinan Kristiani. Demikian halnya dengan Islam. Dalam konteks Indonesia, kita bisa melihat bagaimana penyebaran agama Islam di negara ini memunculkan kisah-kisah penghancuran dan eksodus dari mereka yang terusir karena memeluk keyakinan yang lain (misalnya, sisa-sisa pemeluk Hindu dari Kerajaan Majapahit lari menyelamatkan diri ke daerah Bali dan/atau ke pegunungan Tengger). Sementara itu, kita bisa menambahkan peristiwa yang beberapa bulan terakhir ini mengemuka, yakni peristiwa penganiayaan terhadap anggota Ahmadiyah oleh kelompok radikal Islam.

Penegasan akan Tuhan yang satu rupanya menyisahkan kisah-kisah yang pilu dan dramatis. Kekerasan demi kekerasan terjadi. Sikap intoleransi dan bahkan pemberangusan menjadi satu kata yang niscaya terhadap keyakinan-keyakinan yang lain. Adakah pemakluman akan satu Tuhan itu berarti meniadakan keyakinan terhadap yang lain? Adakah konsep monoteisme itu berbarengan dengan praksis intoleransi terhadap yang lain? Menilik dinamika sejarah monoteisme, Karen Amstrong mencatat bahwa intoleransi rupanya telah menjadi karakteristik dari monoteisme. Hal ini berbanding terbalik dengan keyakinan lain, paganisme misalnya, yang jauh lebih tolerean di mana kultus-kultus lama tidak merasa terancam oleh kedatangan tuhan baru, selalu ada ruang bagi tuhan-tuhan lain untuk berdampingan dengan sesembahaan tradisonal.[13] Masih menyitir catatan Karen Amstrong, sikap intoleran dari para monoteis sejatinya bukan reaksi yang rasional dan penuh pertimbangan, melainkan ungkapan kecemasan mendalam dan ketakutan.[14] Secara psikologis, orang yang cemas dan takut akhirnya membuat benteng-benteng pertahanan diri. Bagi para monoteis, benteng pertahanan itu ada dalam sikap-sikap intoleran terhadap yang lain yang membuat cemas dan takut, yakni kepercayaan/agama lain. Tuhan yang satu dibela mati-matian. Dalam pembelaan tersebut, penolakan dan bahkan peniadaan menjadi satu-satunya cara yang ampuh. Padahal, Tuhan tidak perlu dibela. Tanpa kita, Ia sudah kuasa dan mengada dengan niscaya.

Kecemasan dan ketakutan terhadap kepercayaan yang lain pada akhirnya menggiring seseorang pada fanatisme yang sempit dan eksklusif. Dalam beragama, sikap fanatis itu memang perlu sejauh fanatisme itu mendorong seseorang pada kesetiaan akan iman secara lebih mendalam. Namun, fanatisme yang sempit dan eksklusif menjatuhkan seseorang pada penilaian yang buta terhadap kepercayaan yang lain. Kepercayaan yang lain dianggap mutlak salah, tidak ada satu pun kebenaran di dalamnya. Pintu dialog pun tertutup rapat dengan sendirinya. Karena itu, perlu ada usaha dekonstruksi dalam pemahaman keagamaan. Dalam Gereja Katolik, upaya pendekonstruksian pemahaman keagamaan yang sempit dan terbatas tersebut (paling tidak secara dogmatis-teologis) telah dimulai lewat Konsili Vatikan II. Konsili Vatikan II membuka pintu-pintu dialog yang selama ini macet. Dalam pemahaman sebelumnya, Gereja meyakini bahwa keselamatan itu melulu hadir bilamana seseorang telah menjadi bagian dari Gereja Katolik. Namun, Konsili Vatikan II mengubah secara efikak pandangan tersebut. Keselamatan dianugerahkan untuk semua orang (bdk. GS 2) dan hadir dalam Gereja Kristus (perhatikan: tidak disebut Gereja Katolik, tetapi Gereja Kristus, di mana pengudusan dan kebenaran di luar persektuan Gereja Katolik diakui ada) (bdk. GS 8). Lebih jauh, dalam dokumen Nostra Aetate, para bapa konsili menulis demikian: “Gereja Katolik tidak menolak apa pun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang” (NA 2).

Catatan Penutup

Secara panoramik, kita telah melihat bagaimana dinamika perkembangan kepercayaan monoteisme Israel, mulai dari Abraham sampai pada kepenuhan pewahyuan dalam Yesus Kristus. Ternyata, monoteisme Israel bukanlah sebuah kepercayaan dimana mereka menemukan sebuah agama yang sama sekali baru, melainkan sebuah ungkapan relasi yang begitu dekat antara Israel dengan Yahwe, Tuhan yang mereka sembah. Dalam iman monoteis ini, Israel mengungkapkan imannya yang mendalam pada Yahwe yang dipercaya sebagai Tuhan yang menjaga dan melindungi Israel. Yahwe pun diklaim menjadi Tuhan atas bangsa Israel.[15] Relasi antara Israel dengan Yahweh itu dipererat dengan perjanjian yang dilakukan oleh nenek moyang bangsa Israel dengan Yahweh. Perjanjian ini menegaskan keberadaan Tuhan atas Israel. Dalam perjalannan sejarahnya, ketika Israel mulai tidak setia pada Allah dengan menyembah berhala, soal perjanjian itulah yang diwartakan kembali oleh para nabi kepada Israel. Sementara itu, dalam Perjanjian Baru, kepenuhan pewahyuan yang terjadi dalam diri Yesus Kristus mengubah perspektif kita tentang konsep monoteisme. Dalam Tuhan yang satu ternyata berdiam tiga pribadi. Namun, perlu untuk dicatat bahwa pemahaman akan Allah yang Tritunggal ini pun tidak serta merta terjadi begitu saja, melainkan dari proses pemahaman yang berlangsung selama beberapa tahun dan dalam “pertarungan” dialektis pemahaman manusia tatkala merenungkannya.

[1] Karen Amstrong, Sejarah Tuhan, terj. Zaimul Am, Bandung: Mizan, 2001, hlm. 29.

[2] Georg Kirchberger, Allah Menggugat: Sebuah Dogmatik Kristiani, Maumere: Penerbit Ledalero, 2007, hlm. 92.

[3] Karen Amstrong, Op. Cit., hlm. 37.

[4] Ibid., hlm. 41. (Pendapat yang serupa juga bisa dilihat dalam Mark S. Smith, The Origin of Biblical Monotheism, New York: Oxford University Press, 2001, hlm. 139-141).

[5] Tom Jacobs, SJ, Paham Allah: Dalam Filsafat, Agama-Agama, dan Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 127.

[6] Georg Kirchberger, Op. Cit., hlm. 99.

[7] Bdk., http://postinus.wordpress.com/2008/03/04/perkembangan-monoteisme-dalam-alkitab-ibrani, diakses tanggal 10 November 2011.

[8] Bdk., Karen Amstrong, Op. Cit., hlm. 80.

[9] Bdk., Robert Karl Gnuse, No Other Gods: Emergent Monotheism in Israel, England: Sheffiled Academic Press, 1997, hlm. 138.

[10] Bdk., Dr. Nico Syukur Dister, OFM, Teologi Sistematika 1: Allah Penyelamat, Yogyakarta: Kanisius, 2004, hlm. 127.

[11] Perkembangan pemikiran seputar Allah Tritunggal yang akan disebut berikutnya disarikan penulis dari Buku Dr. Nico Syukur Dister, OFM, dalam Ibid., hlm. 132-155.

[12] “Yang lain” yang dimaksud di sini adalah sistem kepercayaan lain yang secara total berbeda atau juga yang dianggap menyimpang dari institusi agama yang bersangkutan.

[13] Bdk., Karen Amstrong, Op. Cit., hlm. 83.

[14] Ibid., hlm. 84.

[15] Mark S. Smith, Op. Cit., hlm. 173.

Sumber pustaka:

ALKITAB Deuterokanonika. Jakarta: LBI, 2008.

Amstrong, Karen. Sejarah Tuhan, terj. Zaimul Am. Bandung: Mizan, 2001.

Dister, OFM, Dr. Nico Syukur. Teologi Sistematika 1: Allah Penyelamat. Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Gnuse, Robert Karl. No Other Gods: Emergent Monotheism in Israel. England: Sheffiled Academic Press, 1997.

http://postinus.wordpress.com/2008/03/04/perkembangan-monoteisme-dalam-alkitab-ibrani, diakses tanggal 10 November 2011.

Jacobs, SJ, Tom. Paham Allah: Dalam Filsafat, Agama-Agama, dan Teologi. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Kirchberger, Georg. Allah Menggugat: Sebuah Dogmatik Kristiani. Maumere: Penerbit Ledalero, 2007.

Smith, Mark S. The Origin of Biblical Monotheism. New York: Oxford University Press, 2001.

Vatikan II. Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana (Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI). Jakarta: OBOR, 2002.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s