Catatan seputar Ekaristi


 

Praksis Pastoral

Gereja hidup dari liturgi. Melalui liturgilah karya keselamatan Allah yang berpuncak pada kurban Kristus di salib, dirayakan dan dilestarikan oleh Gereja. Lewat liturgi, Gereja memuliakan Allah di dalam Kristus dan menerima rahmat pengudusan sebagai daya kekuatan untuk hidup. Di antara perayaan liturgi Gereja, Ekaristi merupakan perayaan yang paling istimewa. Sebab, di dalam Ekaristi, Yesus Kristus sendiri hadir secara nyata dalam rupa Korban Ekaristi. Dalam perayaan itulah karya penebusan kita terlaksana secara penuh. Karena itu, para bapa konsil tidak ragu menyebut bahwa Ekaristi merupakan “sumber dan puncak seluruh hidup kristiani” (LG 11). Ekaristi disebut “sumber” sebab darinyalah mengalir rahmat/berkat Allah pada diri umat beriman. Ia disebut “puncak” sebab dalam Ekaristilah Gereja bersama seluruh umat beriman mempersembahkan segenap hidup kerasulan dan kesehariannya.

Berpijak dari pemahaman tersebut, bisa dikatakan bahwa Ekaristi adalah nyawa bagi kelangsungan hidup Gereja. Karena itu, sudah menjadi Tradisi bahwa perayaan Ekaristi harus dilangsungkan pada tiap hari, terutama di gereja paroki. Sementara itu, berkaitan dengan kapan waktu perayaan Ekaristi dilangsungkan pada tiap harinya, tiap paroki memiliki kebijakan pastoral masing-masing. Penanggung jawab utama kebijakan pastoral tersebut tak lain adalah pastor-paroki (dalam hukum Gereja istilah tersebut merujuk pada pastor kepala paroki). KHK 519 menyatakan bahwa “Pastor-paroki ialah gembala parokinya sendiri yang diserahkan kepada dirinya dan menunaikan reksa pastoral jemaat yang dipercayakan kepadanya di bawah otoritas Uskup diosesan..”.

Maka dari itu, berdasar pada reksa pastoral jemaat, dalam perayaan Ekaristi harian, pastor-paroki bisa menetapkan perayaan Ekaristi dilangsungkan pada pagi hari (biasanya di paroki luar kota) atau sore hari (biasanya di paroki kota), pun juga bisa dilangsungkan pada pagi dan sore hari (biasanya di paroki yang jumlah umatnya amat banyak). Demikian halnya dengan perayaan Ekariti mingguan. Di paroki luar kota, perayaan Ekaristi hari Minggu biasanya dilangsungkan sebanyak dua kali, yakni pada hari Sabtu sore dan Minggu pagi. Sementara, di paroki kota, perayaan Ekaristi hari Minggu bisa dilangsukan sebanyak empat kali, yakni Sabtu Sore, Minggu pagi, Minggu siang, dan Minggu sore.

Kemudian, bagaimana dengan pelaksanaan Ekaristi bagi umat yang berada di gereja stasi? Karena terbatasnya tenaga imam di paroki, maka perayaan Ekaristi untuk gereja stasi jelas tidak bisa dilangsungkan setiap hari. Pelayanan Sakramen Ekaristi di gereja stasi biasanya dilangsungkan untuk perayaan liturgi hari Minggu. Itu pun tidak setiap kali hari Minggu. Apalagi untuk paroki yang memiliki banyak stasi di wilayahnya. Karena itu, pastor-paroki biasanya menjadwal secara bergiliran kapan perayaan Ekaristi diadakan di sebuah stasi. Sementara itu, untuk menjamin kebutuhan rohani bagi umat stasi, pada hari Minggu di mana imam tidak hadir mempersembahkan Kurban Ekaristi di stasi, pastor-paroki memberi kewenangan kepada asisten imam untuk memimpin Ibadat Sabda.

Di gereja paroki, pelayanan Sakramen Ekaristi tidak hanya berhenti pada Misa harian atau mingguan semata, namun juga masuk pada peringatan atas peristiwa hidup yang dialami oleh umat beriman. Perayaan Ekaristi semacam itu dikenal sebagai Misa intensi khusus. Tempat perayaannya tidak di gereja, tetapi di rumah-rumah umat. Sementara itu, wujud intensinya bisa berupa ucapan syukur, seperti: peristiwa ulang tahun perkawinan, kelahiran anak, tunangan, dsb. Selain itu, ada juga intensi untuk mendoakan atau memperingati arwah umat beriman yang telah meninggal. Mengenai Misa arwah, Keuskupan Surabaya memiliki pedoman (sirkuler) dari Uskup tentang berapa kali pastor di paroki bisa mempersembahkan Misa untuk arwah umat beriman di parokinya yang telah meninggal. Di luar itu keluarga dari orang yang telah meninggal bisa menghubungi pastor di luar paroki untuk mempersembahkan Misa arwah. Kebijakan itu dimaksudkan untuk menyama-ratakan perhatian pastoral dari pastor-paroki kepada tiap kalangan umat yang berada di wilayah kewenangannya, entah itu keluarga kaya ataupun keluarga sederhana.

Selain itu, sesuai dengan kebijakan pastor-paroki, di tiap lingkungan/wilayah diadakan juga perayaan Ekaristi yang dihadiri oleh umat lingkungan/wilayah yang bersangkutan. Tujuannya untuk mempererat suasana persekutuan dan keguyuban di antara warga lingkungan/wilayah. Di luar itu, biasanya kesempatan Misa itu juga dipakai oleh pastor-paroki untuk memberi katekese iman sebelum/di dalam/sesudah perayaan Ekaristi dilangsungkan.

Penghayatan Umat

Dari Tradisi, Gereja mewarisi sekumpulan perintah yang kita kenal sebagai 5 perintah Gereja. Menarik bahwa tiga di antaranya berisi perintah sehubungan dengan kehadiran dalam perayaan Ekaristi. Ketiga perintah tersebut adalah: merayakan Hari Raya yang disamakan dengan hari Minggu (perintah pertama); mengikuti perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan Hari Raya yang diwajibkan Gereja (perintah kedua); menerima Komuni Kudus sekurang-kurangnya sekali setahun pada Masa Paskah (perintah kelima). Ketiga perintah itu memuat tuntutan minimal bagi umat beriman untuk menghadiri perayaan Ekaristi dan menyambut Tubuh Tuhan dalam Komuni Kudus.

Antusiasme umat untuk menghadiri perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan Hari Raya yang ditetapkan Gereja memanglah sangat besar. Pada kesempatan itu, umat berbondong-bondong datang ke gereja, dengan wajah yang cerah dan pakaian yang rapi. Bagi umat, kesempatan Misa di gereja pada hari Minggu atau Hari Raya juga digunakan sebagai waktu-luhur-bersama-keluarga. Dalam kesempatan itu, seluruh anggota keluarga – mulai dari orangtua, anak-anak, sampai kakek-nenek – bersama-sama bersiap dan mengkhususkan saat itu sebagai saat untuk bertemu dengan Tuhan. Selain itu, kesempatan Misa di gereja adalah saat yang indah bagi seluruh umat paroki untuk berjumpa dan membangun persekutuan Tubuh Kristus yang nyata. Namun yang terutama, kesempatan untuk menghadiri perayaan Ekaristi di gereja merupakan saat di mana umat beriman: (1) memohon dan mengucap syukur atas berkat Tuhan yang tercurah, (2) mempersembahkan dan menguduskan segala karya hidup (pekerjaan, sekolah, pelayanan, rencana-rencana, dsb) di hadapan Tuhan, (3) serta saat untuk menimba kekuatan dari Tuhan dalam peziarahan hidup di dunia yang tak selalu mudah.

Secara pribadi, saya terkesan dengan umat beriman yang setia menghadiri perayaan Ekaristi harian. Secara kuntitatif, jumlah umat yang setia hadir saat perayaan Ekaristi harian memang sangatlah sedikit di banding saat perayaan Ekaristi mingguan. Dari sekian ribu jumlah umat di paroki, biasanya hanya beberapa puluh saja di antaranya yang hadir di perayaan Ekaristi harian. Alasannya bisa beraneka ragam: karena kesibukan kerja, sekolah, urusan rumah tangga, dst. Atau juga lantaran umat beriman tidak mendapat katakese yang memadai soal hal itu; menganggap bahwa kehadiran dalam Misa cukuplah sekali seminggu. Namun yang jelas, bagi umat yang setia hadir saat perayaan Ekaristi harian, saya menangkap adanya hasrat untuk berakar pada Kristus pada tiap harinya. Bagi umat, mendengarkan Sabda Tuhan dan menyambut Tubuh Tuhan dalam Komuni Kudus tiap hari adalah cara untuk tidak lupa bahwa Tuhanlah sumber kehidupan yang mereka terima sebagai sebuah anugerah.

Sementara itu, yang tak kalah menarik adalah penghayatan umat di stasi pedesaan tentang Ekaristi. Bagi mereka, perayaan Ekaristi adalah sebuah kerinduan. Mengapa? Sebab, tidak setiap minggu mereka mendapat kesempatan untuk bertemu Tuhan dalam Komuni Kudus. Lantaran terbatasnya tenaga imam di paroki dan banyaknya jumlah stasi, maka perayaan Ekaristi di sebuah stasi baru bisa diselenggarakan sebulan sekali atau bahkan dua bulan sekali. Karena itu, ketika ada imam yang hadir di stasi untuk mempersembahkan Kurban Ekaristi, sukacita mereka kiranya seperti bumi yang tersiram hujan. Ada kesegaran baru yang menyeruak di hati selepas lama menunggu. Sebab, dalam Kurban Ekaristi, Tuhan yang ditunggu hadir secara pribadi di hati umat, baik dari imam sendiri sebagai pelayan in persona Christi, maupun terlebih dari Komuni Kudus yang mereka terima. Dari Komuni Kudus itulah mereka menemukan sumber hidup dan kekuatan bagi iman serta hidup mereka di dunia.

Saran Umat

Di antara sakramen-sakramen Gereja yang lain, Sakramen Ekaristi mendapat tempat istimewa di hati umat beriman. Pertama, karena Ekaristi adalah perayaan iman umat di mana Tuhan sendiri hadir dan menyapa umat beriman secara personal lewat rupa Komuni Kudus. Kedua, karena Ekaristi adalah liturgi Gereja yang paling sering dihadiri oleh umat beriman. Ketiga, karena Ekaristi adalah Sakramen yang menemani setiap momentum dari perjalanan hidup umat, mulai dari saat kelahiran sampai kematian. Karena itu, tak salah bila perhatian umat pada Ekaristi sangatlah besar. Dalam semangat persekutuan dan pembangunan jemaat, umat pun tak segan-segan menyumbang usul-saran kepada pastor-paroki tentang bagaimana sebaiknya pelayanan pastoral Sakramen Ekaristi diberikan.

Pertama, soal upaya inkulturasi. Di kalangan umat, ada kerinduan yang besar untuk mendekatkan Liturgi Ekaristi di hati umat lewat kebudayaan yang dihayatinya. Beberapa praktek yang bisa dirujuk adalah Misa Suro, Misa Ruwatan, Misa Imlek, dst. Namun, harus dipahami bersama bahwa ada ketentuan-ketentuan liturgi yang tidak boleh diotak-atik. Sebab sifatnya sudah pakem dan sarat dengan makna teologis yang dalam. Misalnya soal keharusan imam memakai kasula dalam perayaan Ekaristi, keharusan menggunakan roti dan anggur sebagai bahan persembahan, keharusan setia pada ritus dan rubrik yang telah disusun, dsb.

Ada kecenderungan bahwa inkulturasi yang dipahami umat berhenti pada tempelan atribut lahiriah dari budaya tertentu semata. Misalnya, imam memakai busana adat jawa/tionghoa menggantikan kasula. Ada juga kecenderungan salah dalam inkulturasi yang memasukkan begitu saja atribut budaya tertentu tanpa tahu makna asli atribut budaya tersebut, dan tanpa ditafsir ulang seturut dengan nilai-nilai iman kristiani. Misalnya dalam liturgi Ekaristi ada praktek menjejer keris untuk “diberkati”, menampilkan barongsai dalam Misa, dst. Karena itu, sebelum praktek-praktek inkulturasi dikerjakan, umat yang cakap dan imam, terutama para teolog, haruslah menimbang dan menafsir ulang bentuk-bentuk budaya apa yang sesuai dengan nilai-nilai iman kristiani yang bisa dijadikan sebagai sarana pewartaan. Selain itu, harus pula disadari bersama bahwa inkulturasi bukan semata soal pengalih-fungsian wujud-wujud budaya tertentu dalam liturgi iman, melainkan bagaiamana iman kristiani menerangi filosofi hidup umat beriman yang hidup dalam budaya tertentu. Di paroki kota, inkulturasi yang demikian kiranya tidak mudah. Sebab, umatnya memiliki latar belakang budaya yang beragam (heterogen).

Kedua, soal homili imam dalam Misa. Di dalam perayaan Ekaristi, homili adalah saat yang istimewa bagi imam yang hadir sebagai persona Kristus yang mendekati umat lewat sabda-Nya. Dalam homili, imam menjabarkan isi Sabda Allah, sekaligus juga memberi kesegaran isnpirasi batin atau peneguhan iman kepada umat. Lebih jauh, Sacrosanctum Concilium artikel 52 menegaskan bahwa homili itu bagian dari Liturgi yang sangat dianjurkan; di situ diuraikan misteri-misteri iman dan kaidah-kaidah hidup kristiani berdasarkan teks Kitab Suci. Sementara itu, dalam menyampaikan homili, tiap imam memiliki gaya masing-masing. Namun, sembari mengingat arti penting homili, cukup banyak umat yang gelisah dengan bagaimana imam membawakan homili.

Dalam semangat persekutuan, tak jarang umat memberi saran yang membangun kepada imam soal cara membawakan homili. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: (1) homili harus masuk menyentuh ke dalam hidup umat, tidak melulu teori yang berada di awang-awang; (2) homili harus jelas dan konkret, tidak banyak memakai bahasa perlambang; (3) homili bukan waktu untuk marah-marah atau menyindir umat; (4) imam perlu untuk mempelajari teknik-teknik berkomunikasi agar homili yang dibawakan menjadi segar dan berdaya (kadang ada kecenderungan bahwa isi homili yang disampaikan imam sudah sangat baik, tetapi menjadi kering karena imam membawakan homilinya secara monoton).

Peluang Kebijakan Pastoral

Ada dua hal yang ingin saya catat dalam poin ini. Pertama, tentang imam. Kedua, tentang umat beriman. Kedua subjek tersebut adalah pribadi-pribadi yang memainkan peran penting dalam Ekaristi. Tanpa imam, Kurban Ekaristi tidak bisa dilangsungkan. Sementara itu, tanpa umat beriman, sekalipun imam masih dimungkinkan untuk menyelenggarakan Misa pribadi, tapi wujud Ekaristi sebagai perayaan iman bersama seluruh anggota Gereja sebagai satu kesatuan Tubuh Kristus akan kehilangan maknanya. Dengan berpijak pada dokumen Sacrosanctum Concilium, ada beberapa peluang yang bisa diwujudkan untuk pelayanan pastoral Sakramen Ekaristi secara lebih baik lagi.

Pertama, tentang imam. Di dalam sebuah paroki, imam (terlebih pastor kepala paroki) adalah pengemban reksa pastoral yang utama bagi jemaat paroki. Sehubungan dengan pastoral Sakramen Ekaristi, telah dikatakan di atas bahwa Ekaristi adalah sakramen yang mendapat tempat yang istimewa di hati umat beriman. Sebab, di dalam Ekaritilah umat beriman berjumpa secara nyata dengan Tuhan, memuliakannya, memohon rahmat dan kekuatan untuk menjalani hidup di dunia. Para Bapa Konsili sendiri menegaskan makna penting Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup kristiani. Melihat arti penting Ekaristi, maka imam di paroki perlu untuk menyelenggarakan pembinaan iman dan katakese seputar Ekaristi. Tujuannya agar umat beriman yang merayakan Ekaristi mampu untuk menghayatinya secara lebih mendalam.

Sacrosanctum Concilium memberikan prinsip pokok bagaimana pembinaan/katekese liturgi, dalam hal ini Ekaristi, itu dijalankan. Pada tempat pertama, Bapa Konsili menandaskan, “Hendaklah para gembala jiwa dengan tekun dan sabar mengusahakan pembinaan Liturgi kaum beriman serta keikut-sertaan mereka secara aktif, baik lahir maupun batin, sesuai dengan umur, situasi, corak hidup, dan taraf perkembangan religius mereka” (SC 19). Kemudian, secara lebih praktis, Bapa Konsili menambahkan, “Para pelayan misa (putera altar), para lektor, para komentator, dan para anggota paduan suara hendaknya dibina untuk membawakan peran meraka dengan tepat dan rapi, agar mampu menunaikan tugasnya dengan saleh, tulus, dan seksama” (bdk. SC 29).

Lebih dari itu, Bapa Konsili menyerukan bahwa “Hendaklah mereka (imam – red.) membimbing kawanan mereka bukan saja dengan kata-kata, melainkan juga dengan teladan” (SC 19). Tindakan memang lebih berbicara daripada kata-kata. Sebagai seorang gembala jiwa dan pemimpin utama umat, imam di paroki perlu untuk menjadi teladan dan saksi hidup tentang bagaimana seharusnya penghayatan terhadap Sakramen Ekaristi itu dijalankan.

Kedua, tentang umat beriman. Para Bapa Konsili menyerukan kepada umat beriman untuk ikut serta secara penuh, sadar, dan aktif dalam perayaan liturgi, terutama Ekaristi (bdk. SC 14). Pembinaan dan katakese yang perlu dilakukan oleh imam bisa berangkat dari seruan ini. Keikut sertaan secara aktif, sadar, dan penuh dari umat beriman ketika menghadiri perayaan Ekaristi amatlah dituntut sebab Ekaristi adalah perayaan iman Gereja di mana seluruh umat beriman hadir sebagai kesatuan dalam persekutuan Tubuh Kristus yang hendak memuliakan, memohon berkat, dan berucap syukur kepada Allah. Karena itu, Bapa Konsili memberi penegasan bahwa:

“Jangan sampai umat beriman menghadiri misteri iman itu sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut serta penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya mereka rela diajar oleh sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah. Hendaknya sambil mempersembahkan Hosti yang tak bernoda bukan saja melalui tangan imam, melainkan juga bersama dengannya, mereka belajar mempersembahkan diri, dan dari hari ke hari – berkat perantaraan Kristus – makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antar mereka sendiri, sehingga akhirnya Allah menjadi segalanya dalam semua” (SC 48).

Lebih jauh, soal bentuk keikut sertaan aktif umat beriman dijabarkan sebagai berikut:

“Untuk meningkatkan keikut-sertaan aktif, hendaknya aklamasi oleh umat, jawaban-jawaban, pendarasan mazmur, antifon-antifon, dan lagu-lagu, pun pula gerak-gerik, peragaan serta sikap badan dikembangkan. Pada saat yang tepat, hendaklah diadakan juga saat hening yang khidmat” (SC 30).

Penutup

Ekaristi memang sungguh perayaan iman yang luar biasa. Di dalam Ekaristi, Tuhan sendiri hadir menyapa manusia dan bahkan tinggal di dalam diri manusia dalam santapan roti dan anggur yang adalah Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Sungguh kenyataan tersebut merupakan sesuatu yang mengagumkan. Betapa besarnya kasih Tuhan sehingga Ia sudi hadir dan menyediakan diri-Nya sebagai santapan rohani bagi tiap orang beriman.

Dengan merayakan Ekaristi dan menyambut Tubuh Kristus, kita mendapat kekuatan yang baru dan segar untuk meneruskan peziarahan hidup. Terlebih lagi, dengan kesadaran akan persatuan mesra dengan Kristus dalam Tubuh-Nya yang telah kita sambut, kita diingatkan bahwa hidup kita tidak akan berarti apa-apa (menjadi kosong dan tanpa makna) jika lepas dari-Nya. Dialah Sang Sumber Hidup. Melalui kurban diri Kristus di atas salib, Ia memberikan hidup baru yang sejati kepada tiap orang. Kurban diri Kristus di salib itu (di)hadir(kan) kembali dalam Ekaristi. Dengan demikian, karunia hidup baru yang sejati itu juga dicurahkan bagi tiap orang yang merayakan dan menyambut diri Kristus dalam Kurban Ekaristi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s