Membaca Paskah dari Sajak “Celana Ibu”


Maria sangat sedih menyaksikan anaknya/mati di kayu salib tanpa celana/dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit/dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang/ ke kubur anaknya itu, membawakan celana/ yang dijahitnya sendiri dan meminta/Yesus untuk mencobanya.

”Paskah?” tanya Maria./ ”Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,/Yesus naik ke surga.

 (Celana Ibu, Joko Pinurbo, 2004)

Sajak “Celana Ibu” berkisah soal Paskah. Gereja mengamini Paskah sebagai puncak iman kristiani. Lewat peristiwa Paskah, Yesus Kristus yang telah menderita dan wafat di kayu salib, bangkit dengan jaya dari antara orang mati. Ia memutuskan rantai dosa dan maut. Ia lantas naik ke surga dengan mulia. Dengan demikian, Ia memberi harapan yang pasti bagi kita untuk kelak mengalami persatuan abadi dengan Allah.

Peristiwa iman yang sedemikian besar itu tak jarang memberi arti yang sedemikian pribadi bagi sebagian orang. Dengan kata lain, selain penghayatan objektif, peristiwa Paskah juga ditangkap dalam penghayatan personal. Artikulasi penghayatan personal itu bisa bermacam-macam wujudnya. Misalnya saja, lukisan, patung, komposisi musik, karya sastra, termasuk juga ide-ide pembebasan.

Sajak “Celana Ibu” merupakan salah satu wujud dari penghayatan personal perihal Paskah. Joko Pinurbo, penulis sajak “Celana Ibu”, memasukkan Paskah dalam panggung puisi. Selain dikenal sebagai penyair yang mumpuni, Joko Pinurbo adalah juga seorang Katolik. Keindahan sastra dan kedalaman iman katolik jelas menjadi roh yang menyala di dalam dirinya.

Kisah kebangkitan dan lalu kenaikan Yesus ke surga dimaknai oleh Joko Pinurbo secara lebih lumer dengan mengeksplorasi sisi manusiawinya. Ia tidak berpretensi untuk menuturkan satu kotbah verbal dan dogmatis tentang Paskah. Domainnya adalah panggung puisi dengan keliaran imajinasi.

Imajinasi yang dituturkan oleh Joko Pinurbo tentang Paskah tentu saja berbeda jauh dengan kisah faktual Paskah sebagaimana yang dicatat dalam Kitab Suci. Akan tetapi, kita bisa menangkap adanya percik permenungan yang tak bisa dikatakan dangkal dalam sajak “Celana Ibu”. Relasi kasih antara ibu dan anak – Maria dan Yesus –, juga persoalan tentang celana, memberi ruang yang terbuka bagi kita untuk melihat penghayatan personal-alternatif perihal Paskah.

Subjek utama dalam sajak “Celana Ibu” adalah Maria dan Yesus. Hubungan antara ibu dan anak – Yesus dan Maria – dilukiskan oleh Joko Pinurbo dengan narasi yang padat. Sekalipun demikian, di dalamnya tersirat relasi yang sedemikian akrab. Maria sedih karena ia menyaksikan anaknya mati. Hati ibu mana yang tidak pecah berkeping tatkala melihat anaknya digiring sebagai pesakitan?! Hati ibu mana yang tidak luluh lantak lantaran menjadi saksi dari akhir hidup buah hatinya sendiri?!

Maria kiranya telah mengerti bahwa Yesus, anaknya, telah ditentukan untuk mati. Yesus, anak yang ia lahirkan dari Roh Kudus, mengemban misi suci sebagai tebusan bagi dosa tiap orang. Maria kiranya telah menyiapkan batinnya sejak awal sewaktu ia mendengar nubuat pedih dari Simeon dan Hanna. Akan tetapi, sebagai ibu, hati Maria tetaplah tercabik menyaksikan bagaimana cara anaknya mati.

Yesus mati dengan tanpa celana. Dalam gambaran tradisional tentang kisah penyaliban, Yesus hanya mengenakan sobekan kain yang dililitkan di pinggangnya. Ditambah lagi, sobekan kain itu berlumuran darah. Sungguh sebuah cara kematian yang teramat hina. Penuh dengan jejak-jejak luka. Pada jaman itu, kematian di salib adalah hukuman yang paling berat dan maksimal untuk seorang penjahat besar.

Kehinaan dan bukti-bukti siksaan memang secara telanjang dipertontonkan oleh pemerintah yang berkuasa (Roma) saat itu. Pertama, sebagai silih atas kejahatan. Kedua, sebagai syok terapi bagi khalayak umum. Namun, kita tahu bahwa tak ada kesalahan apa pun pada diri Yesus. Ia rela direndahkan dan mati di kayu salib seperti seorang penjahat, sebab hanya dengan cara itu kesaksian-Nya akan menjadi bernas di hati orang yang percaya. Bukankah nubuat nabi Yesaya tentang Mesias juga menyaksikan hal yang serupa?! Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengasaraan kita yang dipikulnya (Yes 53:3-4b).

Kehinaan dan penderitaan adalah bagian yang tak terlepaskan dari salib yang dipikul oleh Yesus. Tetapi justru karena salib itulah kita beroleh hidup. Hidup yang ditawan oleh belenggu dosa, ditebus oleh Yesus lewat duka-sengasara-Nya di salib. Di sepanjang perjalanan iman Kristiani, penghayatan tentang salib pun menjadi sedemikian sentral. Salib adalah jalan pemurnian; adalah jalan yang harus di tempuh sebelum kemuliaan direngkuh.

Sementara itu, di dalam sajak “Celana Ibu”, relasi Maria dan Yesus diperantarai dengan medium celana. Tahu bahwa Yesus mati di kayu salib tanpa celana, Maria secara khusus menjahitkan celana untuk anaknya. Konteks pemberian celana itu pun amat menarik. Yesus menerima celana jahitan ibunya waktu Ia akan naik ke surga. Celana jahitan ibunya kiranya menjadi hadiah yang amat istimewa bagi Yesus.

Lantas, apa yang bisa kita baca dalam imajinasi tersebut? Dengan memakai medium celana, Joko Pinurbo rupanya hendak mentautkan makna Paskah dengan kenyataan hidup yang konkret. Tatkala menyaksikan anaknya mati tanpa celana, Maria tergerak untuk menjahitkan celana bagi anaknya. Tindakan ini mengingatkan kita pada sabda Yesus, “Ketika aku telanjang, kamu memberi aku pakaian…” (Mat 25:36).

Belas kasih nyatanya menjadi fokus utama tindakan Gereja. Gereja yang dimaksud di sini hendaknya dibaca sebagai kumpulan umat beriman Katolik yang telah dibaptis. Lewat belas kasih, Gereja menghadirkan Allah yang berbelas kasih pada tiap orang.

Sebagai penutup, Joko Pinurbo menghadirkan momen kasih yang intim antara ibu (Maria) dan anak (Yesus). Momen itu hadir dalam percakapan sederhana yang singkat, ”Paskah?” tanya Maria./ ”Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira. Mengenakan celana buatan ibunya,/Yesus naik ke surga. Ada sukacita yang tergambar jelas di sini. Paskah memang adalah soal sukacita sejati, kegembiraan yang tak dibuat-buat.

Yesus telah bangkit. Kepada Yesus yang telah bangkit itu, kita pun juga ditanya, “Sudahkah ada ‘celana’ yang kita jahit untuk Yesus naik ke surga?”

2 thoughts on “Membaca Paskah dari Sajak “Celana Ibu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s