Maria dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik


Penghormatan kepada Bunda Maria sudah berlangsung sejak Gereja perdana. Maria dihormati lantaran relasinya yang istimewa dengan Yesus Kristus. Ia adalah bunda Penebus. Melalui keputusannya yang bebas untuk menerima titah Allah, Maria ambil bagian secara istimewa dalam sejarah keselamatan. Maria berjasa mendatangkan kehidupan dan keselamatan bagi manusia. Melalui rahimnya, Yesus Kristus, Sang Penebus, lahir ke dunia.

Selama Abad Pertengahan, penghormatan kepada Bunda Maria berkembang dengan amat pesat, sangat digemari dan menjamur di kalangan umat. Hal ini tidak terlepas dari praktek kesalehan umat dan karena liturgi Gereja yang sangat kaku lagi kering. Umat butuh penghayatan iman yang hidup. Dalam penghormatan kepada Maria, umat memperoleh penghayatan iman yang hidup itu. Sepanjang Abad Pertengahan, cukup banyak olah kesalahen umat seputar Bunda Maria masuk ke dalam liturgi Gereja.

Dalam Konsili Vatikan II, Gereja membarui liturgi yang dirayakannya. Praktek dan perayaan liturgi diatur ulang oleh Gereja, termasuk perayaan-perayaan seputar Maria yang sebelumnya dimasukkan dalam perayaan liturgi Gereja. Dengan semangat pembaharuan Konsili Vatikan II, perayaan seputar Maria diatur dan dibagi ke dalam tiga tingkatan perayaan liturgis, yakni Hari Raya, Pesta, Peringatan (Wajib dan Fakultatif). Di bawah ini akan diuraikan secara sederhana berbagai perayaan seputar Maria sebagaimana yang tercantum dalam kalender liturgi Gereja Katolik.

HARI RAYA (SOLEMNITAS)

Hari Raya adalah tingkatan perayaan liturgis yang tertinggi dalam Gereja. Setiap hari minggu adalah Hari Raya. Peristiwa iman yang dirayakan sebagai Hari Raya adalah peristiwa yang sentral dalam sejarah rencana keselamatan Allah. Liturgi Hari Raya dirayakan secara meriah, yakni dengan pembacaan 3 perikop Kitab Suci (Bacaan Pertama, Bacaan kedua, dan Injil) dan yang sesuai dengan perayaan yang bersangkutan, pengucapan “Kemuliaan”, dan “Aku Percaya”.

1. Santa Perawan Maria Bunda Allah (1 Januari)

Dasar perayaan ini adalah kesaksian Injil yang dengan tegas menyatakan bahwa Yesus lahir dari rahim Maria (bdk. Luk 2:7). Maria, dengan demikian, menjadi bunda Yesus. Lantaran persatuan yang erat dengan Yesus, kebundaan Maria tidak hanya terbatas pada kodrat kemanusiaan Yesus, tapi juga mencakup kodrat ke-Allah-an Yesus. Jadi, jikalau kita mengakui Yesus sebagai Allah, maka Maria pun juga semestinya kita akui sebagai Bunda Allah.

Jika kita menilik sejarah Gereja, penegasan gelar Maria Bunda Allah ini dipicu oleh ajaran Nestorius (430) yang menyatakan bahwa Maria hanyalah Christotokos (Bunda Kristus), bukan Teotokos (Bunda Allah). Dengan pernyataan Christotokos, Nestorius mengajarkan bahwa Yesus Kristus itu sekadar manusia yang diurapi, bukan Allah. Ajaran Nestorius dikutuk dalam Konsili Efesus (431). Konsili menyatakan bahwa Maria adalah Theotokos, Bunda Allah, karena dari rahimnya, lahirlah Sang Putera Allah.

2. Kabar Sukacita (25 Maret)

Perayaan ini didasarkan pada peristiwa kunjungan Malaikat Gabriel kepada Bunda Maria (Luk 1:26-38). Malaikat Gabriel memberi kabar bahwa Maria dipilih untuk menjadi ibu yang mengandung dan melahirkan Putera Allah yang Mahatinggi. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah Kekristenan. Kesediaan Maria untuk taat pada rencana dan kehendak Allah bagi dirinya, memberi tempat bagi Yesus Kristus, Putera Allah yang terkasih, untuk datang ke dunia dan menjelma menjadi manusia. Menarik bahwa Gereja menempatkan Hari Raya Kabar Sukacita ini tepat sembilan bulan (usia lazim bagi seorang perempuan untuk mengandung dan kemudian melahirkan) sebelum Hari Raya Natal, kelahiran Yesus Kristus.

3. Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga (15 Agustus)

Perayaan ini didasarkan pada dogma yang dikeluarkan oleh Paus Pius XII, tanggal 15 Agustus 1950. Dogma Maria diangakat ke surga merupakan sebuah ungkapan dan keyakinan iman akan keistimewaan Maria dihadapan Allah. Dalam perayaan ini, Gereja meyakini bahwa Bunda Maria, yang secara istimewa ambil bagian dalam tata keselamatan Allah, dikuduskan oleh Allah menjadi tempat kediaman Putera-Nya, dan hidup dalam ketaatan dan kesucian yang luar biasa di hadapan Allah, pada akhir hidupnya pasti mendapat karunia yang besar dari Allah. Dalam tradisi Gereja diyakini bahwa Maria tidak mengalami peristiwa kematian. Berkat kuasa Allah, Maria langsung diangkat ke surga dengan jiwa dan badannya untuk mengalami kebahagiaan kekal bersama dengan Puteranya.

4. Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (8 Desember)

Dasar perayaan ini adalah dogma yang dikeluarkan oleh Paus Pius IX, pada tanggal 18 Desember 1854. Gereja menyatakan bahwa sejak dikandung ibunya, Santa Anna, Maria tidak ternoda oleh dosa asal. Maria adalah satu-satunya manusia yang terbebas dari dosa asal. Hal ini terjadi karena Maria dipilih dan disiapkan untuk menjadi “bejana yang kudus” bagi kedatangan Yesus Kristus. Karena itu, dengan rahmat Allah, Maria disucikan sejak berada dalam kandungan, dibebaskan dari dosa asal, agar Yesus Kristus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, mendapat tempat kediaman yang layak sebelum Ia dilahirkan ke dunia.

PESTA (FESTUM)

Pesta adalah perayaan liturgis tingkat kedua. Perayaan liturgi Pesta tidak semeriah Hari Raya. Perayaan liturgi Pesta memiliki bacaan Kitab Suci yang sesuai dengan hari pesta yang dirayakan, namun hanya dua bacaan (Bacaan Pertama dan Injil). Dalam liturgi Pesta, “Kemuliaan” juga diucapkan. Hari Pesta ini bisa menjadi Hari Raya bagi keuskupan/ordo/kongregasi/tarekat tertentu.

1. Santa Perawan Maria Mengunjungi Elizabeth (31 Mei)

Pesta ini dirayakan untuk mengenang kunjungan Maria kepada Elisabet, saudaranya (Luk 1:39-56). Maria dan Elisabet adalah dua orang perempuan yang mengandung lantaran mendapat rahmat dan kasih karunia Allah. Karena itu, kunjungan Maria ke Elisabet adalah juga sebuah perjumpaan iman. Elisabet dipenuhi oleh Roh Kudus ketika mendengar ucapan salam dari Maria (Luk 3:41). Sementara itu, Maria memuji Allah karena karya-karya-Nya yang ajaib (Luk 3:46-55).

2. Kelahiran Santa Perawan Maria (8 September)

Perayaan Pesta ini tidak memiliki data biblis dan/atau historis. Kita tidak memiliki sumber yang menyebut informasi soal kapan dan dimana Maria dilahirkan. Informasi seputar latar belakang hidup Maria paling banter menyebut nama orangtuanya, yakni Yoakim dan Anna. Informasi itu pun kita dapat dari Injil Apokrif (tersembunyi, tidak diakui Gereja). Walaupun demikian, dengan merayakan pesta ini, Gereja mengungkapkan keyakinannya bahwa Maria adalah sosok yang benar-benar historis. Ia ada dan pernah dilahirkan.

PERINGATAN WAJIB (MEMORIA OBLIGATORIA)

Tingkat perayaan liturgi yang paling akhir adalah Peringatan. Peringatan dibagi menjadi dua, yakni Peringatan Wajib dan Peringatan Fakultatif. Peringatan Wajib dirayakan oleh Gereja universal. Dalam liturgi Peringatan Wajib, bacaan-bacaan Kitab Sucinya mengikuti bacaan pada hari yang bersangkutan, cuma doa dan intensi misanya saja yang khusus, yakni merayakan peringatan tertentu.

1. Hati Tersuci Santa Perawan Maria (Sabtu Ketiga Sesudah Pentakosta)

Dalam kalender liturgi Gereja, Peringatan Hati Tersuci Santa Perawan Maria ini ditempatkan berdekatan dengan Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus. Hal ini tentu ada maksudnya. Hati Yesus Mahakudus melambangkan cinta dan belas kasih Yesus yang begitu besar kepada umat manusia demi keselamatan mereka. Maria, bunda Yesus yang kudus, kiranya juga memiliki hati yang demikian. Maria menyerahkan seluruh dirinya pada rencana dan kehendak Tuhan. Ia mencurahkan segenap cinta yang ia miliki guna mengemban tanggung jawab sebagai ibu Tuhan. Lebih dari itu, hatinya suci, sebab di dalam dirinya berdiam Pribadi Ilahi, Yesus Kristus, sumber segala kesucian.

2. Santa Perawan Maria Ratu (22 Agustus)

Peringatan ini merupakan salah satu ungkapan iman Gereja untuk mengungkapkan penghargaannya yang mendalam atas keistimewaan Bunda Maria. Ide dasar peringatan ini berkaitan erat dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga yang dirayakan oleh Gereja 7 hari sebelumnya. Gereja meyakini bahwa setelah diangkat ke surga, Bunda Maria dimuliakan oleh Allah dan dinobatkan sebagai Ratu.

3. Santa Perawan Maria Berdukacita (15 September)

Peringatan Bunda Maria Berdukacita dikenal juga dengan nama “Tujuh Dukacita Maria”. Berdasarkan Injil, Gereja mencatat ketujuh kedukaan Maria itu sebagai berikut: (1) Nubuat Simeon tentang suatu pedang yang akan menembus jiwa Maria – Luk 2:34-35; (2) Pengungsian keluarga kudus ke Mesir – Mat 2:13-15; (3) Kanak-kanak Yesus hilang dan ditemukan di Bait Allah – Luk 2:41-51; (4) Melihat Yesus, Puteranya memanggul salib – bdk. Luk 23:27; (5) Bunda Maria berdiri di kaki salib Yesus – Yoh 19:25-27; (6) Menyambut tubuh Puteranya yang tak bernyawa – bdk. Mat 27:57-59; Yoh 19:38-40; (7) Meletakkan Yesus dalam kubur – bdk. Yoh 19:40-42. Dalam perayaan ini, Gereja mengajak umat beriman untuk meneladan Bunda Maria yang menanggung segala penderitaan yang ia alami dengan penuh kepercayaan, sabar, dan setia pada rencana/kehendak Allah

4. Santa Perawan Maria Ratu Rosario (7 Oktober)

Rosario adalah doa yang sangat populer di kalangan umat beriman. Doa ini sangat kental dengan nuansa injil. Pertama, karena untaian Salam Maria yang didoakan disadur dari Injil sendiri: bagian pertama dari kata-kata salam Malaikat Gabriel (Luk 1;28), bagian kedua dari tanggapan Elisabet atas kata-kata salam dari Maria (Luk 1:42). Kedua, dalam untaian Salam Maria itu dikenangkan peristiwa-perstiwa seputar hidup Yesus.

Awalnya, Peringatan Santa Perawan Maria Ratu Rosario itu sendiri ditetapkan oleh Paus Pius V, pada tahun 1571, sebagai ucapan syukur atas kemenangan pasukan Kristen yang berhasil memukul mundur pasukan Islam Turki di Lepanto. Kemenangan itu diyakini sebagai perlindungan Bunda Maria, sebab sewaktu perang tersebut berlangsung Paus Pius V menyerukan agar seluruh umat beriman memohon bantuan Bunda Maria dengan berdoa Rosario. Di kemudian hari, Paus Klemens XI, pada tahun 1716, mengukuhkan peringatan Santa Perawan Maria Ratu Rosario ini sebagai perayaan untuk Gereja universal.

5. Santa Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah di Kenisah (21 November)

Peringatan ini sebenarnya tidak memiliki dasar biblis. Menurut cerita yang berkembang dalam tradisi, Yoakim dan Anna, orangtua Maria, bernazar kepada Allah bila mereka dikaruniai seorang anak, mereka akan mempersembahkannya kepada Allah. Maria pun lahir, dan pada usia ke 3, ia dibawa oleh orangtuanya ke Bait Allah untuk dipersembahkan kepada Allah. Lebih dari itu, dalam peringatan ini, Gereja memercayai bahwa penyerahan diri Maria pada rencana dan kehendak Allah yang menjadikannya sebagai ibu Tuhan bukanlah keputusan yang seketika jadi dan selesai, melainkan hasil dari proses pembinaan dan pengolahan diri sedari dini. Karena itu, Gereja  meyakini bahwa sedari kecil, Maria telah didik secara rohani oleh orangtuanya, yakni dengan mempersembahkannya kepada Allah di kenisah suci.

Sebenarnya, secara historis, perayaan ini bermula dari tradisi Gereja Timur yang mengenang pemberkatan Gereja Bunda Maria di Yerusalem (tahun 543). Kemudian, tahun 1585 Gereja Barat memasukkannya ke dalam kalender liturgi  sebagai pengakuan akan Bunda Maria yang merupakan kenisah di mana Allah (Putra) berdiam.

PERINGATAN FAKULTATIF (MEMORIA AD LIBITUM)

Peringatan Fakultatif tidak mutlak dirayakan oleh Gereja universal. Sifat perayaan ini adalah optional – boleh dirayakan, boleh tidak. Sebenarnya ada banyak Peringatan Fakultatif seputar Maria, namun di sini kita akan membatasi diri pada 3 Peringatan Fakultatif yang dicantumkan dalam kalender liturgi terbitan KWI.

1. Santa Perawan Maria di Lourdes (11 Februari)

Penampakkan Maria di Lourdes terjadi pertama kali pada tanggal 11 Februari 1858.  Berturut-turut, sebanyak 18 kali, Bunda Maria menampakkan dirinya kepada seorang gadis miskin yang bernama Bernadette Soubirous (dikanonisasi menjadi Santa pada tahun 1933 oleh Pius XI). Kepada Bernadette Soubirous, Bunda Maria memperkenalkan diri sebagai “Yang Dikandung Tanpa Dosa”. Pada tahun 1892, Paus Leo XIII memasukkan peristiwa penampakan Maria di Lourdes ini sebagai perayaan dalam Gereja. Tanggal perayaannya diambil dari tanggal pertama kalinya Bunda Maria menampakkan diri, yakni 11 Februari. Kemudian, Paus Pius X menetapkannya sebagai peringatan yang dirayakan oleh Gereja universal.

2. Santa Perawan Maria di Gunung Karmel (16 Juli)

Gunung Karmel adalah gunung tempat di mana Nabi Elia melawan dan mengalahkan nabi-nabi Baal (1 Raj 18:20-40). Sekitar abad 13, gunung ini dijadikan tempat bertapa oleh sekelompok biarawan yang dikemudian hari menjadi cikal bakal Ordo Karmel. Mereka sangat menghormati Bunda Maria dan menjadikannya sebagai pelindung ordo. Dari mereka, kita mengenal sebutan Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel.

Dasar peringatan Santa Perawan Maria di Gunung Karmel itu sendiri adalah penampakan Bunda Maria kepada St. Simon Stock, seorang abas Ordo Karmel, pada tanggal 16 Juli 1251. Dalam penampakan tersebut, Bunda Maria memberikan medali skapulir coklat sebagai tanda perlindungan darinya.  Ada banyak mukjijat yang terjadi berkat medali skapulir itu. Paus Pius X kemudian menetapkan tanggal penampakan Maria itu sebagai hari peringatan dalam liturgi Gereja.

3. Pemberkatan Gereja Basilik Santa Maria (5 Agustus)

Perayaan ini berawal sewaktu Paus Liberius, abad ke-4, merombak sebuah rumah di bukit Eskuilina dan menjadikannya sebagai sebuah gereja. Tindakan itu dipicu oleh adanya penampakan Bunda Maria kepada dua orang saleh penghuni rumah di bukit Eskuilina itu. Bunda Maria meminta mereka untuk mendirikan sebuah gereja baginya di tempat itu.  Pada abad ke-5, Paus Sixtus III memperbesar gereja tersebut menjadi sebuah basilika dan menamainya sebagai Basilika Santa Maria Maggiore. Ia pun menetapkan tanggal 5 Agustus sebagai perayaan pemberkatan Basilika tersebut.

Demikianlah, Gereja sedemikian menghormati Maria sebagai pribadi yang memancarkan keutamaan iman yang tak pernah habis digali dan dihayati. Melalui perantaraannya, Gereja memohonkan rahmat dari waktu ke waktu. Masuknya penghormatan kepada Maria ke dalam liturgi Gereja pada akhirnya menandaskan satu hal, yakni bahwa bersama Maria, umat beriman turut juga diundang untuk masuk lebih dalam ke misteri iman yang dirayakan oleh Gereja di setiap perayaan liturginya.

(Disadur dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s