di kota, kita berkendara dengan gelisah


Kota selalu saja punya magnet yang besar untuk menarik banyak orang berdatangan, dan kemudian tinggal. Alasan utamanya satu, kota adalah sentra pembangunan. Sarana-sarana pelayanan publik yang berkualitas baik hadir tersebar di titik-titik kota, misalnya saja: kantor pemerintahan, rumah sakit, sekolah/perguruan tinggi, tempat-tempat perbelanjaan, tempat-tempat hiburan, dst. Kota juga menyediakan lahan yang menggiurkan untuk mencari peluang kerja, sebab kantor-kantor perusahaan banyak bertempat di kota. Maka, tak heran, selain disesaki oleh bangunan-banguan yang terus saja bertambah, kota juga disesaki begitu banyak orang. Kota pun menjadi padat oleh orang-orang.

Kepadatan kota oleh orang-orang sangat kentara bila kita berkendara di jalan-jalan kota. Orang-orang tumpah ruah di sana, lalu-lalang berkendara. terutama pada pagi dan sore hari. Saat di mana aktivitas orang di jalan jadi meninggi, lantaran keperluan kerja/sekolah/lainnya. Saat-saat seperti itu, jalanan kota pun tak terhindarkan dari kemacetan. Tiap kendaraan mesti merambat pelan untuk sampai tujuan. Sementara itu, suara mesin kendaraan, entah pribadi atau umum, terdengar riuh rendah, bahkan bisa jadi gaduh di telinga. Kita pun lantas berkendara dengan gelisah.

Kita gelisah sebab kita merasa bahwa urusan kitalah yang paling utama. Atas nama kemendesakan urusan, maka kita pun sah-sah saja menganggap yang lain sebagai penggangu. Di jalan raya kota, penggangu itu mewujud dalam padatnya lalu lintas kendaraan di jalan, antrian kendaraan di kemacetan, rambu lalu lintas yang menyala merah, atau petugas polisi yang siaga mengawasi lalu lintas jalan.

Kita pun akhirnya memencet klakson terlalu sering sebab tak ingin gerak kendaraan kita terhambat. Kita mengumpat-umpat dalam hati manakala kendaraan di depan kita tak melaju dengan cepat. Kita melanggar batas jalan saat berhenti di lampu lalu lintas, berhasrat memarkir kendaraan di urutan paling depan, agar tak terjebak di antrian kendaraan. Malahan, ada kecenderungan, saat kesempatan memungkinkan, rambu lalu lintas tak lagi kita acuhkan. Meski rambu lalu lintas menyala merah, kita terus memacu kendaraan, sebab lalu lintas terlihat sepi dan (ini penting) tak ada polisi. Nampak jelas bahwa ketaatan kita pada aturan lahir dari rasa ketakutan, bukan dari pikiran dewasa yang sadar tujuan.

Ah, saya membayangkan seandainya kita berkendara dengan tenang di jalanan kota. Tiap orang taat dan sadar aturan saat berkendara. Tak ada umpatan yang keluar di tiap padatnya lalu lintas jalan. Lebih memilih memencet tombol musik daripada klakson. Berkendara di jalanan kota, yang selalu saja ramai, pun rasanya akan jadi jalan-jalan yang menyenangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s