Fakir Berbahasa Indonesia


Pernahkah kita mendengar kata keracak, cerih, atau tanglung? Jangan merasa aneh seandainya merasa asing dengan kata-kata tersebut. Kita sama. Saya baru tahu ada kata-kata itu setelah membuka-buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Keracak artinya melonjak-lonjak/laju. Cerih berarti sisa/ampas. Sedangkan, tanglung adalah lentera dari kertas/lampion. Di  KBBI, ada begitu banyak khazanah kata yang seringkali tak terucap dan terungkap, baik dalam bahasa lisan ataupun tulisan kita.

Harus kita akui, kita miskin khazanah kata bahasa Indonesia. Dari 91.000 lema (kata/frasa masukan) dalam KBBI, berapa persen yang kita ketahui? Saya yakin tak sampai 80 %. Pelajaran bahasa Indonesia di sekolah tak memiliki cukup ruang untuk mengenalkan kita pada kekayaan kosa kata Bahasa Indonesia. KBBI, yang menyimpan harta karun kosa kata Bahasa Indonesia, jarang dibuka dan dibaca; atau malahan sekadar jadi pajangan di rak perpustakaan sekolah. Padahal, kalau kita hendak belajar bahasa asing, kamus bahasa yang bersangkutan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam proses pembelajaran. Untuk fasih berbahasa asing, membolak-balik (baca: membaca, menghafal) kamus adalah sebuah keharusan. Ironisnya, hal yang sama tidak kita lakukan ketika kita belajar bahasa kita sendiri, bahasa Indonesia.

Agaknya kita memakai pola pikir yang salah. Kamus bahasa diperuntukkan hanya bagi mereka yang pemula dalam berbahasa (baca: orang nonpribumi). Kita sebagai orang asli Indonesia telah mendarah-dagingkan bahasa Indonesia, dalam percakapan dan/atau tulisan, sejak usia dini, paling tidak sewaktu di sekolah. Jadi, tidak ada kemendesakan untuk mempelajari kamus bahasa Indonesia. Padahal, pengetahuan berbahasa kita jauhlah dari sempurna. Ada begitu banyak kosa kata bahasa Indonesia yang belum kita ketahui. Dan kita seolah merasa jumawa untuk belajar pada sumber kekayaan bahasa, yakni kamus. Jadilah kita seperti fakir dalam berbahasa Indonesia.

Gejala kefakiran berbahasa Indonesia kita makin diparah dengan saling sengkarutnya kita dalam bercakap. Dengan fasih kita menyelipkan kata-kata bahasa asing dalam tiap percakapan yang kita lakukan. Misalnya, alih-alih menyebut kata “maaf”, kita lebih memilih kata sorry. Atau, menyebut boring daripada “bosan”. Barangkali penyelipan kata bahasa asing dalam percakapan itu memang sengaja kita lakukan, agar terlihat hebat di hadapan lawan bicara kita. Namun, bisa jadi kata bahasa asing itu secara otomatis terlontar begitu saja di mulut kita sudah jamak digunakan oleh orang kebanyakan. Ini aneh. Kita seakan tidak bangga dengan khazanah kata Bahasa Indonesia yang kita miliki.

Hal yang sama terjadi dengan penamaan tempat atau produk. Kalau kita ke luar rumah, di sepanjang jalan kita akan menemukan begitu banyak kosa kata bahasa asing bertebaran di papan nama gerai toko/rumah makan/penginapan/dst. Tujuannya jelas, yakni agar tempat-tempat itu berkesan elitis, menaikkan gengsi. Secara negatif, kita lantas bisa menyimpulkan bahwa bahasa Indonesia tidaklah elitis, tidak mampu menaikkan gengsi. Sungguh ironis. Sementara itu, di dalam rumah, kotak televisi kita juga menyuguhkan beragam produk lokal yang lebih percaya diri dengan menamai dan/atau mengiklankan merk dagangnya dengan terminologi bahasa asing. Apakah hal ini salah? Tidak. Benar-salah itu wilayah moral, dan gejala kefakiran berbahasa Indonesia kita tidak termasuk di dalamnya. Kefakiran berbahasa Indonesia itu perkara yang jauh lebih dalam; menyangkut soal martabat kita sebagai sebuah bangsa.

Sejak diserukan dalam kongres pemuda tahun 1928 dan lalu diresmikan sebagai bahasa negara pada 18 Agustus 1945, Bahasa Indonesia menjadi salah satu penanda utama dari entitas kebangsaan kita. Ia hadir sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional. Dengan kata lain, bahasa Indonesia dipilih sebagai perekat di antara keaneka-ragaman bahasa-bahasa lokal yang dimiliki bangsa Indonesia. Ia berada di atas semua bahasa lokal. Dengan bahasa Indonesia, masyarakat dari berbagai golongan suku pun diikat perasaannya sebagai satu bangsa yang sama, yakni bangsa Indonesia. Kemudian juga, sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia menjadi ciri keberadaan kita sebagai sebuah bangsa yang merdeka di antara bangsa-bangsa lain di dunia.

Maka, martabat bangsa kita sejatinya dipertaruhkan ketika kita malah menjadi seorang fakir dalam berbahasa Indonesia; lebih percaya diri dengan memakai terminologi bahasa asing daripada khazanah kata bahasa Indonesia. Jika hal itu tidak kita sadari, bisa-bisa bahasa kita menjadi kelas dua di tanah airnya sendiri. Kita tidak ingin martabat bangsa kita dipertaruhkan, bukan? Kita tidak ingin bahasa kita menjadi bahasa kelas dua, bukan? Lantas, apa yang bisa kita perbuat?

Pertama-tama, kita mesti mencintai dulu bahasa kita. Ada adagium yang mengatakan, “Cinta itu menggerakkan segala sesuatu”. Maka, ketika kita mencintai bahasa Indonesia, hasrat kita pun terdorong untuk semakin belajar lebih dalam tentangnya, semakin bangga menggunakannya. Tanpa cinta, tak akan kebanggan! Kemudian, menimbang gejala kefakiran berbahasa Indonesia kita, maka kita mesti menebusnya dengan memperkaya pengetahuan berbahasa kita. Salah satu caranya adalah sedia untuk membolak-balik Kamus Besar Bahasa Indonesia. Di sana kita akan menemukan kekayaan khazanah kata bahasa Indonesia yang tak terkira. Para guru di sekolah punya tanggung jawab besar untuk mengenalkan siswa didiknya sejak dini pada harta karun bahasa Indonesia tersebut.

Selanjutnya, berhenti mencampur-adukkan terminologi bahasa asing dalam percakapan. Bukannya nampak keren, malahan menjadi terasa aneh bila terminologi bahasa asing itu kita ucapkan sepotong-sepotong, campur-aduk dengan bahasa Indonesia. Kebiasaan mencampur-adukkan bahasa itu, menurut hemat saya, malah menunjukkan tingkat pengetahuan kita yang setengah-setengah. Setengah tahu bahasa Indonesia, setengah tahu bahasa asing. Menggelikan! Kemudian, yang terakhir, kita perlu merubah pola pikir bahwasanya bahasa asing lebih terasa elit daripada bahasa Indonesia. Di negara kita, bahasa yang nomor satu adalah bahasa Indonesia. Maka, mari mencintai dan bangga dengan bahasa Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s