Devosi Kepada Bunda Maria


Devosi adalah sebuah bentuk kesalehan rohani umat. Dalam devosi, kita mengungkapkan bakti kepada pribadi yang dihormati dan dikasihi. Cinta bakti dalam devosi itu sendiri diarahkan kepada Allah, baik secara langsung maupun melalui orang kudus dengan berbagai cara dan sarana, misalnya: diungkapkan dalam doa, madah, kebiasaan yang dikaitkan dengan waktu atau tempat tertentu, dsb. Di dalam Gereja Katolik, kita mengenal begitu banyak praktek devosi, misalnya saja: doa rosario, doa kepada santo/santa/malaikat tertentu, jalan salib, salve, novena, dsb. Diantara praktek-praktek devosi tersebut, yang paling kerap dihayati oleh umat Katolik adalah devosi kepada Bunda Maria.

Sosok Maria memang mendapat tempat yang paling luhur di dalam Gereja. Ia adalah ibu Sang Penebus, Yesus Kristus. Di dalam rahimnya, Allah Putera dikandung dan dilahirkan. Melalui dialah pintu keselamatan hadir bagi manusia di dalam dunia. Tidak hanya itu, Maria adalah teladan keutamaan iman yang amat istimewa. Sebab Maria, secara mendalam, memasuki sejarah keselamatan, dan dengan cara tertentu merangkum serta memantulkan pokok-pokok iman yang luhur di dalam dirinya (LG 64). Ia menjadi teladan dari sikap iman yang percaya dan berserah diri; harapan yang tak kenal padam; dan cinta kasih yang tulus lagi total. Demikianlah, Gereja pun dengan penuh sukacita mengajak umat beriman untuk melakukan sembah bakti kepada Maria, mencintainya, dan meneladan keutamaan-keutamaannya (bdk. LG 67).

Sejarah Perkembangan Devosi Maria

Praktek devosi itu sebenarnya sudah ada sejak masa awal Kekristenan. Dalam sejarah peribadatan Gereja, sekitar tahun 150, para martir mulai diikutsertakan dalam kebaktian umat. Hari kematian (bisa disebut juga “kelahiran baru”) mereka mulai dirayakan, sebab mereka diyakini telah menjadi serupa dengan Kristus (bdk. Kis 7:59-60). Namun, pribadi mereka sendiri belum menjadi sasaran penghormatan yang khusus, melainkan menjadi alasan untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya karena apa yang dikerjakan oleh-Nya dalam para martir tersebut. Semua doa ditujukan pada Allah. Jadi, ingatan akan sang martir mendorong umat untuk beribadat kepada Allah. Baru pada tahun 200, umat mulai mengarahkan doa-doanya kepada para martir. Umat yakin bahwa para martir telah menjadi sahabat Kristus yang seutuhnya, sebab mereka dengan setia mempertahankan iman sampai mati. Relasi mereka pun telah begitu dekat dengan Kristus. Karenanya, mereka diyakini dapat menghantarkan doa-doa umat beriman kepada Kristus. Doa umat pun akhirnya bergabung dengan doa Sang Martir.

Devosi kepada bunda Maria merupakan perkembangan dan lanjutan dari devosi kepada para martir. Setelah Kekristenan diakui oleh negara (abad IV), zaman para martir berakhir. Maka, gagasan kemartiran pun dirohanikan. Tidak hanya mereka yang menumpahkan darahnya demi Kristus saja yang dapat menjadi serupa dengan-Nya, tetapi juga mereka yang secara total hidup dalam Kristus. Dalam titik pijak pemahaman seperti itu, Maria pun dipandang sebagai orang kudus, “martir” secara rohani. Umat pun mulai menghormati Maria secara sungguh dan berdoa kepadanya. Apalagi, sejak Konsili Efesus (431) meresmikan gelar Theotokos (Bunda Allah) pada pribadi Maria, hati umat pun semakin berkobar untuk berdevosi kepada Maria.

Namun demikian, devosi kepada Maria baru tumbuh subur di kalangan umat saat abad pertengahan. Pemicunya adalah kehidupan liturgi yang terlampau kering bagi umat. Pada abad VIII, bahasa Latin ditetapkan dan diberlakukan di seluruh Eropa bahasa liturgi yang resmi. Kemudian, pada abad XVI, Konsili Trente menyeragamkan Liturgi Gereja Katolik secara tegas dan kaku. Doa-doa Liturgi dirumuskan secara padat dan rasional, lebih mengungkapkan konsep teologis daripada pengalaman religius umat. Karena itu, umat awam semakin merasa terasing dari liturgi resmi gereja.

Keterasingan dan ketidakterlibatan umat dalam liturgi menyebabkan kerinduan umat akan bentuk-bentuk pengungkapan iman yang lebih mudah, sederhana dan memuaskan kebutuhan afeksi mereka. Maka, bak benalu di musim hujan, sepanjang abad pertengahan, devosi kepada Maria terus berkembang, bahkan hampir saja tanpa kendali. Pesta-pesta Maria terus bertambah banyak. Satu demi satu peristiwa kisah hidup Maria dikenangkan, baik peristiwa yang dikisahkan dalam Injil, maupun peristiwa-peristiwa yang tercantum dalam Injil-injil Apokrip. Misalnya saja: Pesta Kabar Malaikat. Maria mempersembahkan Yesus di Kenisah, Pengungsian ke Mesir, Maria mengunjungi Elisabet, pertunangan Maria, Maria dipersembahkan di Bait Allah, Maria dikandung secara ajaib, Pertemuan Maria dengan Yesus di jalan salib, Maria di bawah salib, Peralihan Maria, dsb. Dalam kesalehan rohaninya, umat bahkan menekan pimpinan Gereja untuk menambah lagi pesta dan hari raya Maria, sejalan dengan misteri iman akan Kristus, puteranya, misalnya: jika ada Kristus Raja maka harus ada Maria Ratu; Hati Kudus Yesus – Hati Maria tak Bernoda; dsb.

Konsili Vatikan II dan Devosi pada Maria

Sepanjang abad pertengahan, penghormatan umat beriman kepada Maria menemukan puncaknya dan dalam sisi tertentu kadang menjadi tidak terkendali. Baru ketika Konsili Vatikan II, Magisterium Gereja menata ulang praktek penghormatan seputar Maria. Banyak diantara pesta-pesta yang ditujukan kepada Maria ditiadakan dari penanggalan resmi Gereja. Lebih dari itu, Konsili Vatikan II, khususnya dalam LG 52-98, menegaskan kembali peran Maria dalam tata keselamatan dan relasi istimewanya dengan Gereja.

Dalam tata keselamatan, Maria adalah “Hawa baru” yang mendatangkan kehidupan pada manusia. Maut datang melalui Hawa, hidup melalui Maria (St. Hieronimus). Ikatan yang disebabkan oleh ketidaktaan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh Perawan Maria karena imannya (St. Ireneus). Dengan sepenuh hati, Maria memeluk kehendak Allah (Terjadilah padaku menurut perkataanmu – Luk 1:38) dan ia membaktikan diri seutuhnya kepada Allah dan karya Puteranya dalam misteri penebusan (Lih. LG 56)

Di dalam Gereja, Maria menjadi pola keutamaan iman, cinta kasih, dan persatuan sempurna dengan Kristus. Sebagaimana Maria adalah ibu dari Yesus, maka Gereja adalah juga ibu. Sebab melalui pewartaan dan baptisan, Gereja melahirkan hidup baru yang kekal-abadi bagi umat tiap umat beriman. Sebagaimana Maria adalah perawan, maka Gereja juga adalah perawan yang dengan utuh-murni menjaga kesetiaannya kepada Yesus Kristus, Sang Mempelai Agung Gereja. Dan sambil mencontoh bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus mempertahankan keutuhan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya. (Lih. LG 64)

Sementara itu, sejalan dengan semangat Konsili Vatikan II, Dokumen Marialis Cultus (Paus Paulus VI, 1974), menandaskan bahwa penghormatan kepada Maria tidak bisa dilepaskan dari Kitab Suci, malahan harus menimba sebanyak-banyaknya inspirasi rohani darinya. Mulai dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu, kita bisa membaca petunjuk-petunjuk tentang Maria sebagai bunda dan rekan penebus. Maka, devosi kepada Maria sangat perlu diresapi dengan Kitab Suci agar dalam praktek-praktek devosinya kaum beriman dapat diterangi dengan cahaya Sabda Ilahi dan bertindak sesuai dengan perintah Sang Sabda yang menjelma.

Liturgi dan Devosi

Devosi sebenarnya merupakan ibadat non-resmi Gereja. Doa, pujian, dan penyembahan yang dilakukan umat dalam devosi melulu dimaksudkan untuk mengungkapkan kesalehan dan cinta bakti umat pada Allah; mengantar umat pada penghayatan iman yang benar akan misteri karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus; mengungkapkan dan meneguhkan iman terhadap salah satu kebenaran misteri iman. Sebaliknya, Liturgi adalah ibadat resmi Gereja. Dalam Konstitusi mengenai liturgi (SC 10), diungkapkan bahwa liturgi adalah puncak dan sumber kehidupan Gereja. Semua kegiatan Gereja memuncak dalam kegiatan liturgi. Dan, darinyalah Gereja mendapatkan rahmat kehidupannya. Dalam liturgi itu sendiri, dinamika gerak yang muncul adalah timbal-balik antara manusia dengan Allah. Di satu sisi, manusia memuji dan menyembah Allah. Sementara itu, di sisi lain, Allah mencurahkan berkat-Nya dengan menguduskan manusia.

Karena itu, setiap tindakan devosi haruslah mengarah pada liturgi, sebab hakikat liturgi adalah pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus untuk memuliakan Allah dan menguduskan manusia. Devosi harus selaras dengan liturgi kudus: bersumber pada liturgi dan menghantar umat kepada perayaan Liturgi (SC 13). Semua kegiatan devosional harus memuncak pada perjumpaan dengan Allah dalam perayaan liturgis.

Liturgi Romawi yang telah diperbarui mengedepankan perayaan karya penebusan Kristus pada hari-hari tertentu. Seluruh perayaan karya penebusan Kristus dari penjelamaan-Nya sampai dengan penantian kedatangan-Nya kembali dengan jaya, dibagi dalam peredaran seluruh tahun. Hal ini pada akhirnya membuat kenangan akan Perawan Maria, ibu Sang Putra Allah, lebih sesuai dan lebih dekat dalam daur tahunan misteri Sang Putra.

Penghormatan kepada Maria memang telah menjadi suasana yang dominan di kalangan umat, namun devosi kepada Maria haruslah menghantar umat beriman pada Allah, bukan malah mengaburkannya. Kita menghormati Maria karena perannya yang istimewa dalam tata keselamatan sebagai Bunda Tuhan dan kedudukannya yang luhur dalam Gereje sebagai Bunda Gereja. Maka, sekali lagi, penghormatan kepada Bunda Maria haruslah menghantarkan kita untuk semakin mencintai Allah dan mendorong kita untuk melangkah lebih jauh dalam penghayatan tentang misteri keselamatan dari Tuhan kita, Yesus Kristus, yang kita rayakan di dalam liturgi.

Keterangan:
SC = Dokumen Konsili Vatikan II, “Sacrosanctum Consilium” (Konstitusi tentang Liturgi Suci).
LG = Dokumen Konsili Vatikan II, “Lumen Gentium” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja)

Sumber bacaan:
Groenen, Dr. C., OFM. Mariologi: Teologi dan Devosi. Yogyakarta: Kanisius, 1994.
Paulus VI, Paus. Marialis Cultus: Menghormati Maria, Anjuran Apostolik Paus Paulus VI, 2 Februari 1974, (terj: Piet Go, O.Carm). Jakarta: DokPen KWI, 2008.
Vatikan II. Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana (Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI). Jakarta: OBOR, 2002.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s