Cinta Kasih Perkawinan


Cinta kasih adalah prasyarat utama dalam perkawinan. Tanpa cinta kasih, hidup perkawinan akan terasa hambar dan kering. Sukacita hidup perkawinan pun terasa jauh dari angan-angan. Cinta kasihlah yang mampu memberi warna dalam hidup perkawinan. Kerikil-kerikil tajam dalam hidup perkawinan pasti akan terjadi, seperti: pertikaian karena beda pendapat atau salah paham, kekuatiran akan masa depan, kesusah-payahan dalam mencukupi kebutuhan hidup, dst. Namun, ketika ada cinta kasih, kerikil-kerikil tajam hidup perkawinan itu tidak akan membuat jatuh tersungkur. Kalau pun toh jatuh, suami-istri dimampukan untuk bangkit lagi, memulai kembali perjalanan bersama sebagai satu keluarga.

Pada hakekatnya, perkawinan adalah ikatan cinta kasih yang terjalin diantara dua pribadi, laki-laki dan perempuan. Mereka bukan lagi dua, melainkan satu daging (Mat 19:6). Melalui perkawinan, mereka disatukan menjadi satu komunitas cinta kasih yang hidup. Dinding pembatas antara “aku” dan “engkau” lebur menjadi satu pengertian sebagai “kita”, yang bersama-sama mengarungi hidup dalam suka dan duka, dalam untung dan malang.

Cinta perkawinan, dengan demikian, bisa diibaratkan seperti kompas di tangan seorang nahkoda kapal. Bagi seorang nahkoda kapal, kompas adalah yang terutama harus dibawa dalam pelayaran. Kompas menuntun nahkoda kapal untuk berlayar di rute yang hendak dituju. Ketika sekali waktu badai lautan menerjang kapal, kompas menunjukkan kembali arah yang benar pada si nahkoda kapal. Demikianlah, cinta kasih perkawinan serupa kompas. Ia adalah yang terutama harus ada dalam hidup perkawinan. Cinta kasih menjadi penuntun bagi suami-istri untuk bersama-sama mengalami sukacita dan kebahagaian hidup pada setiap harinya, dalam hal sesederhana apa pun. Bila suatu waktu hidup perkawinan dilanda prahara, cinta kasih pulalah yang dapat mengarahkan kembali suami-istri pada janji perkawinan yang telah diikrar bersama.

Plato, seorang pemikir Yunani kuno, menyebut 3 kata untuk mengungkapkan cinta, yakni: eros, philia, dan agape. Ketiganya memiliki kualitas cinta yang berbeda. Eros adalah cinta jasmani. Cinta ini mengarah pada kepuasan pribadi yang mencintai; bersumber dari hasrat untuk memiliki dan dimiliki; hasrat untuk menjadi satu dengan yang dicintai. Philia adalah cinta persahabatan. Cinta jenis ini memiliki dimensi afektif dan melampaui kualitas-kualitas fisik. Sementara itu, agape merupakan kualitas cinta yang tertinggi. Cinta ini sifatnya bebas, bentuknya pemberian diri, dan punya karakter membangun. Orientasinya bukan demi kepentingan diri sendiri, melainkan demi pertumbuhan pribadi yang dicintai.

Ketiga kualitas cinta itu bisa hadir dalam hidup perkawinan. Eros diungkapkan dalam relasi fisik suami-istri. Philia diwujudkan dalam perasaan afektif sebagai pasangan yang hidup bersama, memiliki minat-minat atau perhatian-perhatian yang sama. sedangkan, agape hadir dalam bentuk ketulusan mencintai, kerelaan untuk memafkan kesalahan, atau juga menjadi sehati-seperasaan dengan pribadi yang dicintai. Namun, diantara ketiga kualitas itu, cinta agape lah yang perlu diusahakan ada dan terus ada dalam hidup perkawinan. Cinta eros bisa jadi akan berkurang kadarnya ketika pasangan suami-istri sudah menapaki usia tua, di mana kualitas-kualitas fisik, seperti kecantikan, ketampanan, atau kesegaran jasmani sedikit demi sedikit mulai tak tampak lagi. Demikian juga dengan cinta philia akan dipinggirkan bila konflik demi konflik bermunculan dalam hidup perkawinan. Namun, dengan cinta agape yang terus menurus ada dan ditumbuhkan dari hari ke hari, cinta kasih perkawinan akan terus hidup, walau kualitas fisik menurun, walau konflik demi konflik terus berdatangan.

Pertanyaannya adalah, “Bagaimana cinta yang agape itu ditumbuhkan dalam hidup perkawinan?”. Cinta agape menuntut adanya kesadaran dari suami-istri bahwa objek cinta kasih perkawinan bukanlah keinginan/kepuasan diri, melainkan demi pribadi yang dicintai. Karena itu, suami-istri perlu untuk mengerti bahwa cinta kasih dalam hidup perkawinan mereka adalah cinta yang manusiawi sekaligus ilahi, sebuah cinta yang total, dan cinta yang mengandaikan kesetiaan.

Cinta yang Manusiawi Sekaligus Ilahi

Hidup perkawinan menuntut adanya cinta yang manusiawi, cinta yang sunguh-sungguh konkret. Ketika seorang suami/istri berkata “Aku mencintaimu”, namun aktualisasi cinta itu tidak nampak dalam hidup sehari-hari, maka kata-kata cinta itu menjadi tidak berarti. Cinta kasih suami-istri yang manusiawi itu menjadi penuh dalam wujud penyerahan diri diantara keduanya, salah satu wujudnya adalah lewat seksualitas. Namun, menyitir pendapat Yohanes Paulus II, perlu diperhatikan di sini bahwa seksualitas bukan melulu soal biologis, melainkan melainkan menyangkut kenyataan pribadi manusia yang paling inti. Seksualitas hanya diwujudkan secara sungguh manusiawi, bila merupakan suatu unsur integral dalam cinta kasih, yakni bila pria dan wanita saling menyerahkan diri sepenuhnya seumur hidup” (FC 11).

Selain bersifat manusawi, cinta kasih perkawinan juga bersifat ilahi. Melalui sakramen perkawinan, Kristus tinggal di dalam komunitas keluarga yang tercipta lewat janji perkawinan pasangan suami-istri. Oleh rahmat Kristus, suami-istri dikuduskan di hadapan Allah, diantar menuju kepada-Nya, dibantu dan diteguhkan dalam menjalankan tugas-kewajiban mereka sebagai suami-istri atau ayah dan ibu di dalam keluarga (bdk. GS 48).

Cinta kasih perkawinan yang memadukan unsur manusiawi dan ilahi itu, pada akhirnya menghantar suami-istri kepada penyerahan diri yang bebas dan timbal-balik, yang dibuktikan dengan perasaan dan tindakan mesra, serta meresapi seluruh hidup mereka. Bahkan, cinta kasih itu makin sempurna karena adanya kemurahan hati yang rela berjerih payah demi kesejahteraan bersama (bdk. GS 49).

Cinta yang Total

Paus Paulus VI, dalam ensiklik Humanae Vitae, menegaskan bahwa cinta kasih perkawinan adalah “Cinta yang total – merupakan bentuk persahabatan amat khusus, yang di dalamnya suami-istri secara murah hati membagikan segala sesuatu tanpa kecuali” (HV 9). Inti dari cinta yang total adalah pemberian diri yang seutuhnya, tidak terbagi. Yang diberikan adalah keseluruhan diri. Pemberian diri dalam cinta kasih perkawinan ini berbanding terbalik dengan rumus matematika. Dalam matematika, jika aku memberikan sesuatu, maka aku akan kehilangan sesuatu. Sebaliknya, dalam perkawinan, ketika seorang suami/istri memberikan cinta kasihnya kepada pasangannya, maka ia akan memperoleh cinta kasih yang lebih besar. Cinta yang ia bagikan kepada pasangannya akan menghasilkan cinta yang lebih kaya dan lebih dalam, sebab cinta yang ia berikan akan ditambahkan dengan/disempurnakan oleh cinta pasangannya.

Lebih lanjut, Paus Paulus VI menulis “Siapa saja yang sungguh-sungguh mencintai pasangannya, mencintai tidak hanya karena apa yang ia terima, tetapi mencintai pasangannya demi dia sendiri” (HV 9). Dalam cinta perkawinan yang total tidak tersimpan motif-motif yang tersembunyi guna memenuhi kepuasan/kepentingan diri sendiri. Ketika seorang suami/istri berkata “Aku mencintaimu”, maka itu (seharusnya) berarti “Aku menerima kekuranganmu dan kelebihanmu”.

Cinta yang Setia

Cinta kasih perkawinan menuntut juga cinta yang setia. Dalam perkawinan Katolik, kesetiaan itu tidak hanya dimengerti sebagai cinta yang ekslusif, namun juga sebagai indissolubilitas (cinta yang tak terceraikan, tak terbatalkan, selamanya – setia sampai maut memisahkan). Indissolubilitas perkawinan ini lahir lantaran perkawinan merupakan cerminan dari cinta Allah kepada manusia. Sebagaimana Allah selalu setia mencintai manusia, tak pernah melalaikan dan meninggalkan manusia, serta selalu ingat dan berpegang teguh pada perjanjian-Nya, maka demikian halnya dengan cinta kasih dalam perkawinan. Suami-istri dituntut juga untuk mencerminkan cinta mereka yang setia dan selama-lamanya kepada pasangannya masing-masing.

Adalah sangat membahagiakan ketika melihat pasangan suami-istri yang tetap langgeng saat usia perkawinan mereka mencapai 25 tahun, 50 tahun, atau bahkan lebih dari itu. Kita bisa membayangkan betapa hebatnya perjuangan mereka mempertahankan janji setia perkawinan hingga sejauh itu. Kiranya, cinta kasih perkawinan mereka yang setia tidak dibangun dengan seketika, tetapi diusahakan secara terus-menerus, dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dan dari tahun ke tahun. Dalam perjalanan hidup perkawinan, tak bisa dipungkiri bahwa akan ada banyak konflik dan godaan-godaan untuk berlaku tidak setia. Namun, bagi mereka yang mengerti bahwa perkawinan adalah ikatan cinta kasih yang luhur – tidak semata-mata manusiawi namun juga ilahi –, komitmen untuk saling mencintai dengan setia adalah keutamaan hidup yang pantas untuk dikejar dan diperjuangkan hingga maut memisahkan.

Keterangan:

GS = Konstitusi Pastoral “Gaudium et Spes” (Konsili Vatikan II, 1965)

FC = Anjurran Apostolik “Familiaris Consortio” (Yohanes Paulus II, 1981)

HV = Ensiklik “Humanae Vitae” (Paus Paulus VI, 1968)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s