Tentang Kebahagiaan Kristiani


 

Epikurus, seorang filsuf Yunani kuno, dikenal pemuja ulung kebahagiaan. Menurutnya, hidup yang bahagia adalah hidup yang ditandai oleh pemenuhan dan pemuasan kesenangan diri. Ukuran kebahagiaan adalah kesenangan. Semakin besar kesenangan yang bisa dicecap oleh seseorang, semakin besar pula tingkat kebahagiaannya. Dan begitu sebaliknya. Kebahagiaan itu sendiri bukanlah hadiah, melainkan sebuah usaha. Kebahagiaan itu haruslah dikejar oleh tiap pribadi. Dalam kerangka pikir semacam ini, maka tidak ada tempat untuk penderitaan. Sebisa mungkin penderitaan harus dihindari. Sebab penderitaan menjauhkan seseorang dari kebahagiaan. Tegasnya, hanya kesenanganlah yang baik, maka harus diraih. Sementara, penderitaan itu buruk, maka harus dibuang jauh.

Prinsip kebahagiaan Epikurian itu dikenal juga sebagai hedonisme. Hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan atau kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Jargon yang kerap diusung dalam paham ini adalah: “Hidup cuma sekali, maka nikmatilah hidupmu sepuas-puasnya! Carilah kesenangan, dan jangan kesedihan! Raihlah kebahagiaanmu! Hidup tak akan terulang lagi untuk kedua kalinya!, dst”. Tanpa kita sadari, prinsip kebahagiaan itu memerangkap cara berpikir kita, dan bahkan telah membudaya. Kita pun seakan dipacu untuk mencecap apa yang sedap di mata, enak di lidah, atau merdu di telinga. Kesemua indera kita seolah berteriak untuk digiring pada kesenangan diri dan kenikmatan materi. Ironisnya, hedonisme tidak mengenal kata “cukup”. Semakin kesenangan diri dan kenikmatan materi itu dipenuhi, maka kita pun menginginkannya lagi dan lagi, bahkan kalau bisa yang lebih besar dari sebelumnya. Dengan cara itulah kebahagiaan hidup bisa dialami.

Mentalitas yang sama juga masuk ke dalam hidup rohani. Gegap-gempita perayaan ritual keagamaan lebih banyak menguras perhatian kita ketimbang pengolahan batin di hadapan Allah. Yang lebih parah, ada kecenderungan untuk menuntut hak kepada Allah atas tanggung-jawab rohani yang kita jalankan. Karena kita telah setia berdoa tiap hari, rajin ke gereja tiap minggu, dan/atau aktif di berbagai kegiatan lingkungan/paroki, maka sudah sepatutnyalah Allah mencurahkan berkat yang melimpah untuk hidup kita. Berkat itu tak lain adalah hidup yang bahagia-sejahtera. Sebab, dalam pola pikir tersebut, melalui cara itulah kasih Allah nampak secara nyata dalam hidup kita. Jadi, sembah-bakti kepada Allah haruslah berbanding lurus dengan perolehan kebahagiaan materi yang kita terima. Alasan beriman pada Allah pun kemudian jatuh pada pertimbangan-pertimbangan pragmatis, yakni untuk mendapat kebahagiaan hidup, dilancarkan dalam segala usaha, disingkirkan dari segala derita, dan akhirnya diberi jaminan masuk surga.

Prinsip kebahagiaan di atas seolah memberi tuntunan yang bernas dalam menjalani hidup. Nyatanya, kebahagiaan hidup tidak pernah bisa diukur secara tuntas dengan kesenangan dan kenikmatan materi. Cukup banyak orang yang menderita, namun ia bahagia. Lebih lagi, jika tujuan kebahagiaan semata diletakkan pada kesenangan dan kenikmatan materi, maka orang tidak akan pernah sampai pada hidup bahagia. Sebab, dunia tak henti menawarkan kesenangan dan kenikmatan material yang terus saja bertambah dan hadir dalam wujud-wujud yang baru. Hasrat kita minta dipuaskan, namun kita selalu saja merasa kurang.

Prinsip kebahagiaan kristiani mengajarkan hal yang berlawanan dengan prinsip kebahagiaan di atas. Di dalam cara pandang kristiani, kebahagiaan justru dimengerti sebagai sikap lepas-bebas dari materi. Mari sejenak kita tengok kisah Injil. Kepada orang muda kaya yang datang pada Yesus dan bertanya pada-Nya tentang cara memperoleh hidup kekal, Yesus menjawab “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga”. Namun, ketika orang muda itu mendengar perkataan Yesus, pergilah ia dengan sedih sebab banyak hartanya (Mat 19:16-22).

Bisa jadi kegelisahan orang muda itu adalah juga kegelisahan kita bersama. Dengan begitu menggebu, kita mencari jalan untuk bisa hidup bahagia-kekal. Namun, kita seolah menemukan jalan sempit berliku ketika tahu bagaimana hidup bahagia-kekal itu harus ditempuh. Adakalanya, kita malah menyerah terelebih dulu sebelum melangkah maju. Syarat yang diajukan oleh Yesus memang amat radikal. Yesus meminta untuk tak lagi terikat lekat pada harta atau materi. Harta atau materi memang punya daya pengikat dan pelekat yang kuat pada hati. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”, tegas Yesus (Mat 6:21).

Perlu diperhatikan bahwa yang ditolak oleh Yesus bukan materi in se. Materi in se tidaklah buruk. Sebab, materi (uang, makanan, pakaian, dsb) memang berguna untuk hidup. Yang ditolak oleh Yesus adalah disposisi batin yang terikat lekat pada materi. Dalam disposisi batin seperti itu, tak ayal yang melulu kita pikirkan adalah soal bagaiamana kenikmatan materi tersebut diraih dan dicecap sepuasnya. Tak jarang, dalam upaya tersebut, kita menafikan pertimbangan moral, melegalkan segala cara. Prinsip kebahagiaan yang diajarkan Yesus amat tegas. Untuk mencapai kebahagiaan kristiani yang sejati, batin kita mesti lepas-bebas. Tidak jatuh pada dorongan materialis-hedonis, yakni mendewakan materi di atas segalanya dan berpikir bahwa kebahagiaan hidup bisa dicapai dengannya.

Kebahagiaan kristiani juga tidak meniadakan kesusah-payahan. Kesusah-payahan justru mendapat tempat yang bermakna di dalam hidup kristiani. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diri-Nya, memikul salibnya, dan mengikut Aku”, ujar Yesus (Mat 16:24). Sekali lagi, syarat yang diminta Yesus sungguh tidak mudah. Menyangkal diri dan memikul salib untuk kemudian mengikut Yesus penuh dengan jejak-jejak kesusah-payahan yang harus ditanggung. Yesus sendiri telah meneladankannya pada kita. Jalan yang Ia tempuh untuk menyelamatkan kita sarat dengan kesusah-payahan: ditolak oleh bangsanya, sempat ditinggalkan oleh para murid-Nya, dan yang paling berat, disalib dan mati sebagai seorang pesakitan. Namun, ada cinta teramat besar yang membuat-Nya tetap teguh bertahan. Dan justru dalam kesusah-payahan yang ditanggung oleh-Nyalah, kita semua beroleh rahmat penebusan.

Kesusah-payahan adalah juga jalan pendewasan iman. Justru pada saat susah-payah mendera, iman kita diuji dan didewasakan. Seberapa teguh kita setia dan percaya pada cinta kasih Allah dalam saat-saat sulit hidup kita. Seberapa besar rasa syukur yang bisa kita ungkapkan atas kebaikan Allah atas semua hal yang tampak biasa, jauh dari gegap-gempita. Kita bisa mengingat kisah Ayub. Di tengah segala kesusah-payahan yang luar biasa menimpanya, iman Ayub tidak berubah. Justru makin mendewasa. Dan ketika Ayub bertahan dalam imannya, Allah melimpahkan sukacita yang berkali-lipat dari sebelumnya.

Prinsip kebahagiaan yang ditegaskan oleh Yesus memang tidaklah populer. Logika kebahagiaan duniawi teramat sering bertabrakan dengan logika kebahagiaan kristiani. Pada kita dituntut skala prioritas. Yang mana yang lebih penting, yang lebih bermakna, itulah yang mesti kita jalani sungguh-sungguh, meski tak selalu mudah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s