Kampung Halaman


Ada letupan emosional yang tak kunjung padam ketika segenap kenangan tentang kampung halaman hangat diperbincangkan. Terutama bagi mereka yang saat ini berada di perantauan. Tinggal beratus kilometer dari tanah kelahiran. Bagi mereka, kenangan tentang kampung halaman adalah jalan termurah untuk kembali pulang; menghadirkan kembali dalam waktu kini semua kerinduan tentang tanah asal.

Kerinduan yang meletup-letup itu saya rasakan ketika jagongan dengan beberapa bapak asal Flores. Mereka semua perantau. Sama seperti almarhum bapak saya. Dengan demikian, saya pun sebenarnya masuk dalam bilangan perantau itu. Sekalipun saya tidak punya pengalaman atau ingatan sama sekali tentang kampung halaman di Flores. Akan tetapi ada satu hal yang tidak bisa saya pungkiri: saya anak seorang perantau.

Bapak saya orang Flores asli. Dari Ende-Lio-Feoria. Beliau merantau sejak usia belasan; ketika lulus sekolah teknik (setingkat SMP saat ini). Sejak saat itu sampai berpuluh tahun lamanya, bapak saya belum pernah sekalipun kembali ke kampung halamannya. Ada berbagai macam kendala. Misalnya saja soal biaya yang tidak kecil, kerja yang tidak bisa seenaknya ditinggal. Akan tetapi bapak saya tidak henti menyimpan kerinduan untuk pulang ke kampung halamannya di Flores. Rencananya beliau akan pulang kampung selepas pensiun. Namun, rupanya Tuhan punya rencana lain. Bapak saya terlebih dulu dipanggil pulang, tidak ke kampung halaman, melainkan ke rumah keabadian.

Sebagai seorang perantau, saya masih ingat benar bagaimana ekspresi bapak saya ketika berbincang dengan sesama perantau dari Flores lainnya. Bercakap dengan bahasa ibu, menuturkan ingatan tentang kampung halaman, membagi cerita dan pergulatan di tanah perantauan, adalah oase yang teramat segar baginya. Saya juga masih ingat dengan benar bagaimana bapak saya selalu menganggap setiap orang Flores perantau sebagai satu saudara, meski tak punya garis silsilah dengan mereka. Saya merasakan dengan sungguh ada getar-getar emosi yang selalu memancar hangat di antara sesama perantau.

Kampung halaman adalah tempat yang dirindu setiap perantau untuk kembali pulang. Baik oleh bapak saya dan bapak-bapak yang jagongan dengan saya. Namun, untuk urusan pulang kampung, bapak-bapak yang jagongan dengan saya tersebut lebih beruntung. Setidaknya, satu atau dua kali mereka pernah menginjakkan kaki kembali di tanah kelahiran. Dan, cerita soal pulang kampung itulah yang hangat kami percakapkan.

Mereka riuh rendah bercerita tentang perjalanan pulang yang terasa seperti petualangan: mengarungi ombak lautan, menempuh jalan darat yang berkelak-kelok dengan jurang di sisi jalan. Mereka bangga bercerita tentang udara yang masih bersih, belum terkontaminasi asap polusi; tentang langit yang masih jernih, bintang-bintang berkelip terang dan menggantung dekat serasa dekat di atap rumah.

Saya hanyut dalam ingatan-kenangan mereka. Ah, orang-orang perantau, rindumu tak henti dituntun pulang ke kampung halaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s