Agora, Paulus, dan Jemaat Korintus


Agora di Korintus

Korintus merupakan kota yang memiliki arti penting dalam sejarah Gereja. Sebab, di kota itulah Rasul Paulus pernah tinggal selama 18 bulan (Kis 18:11) di sana untuk mewartakan Injil. Korintus memiliki lokasi geografis yang unik. Ia adalah sebuah kota di tanah genting, sebuah daratan sempit yang menghubungkan dua daratan yang lebih luas, yakni daratan Yunani di sebelah utara dan Peloponesia di sebelah selatan. Selain itu, Korintus juga menjadi persimpangan perjalanan laut dari arah timur dan barat. Karenanya, ada dua pelabuhan yang dibangun di kota ini, yakni: pelabuhan Kengkrea[1]  di sisi timur yang berhadapan dengan Laut Aegea dan Teluk Saronic, dan pelabuhan Lecahion di sisi barat yang berhadapan dengan Teluk Korintus. Dari gambaran ini terlihat jelas bahwa Korintus merupakan daerah yang kaya.

Pada masa Kekaisaran Yunani, kota ini pernah dihancurkan oleh pasukan Romawi, di bawah pimpinan Lucio Mummio (146 SM). Namun, pada tahun 44 SM, Korintus dibangun kembali atas perintah Yulius Kaisar. Ia membangun Korintus sebagai koloni Roma untuk para veteran tentara Roma. Selama masa Kekaisaran Romawi, Korintus berkembang menjadi sebuah kota yang besar.

Korintus kemudian menjadi ibu kota provinsi Akhaya (bdk. 2Kor 1:1) yang meliputi seluruh Yunani selatan dan semenanjung Peloponesia. Dalam perkembangannya, penduduk Korintus merupakan campuran dari orang-orang Romawi, orang Yunani, dan orang Yahudi. Orang Yahudi menetap di kota ini terutama setelah Kaisar Klaudius memerintahkan supaya semua orang Yahudi meninggalkan kota Roma (bdk. Kis 18:1-3) sebagai akibat dari kerusuhan yang terjadi di antara mereka.

Sejak tahun 1896, The American School of Classical Studies telah melakukan penggalian di lahan yang diyakini sebagai reruntuhan kota Korintus. Dari penggalian tersebut, ditemukan setidaknya 5 situs kota Korintus yang amat menarik, yakni jalan Lechaion, air mancur Peirene, panggung pertunjukan (theathre), Bema[2] (podium pidato), dan Agora (pasar). Salah satu situs yang akan dibahas dalam tulisan sederhana ini adalah Agora.

Agora merupakan istilah Yunani untuk menyebut “ruang pertemuan yang terbuka”. Dalam sejarah Yunani kuno, Agora dipakai sebagai tempat di mana para pemuda Korintus berkumpul sebelum menunaikan tugas milter. Juga tempat di mana para penduduk berkumpul untuk mendengarkan pidato/arahan dari raja/dewan kota yang berkuasa. Agora di Korintus merupakan tempat yang sangat luas, dengan panjang sekitar 205 meter dan lebar sekitar 117 meter. Dalam perkembangannya kemudian, Agora difungsikan sebagai pasar. Para pedagang memajang dan menjual barang dagangannya di bawah tenda-tenda (seperti pedagang kaki lima sekarang). Pada masa kekaisaran Yunani, Agora kemudian tumbuh menjadi pusat perekonomian dan kehidupan politik kota Korintus.

Ketika kekaisaran Romawi berkuasa,fungsi dan peran Agora tidaklah berubah, yakni sebagai pasar. Namun, luasnya lebih kecil dari sebelumnya dan dialasi dengan batu-batu koral yang besar. Sekalipun demikian, pada abad ke-1, Agora di Korintus menjadi pasar yang paling besar di antara pasar-pasar yang lain di Roma.

Agora di Korintus terletak di tengah-tengah keramaian kota. Di sebelah barat laut terdapat bangunan Stoa[3] yang diapit oleh satu basilika[4] dan satu kuil Apollo (dewa matahari, dewa favorit Kaisar Agustus). Di sebalah barat teradapat kuil Octavia (kuil yang dipersembahkan Kaisar Agustus untuk Octavia, puterinya). Di sebelah selatan ada satu Stoa, dengan diapit oleh dua basilika (di belakang dan siis kanannya). Sementara itu, di sebelah tenggara, terdapat jalan Lechaian yang ramai. Jadi, bisa dibayangkan bahwa Agora merupakan pusat kota Korintus. Di sana aktivitas ekonomi, politik, dan keagamaan warga Korintus dijalankan. Sementara itu, di tempat ini, terdapat toko-toko yang menjual daging persembahan berhala – suatu masalah bagi jemaat Kristen di Korintus yang akan kita lihat kemudian.

Paulus di Korintus

Paulus singgah di Korintus pada perjalanan misinya yang kedua, selepas dari Athena, sekitar tahun 51 M. Kisah hidup Paulus di Korintus ditulis oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul 18:1-23. Waktu itu Korintus telah menjadi sebuah kota besar (kosmopolitan) di Kekaisaran Romawi. Di Korintus, Paulus pertama-tama singgah di rumah pasangan suami-istri, yakni Akwila dan Priskila, yang baru saja terusir dari Roma lantaran perintah Kaisar Klaudius. Ia kemudian tinggal bersama dengan mereka, sebab memiliki pekerjaan yang sama, yakni sebagai tukang kemah.

Paulus tinggal selama 18 bulan di Korintus. Selama waktu itu, ia giat memberitakan Injil. Mula-mula, Paulus memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di Korintus. Maka, setiap hari sabat, Paulus berkotbah di dalam sinagoga. Namun, ketika memberitakan tentang Yesus yang adalah Mesias, orang-orang Yahudi segera menolak Paulus. Maka, ia pun mengubah arah misinya kepada orang-orang Yunani.

Sekalipun, ada juga orang-orang Yahudi yang kemudian menjadi percaya dan meminta diri dibaptis oleh Paulus (Krispus, kepala rumah ibadat Yahudi, beserta dengan keluarganya, misalnya. Dan tentu saja Awkila dan Priskila).

Paulus meninggalkan Korintus ketika pada masa pemerintahan Gubernur Galio, orang-orang Yahudi yang tidak senang pada Paulus sepakat untuk membawa Paulus ke pengadilan, dan di bawa ke hadapan Galio (Kita bisa membayangkan bahwa waktu itu Paulus disidang dan berdiri di Bema – podium – yang ada di Agora). Paulus kemudian meninggalkan Korintus dan berlayar menuju Efesus.

Jemaat Korintus dan Persoalan Makan Daging Persembahan Berhala

Jemaat Korintus terdiri dari campuran orang-orang Yahudi dan (terutama) orang-orang Yunani. Sebagian besar jemaat Korintus rupanya termasuk golongan rendahan, atau juga budak (bdk. 1Kor 2:26-28; 7:21-24). Tetapi juga ada sejumlah orang yang berasal dari kalangan atas (1Kor 11:21-22), yang memiliki rumah cukup besar (bdk. Kis 18:7) dan dapat menampung seluruh jemaat sekota untuk mengadakan perjamuan besar (1Kor 11:18).

Jemaat Korintus hidup di lingkungan agama pagan yang banyak dianut oleh penduduk Korintus. Kuil-kuil agama pagan berdiri kokoh di pusat kota Korintus, yakni Agora. Di Agora, terdapat kuil yang menyembah dewa Apollo dan dewi Venus. Kepada para dewa itu, para imam agama pagan mempersembahkan binatang sebagai kurban bakaran. Tidak semua bagian dari binatang tersebut yang menjadi kurban bakaran bagi para dewa pagan. Sisanya biasa dijual kepada para tukang jagal yang menjualnya kembali di lapak-lapak dagangan di Agora.

Sementara itu, ada kebiasaan di antara orang-orang Korintus untuk menggelar sebuah perjamuan makan. Bersama. Daging-daging sisa persembahan kepada para dewa yang dijual di Agora pun mereka beli sebagai daging sajian makan. Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Korintus untuk mengundang rekan-rekan mereka dalam perjamuan tersebut. Masalah terjadi ketika orang-orang kristen diundang oleh rekan mereka yang beragama pagan ke dalam perjamuan tersebut. Apakah orang-orang kristen harus juga makan daging persembahan berhala itu? Ditambah lagi, pesta perjamuan makan itu kerap diadakan dengan intensi religiositas agama pagan seseorang. Pendapat jemaat Korintus berbeda-beda soal hal ini. Ada yang setuju dan ada yang tidak. Bagi mereka yang pengetahuan dan imannya kuat, memakan daging persembahan berhala tersebut tidaklah berdosa. Sementara bagi yang lain, memakan daging persembahan berhala itu adalah dosa. Persteruan internal pun tak terhindarkan di antara jemaat Korintus.

Paulus mencoba untuk meredam perseteruan itu dengan surat yang ia tulis untuk jemaat Korintus. Dalam 1Kor 8:1-13, Paulus memberikan uraian jawabannya. Ia menandaskan bahwa mereka yang pengetahuan dan imannya kuat janganlah memberi batu sandungan kepada yang pengetahuan dan imannya lemah. Berkaitan dengan itu, Paulus berkata, “Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa kalau kita makan dan kita tidak untung apa-apa kalau kita tidak makan. Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah” (1Kor 8:8-9).

Lebih jauh, dalam 1Kor 10:25-32, Paulus menjelaskan lagi pandangannya tentang persoalan boleh tidak makan daging persembahan berhala. Kepada jemaat Korintus yang baru bertumbuh dan menghayati imannya, Paulus menegaskan bahwa mereka boleh memakan segala sesuatu yang dijual di pasar daging (di Agora), tanpa harus dibayang-bayangi oleh penilaian hati nurani. Sebab, bumi dan segala isinya adalah milik Allah (bdk. 1 Kor 10:25). Ia juga  menambahkan, “Kalau kamu diundang makan oleh seseorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. Tetapi kalau seseorang berkata kepadamu: ‘Itu persembahan berhala!’. Janganlah engkau memakannya..oleh karena keberatan hati nurani orang lain itu..Janganlah kamu menimbulkan syak di hati orang, baik itu orang Yahudi atau orang Yunani, maupun jemaat Allah” (1Kor 10:27-32).

Kesimpulan

Agora di Korintus merupakan sebuah tempat yang ramai dan sibuk. Sejak masa kekaisaran Yunani, ia telah menjadi pusat perekonomian dengan difungsikannya Agora sebagai pasar. Stoa yang didirikan di sekitarnya pada akhirnya juga menjadika Agora sebagai tempat publik di mana aktivitas penduduk Korintus di pusatkan. Pada masa kekaisaran Romawi keberadaan Agora di Korintus menjadi semakin penting. Kuil-kuil pemujaan kepada para dewa (Apollo, Venus, atau juga Octavia) didirikan di Agora. Hal ini menjadikan Agora sebagai pusat keagamaan. Selain itu, di Agora pemerintah Romawi kemudian juga mendirikan basilika-basilika yang menjadi rumah kediaman dan aktivitas politik penguasa Roma. Agora pun hadir sebagai daerah yang kosmopolit.

Jemaat Korintus yang dirintis oleh Paulus hidup dalam suasana kosmpolit itu. Bagi jemaat yang baru bertumbuh, soal iman memang menjadi hal yang serius. Apalagi jemaat Korintus tinggal dalam suasana agama pagan yang bagi iman Kristen merupakan penyembahan berhala. Sementara dalam kehidupan sosial jemaat Kristen di Korintus berusaha untuk menjaga relasi mereka dengan masyarakat sekitar yang beragama pagan, idealisme iman mereka juga menuntut untuk hidup secara tidak bercela. Terasa ada pertempuran dua nilai di sini, khususnya dalam soal jamuan makan di rumah keluarga yang beragama pagan di mana mereka menghidangkan daging persembahan berhala. Nilai mana yang harus diikuti? Idealisme iman atau relasi sosial?! Namun, Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menegaskan satu prinsip yang seimbang. Sembari menandaskan bahwa semua makanan itu halal, ia mengingatkan jemaat Korintus untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain atas pilihan tindakan yang mereka ambil.

Situasi yang dialami oleh jemaat Korintus kiranya juga bisa menjadi cerminan bagi kehidupan umat kristen di jaman ini. Di tengah konstelasi antara nilai-nilai iman dan nilai-nilai hidup bermasyarakat, pilihan tindakan yang diambil mestinya di dasarkan pada prinsip yang seimbang, dan terutama tidak menjadi batu sandungan. Pepatah Latin mengatakan, “Virtus stat in Medio”. Kebijaksanaan itu berada di tengah-tengah.

Sumber Bacaan:

Bergant, Dianne dan Robert J. Karis (eds.). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Groenen, C. Pengantar ke dalam Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius, 1989.

Raymond E. Brown, Joseph A. Fitzmyer, dan Roland E. Murphy (eds.). The Jerome Biblical Commentary. London: Geoffrey Chapman, 1968.

Reed, Jonathan L. The Harpercollins Visual Guide to The New Testament: What Archeology Recalls about The First Christians. New York: Harper Collins Publisher, 2007.

Walker, Peter. In The Steps of Saint Paul. Yogyakarta: Kanisius, 2009.

http://id.wikipedia.org/wiki/Korintus.

http://www.padfield.com/acrobat/history/corinth.pdf.

http://travel.mapsofworld.com/greece/tourist-attractions-in-corinth/agora.html.

http://www.archaeologywordsmith.com/lookup.php?category=&where=headword&terms=basilica.

http://www.jrtalks.com/1corinth/1cor8.html.


[1] Kis 18:18 menceritakan bahwa atas nazar yang dibuatnya, Paulus pernah mencukur rambutnya di daerah ini sebelum berlayar ke Siria.

[2] Di tempat inilah kemungkinan Paulus berdiri di hadapan Galio, Gubernur Akhaya, sewaktu orang-orang Yahudi membawa Paulus ke pengadilan karena pewartaan Injil yang ia kerjakan. Bdk. Kis 18:12.

[3] Stoa merupakan bangunan dengan arsitektur Yunani, yang dibangun dengan deretan serambi yang menjulang tinggi. Tempat ini difungsikan sebagai tempat publik. Misalnya,  pertemuan dewan kota, pengadilan,  kantor, toko-toko, ataupun untuk pertemuan informal. Stoa biasanya terletak di pasar yang ada di kota besar. Oleh pemerintah Romawi, Stoa kemudian difungsikan sebagai toko-toko dan sejenis hotel.

[4] Kediaman penguasa Roma. Digunakan juga sebagai pengadilan dan tempat majelis rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s