Nostra Aetate: Bagaimana Peran Yesus sebagai Penyelamat Ketika Berhubungan dengan Agama Lain?


Selama berabad-abad lamanya, Gereja meyakini diri sebagai societas perfecta (KV I). Karena itu, dalam pewartaannya, Gereja menekankan bahwa satu-satunya pintu kebenaran hanya ada di dalam Yesus, melalui Gereja. Gereja pun hadir dalam wajah yang sedemikian arogan ketika berhadapan dengan agama-agama lain. Namun, perubahan besar dihadirkan oleh Konsili Vatikan II. Manakala berhadapan dengan agama-agama lain, Gereja hadir dalam wajah yang lebih bersahabat, membuka pintu relasi yang tulus dan terbuka dengan mereka.

Dalam Nostra Aetate, Gereja merenungkan kesamaan pokok yang ada di tiap agama. Kesamaan itu adalah: (1) tiap agama menuntun pada tujuan terakhir, yakni Allah; (2) tiap agama memberi jawaban atas teka-teki kehidupan manusiawi yang tersembunyi. Kesamaan tersebut merupakan modal utama untuk membangun persaudaraan semesta tanpa diskriminasi. Intensianya bukan penyamarataan agama, melainkan cinta kasih antar manusia,.

Gereja menghargai keunikan dari masing-masing agama,  baik itu Hinduisme, Budhisme, Islam, Yahudi, dan agama-agama lainnya. Gereja pun tidak menolak apa pun yang dalam agama-agama lain serba benar dan suci. Dalam caranya sendiri, tiap agama memantulkan sinar kebenaran yang menerangi semua orang. Jika demikian, masih pentingkah mewartakan Kristus? Nostra Aetate menegaskan bahwa sekalipun ada kebenaran yang terpantul di tiap agama, namun di dalam Kristuslah terdapat kepenuhan hidup keagamaan. Oleh karena itu, Gereja tiada henti dan wajib untuk mewartakan Kristus. Sebab Dialah “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Salib-Nya adalah lambang cinta kasih Allah yang sedemikian besar pada manusia, juga sumber segala rahmat di mana tiap orang memperoleh keselamatan.

Sampai di sini bisa disimpulkan bahwa wajah persahabatan yang ditunjukkan Gereja kepada agama-agama lain adalah wajah yang lembut sekaligus tegas. Gereja menyadari dan menghormati apa yang baik, benar, dan suci dari masing-masing agama. Namun, Gereja juga secara tegas memaklumkan bahwa dalam Kristuslah apa yang baik, benar, dan suci itu memperoleh kepenuhannya. Dengan kata lain, bagi Gereja, keselamatan tetap ada dalam Kristus. Sementara itu, paradigma yang inklusif (relasi yang tulus dan terbuka) terhadap agama-agama lain adalah cara untuk mempromosikan cinta kasih antar manusia (yang berbeda agama) dan mendorong kesatuan guna menciptakan kehidupan di dunia secara lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s