Hormat pada Hidup Manusia Tahap Dini (Pembacaan atas Instruksi Donum Vitae)


Instruksi Donum Vitae yang dikeluarkan oleh Konggregasi Ajaran Iman pada tahun 1987 menegaskan perhatian dan pembelaan Gereja pada hidup manusia, terutama pada saat awal kehidupan. Gereja melihat bahwa lantaran kemajuan ilmu pengetahuan biomedis, hidup manusia pada tahap dini berada di ambang ancaman dengan maraknya intervensi-intervensi yang dikerjakan atas nama penelitian atau eksperimen ilmiah. Memang ada hasil baik yang telah dicapai dalam kemajuan teknik ilmiah biomedis, khususnya dalam ketepatan dan efektivitas sarana-sarana teraupetis demi menyelamatkan hidup. Namun, tak bisa dipungkiri juga bahwa kemajuan teknik ilmiah biomedis membawa resiko besar pada moralitas manusia. Atas nama penelitian atau eksperimen ilmiah, nilai-nilai moral dilanggar. Hidup manusia direndahkan sebagai objek yang mendesak untuk diteliti dan parahnya dicari kemungkinan-kemungkinan baru untuk menguasainya secara ilmiah.

Gereja sendiri sesungguhnya tidak antipati pada ilmu pengetahuan dan teknik ilmiah. Bagi Gereja, ilmu pengetahuan dan teknik ilmiah merupakan ungkapan penuh arti akan perintah Allah untuk “menaklukkan bumi” (Kej 1:28). Mereka memberi bantuan yang berharga bagi kesejahteraan hidup manusia. Namun, Gereja sadar bahwa ilmu pengetahuan dan teknik ilmiah tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Moralitas yang bersandar pada hukum ilahi dan digemakan lewat hati nurani mengharuskan Gereja untuk menemani kemajuan ilmu pengetahuan dan teknik ilmiah agar tidak membawa degradasi serta mungkin kebinasaan manusia.

Sehubungan dengan kemajuan ilmu biomedis, khususnya yang terkait dengan nilai hidup manusia sejak dini, yakni teknik dan prokreasi artifisial, Gereja menegaskan dua nilai prinsip pokok: (1) hak hidup yang tak dapat di ganggu-gugat; (2) penerusan hidup secara alami melalui perkawinan. Hak atas hidup dimiliki oleh setiap manusia bahkan pada saat pembuahan. Meski berwujud embrio, nilai kemanusiaannya tidaklah berkurang. Ajaran Gereja mengenai hal ini sangatlah tegas, “ sejak saat sel telur dibuahi, mulailah hidup baru, yang bukan hidup ayah dan bukan hidup ibu, melainkan hidup manusia baru, yang berkembang secara mandiri”. Karena itu, meski masih berwujud embrio, bahkan embrio in vitro (pembuahan dalam tabung) sekalipun, ada kewajiban untuk menghormati, memperlakukan, dan mengakui hak-haknya sebagai seorang pribadi.

Sementara itu, bagi Gereja, satu-satunya ruang untuk prokreasi/penerusan manusia baru adalah dalam perkawinan. Perkawinan kristiani mengangkat ikatan cinta kasih manusiawi ke dalam ketetapan ilahi. Penerusan hidup manusia melalui prokreasi merupakan salah satu bentuk ketetapan ilahi tersebut. Melalui tindakan prokreasi, suami-istri terlibat sebagai rekan kerja Allah dalam mencipta. Karena itu, tindakan prokreasi tidak bisa diambil alih oleh kemajuan teknik prokreasi artifisial. Tindakan prokreasi haruslah merupakan buah dan tanda kesetiaan serta cinta kasih personal timbal-balik suami-istri.

Berbagai Penilaian Moral

Diagnosis Prakelahiran. Diagnosis prakelahiran merupakan cara yang adekuat untuk mengetahui kondisi embrio/fetus selama di dalam rahim ibu. Diagnosis ini dibenarkan secara moral jika digunakan dengan intensi yang baik, yakni melakukan pengobatan medis/teraupetis secara lebih awal dan efektif bila si janin kedapatan mengidap suatu jenis penyakit. Sebaliknya, diagnosis prakelahiran tersebut tidak bisa dibenarkan secara moral bila hasilnya digunakan untuk memperhitungkan kemungkinan aborsi lantaran ada indikasi kecacatan atau penyakit menurun yang tak tersembuhkan pada diri si janin.

Intervensi Teraupetis pada Embrio. Pada dasarnya, Gereja tidak menolak adanya intervensi teraupetis pada embrio sejauh intervensi itu dilakukan demi menyelamatkan embrio. Namun, ada beberapa syarat dasar yang harus dipegang: (1) diperlukan persetujuan orangtua yang telah mendapat informasi memadai soal kondisi embrio dan kemungkinan pelaksanaan intervensi teraupetis; (2) intensinya adalah untuk menyembuhkan penyakit dan menjamin keberlangsungan hidup embrio; (3) tidak ada bahaya yang akan merugikan keutuhan atau memperburuk kondisi kehidupan embrio.

Penelitian atau Eksperimen dengan Embrio dan Fetus.  Sama seperti sebelumnya, dalam penelitian atau eksprimen embrio dan fetus, Gereja memperkenankan dengan syarat yang murni teraupetis dan ada persetujuan dari pihak orangtua untuk mengintervensi si embrio atau fetus setelah mendapat informasi yang memadai. Dikatakan murni teraupetis yakni bila penelitian atau eksperimen itu dilakukan untuk kepentingan embrio atau fetus itu sendiri sebagai cara terakhir untuk mempertahankan hidupnya, dan tidak ada sarana lain, dalam hal ini penggunaan obat-obatan atau metode yang efektivitasnya belum teruji hingga kini. Sementara itu, penelitian atau ekperimen dengan embrio atau fetus yang dikerjakan semata demi kemajuan ilmu pengetahuan atau keuntungan orang lain/masyarakat, sama sekali tidak dapat dibenarkan. Setiap embrio atau fetus yang masih hidup haruslah dihormati sama seperti semua pribadi insani. Demikian juga ketika embrio atau fetus itu telah mati, ia patut diperlakukan secara hormat seperti jenasah setiap manusia.

Penggunaan Embrio Hasil Pembuahan In Vitro untuk Penelitian. Pembuahan in vitro  adalah pembuahan sel telur yang dilakukan di dalam tabung (di luar rahim). Secara moral, Gereja menandaskan bahwa tidak ada satu pun alasan bagi Gereja untuk membenarkan penggunaan embrio untuk penelitian, apa pun tujuannya, dan meskipun embrio itu dihasilkan lewat pembuahan in vitro. Perlu juga untuk dicatat bahwa tindakan pembuahan in vitro itu juga mengakibatkan penghancuran embrio insani yang tak terbilang banyaknya demi menghasilkan satu embrio yang sehat. Bagi Gereja, setiap embrio telah menjadi pribadi insani dan subjek hukum pada dirinya sendiri. Maka, martabat dan haknya atas hidup harus dihargai sejak saat pertama hidupnya. Lebih jauh, secara moral juga tidak dapat diterima upaya-upaya untuk menghasilkan embrio insani lewat teknik in vitro semata demi memperoleh “bahan biologis” yang siap pakai untuk kepentingan penelitian. .

Prosedur-Prosedur Lain Manipulasi Embrio Sehubungan dengan Teknik Reproduksi Manusia. Gereja menyadari bahwa teknik pembuahan in vitro membuka jalan ke bentuk-bentuk lain manipulasi biologis dan genetis embrio insani. Misalnya: percobaan pembuahan antara gamet manusia dan binatang, mencangkokkan embrio insani ke dalam rahim binatang, atau menciptakan rahim artifisial bagi embrio insani. Percobaan-percobaan tersebut bertentangan dengan martabat khas insani dan sekaligus melanggar hak setiap orang untuk dikandung dan dilahirkan dalam perkawinan dan melalui perkawinan. Demikian juga tidak dibenarkan: (1) Kloning, sebab bertentangan dengan martabat prokerasi insani; (2) Pembekuan embrio (pun bila dilakukan untuk menjaga embrio tetap hidup), sebab melanggar hormat pada hidup manusia; (3)  Intervensi kromosom/genetis demi membuahkan manusia yang dipilih menurut jenis kelamin atau sifat-sifat lain yang dipilih sebelumnya, sebab bertentangan dengan martabat makhluk insani personal dan keutuhan serta identitasnya.

Fertilisasi Artifisial Heterolog. Fertilisasi artifisial heterolog adalah pembuahan buatan yang dilakukan dengan menggunakan benih yang berasal dari donor yang bukan satu pasangan dalam perkawinan. Ada dua teknik yang dipakai untuk pembuahan: (1) melalui pertemuan in vitro [di dalam tabung artifisial]; (2) melalui transfer sel sperma bukan suami yang dimasukkan ke dalam saluran genital perempuan.

Menanggapi hal tersebut, pertama-tama haruslah disadari akan makna prokreasi dalam kerangka martabat perkawinan kristiani. Melalui prokreasi, suami-istri diundang untuk menjadi rekan Pencipta. Karena itu, prokerasi insani haruslah merupakan buah dan tanda dari cinta kasih yang timbal balik antara suami-istri dalam ikatan perkawinan. Menimbang hal tersebut, maka fertilisasi artifisial heterolog jelas tidak bisa dibenarkan. Kesatuan perkawinan dan kesetiaan suami-istri menuntut agar anak dikandung, dilahirkan, dan dididik dalam perkawinan. Maka, penggunaan benih orang ketiga untuk mendapatkan sel sperma atau sel telur jelas melanggar ikatan kesatuan dan kesetiaan suami-istri. Fertilisasi heterolog juga melanggar hak anak-anak. Mengapa? Sebab, pembuahan artifisial secara heterolog merampas hubungan anak terhadap asal-usulnya dalam diri orangtuanya dan menghampat perkembangan jati dirinya, juga menimbulkan putusnya hubungan antara peran sebagai orangtua genetis, biologis, dan sosial.

Fertilisasi Artifisial Homolog. Fertilisasi artifisial homolog adalah pembuahan buatan yang menggunakan benih pasangan suami-istri. Ada dua teknik yang dipakai untuk pembuahan: (1) melalui pertemuan in vitro [di dalam tabung artifisial]; (2) melalui transfer sperma suami yang dimasukkan ke dalam saluran genital istri.

 Gereja menegaskan bahwa prokreasi anak haruslah merupakan buah penganugerahan diri timbal-balik yang diwujudkan dalam sanggama, di mana suami-istri disatukan. Anak yang lahir daripadanya merupakan buah kasih sayang orangtua. Maka, ia tak boleh diingini atau dikandung sebagai hasil seni medis dan biologis; tidak boleh direndahkan menjadi objek teknologi ilmiah. Karena itu, inseminasi artifisial sebagai pengganti senggama suami-istri tidak dapat dibenarkan, karena dengan sengaja memisahkan makna senggama dengan prokreasi insani, yang sedarai semula telah ditetapkan oleh Allah dan tidak boleh diputus oleh manusia sesukanya sendiri.

Perkawinan yang Mandul. Menarik bahwa dalam dokumen Donum Vitae ini disertakan pula uraian tentang pasangan suami-istri yang mandul. Dalam dokumen ini ditandaskan bahwa kelahiran anak dalam perkawinan bukanlah hak dalam perkawinan. Anak sama sekali bukan objek hak atau objek kepemilikan. Anak adalah anugerah dari Allah. Sementara itu, meminjam pernyataan Yohanes Paulus II dalam Familiaris Conscortio, diserukan bahwa “hidup perkawinan tak kehilangan makna, bila prokreasi hidup baru tak mungkin; kemandulan jasmani dapat menjadi kesempatan bagi suami-istri untuk melibatkan diri dalam karya pelayanan kehidupan”.

Komentar Singkat

Jika dihitung sejak penerbitan pertama dokumen Donum Vitae ini pada tahun 1987, saat ini dokumentersebut telah berusia sekitar 25 tahun. Selama rentang 25 tahun tersebut, beragam penelitian dan eksperimen yang sehubungan dengan embrio/fetus jelas menunjukkan kemajuan yang amat berarti daripada sebelumnya. Namun, selama rentang waktu itu pula, Gereja telah memberi penilain moral yang jelas soal penggunaan embrio/fetus sebagai objek penelitian dan ekperimen ilmiah. Ajaran moral Gereja amatlah jelas dan tegas: hak hidup manusia tidak bisa diganggu gugat. Hanya Allah sajalah pemegang/penguasa hak hidup seseorang. Embrio, sekalipun belum menampakkan kualitas fisik manusia, namun ia telah memperoleh martabat sebagai pribadi dalam dirinya. Maka, ia punya hak atas hidupnya. Pengabaian serta peniadaan hak hidup atasnya merupakan pelanggaran berat secara moral, dan dikategorikan sebagai pembunuhan.

Dengan ajaran moral yang demikian, Gereja sesungguhnya tidak bermaksud untuk mengambil sikap oposisi terhadap penelitian dan eksperimen ilmiah. Gereja sadar bahwa teknik pengetahuan ilmiah menyumbang kesejahteraan yang besar bagi umat manusia. Namun, batas-batas moral haruslah ditegakkan agar teknik pengetahuan ilmiah berada dalam koridor yang benar. Ada kecenderungan memang dengan mengatas-namakan kemajuan teknik pengetahuan dan kesejahteraan hidup orang banyak, beragam cara dihalalkan, termasuk cara-cara yang mengancam hidup embrio. Prinsip moral menegaskan bahwa tujuan yang baik tidak serta merta menghalalkan segala cara. Tujuan yang baik harus dicapai dengan cara-cara yang baik pula.

Sebagai seorang pribadi, embrio bukanlah objek penelitian dan eksperimen ilmiah. Maka, penghormatan yang sedalam-dalamnya atas hak hidupnya perlu juga diberikan kepada si embrio sama seperti manusia dewasa lainnya. Sekalipun demikian, Gereja membuka ruang yang lebar bagi penelitian dan eksperimen ilmiah dalam rangka teraupetis, yakni menyelamatkan hidup embrio ketika didiagnosis mengidap anomali. Dalam hal ini, embrio pertama-tama tidak dilihat sebagai objek penelitian, melainkan sebagai subjek yang hidupnya mendesak untuk diselamatkan. Namun, Gereja juga cukup hati-hati dengan memberikan beberapa persyaratan yang mutlak harus ada sebelum cara-cara teraupetis pada embrio itu dilakukan. Misalnya: ada informasi yang cukup dan persetujuan dari pihak orangtua, tidak membahayakan hidup embrio atau merusak keutuhannya.

Sementara itu, di luar keramaian penelitian dan eksperimen ilmiah, menarik bahwa Gereja memberi perhatian pada pasangan suami-istri yang terikat perkawinan kristiani. Ancaman pada hidup sejak dini bisa jadi dilakukan oleh orangtua ketika dalam diagnosis prakelahiran menemukan adanya penyakit anomali pada embrio, memutuskan untuk menggugurkannya, misalnya dengan motif belas kasih yang keliru. Pun juga ada kehendak yang jamak di antara mereka untuk melakukan fertilisasi artifisial. Gereja mengingatkan akan keluhuran tugas dan martabat perkawinan. Pasangan suami-istri adalah rekan kerja Allah dalam melangsungkan kehidupan di bumi. Jalinan kerja itu dinyatakan lewat prokreasi. Dalam perkawinan kristiani, satu-satunya cara prokreasi yang paling luhur adalah lewat persetubuhan yang berlangsung di antara suami-istri. Dengan demikian, anak yang hadir ke tengah mereka merupakan benih cinta dari suami-istri dalam satu ikatan perkawinan yang sama. Adalah hak anak untuk dikandung, dijaga sedari awal, dilahirkan, dan lalu dipelihara dalam suasana cinta di dalam keluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s