OMK, Budaya Urban, dan Cara Baru Pewartaan Iman


Iman haruslah kontekstual. Ia mesti beranjak turun menjumpai kekinian; berdialog dengan situasi real kehidupan. Jika tidak, maka iman akan tinggal sebagai rumusan dogma yang kering dan mati dalam penghayatan. Iman kristiani adalah sebuah iman yang hidup. Sebab, ia diamini dan lalu berdiam di hati pribadi-pribadi yang hidup – yang gelisah dan bergumul dengan dunia-kehidupannya. Konteks hidup pribadi-pribadi beriman, dengan demikian, merupakan benih bagi pertumbuhan dan pengakaran iman kristiani secara adekuat. Lewat pengakuan akan konteks hidup, tiap pribadi kristiani tidak akan lagi merasa asing di hadapan imannya. Malahan, perjumpaan dengan konteks hidup memberi khasanah baru dan segar bagi iman kristiani guna pewartaan dirinya secara bernas dan berdampak.

 Pribadi beriman kristiani yang menjadi titik berangkat dalam tulisan ini ialah orang muda Katolik (OMK). Menurut “Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda” yang diterbitkan oleh Komkep KWI 1998, yang disebut sebagai OMK adalah mereka yang tinggal di wilayah tertentu (paroki/stasi –red.), belum menikah, dan  rentang usianya antara 13-35 tahun. Secara psiko-sosial, rentang usia tersebut ditandai oleh gairah hidup yang meluap-luap serta hasrat untuk merancang dan mengkonstruksi jati diri sebagai penegas eksistensi dalam hidup sosial. Dunia-kehidupan lantas menjadi gelanggang di mana gairah hidup itu diekspresikan segamblang-gamblangnya, dan hasrat jati diri itu ditegakkan sekokoh-kokohnya.

Sementara itu, dalam tulisan ini, perhatian secara lebih khusus diarahkan pada orang muda Katolik yang tinggal di wilayah urban (kota). Mengapa? Sebab geliat kehidupan urban membawa pula tantangan iman yang teramat kompleks. Di satu sisi, kehidupan urban yang amat terbuka terhadap arus jaman melahirkan nilai-nilai baru yang menggeser nilai “tradisional-ideal”, yakni iman (yang didalamnya termasuk juga moral). Dalam pusaran kehidupan urban, nilai yang dijunjung tinggi adalah pencarian serta pemuasan hasrat diri. Sensualisme, individualisme, konsumerisme, eudamonisme, dst adalah beberapa contoh anak kandung dari pencapaian hasrat diri tersebut. Gairah hidup dan jati diri yang menjadi karakter khas orang muda pun dicari wadahnya dalam nilai tersebut. Sementara itu, nilai iman (dan moral) pada akhirnya diterima sejauh bisa dikompromisasi dengan pencapaian hasrat diri.

Di sisi lain, iman memiliki cara pandang sendiri, yang tak jarang beroposisi terhadap nilai-nilai jaman. Namun, harus disadari bahwa orang muda (urban) bukanlah subjek iman kanak-kanak, yang seketika tunduk pada aturan atau ajaran yang pelarang. Maka, bagi orang muda, penanaman iman tidak bisa dikerjakan dengan model kuasa (top-down) atau dalam bayang-banyang ancaman dan hukuman. Mereka akan jadi pemberontak di hadapan iman yang hadir berwajah angkuh. Karena itu, penting untuk menemukan cara-cara penanaman iman yang kontekstual, yang sanggup menyapa orang muda beserta dengan geliat dunia-kehidupannya.

Keramaian Budaya Urban

Budaya, sebagaimana pengertian populer, adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Sedangkan, urban adalah ungkapan yang merujuk pada kehidupan kota. Dari sini kita dapat menarik satu definisi sederhana tentang budaya urban. Yang dimaksud dengan budaya urban ialah wujud dari cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak manusia urban di tengah konstelasi kehidupan kota. Cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak itu menyangkut soal nilai yang dihayati. Telah disebut di awal bahwa nilai yang dijunjung dalam kehidupan urban adalah pencarian dan pemuasan hasrat diri. Nilai inilah yang kemudian turut membentuk wujud budaya urban. Namun, hasrat diri tidaklah berdiri sendiri. Ia menjadi satu dengan penanda-penanda kehidupan urban. Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang menjadi penanda kehidupan urban:

Pertama, soal kawasan. Ciri mendasar dari dunia urban adalah kawasan yang sedemikian ramai dan padat, entah oleh penduduk, aktivitas sosial, pemukiman, ataupun bangunan-bangunan lainnya. Keramaian dan kepadatan kawasan itu kemudian disusul dengan beragam ikon sosial yang merepresentasikan citra elitis. Dan, citra elitis itu biasanya hadir dalam penampilan yang sensualis. Misalnya:  arsitektur yang megah, interior yang mewah, suasana yang glamour, dsb. Dalam budaya urban, kawasan yang elitis itu dipisahkan secara tegas dengan kawasan yang standar (baca: kampungan). Tiap kawasan memiliki lokasi yang garis batasnya jelas. Sebagai contoh, di tiap hunian urban (apartemen, perumahan mewah), di pusat-pusat perbelanjaan, di deretan perkantoran atau tempat bisnis, yang menjadi petunjuk garis batasnya adalah hadirnya petugas keamanan (satpam). Pemisahan antara kawasan yang elit dan yang standar tentu saja bermakna sosial. Ada pertarungan prestise yang sangat kentara dalam pilihan tindakan seseorang dalam menentukan di kawasan mana ia akan berada.

Kedua, soal mobilitas. Manusia urban bisa dibaratkan sebagai “manusia pelari”. Grafik mobilitasnya tinggi. Denyut kehidupan urban yang serasa tak pernah mati selalu saja menyuguhkan beragam aktifitas yang tak habis dikerjakan, entah itu perkara mencari penghidupan entah perkara melewatkan waktu luang. Waktu seolah tak cukup 24 jam. Karena itu, bagi manusia urban, gerak hidup pun diukur dengan perhitungan kecepatan dan efesiensi. Di sini, wujud budaya urban hadir dalam beragam perangkat yang memungkinkan seseorang untuk berpindah “ruang dan waktu” dalam sekejap. Kemajuan teknologi komunikasi menyumbang peran besar di sini. Teknologi komunikasi, seperti handphone, 3G mobile phone, e-mail, skype, dst, hadir sebagai solusi efektif dan efisien bagi manusia urban di tengah mobilitas yang tinggi. Tak hanya itu, kemajuan teknologi komunikasi, juga membuat ruang-ruang interaksi sosial bisa dihadirkan secara virtual, khususnya lewat situs jejaring sosial, seperti facebook atau twitter. Kendala soal jarak, waktu, dan ruang pun menjadi sedemikian relatif. Untuk berinteraksi dan bersosialisasi, seseorang cukup memiliki satu perangkat komunikasi. Maka, ia pun akan terhubung dengan siapa saja dan di mana saja. Memang, ada keuntungan yang diperoleh lewat kemudahan mobilitas dan interaksi sosial tersebut. Namun, ada juga bahaya individualitas atau autisme sosial ketika seseorang begitu tergantung dengan perangkat komunikasi yang ia miliki.

Ketiga, soal gaya hidup. Gaya hidup adalah penanda yang amat mencolok dalam kehidupan urban. Ia menjadi penentu berada di tingkatan mana seseorang dalam strata sosial. Citra diri pun ditentukan lewat gaya hidup yang dipilih. Bahkan, tak jarang pemikiran atau keyakinan pribadi dipertaruhkan demi meraih citra diri tersebut. Dalam gaya hidup, wujud budaya urban tampil dalam beragam bentuk. Mulai dari cara berpakaian, produk belanjaan, gadget yang dipakai, hobi yang dijalani, tongkrongan yang dipilih, komunitas yang diikuti, dsb.  Satu yang pasti, dalam gaya hidup, wujud budaya urban amat ditentukan oleh pasar. Yang dimaksud pasar di sini ialah kekuatan kapital yang punya kuasa menyetir euforia gaya hidup manusia urban. Pasar tahu dengan baik bagaimana mengelola hasrat diri manusia urban. Cara jitunya adalah dengan iklan. Identitas/citra diri yang ditampilkan dalam iklan merupakan kail untuk memancing dorongan konsumeris dan eudamonis manusia urban.

Bagaimana Iman Diwartakan?!

Tidak bisa dielak bahwa orang muda Katolik hidup di tengah keramaian budaya urban. Gairah hidup dan,jati diri mereka ikut dibentuk di dalamnya. Menceraikan mereka dari keramaian budaya urban tentu saja berarti menjadikan mereka terasing dari jaman. Dan itu sama saja dengan membunuh mereka secara perlahan. Sesungguhnya yang menjadi persoalan di sini bukanlah produk budaya urban, melainkan tata nilai yang kemudian lahir darinya. Sebagai sebuah produk, maka ia netral. Namun, menjadi soal ketika tata nilai dikacaukan demi pemuasan hasrat diri. Parahnya bila pemuasan hasrat diri itu dikejar dengan menutup mata akan nilai iman (dan moral). Misalnya, rela menjadi “wanita/pria panggilan/simpanan” demi mendapat sejumlah uang untuk memenuhi hasrat konsumsi. Suara hati, yang menjadi ruang di mana Tuhan berfirman, pun seolah mudah dibungkam.

Maka, di tengah keramaian budaya urban, orang muda Katolik perlu untuk sadar-nilai. Tahu tata nilai. Manakah nilai yang utama? Bagi orang beriman, nilai iman (dan kemudian juga moral) adalah yang utama. Ia tidak bisa direlatifkan dengan apa pun juga. Adalah tugas Gereja untuk menanamkan dan menjaga tata nilai orang muda Katolik di keramaian budaya urban. Pertanyaannya sekarang, Gereja itu siapa? Gereja itu siapa saja yang beriman pada Kristus. Maka, wajah Gereja itu bisa jadi imam, biarawan-biarawati, orangtua, saudara, pemerhati orang muda, rekan kerja, guru, atau bahkan teman sekolah. Tiap orang memiliki tanggung-jawab, paling tidak memberi kesaksian konkret tentang tata nilai yang seharusnya.

Gereja perlu juga memikirkan cara-cara yang memikat dan bersahabat untuk mewartakan iman kepada orang muda. Cara yang paling jitu adalah lewat budaya yang dihidupi oleh orang muda itu sendiri. Sebagaimana ditandaskan oleh Yohanes Paulus II dalam dokumen Ecclesia in Asia,

“Kebudayaan itu ruang vital. Di situlah pribadi manusiawi bertatap muka dengan Injil. Seperti kebudayaan ialah hasil hidup dan kegiatan kelompok manusiawi, begitu pulalah orang-orang yang termasuk kelompok itu sebagian besar dibentuk oleh kebudayaan lingkung hidup mereka. Seperti orang-orang dan masyarakat-masyarakat berubah, begitu juga kebudayaan berubah bersama mereka. Seperti kebudayaan dirombak, begitu pula orang-orang dan masyarakat-masyarakat dirombak olehnya”.[1]

Lebih lanjut, Yohanes Paulus II menambahkan bahwa “Kerajaan Allah mendatangi orang-orang yang secara mendalam berhubungan dengan kebudayaan; dan pembangunan Kerajaan Allah tidak dapat menghindari tindakan meminjam unsur-unsur dari kebudayaan manusiawi”.[2]

Prinsip umum yang biasa dirujuk untuk mewartakan iman adalah dengan “pendekatan pintu”, yakni masuk melalui pintu mereka, tetapi keluar lewat pintu kita. Dalam hal ini, budaya urban adalah pintu masuk yang paling terbuka. Yang dimaksud tentu saja bukan nilai-nilai yang lahir darinya, melainkan produk-produk budaya yang dihasilkannya. Telah dikatakan di atas bahwa produk budaya urban itu sejatinya netral. Lantas, bagaimana cara mewartakan iman dengan produk budaya urban? Ada banyak produk budaya urban yang bisa digunakan. Saya akan menyebut beberapa.

Pertama, lewat kesenian. Kesenian urban hadir dalam beragam bentuk. Misalnya, mural/graviti, poster, desain T-shirt, komik, fiksi mini, musik kontemporer, dsb. Beragam bentuk kesenian itu bisa dipakai sebagai bungkus pewartaan iman. Pokok-pokok pewartaan iman dipakai sebagai bahan untuk berkesenian, entah itu berupa gambar, tulisan, atau pun musik. Cara yang demikian tentu saja, selain memikat perhatian orang muda, juga cara pewartaan iman yang baru, yakni iman yang berdialog dengan geliat jaman. Dalam bayangan saya, Gereja bisa juga mewadahi beragam kesenian urban itu menjadi satu event yang berkala. Misalnya, mengadakan festival evangelisasi kesenian urban (Urbanggelization Festival) di mana orang muda Katolik diajak untuk berpikir dan mengkreasi karya kesenian urban sebagai cara baru untuk pewartaan iman yang sesuai dengan konteks hidup mereka.

Kedua, pewartaan iman bisa hadir dengan meminjam gaya hidup orang muda urban. Ruang-ruang virtual interaksi sosial, seperti facebook, twitter, youtube, menjadi solusi pewartaan iman yang ampuh ketika perangkat teknologi komunikasi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari orang muda katolik yang hidup di wilayah urban. Akhir-akhir ini telah banyak akun media komunikasi sosial yang dibuat demi tujuan tersebut. Gereja kiranya perlu juga hadir di dalamnya. Dengan akun media sosial yang diliris secara resmi oleh Gereja, maka beragam katakese iman, seruan dan dinamika Ardas, serta informasi seputar kegiatan dan perhatian Gereja Keuskupan Surabaya pun bisa tersebar dengan cepat. Kehadiran Gereja dalam akun media sosial yang dimilikinya juga menjadi cara yang efektif untuk menyapa orang muda katolik yang barangkali tidak tersentuh oleh pembinaan-pembinaan iman di paroki.

Ketiga, geliat kehidupan urban secara nyata terepresentasi dalam ruang-ruang publik  di mana manusia urban, khususnya orang muda Katolik, melewatkan sebagian dari waktu yang dimilikinya. Salah satunya adalah Mall. Sekalipun masih menimbulkan perdebatan di sana-sini, menurut saya, Mall adalah ruang publik yang memiliki peluang besar sebagai ruang di mana iman dapat Katolik diwartakan. Sebab, dalam budaya urban, fungsi Mall bukan sekadar tempat perbelanjaan, melainkan ruang di mana interaksi sosial dijalani. Di dalamnya, Gereja bisa menyapa umat beriman Katolik, terlebih orang muda Katolik, dan menanamkan iman kekatolikan dengan beragam kegiatan yang di langsungkan Mall. Beberapa contoh kegiatan yang bisa dirujuk antara lain, pameran lukisan/komik/buku rohani Katolik, konser mini musik rohani katolik, bincang-bincang seputar iman Katolik untuk orang muda, dsb. Dengan cara yang demikian, Mall pun bisa menjadi sebuah aeropagus baru (bdk. Cara pewartaan Paulus kepada orang-orang Yunani – Kis 17:22-31) dalam pewartaan iman yang berdialog dengan jaman.


[1] Yohanes Paulus II, Gereja di Asia (terj. R. Hardawiryana), Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2001, hlm. 53-54.

[2] Ibid., hlm. 54.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s