Guru: Pengajar dan Pendidik yang Berkompeten dan Profesional


Ketika novel “Laskar Pelangi” terbit di pasaran (2005), kemudian disusul dengan kesuksesan adaptasi filmnya (2008), masyarakat ramai bertanya-tanya tentang makna pendidikan. Keberhasilan sebuah pendidikan itu bergantung pada apa dan siapa?! Kisah yang diangkat dalam “Laskar Pelangi” itu sendiri sarat dengan refleksi tajam atas dunia (miris) pendidikan. Sekolah yang hampir ditutup lantaran kekurangan murid. Gedung sekolah yang rapuh. Fasilitas yang minim. Murid yang tak seberapa. Mungkinkah pendidikan yang bermutu berlangsung dalam situasi semacam itu?! Intuisi bawah sadar kita barangkali akan menjawab tidak. Namun, Andrea Hirata, si penulis novel sekaligus juga tokoh pribadi di cerita “Laskar Pelangi”, memberi jawaban yang sebaliknya. Pendidikan yang bermutu tidak melulu bergantung pada fasilitas dan sarana. Murid-murid yang cerdas dan berprestasi dibentuk oleh guru yang tahu bagaimana cara mengajar dan mendidik.

Kisah dalam “Laskar Pelangi” kiranya menjungkir-balikkan persepsi banyak orang tentang makna pendidikan. Gedung sekolah yang megah. Fasilitas dan sarana belajar yang lengkap. Atribut “plus” di nama sekolah. Semua hal tersebut merupakan sumber sekunder dalam pendidikan. Meskipun sumber sekunder itu perlu dan berperan penting dalam menujang proses belajar-mengajar, namun tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur/penjamin satu-satunya keberhasilan pendidikan. Penentu utama keberhasilan pendidikan adalah guru. Ia adalah ujung tombak pendidikan. Kehadirannya tidak bisa digantikan dengan bertumpuk buku ajar atau instrumen pengajaran lainnya, secanggih apa pun wujudnya. Sebab, murid merupakan subjek pendidikan yang hidup dan dinamis. Mereka memiliki segudang mimpi, harapan, kegelisahan, dan potensialitas yang jauh lebih kaya dari apa yang bisa diukur dalam test-test kepribadian.

Dari kesehariannya dengan para murid, guru (semestinya) tahu benar apa yang harus dikerjakan untuk mengoptimalkan daya-daya hidup dalam diri murid-binanya. Jika dunia pendidikan diibaratkan serupa belantara pengetahuan. Maka murid adalah peziarah muda yang menyusuri jalan-jalan di belantara itu. Batinnya haus akan pencarian. Kepalanya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Namun, agar tak sesat arah, mereka butuh bimbingan/tuntunan. Pun juga agar terus melangkah maju ketika terjatuh, mereka butuh semangat/dorongan. Dan, pengemban peran itu ada tak lain adalah guru.

Mengajar dan Mendidik

Di dalam sekolah, peran utama guru adalah sebagai pengajar dan pendidik. Dua peran tersebut memiliki dimensi tugas yang berlainan. Namun demikian, saling berkait satu sama lain. Sebagai pengajar, guru mengemban tanggung-jawab untuk menghantar murid kepada khazanah ilmu pengetahuan. Dimensi yang menonjol di sini adalah soal pengoptimalan daya-daya akal budi. Akal budi itu sendiri merupakan ruang yang teramat lapang, di mana keingin-tahuan dilahirkan, pertanyaan-pertanyaan diajukan, ide/gagasan diolah, segala informasi dicerap dan disimpan. Dalam hal ini, tugas guru sebenarnya sederhana, yakni masuk ke ruang akal budi murid. Kemudian, menebarkan benih ilmu pengetahuan di sana. Setelah itu, menyirami dan memupuk benih ilmu pengetahuan itu tiap hari. Sampai ia mengakar, bertumbuh, dan akhirnya berbuah menjadi pohon pengetahuan yang lebat di ruang akal budi murid.

Dewasa ini telah disadari bersama bahwa pengajaran bukan sekadar mentransfer ilmu yang dimiliki oleh guru kepada murid. Karena itu, keberhasilan guru dalam mengajar tidak ditandai oleh rincian berapa murid yang sudah bisa menghapal materi pelajaran. Guru dikatakan berhasil mengajar ketika muridnya mencerap materi pelajaran yang diberikan, mengeksplorasinya secara pribadi, dan menangkap maknanya bagi hidup pribadi. Karena itu, alih-alih mengajar dengan gaya konvensional (ceramah/one man show), guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam metode pengajarannya. Misalnya, memanfaatkan beragam media pembelajaran terkini atau praktek langsung sejauh memungkinkan.

Kemudian, sebagai pendidik, guru bertanggung-jawab untuk membentuk pribadi murid. Menyitir pernyataan dari KHK 795, “Pendidikan yang sejati harus meliputi pembentukan pribadi manusia seutuhnya, yang memperhatikan tujuan akhir dari manusia dan sekaligus pula kesejahteraan umum dari masyarakat”. Maka, dimensi tugas mendidik sesungguhnya memiliki cakupan yang amat luas. Sebab menyangkut diri murid sebagai pribadi mandiri di tengah konstelasi hidup sosial.

Lebih jauh, tanggung jawab membentuk pribadi murid itu sendiri haruslah diartikan secara positif. Sebab, murid bukanlah objek pendidikan yang tidak tahu apa-apa. Murid adalah subjek pendidikan yang memiliki karakter khas di dalam dirinya. Adalah keliru bila atas nama pendidikan, guru mematikan karakter khas dalam diri murid. Karena itu, dalam tugas pendidikan, guru sesungguhnya berperan ganda sebagai orangtua dan rekan. Sebagai orangtua, guru punya hak dan kewajiban  untuk mengarahkan murid pada tata hidup dan tata nilai yang ideal. Sementara itu, sebagai rekan, guru masuk dan menyelami dunia batin murid – menampung seluruh keluhan, harapan, juga kegelisahan murid. Barulah dengan cara yang demikian sebuah pendidikan dikatakan berhasil. Sebab, guru tahu apa yang harus dikejakan bagi tiap murid didiknya.

Sementara itu, sebagai pengajar dan pendidik, guru tidak bisa tidak tunduk pada kurikulum pendidikan yang berlaku di tanah air. Secara sederhana, kurikulum pendidikan bisa diartikan sebagai seperangkat sistem pembelajaran (isi, materi, metode) yang digunakan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan itu tak lain adalah membentuk kompetensi dasar (entah akademik ataupun karakter) dalam diri murid. Masalah muncul ketika kurikulum pendidikan di Indonesia tidak memiliki satu kepastian bentuk. Di kalangan masyarakat, beredar jargon “Ganti menteri, ganti kurikulum”.

Sejak tahun 1945 sampai sekarang, kurikulum pendidikan di Indonesia telah berganti sebanyak 10 kali. Dua kurikulum pendidikan yang terakhir diberlakukan adalah KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi – 2004) dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan – 2006). Wacana perubahan kurikulum pendidikan juga santer bergulir saat ini. Rencananya, muli tahun ajaran depan, Juni 2013, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan kurikulum pendidikan yang baru, yakni Kurikulum 2013. Perubahan kurikulum pendidikan tak pelak merubah juga sistem pembelajaran di sekolah. Yang secara langsung kena imbasnya adalah guru. Sebab merekalah praktisi pendidikan di ruang kelas. Maka, di tengah keriuhan perubahanan kurikulum pendidikan, guru dituntut untuk tanggap dan cepat menyesuaikan diri dengan pedoman kurikulum. Dalam hal ini, kompetensi dan profesionalitas guru sangatlah diuji.

Kompetensi dan Pofesionalitas: Mengapa Perlu?

Kompetensi dan profesionalitas merupakan tanda yang amat kelihatan untuk menilai kualitas guru. Kualitas guru jelas menentukan kualitas pendidikan.  Fasilitas, sarana, dan sistem pembelajaran sebaik apa pun tidak akan ada artinya bila tidak dibarengi dengan hadirnya guru yang berkualitas. Mengenai hal ini, dokumen Gravissimum Edicationis telah menandaskan, “Hendaknya para guru menyadari, bahwa terutama peranan merekalah yang menentukan bagi sekolah Katolik, untuk dapat melaksanakan rencana-rencana dan usaha-usahanya. Maka dari itu, hendaklah mereka sungguh-sungguh disiapkan, supaya membawa bekal ilmu-pengetahuan profan maupun keagamaan yang dikukuhkan oleh ijazah-ijazah semestinya, dan mempunyai kemahiran mendidik sesuai dengan penemuan-penemuan zaman modern” (GE 8, 3).

Kepada para guru, dokumen Gravissimum Educationis mensyaratkan dua hal yang perlu ada, yakni ijazah dan kemahiran mendidik. Dua hal tersebut menjadi tolak ukur apakah seorang guru itu berkualitas atau tidak. Ijazah (dan sertifikat pendidik) merupakan bukti otentik dari kualifikasi profesional seorang guru. Ijazah (dan sertifikat pendidik) menjadi saksi perjalanan akademis seorang guru; sejauh mana dan setinggi apa seorang guru mengeyam pendidikan yang sesuai dengan bidang tugas yang ia emban. Secara nasional, ditetapkan bahwa kualifikasi profesional guru untuk pendidikan dasar, menengah, dan atas, adalah Diploma Empat (D-IV) atau Sarjana (S1).

Dalam tataran praktis, kualifikasi profesional tersebut menuntut adanya profesionalitas kerja. Sekalipun memenuhi kualifikasi profesional yang disyaratkan, tidak berarti seorang guru mampu bersikap/bertindak profesional. Profesionalitas itu lebih mengarah pada disposisi batin yang terwujud dalam sikap dan tindakan konkret. Seorang guru dikatakan memiliki profesionalitas bila ia (misalnya): bertanggung-jawab atas tugas mengajar dan mendidik yang dipercayakan kepadanya, jujur, berdedikasi tinggi, memiliki etos kerja, mau terus belajar, kreatif dan inovatif, dsb. Harus disadari bahwa orangtua murid menyerahkan pendidikan bagi anaknya kepada sekolah lantaran mereka percaya pada kualitas sekolah. Cara terbaik dari sekolah untuk menjaga kepercayaan tersebut tak lain adalah dengan menumbuhkan profesionalitas guru. Sebab, gurulah yang secara langsung berhadapan dengan murid di sekolah.

Sebagai sebuah disposisi batin, maka profesionalitas itu pertama-tama harus ditumbuhkan oleh guru lewat kesadaran akan tanggung-jawab, dan kemudian dipelihara lewat habituasi. Adalah tugas kepala sekolah agar kesadaran itu terus tumbuh dan habituasi itu tetap dipelihara oleh guru. Selain itu, kepala sekolah juga bertanggung-jawab untuk meningkatkan profesionalitas guru dengan program-program on going formation bagi guru.

Sementara itu, kemahiran mendidik adalah salah satu tanda nyata dari kompetensi guru. Menurut UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen, yang disebut sebagai kompetensi adalah “seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan” (Pasal 1, 10). Masih dalam UU yang sama, kompetensi yang disyaratkan bagi guru adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesioanal (10, 1).[1]

Keempat komptensi yang disyaratkan bagi guru tersebut memiliki nuansa isi yang berbeda-beda. Namun, semuanya saling berkesinambungan guna mengoptimalkan tanggung-jawab guru sebagai pengajar dan pendidik. (1) Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru untuk mengelola pembelajaran bagi peserta didik. Beberapa kecakapan yang termasuk di sini antara lain: memahami karakter dan potensi murid, menguasai teori belajar dan teknik-teknik pembelajaran yang efektif, memanfatkan media/teknologi pembelajaran terkini, mengerti cara merencanakan dan mengembangkan kurikulum, tahu bagaimana menilai dan mengevaluasi pembelajaran, dst. (2) Kompetensi kepribadian mencakup nilai-nilai atau kualitas pribadi yang diharapkan ada pada diri guru sebagai pengajar dan pendidik. Nilai-nilai atau kualitas pribadi itu antara lain: berakhlak mulia, bijaksana, berwibawa, jujur, mampu menjadi teladan, dst. (3) Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun, baik itu dengan murid, sesama guru, orangtua murid, ataupun dengan masyarakat sekitar. Sementara itu, (4) kompetensi profesional adalah kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran secara luas dan mendalam, mengembangkan materi pelajaran secara kreatif, dan menerapkan aplikasi materi pelajaran secara konkret.

Akhir kata, jika guru diibaratkan sebagai ujung tombak pendidikan, maka kompetensi dan profesionalitas guru adalah pisau asah yang menajamkan kualitas pendidikan yang diemban oleh guru. Menjadi guru memang tidaklah bisa sembarangan. Tuntutan dan peryaratannya tinggi, sebab tanggung-jawab yang dipikul amatlah besar. Menarik bahwa dokumen Gravissimum Educationis mengistilahkan kerja guru sebagai sebuah panggilan. Menjadi guru itu sebuah panggilan. Dan, “Panggilan itu memerlukan bakat-bakat khas budi maupun hati, persiapan yang amat seksama, kesediaan tiada hentinya untuk membaharui dan menyesuaikan diri” (GE 5, 2).

Sumber Bacaan:

UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen, diunduh dari http://hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_guru_dosen.htm, diakses tgl 9 Desember 2012.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 16/2007 tentang Standar Kualifikas Akademik dan Kompetensi Guru, diunduh dari http://hukum.unsrat.ac.id/men/mendiknas_16_2007.pdf, diakses tgl. 9 Desember 2012

Vatikan II. Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana (Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI). Jakarta: OBOR, 2002.

 


[1] UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen diunduh dari http://hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_guru_dosen.htm, diakses tgl 9 Desember 2012. Bandingkan juga, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional 16/2007 tentang Standar Kualifikas Akademik dan Kompetensi Guru, diunduh dari http://hukum.unsrat.ac.id/men/mendiknas_16_2007.pdf, diakses tgl. 9 Desember 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s