Budaya Kematian Vs. Budaya Kehidupan (Pembacaan atas Ensiklik Evangelium Vitae)


Injil Kehidupan, demikianlah judul yang diberikan oleh Yohanes Paulus II dalam ensikliknya. Warta Yesus adalah warta tentang kehidupan. Inti penebusan-Nya adalah tentang kehidupan: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan memilikinya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Kehidupan itu sendiri adalah sesuatu yang luhur. Dalam kehidupan, manusia sejatinya berpartisipasi dalam kehidupan Allah sendiri. Kenyataan ini mewahyukan prinsip mutlak dalam hidup manusia, yakni adanya keagungan dan nilai tak terhingga dari hidup manusiawi.

Pertanyaan yang perlu diajukan sebelum membaca lebih jauh ensiklik Evangelium Vitae ini adalah “Mengapa ensiklik ini ditulis? Apa yang menjadi kemendesakannya?” Paus Yohanes Paulus II menangkap sinyalemen bahwa di jaman ini ancaman-ancaman bagi kehidupan, terutama bila kehidupan itu lemah dan tanpa perlindungan, semakin gawat dan menguat. Budaya kematian, yang dengan frontal dan bahkan keji melanggar hak serta nilai hidup pribadi manusia, semakin menjadi-jadi di jaman ini. Karena itulah ensiklik ini dimaksudkan sebagai penegasan ulang yang seksama dan tegas mengenai nilai hidup manusiawi yang tak dapat diganggu gugat, sekaligus seruan yang mendesak bagi tiap orang: hormatilah, lindungilah, cintailah dan layanilah kehidupan, tiap hidup manusiawi!

Budaya Kematian

Secara singkat, budaya kematian dapat dirumuskan sebagai apa saja yang berlawanan dengan kehidupan sendiri, melanggar keutuhan pribadi manusia, dan apa pun yang melukai martabat manusia. Budaya kematian ini, dalam konsekuensinya yang paling tegas, mencoreng peradaban manusiawi dan bertentangan dengan kemuliaan Sang Pencipta. Sebab, nilai hidup manusia tak lagi dihargai, dijatuhkan sampai titik nadir, dan Tuhan sebagai pemilik hak hidup manusia seolah dinafikan begitu saja.

Di jaman ini, budaya kematian tampil sebagai struktur dosa yang mengakar. Kebudayaan ini dipupuk secara aktif oleh arus-arus yang kuat, meliputi bidang-bidang budaya (isme-isme yang berkembang, masalah kependudukan), ekonomi (kemiskinan), politik (pelegalan undang-undang pro-choice), juga kemajuan ilmiah dan teknologis, yang mendorong terwujudnya citra masyarakat yang hanya memedulikan efisiensi semata-mata. Perandaiannya, jika hidup manusia itu tak lagi berguna, maka tidak ada kepentingan lagi untuk dijaga dan dilindungi.

Dalam ensiklik ini, perhatian khusus dipusatkan pada kategori-kategori serangan pematian yang ditujukan pada hidup pada tahap-tahapnya yang paling awal dan paling akhir.

Aborsi. Pengguguran kandungan ini terjadi lantaran beberapa sebab: (1) keengganan untuk direpoti dengan kehadiran seorang bayi – ini alasan yang semata-mata egois dan pragmatis; (2) adanya pertarungan nilai yang satu dengan yang lain, misalnya mengugurkan kandungan demi kesehatan si ibu atau tiadanya kemungkinan untuk hidup layak bagi anggota keluarga lain; (3) tekanan-tekanan psikologis yang dialami oleh si ibu, misalnya si ayah tidak bertanggung jawab; (4) adanya diagnosis prakelahiran yang menyatakan bahwa harapan hidup si bayi amatlah kecil, atau pun kalau hidup si bayi dikhawatirkan akan hidup dengan kondisi yang begitu buruk.

Eutanasia. Eutanasia artinya mengendalikan maut dan mendatangkannya sebelum waktunya, yang dengan cara halus, mengakhiri hidupnya sendiri atau orang lain. Sasarannya adalah orang lanjut usia dan orang cacat yang tidak memiliki efisensi produktif. Dalam arti sempit, eutanasia ialah tindakan yang dengan sendiri dan sengaja mengakibatkan kematian dengan maksud menyingkirkan segala penderitaan. Eutanasia harus dibedakan dari keputusan untuk mendahului apa yang disebut sebagai “perawatan medis yang agresif”, yakni bila prosedur-prosedur medis yang tak lagi sesuai dengan situasi nyata pasien, entah karena prosedur-prosedur itu tidak lagi lagi sepadan dengan hasil-hasl yang diharapkan, entah karena prosedur-prosedur itu menaruh beban yang berlebihan atas pasien dan keluarganya. Dalam situasi tersebut, kalau maut sudah jelas di ambang pintu dan tidak dapat dihindari, menurut suara hatinya, seseorang dapat menolak bentuk-bentuk perawatan, yang hanya akan menjamin perpanjangan hidup yang rawan dan sarat beban.

Akar Permasalan

Subjektivitas Ekstrim. Mentalitas ini mengakui diri sebagai pemegang hak yang mutlak. Otonomi penggunaan hak sepenuhnya ada di tangan pribadi. Dalam mentalitas ini ketergantungan pada pihak lain dihilangkan sama sekali.

Demartabatisasi Pribadi. Mentalitas ini cenderung menyamakan martabat pribadi dengan kemampuan berkomunikasi secara lisan dan eksplisit, atau setidak-tidaknya dapat ditangkap. Dengan perandaian tersebut, maka jelas bahwa mereka yang lemah, tergantung secara radikal pada orang lain, dan hanya dapat berkomunikasi lewat bahasa tak bersuara, yakni bayi yang belum lahir dan orang yang menjelang ajal, tidak mendapat tempat di dunia.

Paham Kebebasan. Paham ini secara mutlak menjunjung tinggi individu tersendiri dan tidak meluangkan tempat bagi solidaritas, juga bagi sikap terbuka terhadap sesama dan pelayanan kepada mereka. Dalam budaya maut, kebebasan “mereka yang kuat” diperlawankan dengan mereka yang lemah (bayi yang belum lahir atau pada tahapnya yang terakhir) dan tidak mempunyai pilihan selain menyerah saja.

Sekularisme. Sekularisme yang berkembang dewasa ini secara langsung mengakibatkan tragedi yang dialami oleh manusia modern, yakni surutnya hubungan akan Allah dan akan manusia. ketika kesadaran akan Allah hilang, kesadaran akan manusia pun terancam dan teracuni. Tanpa Allah, manusia tidak bisa lagi memandang dirinya sebagai makhluk yang mulia, yang berbeda dari makhluk-makhluk lainnya. Manusia pun merosot menjadi “suatu benda” semata, tidak lagi menangkap sifat “transenden” hidupnya sebagai manusia. Akibatnya, kelahiran dan kematian pun tidak lagi dipandang sebagai pengalaman primer yang minta dihayati, melainkan menjadi serupa benda yang berhak dimiliki atau ditolak semata-mata.

Materialisme Praktis. Dalam paham ini, nilai-nilai keberadaan (being) diganti dengan nilai-nilai memiliki (having). Akibatnya, apa yang diistilahkan sebagai mutu kehidupan, tertutama atau hanyalah ditafsirkan sebagai efisiensi ekonomis, konsumerisme tanpa aturan, atau sebatas keindahan fisik dan kenikmatan. Dalam konteks ini, penderitaan ditolak sebagai yang tak berguna, harus disingkirkan. Dalam konteks itu pula, badan dimerosotkan menjadi materialistis belaka: sekadar keseluruhan organ-organ, fungsi-fungsi, yang dipakai menurut tolak ukur kenikmatan dan efisiensi semata-mata. Lebih jauh, perspektif materialisme pada akhirnya memiskinkan hubungan antarpribadi. Yang pertama dan secara langsung dirugikan adalah bayi/anak-anak, orang yang sakit dan menderita, dan orang lanjut usia. Dengan tolak ukur efisiensi, fungsionalitas, dan manfaat, sesama dipandang bukan menurut keberadaan mereka, melainkan menurut apa yang mereka miliki, perbuat, dan hasilkan.

Budaya Kehidupan

Hidup adalah sesuatu yang baik, demikian penegasan Yohanes Paulus II dalam ensiklik ini. Mengapa hidup itu sesuatu yang baik? Jawaban atas pertanyaan ini bisa dirujuk dalam Kitab Suci. Pada bagian awal Kitab Suci, khususnya Kitab Kejadian, dinyatakan bahwa hidup yang dicurahkan oleh Allah kepada manusia adalah anugerah yang khas: di situ Allah berbagi sesuatu dari Diri-Nya dengan manusia. Manusia dicipta serupa dengan Alllah (Kej 1:27). Dengan demikian, dalam hidup manusia, Allah menandakan dan menampilkan kehadiran-Nya di dunia. Sebagai gambar Allah, manusia bukan hanya punya kedaulatan atas dunia, melainkan juga punya daya-kemapuan rohani yang khas, yakni: akal budi, kemampuan membedakan yang baik dan jahat, serta kehendak bebas. Sehingga bisa dikatakan bahwa kemuliaan Allah memancar pada wajah manusia.

Karena hidup itu dianugerahkan oleh Allah kepada manusia, maka bisa dikatakan bahwa pemilik kehidupan manusia adalah Allah sendiri. Ia adalah satu-satunya Tuhan atas hidup. Konsekuensinya, manusia tidak dapat memperlakukan hidup sesuka hatinya. Hidup dan kematian manusia ada di tangan-Nya. Sementara itu, pada manusia, dituntut untuk tak henti melangkah pada kepenuhan hidup, yakni membela dan memupuk hidup, menghormati dan mencintainya. Itulah tugas yang oleh Allah dipercayakan kepada tiap orang, di mana manusia dipanggil sebagai citra-Nya yang hidup di dunia.

Dasar Biblis-Teologis. Perintah tentang ketidak-dapat diganggu-gugatnya hidup manusia bergema pada inti sepuluh perintah Allah, yakni perintah “jangan membunuh” (Kel 20:13). Perintah ini berbunyi secara tegas negatif: menunjukkan batas ekstrim yang tidak pernah boleh dilampaui. Akan tetapi, secara implisit mendorong sikap positif hormat yang mutlak terhadap hidup dan mengajak untuk memajukannya. Oleh Yesus, perintah itu dikukuhkan ulang secara tegas-tandas. Perintah-perintah moral yang tercatat dalam hukum Taurat disimpulkan oleh Yesus dengan perintah ini: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”. Dan ditegaskan kembali oleh Rasul Paulus, “kasih itu adalah kegenapan hukum taurat” (Rm 13:10). Dalam Yesus, Taurat dirangkaum ke dalam hukum baru, yakni “hukum Roh Kehidupan dalam Kristus Yesus” (Rm 8:2). Hukum baru itu adalah penyerahan diri dalam cinta kash demi saudara-saudarinya” “Kami tahu, bahwa kami telah beralih dari maut kepada hidup, karena kami mengasihi saudara-saudarai” (1 Yoh 3:14). Jadi, dalam kasih itu, tiap orang diundang untuk melindungi dan mencintai hidup, terutama pada saat awal dan saat akhirnya, saat-saat di mana hidup manusia paling mudah dilukai.

Moralitas Aborsi. Prinsip moral Kristiani menegaskan bahwa dari saat telur dibuahi sudah mulailah suatu kehidupan, yang bukan hidup ayag atau ibunya, melainkan hidup manusia yang baru beserta pertumbuhannya. Sudah sejak saat itu ia menjadi pribadi. Oleh karena itu, sudah sejak saat itu juga hak-haknya sebagai pribadi harus diakui. Diantara hak-hak tersebut, terutama adalah hak yang tidak dapat diganggu gugat untuk hidup. Sehingga, pengguguran dan pembunuhan anak (terutama yang langsung, yakni yang dikehendaki sebagai tujuan dan sarana) adalah dosa moril yang berat. Hukuman ekskomunikasi otomatis (latae sententiae) dikenakan kepada siapa saja yang berperan dalam praktek pengguguran dan pembunuhan anak.

Evaluasi moralitas pengguguran itu diterapkan juga pada bentuk-bentuk intervensi pada embrio manusiawi. Penggunaan embrio/janin manusia sebagai objek percobaan penelitian biomedis merupakan tindak kejahatan melawan martabat mereka sebagai manusia, yang berhak atas sikap hormat yang sama seperti anak yang sudah lahir dan seperti juga kepada setiap pribadi. Kecaman moral juga ditujukan kepada praktik pembuahan dalam tabung atau pemakaian janin sebagai transplantasi dalam perawatan penyakit-penyakit tertentu. Pembunuhan makhluk manusiawi yang tak bersalah, juga kalau dijalankan untuk menolong manusia lain, merupakan tindakan yang secara mutlak tidak diterima. Demikian pula dengan teknik diagnosa prakelahiran yang semata-mata dipakai dengan maksud eugenis, yakni menerima pengguguran selektif untuk mencegah kelahiran anak-anak yang terkena berbagai macam kelainan. Tindakan ini tak dapat dibenarkan sebab mengukur nilai hidup manusiawi hanya dalam paramater normalitas dan kesejahteraan fisik semata.

Moralitas Eutanasia. Eutanasia itu pelanggaran berat hukum Allah karena berarti pembunuhan manusia yang disengaja dan dari sudut moral tak dapat diterima. Bila dipilih sebagai tindakan atas pilihan sendiri, maka eutanasia de fakto adalah penolakan cinta diri dan penolakan atas kedaulatan mutlak Allah atas hidup dan maut. Juga bila tidak didorong atas penolakan cinta diri, misalnya supaya tidak menjadi beban bagi orang lain, eutanasia harus disebut sebagai belaskasihan semu. Belaskasih yang sejati mendorong untuk ikut menanggung penderitaan sesama. Belaskasihan itu tidak membunuh orang. Pilihan eutanasia menjadi lebih gawat lagi bila eutanasia itu dijalankan pada orang yang sama sekali tidak memintanya dan tidak pernah menyetujuinya. Dalam tindakan itu nampak puncak kesewenang-wenangan dan ketidak-adilan dari mereka yang kuat (keluarga, dokter, penyusun undang-undang) yang mengklaim kekuasaan untuk memutuskan siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati. Allah itulah satu-satunya yang berdaulat atas hidup dan maut.

Membangun Budaya Kehidupan. Hidup manusia adalah anugerah Allah, bersifat keramat dan pantang diganggu gugat. Oleh karena itu, pengguguran yang disengaja dan eutanasia secara mutlak tidak dapat diterima. Bukan hanya hidup manusiawi tidak boleh dirampas, melainkan harus dilindungi dan dilingkupi reksa-perhatian penuh kasih. Dalam cinta kasih itu seksualitas manusia dan pengadaan keturunan mendapat maknanya yang sejati dan sepenuhnya. Cinta kasih itu jugalah yang memberi arti kepada penderitaan dan maut. Karena itu, sikap menghormati hidup meminta agar tiap orang membela dan memajukan martabat setiap pribadi manusiawi, di setiap saat dan dalam setiap kondisi hidup manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s