Unio Keuskupan Surabaya: Sejumput Kisah Perjalanan


Pendahuluan

Para imam adalah mereka yang diangkat oleh Tuhan dari tengah umat untuk menjadi pelayan dengan kuasa Tahbisan suci (bdk. PO 2). Hakikat imamat ini mengungkapkan adanya kekhususan imam dalam tugas pelayanannya dari umat beriman lainnya. Kekhususan ini membawa ciri khas tertentu dalam hidup seorang imam. Gaya hidup imam ditunjukkan melalui doa dan sembah sujud, pewartaan sabda, persembahan kurban Ekaristi, pelayanan sakramen-sakramen lainnya dan menjalankan pelayanan lainnya bagi sesama (bdk. PO 2). Ciri khas hidup imamat inilah yang kiranya perlu dikuatkan dalam suatu persekutuan di antara para imam, sebagaimana ditegaskan dalam PO 8a : “Berkat Tahbisan, yang menempatkan mereka pada tingkat imamat biasa, semua imam bersatu dalam persaudaraan sakramental yang erat sekali. Khususnya dalam keuskupan, yang mereka layani di bawah Uskupnya sendiri, mereka merupakan satu presbiterium. Jadi setiap imam berhubungan dengan para anggota presbiterium lainnya karena ikatan cinta kasih rasuli, pelayanan dan persaudaraan”. Dokumen Konsili lainnya juga menekankan pentingnya persekutuan di antara para imam, yaitu: GS 28c : “Oleh karena Tahbisan Suci dan perutusan bersama, semua imam saling berhubungan dalam persaudaraan yang akrab. Persaudaraan itu dengan ikhlas dan rela hati akan tampil dalam saling memberi bantuan, baik rohani maupun jasmani, di bidang pastoral maupun pribadi, dalam pertemuan-pertemuan maupun persekutuan hidup, karya dan cinta kasih”, sementara dalam Hukum Kanonik ditegaskan pula bahwa “Para Klerus, karena semua bekerja terpadu untuk suatu karya yang satu dan sama, yakni membangun Tubuh Kristus, hendaknya disatukan antar mereka dengan ikatan persaudaraan dan doa, dan mengusahakan kerjasama antar mereka menurut ketentuan-ketentuan hukum partikular” (KHK 275, 1).

Para imam di Keuskupan Surabaya menghayati persekutuan para imam tersebut dalam Unio Keuskupan Surabaya yang telah berjalan sejak tahun 1980-an meski embrionya telah muncul sebelum masa tersebut. Unio ini berperan penting untuk memelihara persaudaraan para imam yang memiliki cara hidup khas di tengah kehidupan dunia, khususnya dalam berbagai bentuk tantangan hidup yang silih berganti muncul. Semangat persaudaraan inilah yang menjiwai Unio Keuskupan Surabaya dan memberi warna khusus bagi kehidupan imam diosesan di keuskupan Surabaya. Secara rutin persaudaraan ini dibangun lewat berbagai pertemuan rutin yang hendak mempererat keguyuban para imam diosesan.

Unio Keuskupan Surabaya itu sendiri telah berlangsung sejak tiga dekade yang lalu (± 1981), namun sampai pada periode ini kisah sejarah Unio Keuskupan Surabaya belum pernah dicatat sebagai satu susunan kisah yang sistematis. Perlu kiranya untuk mengawali penulisan sejarah tentang Unio Keuskupan Surabaya agar perjalanan Unio Keuskupan Surabaya tidak berlalu tanpa ada bekas. Jejak sejarah ini perlu direkam untuk memberi wawasan tentang identitas Unio Keuskupan Surabaya yang mempunyai awal dan perjalanan yang khas pula. Tulisan ini hendak memaparkan secara singkat sejarah awal Unio Keuskupan Surabaya yang tidak dipaparkan dalam sistematika sejarah secara detil. Harapannya agar tulisan singkat ini bisa menjadi tapak awal untuk kelak bisa siapa saja bisa menggali lebih dalam sejarah Unio Keuskupan Surabaya yang telah mewarnai kehidupan para imam diosesan di Keuskupan Surabaya yang secara langsung mewarnai sejarah Keuskupan Surabaya.

 2.   Unio Indonesia

Unio Indonesia dirintis dengan terbentuknya Unio Keuskupan Agung Semarang (KAS) pada 15 Juli 1955. Pada 28-29 Juni 1977 Unio KAS mengadakan pertemuan yang dihadiri wakil imam praja dari Keuskupan Bogor, Bandung, Purwokerto, Denpasar, Manado, Atambua, dan Merauke. Dalam pertemuan ini dicetuskan gagasan untuk membentuk unio Indonesia. Namun, baru pada Musyawarah Nasional (Munas) I yang diadakan di Jakarta pada 14-17 Juni 1983 dan dihadiri wakil imam diosesan dari 19 keuskupan, Unio Indonesia secara resmi terbentuk.

Unio adalah wadah persaudaraan imamat. Unio Indonesia merupakan federasi dari Unio Keuskupan. Wadah ini bersifat terbuka dan sukarela, tetapi berupaya menjangkau dan melibatkan semua imam praja di Indonesia. Tujuan Unio adalah menjadi sarana pengembangan hidup imamat dan pelayanan imam Diosesan Indonesia dalam semangat persaudaraan (bdk KHK Kan 298 $ 1). Sifat hubungan antar-Unio Keuskupan, Unio Indonesia, dan Unio Internasional, bukanlah atasan dan bawahan, melainkan kesejajaran.

Adapun landasan hukum dari pembentukan Unio Indonesia adalah KHK, kan. 278 :

1.Para rohaniwan sekulir berhak untuk menggabungkan diri dalam perkumpulan dengan rohaniwan-rohaniwan lainnya, guna mencapai tujuan-tujuan yang sesuai dengan status rohaniwan itu.

2. Para rohaniwan sekulir hendaknya menjunjung tinggi terutama perkumpulan-perkumpulan yang dengan statutanya yang disahkan oleh kuasa gerejani yang berwenang menunjang kesucian mereka dalam melaksanakan pelayanan, dengan pengaturan hidup yang tepat dan terpuji baik, serta dengan saling membantu sebagai saudara, dan  yang membina kesatuan mereka dengan uskupnya.

Munas Unio

Setiap tiga tahun sekali, Unio Indonesia menggelar Munas (Pertemuan Nasional). Tujuan diadakan Munas adalah untuk mempertemukan para imam praja di keuskupan-keuskupan Indonesia, membangun ikatan persaudaraan antarimam praja, dan meningkatkan pelayanan imamat para imam praja dengan berbagai macam konsilidasi serta pembinaan-pembinaan yang sesuai. Sejak dibentuk, Unio Indonesia telah menyelenggarakan Munas sebanyak 10 kali. Munas pertama digelar di Jakarta, tanggal 14-17 Juni 1983. Setelah itu tempat penyelenggaraan Munas digilir dari satu keuskupan ke keuskupan yang lain.

Para pengurus awal menyadari bahwa Unio Indonesia bukanlah sebuah organisasi tanpa bentuk, karena itu, setidaknya dalam dua kali pertemuan Munas, hal-hal yang menyangkut tata kelola Unio Indonesia dibahas secara serius. “Pedoman Dasar Unio Indonesia” pun dihasilkan dalam Munas II di Malang, 23-27 Juni 1986. Beberapa bulan kemudian, “Pedoman Dasar Unio Indonesia” disahkan para Waligereja dalam sidang MAWI tanggal 13 November 1986. Akhirnya, dengan statuta itu, Unio Indonesia diterima resmi anggota UNIO APOSTOLICA CLERI DIOCESANI pada tanggal 21 Oktober 1986.

 3.   Unio Keuskupan Surabaya

Sekilas tentang Keuskupan Surabaya dan Imam Praja Awali

Pada tahun 1810, Surabaya termasuk salah satu stasi dari Prefektur Apostolik Batavia (Jakarta). Sejak saat itu, berturut-turut, imam praja Belanda diutus ke Surabaya dan menetap di tempat ini untuk melayani orang-orang Belanda yang beragama Katolik. Empat puluh sembilan tahun kemudian, yakni tahun 1859, imam-imam Jesuit diberi tugas untuk mengelola wilayah Surabaya. Kemudian, pada tahun 1923, misi di Surabaya diserahkan oleh imam-imam Yesuit kepada imam-imam Lasaris (CM) yang datang dari Belanda.

Tanggal 15 Februari 1928, wilayah Surabaya menjadi Prefektur Apostolik, dan Mgr. Th. De Backere CM diangkat menjadi Prefek Apostolik yang pertama. Pada masa ini, misi di Surabaya mulai diperuntukkan bagi kalangan Jawa. Jadi, tidak semata-mata pada orang Belanda yang Katolik. Karya-karya misi mulai gencar dilakukan pada masa ini, khususnya di daerah Blitar dan Kediri. 14 tahun kemudian, yakni tahun 1942, Prefektur Surabaya diubah statusnya menjadi Vikariat Apostolik, dan Mgr. Verhoeks CM diangkat menjadi Vikaris Apostolik. Pada tahun 1943, ketika Jepang datang ke Indonesia, semua imam dan rohaniwan-rohaniwati asal Belanda ditahan oleh pasukan Jepang. Prefektur Apostolik Surabaya pun krisis tenaga imam. Mengatasi hal tersebut, Mgr Soegijapranata, Vikaris Apostolik Semarang, menugaskan beberapa imamnya untuk bekerja di Surabaya. Pada masa inilah, untuk pertama kalinya, imam-imam pribumi berkarya di Surabaya.

Selama masa Prefektur Apostolik ini, tercatat ada beberapa orang pribumi yang ditahbiskan menjadi imam praja, yakni: Mgr Dibjakarjana (imam projo pertama Keuskupan Surabaya, ditahbiskan tahun 1945), kemudian Rm. Hadisudarsa (ditahbiskan tahun 1946), dan Rm. Kumarwijaya. Sesudah itu, tidak ada lagi imam praja Surabaya yang ditahbiskan.

Tanggal 3 Januari 1961, Bapa Suci Yohanes XXIII mengeluarkan sebuah dekrit mengenai berdirinya hierarki di Indonesia. Maka, sejak saat itu Vikariat Apostolik Surabaya menjadi Keuskupan Surabaya, yang merupakan sufragan dari Keuskupan Agung Semarang. Mgr Klooster CM pun diangkat menjadi Uskup Surabaya. Di kemudian hari, tanggal 2 April 1982, Mgr. Dibjakarjana diangkat untuk mengantikan Mgr Klooster yang mengundurkan diri sebagai Uskup Surabaya. Menarik bahwa pada masa kepemimpinan Mgr Dibjakarjana inilah terjadi peningkatan jumlah imam praja, dan dengan demikian memperkiat juga Gereja lokal. Sesudah lama tidak ada tahbisan sejak 3 imam praja Surabaya yang pertama, barulah pada tahun 1974 ada tahbisan dua imam praja. Sesudah itu, sampai sekarang, hampir setiap tahun, ada tahbisan imam praja Surabaya.

Masa-masa Pra-Unio

Masa-masa pra-Unio ditandai dengan adanya generasi awal, bisa disebut juga perintis, dari imam-imam praja Surabaya. Imam-imam tersebut adalah: Rm. Dibyo (di kemudian hari menjadi Uskup Surabaya. †); Rm. Windrich (keluar); Rm. Hadisudarso (†); Rm. Beni Maryanto (†); Rm Lugano (†); Rm. Uroto (†); dan Rm. Yustisianto.

Sebagai satu paguyuban imam praja Surabaya, mereka jarang sekali berkumpul – hidup sendiri-sendiri di parokinya masing-masing. Meskipun demikian, ada kehendak dari beberapa pribadi untuk menjalin keakraban satu sama lain. Misalnya saja seperti yang dilakukan oleh Rm. Yustisianto dan Rm. Uroto, yakni melakukan rekreasi bersama di akhir tahun. Selain untuk melepas penat lantaran beban pekerjaan, juga untuk saling menyemangati satu sama lain dalam karya pastoral. Atau juga dengan saling berkunjung antar imam untuk bertukar pengalaman pastoral, seperti yang dilakukan oleh Rm. Yustisianto, Rm. Uroto, dan Rm. Beni.

Embrio Unio

Benih-benih perkumpulan antarimam praja, dirintis oleh para frater Surabaya sejak menjalani masa studi di Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Yogyakarta. Beberapa frater saat itu antara lain: Fr. Sutikno Wisaksono (sekarang uskup Surabaya); Fr. Hardisuwarno (sekarang pastor Paroki St. Cornelius, Madiun); Fr. Jelantik (sekarang pastor Paroki SMTB, Surabaya); Fr. Riko Boleng (sekarang pastor rekan di Paroki St. Petrus dan Paulus, Wlingi); Fr. Dumo (keluar dari imamat); Fr. Purwoputranto (alm. Pindahan dari Keuskupan Denpasar). Bersama dengan frater-frater Keuskupan Malang, para frater Keuskupan Surabaya tersebut menjalin semangat koliegalitas di antara mereka.

Sekitar tahun 1980, ketika para frater Keuskupan Surabaya dan Malang mengadakan retret bersama di rumah retret “Syaloom”, Batu, mereka pun sepakat untuk menggelar pertemuan rutin. Kesepakatan itu pun dijalankan dengan pertemuan yang diadakan sekitar 2-3 bulan sekali.

Unio Keuskupan Surabaya

Sekitar tahun 1981, pertemuan para imam praja Surabaya mulai rutin digelar. Pertemuan diadakan sebulan sekali. Tempat pertemuannya berpindah-pindah, kadang di paroki dimana ada imam projo yang bertugas, kadang di Seminari Garum, kadang menyewa villa di daerah Prigi atau di Pacet.

Perkumpulan unio awal ini sangatlah solid. Ada kerinduan yang besar untuk berkumpul dan bertemu; membagun semangat persaudaraan secara lebih erat. Hal itu terjadi lantaran waktu itu, karena jumlah imam projo sedikit, mereka kerap ditekan atau diperlakukan kurang simpatik oleh pihak-pihak di luar unio.

Tema perbincangan utama dalam unio adalah soal masa depan keuskupan, misalnya: Bagaimana agar perkumpulan imam praja ini semakin solid? Pada masa-masa awal unio, semangat solidaritas dan persaudaraan antarimam sangat diutamakan. Bila ada imam yang terkena masalah, imam tersebut tidak ditinggalkan, melainkan didampingi dan diteguhkan sampai akhir; Bagaimana agar jumlah imam praja bertambah semakin banyak? Untuk tujuan itu, setiap tahunnya, unio menugaskan imam-imam mudanya untuk berkunjung ke Seminari Garum – menginap sehari dan mengadakan rekreasi bersama, dengan harapan menarik para seminaris untuk bergabung dan mendaftarkan diri sebagai calon imam projo Surabaya; Bagaimana agar imam praja bisa memenuhi harapan Gereja lokal? Ketika jumlah imam praja makin bertambah dan ada kebutuhan untuk memiliki ilmu/kemampuan khusus dalam pengembangan jemaat, maka unio mengusulkan ke uskup (waktu itu Mgr. Dibyo) dan mendorong para imam untuk studi lanjut. Dua jenis bidang studi yang diperhatikan adalah bidang studi gerejani dan duniawi. Adanya imam-imam praja yang mumpuni dalam bidang-bidang tertentu dalam perspektif jangka panjang juga akan sangat membantu untuk proses kemandirian keuskupan.

Setelah pertemuan Unio mulai rutin diadakan, dipikirkanlah adanya ada kas unio. Pengisian kas unio pertama-tama ditarik dari iuran antar imam. Untuk imam di dalam Kota Surabaya ditarik Rp. 25.000, sementara untuk yang luar kota ditarik Rp. 20.000. Kemudian juga didapat dari intensi misa yang diambil dari Eropa (nominalnya berkisar 5 dolar). Intensi misa ini dicari oleh Rm. Lugano. Perolehan intensi misa ini pertama-tama diperuntukkan bagi kebutuhan retret.

Rumah Unio

Dalam perjalanan selanjutnya, unio mendapat hibah sebuah villa di daerah pacet milik Prof. Marawi. Villa itu kini bernama rumah retret “Resi Aloyisi”. Dalam beberapa kesempatan, unio menggunakan rumah tersebut sebagai tempat pertemuan.

Rm. Uroto (alm.) juga memikirkan adanya satu rumah khusus untuk unio. Sewaktu menjadi romo kepala Paroki St. Aloysius Gonzaga, beliau mewujudkan gagasannya dengan membeli satu rumah di dekat pasturan. Namun, rumah itu ternyata kurang representatif untuk pertemuan unio dengan jumlah imam yang makin bertambah banyak.

Setelah beberapa lama, akhirnya disepakati untuk mendirikan rumah unio di Nganjuk. Nganjuk dipilih lantaran tempatnya yang ada di tengah. Rumah unio ini diresmikan pada tahun 2009 oleh Rm. Didik, dan pemberkatannya oleh Mgr. Sutikno. Dalam perkembangannya, rumah unio ini juga digunakan untuk pertemuan-pertemuan komisi dan kegiatan-kegiatan keuskupan yang lain.

Dinamika Sekarang

Sejak Rm. Tri Kuncoro Yekti menjabat sebagai ketua Unio Surabaya, ada perubahan dalam dinamika unio. Dulu: pertemuan Unio diadakan sebulan sekali. Tempat pertemuannya berpindah-pindah, bergiliran dari satu paroki ke paroki yang lain. Sekarang: pertemuan Unio diadakan 3 bulan sekali. Pertemuan triwulanan ini disebut Unio besar. Tempat pertemuannya diselenggarakan di rumah Unio yang ada di Paroki St. Paulus, Nganjuk. Sementara itu, dua bulan yang lain diisi dengan pertemuan dalam Unio grup/jenjang tahbisan (1-5, 6-10, 11-15, 16 – seterusnya), dan lalu Unio kevikepan.

Sementara itu, guna mengikuti perkembangan jaman, saat ini Unio Surabaya memiliki mailing list di yahoo group (uniosby@yahoogroups.com). Isinya tentang info-info terbaru dari keuskupan, diskusi tentang masalah tertentu, dan juga untuk menjaga komunikasi dengan para imam yang studi lanjut di luar negeri.

 4.   Semangat Unio Keuskupan Surabaya

Persaudaraan

Salah satu semangat yang dipupuk dalam paguyuban imam diosesan adalah persaudaraan. Mereka yang menerima tahbisan suci sebagi imam, secara tidak langsung dipersatukan dalam satu panggilan. Mereka adalah satu saudara satu keluarga. Mereka sebagai satu keluarga ini pada suatu kesempatan tertentu akan bertemu dan berkumpul bersama, layaknya satu keluarga dalam panggilan hidup rumah tangga. Kesempatan dimana para imam dapat saling berjumpa dan meneguhkan inilah yang disebut unio imam diosesan. Unio menjadi kesempatan temu keluarga sebagai keluarga para imam projo keuskupan.

Dalam Dekret Tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam (PO) art. 8 dikatakan bahwa berkat Tahbisan, yang menempatkan mereka pada Tingkat imamat biasa, semua imam bersatu dalam persaudaraan sakramental yang erat sekali. Khususnya dalam keuskupan, yang mereka layani di bawah uskupnya sendiri, mereka merupakan satu presbiterium. Sebab walaupun para imam menjalankan bermacam-macam tugas, mereka hanya mengamban satu imamat demi pengabdian kepada sesama. Artikel ini memberi penegasan bahwa perjumpaan sebagai saudara ini tidaklah semata-mata perjumpaan lahiriah yang hanya basa-basi, lebih dari itu perjumpaan saebagai saudara ini memiliki makna yang mendalam, yaitu bahwa mereka disatukan dala persaudaraan sakramental. Mereka adalah orang-orang yang berkat sakramen tahbisan akhirnya berkumpul dan menjadi satu saudara dalam imamatnya di bawah pimpinan uskup sebagai kepalanya.

Persekutuan

Persekutuan merupakan kebutuhan mendasar dari Gereja. Artinya, panggilan Gereja adalah untuk mengalami persekutuan bersama para anggotanya. Gereja tidak lain adalah umat Allah. Sebagi umat, Gereja diajak untuk bersatu dan bersekutu dengan sesamanya sebagai umat beriman. Demikian juga para imam diosesan, mereka adalah para gembala umat yang terpanggil untuk menyuarakan semangat persekutuan jemaat. Sebagai imam, tentu saja mereka juga lebih dulu diajak untuk mengalami persekutuan yang intim dengan rekan-rekan imam, dengan pimpinannya yang dalah Uskup, dan juga kepada Allah sang Imam Agung. Persekutuan yang intim dan mesra menjadi pondasi dasar akan kuatnya sebuah karya pewartaan yang dikerjakan oleh para imam diosesan.

Layaknya sebuah keluarga yang tidak pernah mengalami persekutuan, maka mustahil keluarga tersebut akan hidup rukun. Relasi selalu mengandaikan perjumpaan. Maka, penting sekali bahwa para imam diosesan pada suatu kesempatan juga saling berkumpul dan berjumpa. Perjumpaan tidak hanya memupuk semangat persaudaraan, tetapi juga untuk menjaga solidaritas dan pertemanan antar imam. Dalam perjumpaan yang didasari semangat persaudaraan dan persekutuan itulah para imam juga diajak untuk membangun kerjasama antar imam.

Dalam Dekret Tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam (PO) art. 8 juga dikatakan bahwa semua imam bekerja sama hanya demi satu tujuan, yakni pembangunan Tubuh Kristus, yang khususnya pada zaman sekarang meliputi bermacam-macam tugas serta meminta penyesuaian-penyesuaian baru. Dalam setiap kesempatan perjumpaan (unio), para imam juga disadarkan akan panggilan dan tugasnya, yaitu bahwa mereka dipanggil untuk suatu tujuan pembangunan Tubuh Kristus. Tujuan para imam ditahbiskan bukanlah untuk mewartakan hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan Allah, atau malah mewartakan diri sendiri, sebaliknya mereka ditahbiskan adalah untuk mewartakan Kristus. Kesadaran akan tugasnya ini akan senantiasa diasah dan saling diteguhkan pada saat para imam berkumpul bersama. Oleh karena itu pentinglah bahwa semua imam, baik diosesan maupun religius, saling membantu, supaya mereka selalu mengerjakan karya bersama demi kebenaran. Jadi setiap imam berhubungan dengan para anggota presbiterium lainnya karena ikatan-ikatan khas cinta kasih rasuli, pelayanan dan persaudaraan (PO art. 8).

Dasar perjumpaan (unio) ini tidak lain adalah Ekaristi. Perayaan Ekaristi menjadi dasar dari semangat unio imam diosesan. Layaknya dalam Ekaristi para murid diundang oleh Yesus untuk perjamuan bersama, mereka berkumpul dan makan bersama sebagai satu saudara satu keluarga, demikian juga unio imam diosesan. Unio juga menjadi kesempatan perjumpaan uskup dengan para imamnya. Sudahsejak kuno itu dilambangkan dalam Liturgi, bila imam-imam yang hadir diundang untukbersama dengan uskup pentahbis menumpangkan tangan atas calon tahbisan, dan bilamereka bersama, sehati sejiwa, mempersembahkan Ekaristi suci. Maka masing-masingimam dipersatukan dengan rekan-rekannya seimamat karena ikatan cinta kasih, doa dananeka macam kerja sama; dan demikian tampillah kesatuan, yang seturut kehendakKristus dengan sempurna menghimpun para murid-Nya, supaya dunia mengetahuiPutera diutus oleh Bapa.

Dalam PO art. 8 dikatakan bahwa dalam perjalanan imamatnya, hendaknya para imam yang sudah lebih lanjut usia sungguh menerima mereka yang lebih muda sebagai saudara, serta memberi bantuan dalam karya-kegiatan dan kesulitan-kesulitan di masa awal pelayanan mereka, begitu pula mencoba memahami cara berfikir mereka meskipun itu berlainan dengan visi mereka sendiri, serta penuh simpati mengikuti kegiatan-kegiatan yang mereka prakarsai. Begitu pula imam-imam muda hendaknya menghormati usia serta pengalaman para imam yang lebih tua, meminta nasihat mereka tentang hal-hal yang menyangkut reksa pastoral, dan dengan senang hati bekerja sama dengan mereka. Dalam kesempatan unio ini, para imam juga diajak untuk belajar saling rendah hati dan saling melayani sebagai satu saudara. Para imam tua dan imam muda berkumpul dan disatukan dalam semangat paguyuban sebagai saudara seimamat. Mereka bisa saling belajar dan menimba ilmu, baik dalam bidang intelektual, pastoral dan spiritual. Unio menjadi sarana yang baik untuk saling belajar, agar kelak dapat memberikan pelayanan yang baik dan maksimal kepada umat Allah. Hendaknya para imam, dijiwai semangat persaudaraan dan dengan senang hati dan gembira berkumpul juga untuk menyegarkan jiwa, seraya mengenangkan sabda undangan Tuhan sendiri kepada Rasul yang sudah lelah: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah sejenak!” (Mrk 6:31). Kecuali itu, supaya para imam dapat saling membantu mengembangkan hidup rohani dan intelektual, supaya mereka mampu bekerja sama semakin baik dalam pelayanan, serta terhindarkan dari bahaya-bahaya kesepian yang barangkali muncul, hendaknya dikembangkan kehidupan bersama atau rukun hidup antara mereka (PO art.8).

 5.   Penutup

Kekuatan dan Harapan

Keuskupan Surabaya mendapat tenaga imam baru dengan tahbisan imam yang terlaksana setiap tahunnya. Paling tidak hal ini dibuktikan dengan adanya tahbisan imam praja baru setiap tahun selama sepuluh tahun terakhir ini. Hal ini tentu berpengaruh positif pada penambahan kuantitas imam praja di keuskupan Surabaya yang dapat melayani di berbagai tempat dan bidang reksa pastoral yang juga bertambah. Kuantitas imam praja yang semakin bertambah ini memberikan pengaruh positif bagi strategi pengembangan reksa pastoral keuskupan Surabaya dengan bertambahnya jumlah umat. Pemekaran wilayah dengan pendirian paroki baru, bidang pastoral yang semakin kompleks, penerapan Ardas keuskupan Surabaya dan program-program keuskupan Surabaya lainnya membutuhkan pelayanan dari lebih banyak imam. Penambahan jumlah imam menjadi kekuatan tersendiri bagi keuskupan Surabaya untuk melaksanakan reksa pastoral yang menjangkau lebih banyak jiwa. Jumlah imam praja yang semakin bertambah juga menjadi kekuatan bagi Unio untuk lebih mengukuhkan persekutuan di antara para imam praja yang notabene tersebar di wilayah yang berbeda-beda. Dengan jumlah imam praja yang semakin meningkat maka pelayanan di paroki menjadi lebih efektif dengan tenaga imam yang lebih banyak; Hal ini berbeda jika imam melaksanakan tugas tanpa rekan imam lain. Kuantitas imam praja yang lebih besar perlu didukung oleh persekutuan dan persaudaraan yang guyub agar kehidupan dan pelayanan imam praja sungguh-sungguh mencerminkan kehadiran Kristus yang menyelamatkan.

Peningkatan jumlah imam praja ini juga mempunyai harapan-harapan demi pelayanan pastoral yang semakin menjangkau banyak jiwa. Untuk itu aspek persekutuan dan persaudaraan yang saling guyub menjadi kekuatan bagi para imam untuk menghidupi karya pelayanannya secara bahagia. Kekuatan persaudaraan imam praja diharapkan membawa semangat dan kesegaran demi reksa pastoral yang berkualitas. Singkatnya, kuantitas imam praja yang semakin meningkat diharapkan juga berbanding lurus dengan mutu pelayanannya dalam situasi hidup yang kompleks di manapun imam praja tersebut berada.

Kelemahan dan Tantangan ke Depan

Unio adalah kelompok paseduluran. Tiap anggota Unio diikat dalam persaudaraan imamat, khususnya sebagai imam praja Keuskupan Surabaya. Sebagaimana telah dikatakan di atas, tiap tahun Keuskupan Surabaya mendapat tambahan imam baru berkat tahbisan yang dilangsungkan pada tiap tahunnya. Dengan demikian, jumlah imam praja dari tahun ke tahun menjadi semakin bertambah banyak. Saat ini total jumlah imam praja Surabaya sekitar 80an imam. Dengan jumlah sebanyak itu, Unio Surabaya perlu untuk memikirkan kembali bentuk yang solid dari perkumpulannya.

Sebuah perkumpulan yang solid perlu memiliki statuta agar perkumpulan tersebut dapat diorganisasi dengan lebih baik. Inilah yang tidak dimiliki oleh Unio Surabaya saat ini. Ikatan yang menyatukan tiap anggotanya masih sebatas ikatan persaudaraan. Tentu saja hal ini tidaklah buruk, tapi untuk ke depan penting untuk dipikirkan statuta yang dirancang dan dihidupi secara bersama. Tujuannya tak lain adalah demi perkembangan perkumpulan Unio Surabaya sendiri. Tanpa adanya statuta, ada bahaya perkumpulan Unio menjadi massal, kurang merasa terikat. Misalnya: dalam pertemuan rutin, anggotanya bisa memilih untuk datang atau tidak (bahaya out dan in), ataupun kalau datang bisa memilih untuk sekadar manut grubyug, larut dalam kondisi massal.

Selanjutnya, Unio perlu juga untuk memikirkan secara serius tentang program on going formation bagi para anggotanya. Memang sejauh ini, ada kegiatan rutin tiap tahun bagi para imam praja Surabaya untuk penyegaran hidup rohani lewat rekoleksi dan/atau retret, serta penyegaran hidup intelektual lewat hari studi. Tapi ini saja tidaklah cukup. Dengan semakin kompleksnya kebutuhan karya pastoral di Keuskupan Surabaya, maka dibutuhkan imam-imam yang handal dalam bidang-bidang pastoral tertentu dengan softskill yang menunjang. Ilmu-ilmu Gerejawi yang didapat di bangku seminari perlu ditunjang dengan ilmu-ilmu manusiawi-praktis agar kebutuhan karya pastoral dalam berbagai bidang dapat dijawab oleh imam-imam praja Keuskupan Surabaya. Di sinilah Unio perlu berperan, yakni dengan mendorong dan mengusahakan para anggotanya untuk mendalami keterampilan-keterampilan praktis guna menunjang karya pastoral, misalnya dengan menjadi sponsor bagi para imamnya untuk mengikuti kursus-kursus atau pelatihan-pelatihan (workshop) yang menunjang karya pastoral.

Sumber Bacaan

Hadiwikarta, Mgr. Johanes. Keuskupan Surabaya Dari Awal Hingga Tahun 2000, promanuscripto. Tp, tt.

Justisianto, B. Unio: Komunitas Macam Apa?. Madiun: Tp, 2010.

Kitab Hukum Kanonik, terj. R. Rubiyatmoko dkk. Jakarta: Konferensi Waligereja Indonesia, 2009.

Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana (Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI). Jakarta: OBOR, 2002.

http://www.hidupkatolik.com/2011/10/06/unio-wadah-persaudaraan-imam-diosesan, diakses tanggal 12 Desember 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s