Yesus Menampakkan Diri kepada Murid-Murid-Nya (Yoh 20:19-23)


Titik tolak iman Kristiani adalah peristiwa kebangkitan Yesus. Yesus yang bangkit inilah yang menjadi inti pewartaan para rasul (bdk. Kis 2:22-24; 1 Kor15:3-4). Dalam peristiwa kebangkitan, para murid melihat kepenuhan dari sabda dan karya pewartaan Yesus, pun juga penggenapan dari apa yang tertulis tentang Dia di seluruh Kitab Suci (bdk. Luk 24:27). Kebangkitan Yesus bukanlah peristiwa isapan jempol belaka. Yesus yang telah bangkit hadir (secara fisik) menjumpai para murid dalam peristiwa penampakan. Peristiwa penampakan seolah menegaskan kepada para murid bahwa Yesus yang telah mereka ikuti sepanjang tiga tahun karya pelayanan-Nya, yang menderita dan mati di kayu salib, dan yang lalu bangkit dari antara orang mati, adalah Yesus yang sama kini hadir menjumpai mereka dalam rupa-Nya yang mulia.

Peristiwa penampakan Yesus dikabarkan oleh semua penulis Injil, demikian juga oleh rasul Paulus. Pertama-tama, Yesus menampakkan diri kepada perempuan-perempuan yang melawat-Nya di kubur (Mat 28:1-10; Mrk 16:1-8; Luk 24:1-12; Yoh 2-:1-10), kemudian kepada kedua belas murid (Mat 28: 16-20; Mrk 16:14-20; Yoh 20:19-28), dan akhirnya juga kepada sekian banyak murid yang lain (1 Kor 15:6-8). Diantara semua kisah penampakan tersebut, kisah penampakan Yesus kepada para murid yang diberitakan oleh Injil Yohanes tampil sebagai kisah yang amat menarik. Pertama, Yohanes mencatat ekspresi sukacita para murid ketika mereka melihat Yesus yang telah bangkit (Yoh 20:20). Kedua, Yohanes menulis tentang pemberian Roh Kudus berserta dengan kuasa pengampunan dosa oleh Yesus kepada para murid dalam perinta perutusan-Nya (Yoh 20:22). Poin tentang sukacita, pemberian Roh Kudus dan kuasa pengampunan dosa ini tidak kita temukan secara eksplisit di Injil sinoptik. Karena itu, di dalam tulisan sederhana ini, penulis akan mengulas tentang kisah penampakan Yesus sesudah kebangkitan-Nya, khususnya kepada murid-murid-Nya sebagaimana yang dikisahkan dalam Injil Yohanes (Yoh 20:19-23).

Konteks Kisah Kedudukan Teks
Teks Yoh 20:19-23 merupakan bagian pertama dari dua bagian kisah penampakan Yesus kepada murid-murid-Nya sebagaimana ditulis oleh penginjil Yohanes. Pada bagian ini, satu dari kelompok inti murid Yesus tidak hadir, yakni Tomas. Tidak disebutkan alasan mengapa Tomas tidak ada bersama-sama dengan rekannya yang lain sewaktu Yesus menampakkan diri. Tomas baru hadir pada kisah penampakan bagian kedua (Yoh 20:24-29 – teks yang mengikuti). Penampakan pada bagian kedua terjadi di tempat yang sama dengan penampakan yang pertama, delapan hari sesudahnya.

Kisah penampakan dalam Yoh 20:19-23 itu sendiri terjadi pada hari yang sama sewaktu Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena di dekat kubur-Nya (Yoh 20:1-18 – teks yang mendahului), yakni pada hari pertama minggu itu. Bedanya, jika kepada Maria Magdalena, Yesus menampakkan diri ketika hari masih pagi buta, kepada murid-murid-Nya Yesus menampakkan diri pada malam harinya. Jadi, ada selang waktu yang cukup lama antara penampakan yang pertama dan yang kedua.

Pada teks sebelumnya, dikisakan bahwa sewaktu Maria Magadelana pergi ke kubur Yesus dan mendapati kubur Yesus telah kosong, ia memberitahu Simon Petrus dan satu murid lain. Kedua murid itu masuk ke kubur Yesus, dan ketika melihat kain kafan Yesus yang tergeletak di tanah, mereka pun menjadi percaya, lalu keduanya pulang ke rumah (bdk. Yoh 20:1-10). Peristiwa yang terjadi sesudahnya tidak kalah menarik. Yesus yang dikira ‘hilang’ dari kubur ternyata muncul, menampakkan diri kepada Maria Magdalena. Sesudah itu, kepada para murid, Maria Magdalena menyaksikan bahwa ia telah melihat Tuhan (bdk. Yoh 20:11-18). Dalam latar belakang peristiwa-peristiwa itulah kisah penampakan Yesus kepada murid-murid-Nya berlangsung.

Tafsiran
Ayat 19 ‹‹ Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” ››

Ayat pembuka ini menampilkan informasi seputar kapan dan dimana peristiwa penampakan Yesus kepada murid-murid-Nya itu berlangsung. Penampakan Yesus terjadi ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu. Frasa ini sejajar dengan frasa yang digunakan oleh Yohanes sebagai pembuka dalam kisah kebangkitan Yesus (lih. Yoh 20:1). Hari pertama dalam minggu, menurut kalender orang Yahudi, adalah hari Minggu dalam kalender kita sekarang. Sebab, bagi orang Yahudi, hari terakhir dalam satu minggu adalah hari sabat. Hari Sabat dirayakan dari saat sebelum matahari terbenam pada hari Jumat hingga tibanya malam pada hari Sabtu. Dengan demikian, peristiwa yang besar terjadi pada hari pertama dalam minggu itu. Pertama, Yesus bangkit. Kedua, Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena, lalu kepada para murid-Nya sebagai bukti kebangkitan-Nya. Karena itu, bisa kita mengerti bahwa dalam perjalanan waktu kemudian, hari pertama dalam minggu itu menjadi hari kudus bagi jemaat Kristen. Hari Minggu itu lantas dipakai untuk menggantikan hari Sabat dalam tradisi religius Yahudi.

Sementara itu, frasa “ketika hari sudah malam” jelas mengandung makna teologis dalam tulisan Yohanes. Malam/gelap dipakai oleh Yohanes sebagai setting waktu untuk mengambarkan situasi ketakutan (bdk. Yoh 3:2), ketidak-berdayaan (bdk. Yoh 9:4), dan hilanngya iman (bdk. Yoh 30). Pertentangan dari kata “malam/gelap” adalah “siang/terang”. Kata “terang” dipakai oleh Yohanes untuk menujukkan identitas diri Yesus. Yesus adalah terang dunia; di dalam Dia kegelapan tidak menguasai (bdk. Yoh 1:4-5; 8:12; 9:5). Jadi, setting waktu “hari sudah malam” bila disandingkan dengan kisah penampakan Yesus lebih menunjukkan gagasan teologis yang mempersiapkan peralihan dari situasi ketakutan/ketidak-berdayaan para murid menjadi sukacita yang menghidupkan karena mereka melihat Yesus, Tuhan mereka yang bangkit (ayat 2).

Kemudian, setting lokasi dari kisah penampakan ini terjadi di tempat dengan pintu-pintu yang terkunci di mana para murid Yesus berkumpul. Tempat itu jelas adalah sebuah rumah. Rumah yang bisa jadi dituju oleh Petrus dan murid lain selepas mereka membuktikan kebenaran perkataan Maria Magdalena tentang kubur Yesus yang telah kosong (bdk. Yoh 20:2-10). Dimana persisnya lokasi rumah itu, Yohanes tidak memberi keterangan. Namun, dari kesaksian Injil Lukas, dalam susunan kisah yang hampir serupa, rumah tempat mereka berkumpul itu terletak di Yerusalem (bdk. Luk 24:36-49). Lagipula, jika pada pagi harinya Petrus dan murid lain pergi ke kubur Yesus dan dikatakan bahwa mereka pulang kembali ke rumah (lih. Yoh 20:10), kemudian pada malam harinya Yesus menampakkan diri kepada kawanan inti murid-Nya, maka lokasi rumah tempat para murid berkumpul yang paling memungkinkan memang di Yerusalem. Sebab, dikatakan bahwa kubur Yesus letaknya tidak jauh dari bukit Golgota, tempat Yesus disalibkan (lih. Yoh 19:41-42).

Persoalan lain yang cukup menarik adalah fakta bahwa para murid Yesus berkumpul di sebuah rumah dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Tidakkah hal ini terasa aneh? Mengapa para murid masih saja takut dan harus bersembunyi dari orang-orang Yahudi? Bukankah Maria Magdalena, Petrus, dan satu murid lain telah menjadi saksi atas kebangkitan Yesus? Mengingat apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada Yesus, maka cukup masuk akal bila para murid takut, sebab bisa jadi mereka akan menjadi sasaran berikutnya dari kemarahan dan kebencian orang-orang Yahudi kepada Yesus, Guru mereka, terlebih bila orang-orang Yahudi berpikir bahwa para muridlah yang menyebarkan ‘rumor’ tentang Yesus yang bangkit dari kematian.

Di dalam keadaan pintu rumah yang terkunci itu, datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka. Menarik bahwa hanya Yohanes sajalah yang menyebut soal pintu-pintu rumah yang terkunci. Barangkali Yohanes ingin menggaris bawahi bahwa Yesus yang telah bangkit tidak lagi terikat oleh kondisi-kondisi ruang yang fisik. Tubuh Yesus yang bangkit memiliki kualitas spiritual, sebuah tubuh yang mulia dan telah ditransformasi, jadi Ia bisa dengan mudah masuk menjumpai para murid-Nya, sekalipun tak ada pintu masuk, sebab tubuh-Nya bukan lagi tubuh material yang terbatas ruang dan waktu.

Kepada mereka, Yesus memberi salam, “Damai Sejahtera bagi kamu”. Damai sejahtera adalah salam yang biasa di antara orang Yahudi, yang berarti “Semoga anda dalam keadaan baik”. Menarik bahwa di dalam Perjanjian Lama, ucapan salam itu juga juga dikaitkan dengan penglihatan ilahi/penampakan dari malaikat. Misalnya, ketika malaikat Allah menampakkan diri kepada Gideon dalam Hak 6:22-23, malaikat itu memberi salam “Damai bagimu, jangan takut, engkau tidak akan mati”. Daniel juga diyakinkan lewat salam itu dalam penglihatan yang ia alami (Dan 10:19). Dengan demikian, dalam konteks Yesus yang telah bangkit, salam damai sejahtera kepada para murid digunakan oleh Yesus untuk meyakinkan mereka bahwa Tuhan yang berdiri di hadapan mereka itu adalah pribadi yang sama dengan Yesus yang mereka kenal, sekaligus juga unutk menenangkan hati para murid yang sedang dicekam rasa takut.

Sebelum peristiwa penampakan, frasa “damai sejahtera” juga digunakan oleh Yesus salam dua kesempatan. Pertama, sewaktu Ia menjanjikan Penghibur, yakni Roh Kudus, dan menyerukan kepada para murid untuk tidak gelisah serta gentar hati (bdk. Yoh 14:27). Kedua, sewaktu Yesus menyampaikan tentang dukacita yang harus dialami oleh Yesus dan para murid-Nya. Para murid diminta untuk menguatkan hati, sebab di dalam Yesus akan ada kemenangan (bdk. Yoh 16:33). Dengan demikian, salam “damai sejahtera” yang disampaikan oleh Yesus dalam peristiwa penampakan bisa kita mengerti sebagai pemenuhan dari janji damai sejahtera yang telah para murid dengar sebelumnya. Yesus yang bangkit, yang kini hadir di tengah-tengah mereka, telah mengalahkan dunia, memberikan sukacita dan penghiburan ilahi yang tidak bisa diberikan oleh dunia.

Ayat 20 ‹‹ Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. ››

Ayat ini merupakan bagian yang sarat emosi. Bagaimana tidak, sehabis datang, berdiri di tengah para murid yang berkumpul dan lalu memberi salam kepada mereka, Yesus menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya. Barangkali hati para murid masih dilanda ketakutan dan keterkejutan akan kedatangan Yesus yang bangkit yang tiba-tiba hadir secara “misterius” (bisa masuk meski pintu-pintu terkunci) di tengah mereka, dan pikiran mereka bisa jadi masih diliputi tanda tanya akan sosok di hadapan mereka itu. Jangan-jangan sosok yang berdiri di tengah mereka itu adalah hantu! (bdk. Luk 24:37). Namun, dengan menunjukkan tangan dan lambung-Nya, Yesus menunjukkan kepada para murid bahwa Ia yang sekarang hadir di tengah mereka adalah Yesus yang dahulu ada bersama-sama dengan mereka, yang di wafat di kayu salib dengan tangan terluka oleh paku dan lambung terluka oleh tusukan tombak. Di dalam ayat yang menyusul kemudian (Yoh 20:25), perkara kehadiran Yesus yang bangkit dengan bekas-bekas penyaliban pada tangan dan lambung inilah yang menjadi bukti kepercayaan Tomas akan kebenaran perkataan rekan-rekannya bahwa mereka telah melihat Tuhan, Yesus yang telah bangkit. Maka, penting bagi Yesus untuk menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada para murid, agar mereka teguh hati bahwa Yesus sendirilah yang saat ini hadir di tengah-tengah mereka.

Menarik bahwa dalam cerita penyaliban, tidak ada kesaksian terhadap fakta bahwa Yesus dipaku di salib (lih. Yoh 19:18). Yang ada cuma fakta bahwa lambung Yesus ditikam tombak (Yoh 19:34). Dengan demikian, ayat 20a ini adalah satu-satunya ayat dalam Injil yang memberi bukti bahwa dalam penyaliban-Nya, Yesus dipaku alih-alih diikat (sebagaimana biasanya dilakukan dalam hukuman salib saat itu) di kayu salib; Luk 24:39 juga menyiratkan bahwa kaki Yesus juga dipaku.

Yesus yang telah bangkit dan yang sekarang menampakkan diri kepada mereka, menerbitkan sukacita yang besar di hati para murid. Murid-murid itu bersukacita. ketika mereka melihat Tuhan. Ada sebuah peralihan emosi yang berlangsung di sini. Para murid yang semula dicekam rasa takut (baik karena orang-orang Yahudi yang bisa saja mengancam keselamatan mereka maupun karena kedatangan Yesus yang tiba-tiba di hadapan mereka), ketika mereka melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Yesus yang bangkit hadir menjumpai mereka, hati mereka pun diliputi rasa sukacita. Sukacita yang mereka alami itu seolah memenuhi pidato panjang Yesus sesaat sebelum ia mengalami peristiwa salib: “Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi sukacitamu akan berubah menjadi sukacita” (Yoh 16:20). Inilah saat di mana dukacita mereka berubah menjadi sukacita, dan sukacita mereka menjadi penuh karena Yesus datang dalam wujud kemuliaan-Nya sebagai Tuhan yang mengalahkan maut.

Ayat 21 ‹‹ Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” ››

Salam damai sejahtera bagi kamu sekali lagi diucapkan Yesus kepada para murid-Nya. Jika pada salam damai yang pertama (ayat 19) Yesus menggunakannya untuk meyakinkan para murid akan kehadiran-Nya sebagai Tuhan yang telah bangkit, maka salam damai yang kedua ini dipakai Yesus untuk menyiapkan para murid pada tugas perutusan yang akan Ia berikan kepada mereka. Perutusan Yesus kepada para murid itu sendiri berdimensi Trinitaris dan Kristologis. Mengenai dimensi Trinitaris akan kita bahas dalam ayat selanjutnya. Dimensi Kristologis perutusan itu berpusat pada Kristus sebagai titik tolaknya. Awalnya, Bapa mengutus Kristus. Perutusan Kristus adalah untuk menyelamatkan dunia (Yoh 3:17), supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal (Yoh 3:16). Kemudian ketika Kristus sudah selesai menjalankan tugas perutusan dari Bapa (dengan wafat di kayu salib – bdk. Yoh 19:30), Kristus mengutus para murid. Sama seperti Bapa mengutus AKu, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. Perutusan para murid, dengan demikian, meneruskan perutusan Yesus, mengambil bagian dalam misi Allah demi keselamatan manusia.

Kata-kata perutusan dalam Yoh 20:21 ini serupa dengan Yoh 17:18, di mana Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia”. Mengingat bahwa baru pada Yoh 20:21 Yesus secara definitif memaklumkan tugas perutusan kepada para murid, maka bisa kita simpulkan bahwa Yoh 17:18 merupakan ayat persiapan yang kemudian mendapat kepenuhannya dalam Yoh 20:21.

Ayat 22 ‹‹ Dan sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. ››

Menyusul perintah perutusan, Yesus menghembusi mereka dengan Roh Kudus. Menarik bahwa dalam Kitab Suci, kata “menghembusi” digunakan ketika Allah menghembuskan nafas hidup ke hidung Adam sehingga ia hidup (Kej 2:7). Kitab Yehezkiel juga memakai kata “menghembuskan” untuk berbicara tentang hembusan roh atas tulang-tulang rakyat Israel yang memberi mereka hidup baru (Yeh 37:9). Kata “menghembusi”, dengan demikian, sarat dengan makna menciptakan dan menghidupkan. Ketika Yesus menghembusi para murid dengan Roh Kudus, berarti Yesus kini membentuk para murid sebagai ciptaan baru; memberi kehidupan baru kepada para murid, yakni kehidupan dalam Roh.

Roh Kudus inilah yang diwartakan Yesus untuk memenuhi hati orang-orang yang percaya kepada-Nya dengan aliran-aliran air hidup; Roh itu belum datang karena Yesus belum dimuliakan (Yoh 7:38-29). Tetapi kini, Yesus yang bangkit telah telah dipermuliakan. Roh yang ia wartakan sekarang telah hadir dan sudah Ia berikan kepada para murid. Lebih jauh, Roh Kudus ini jugalah yang dijanjikan oleh Yesus untuk diberikan kepada para murid dalam Yoh 14:15-26. Roh Kudus ini adalah Penolong yang lain, yang akan menyertai para murid selama-lamanya dan akan diam di dalam mereka (bdk. Yoh 14:16-17). Dia adalah juga Penghibur yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada para murid dan mengingatkan mereka akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada mereka (bdk. Yoh 14:26).

Sampai di sini, kita bisa menandaskan gagasan yang telah disebut dalam ayat sebelumnya, yakni bahwa tugas perutusan yang diberikan oleh Yesus kepada para murid itu berdimensi Trinitaris. Inisiatif karya keselamatan itu datang dari Bapa. Dasarnya adalah karena kasih setia-Nya yang besar pada dunia (Yoh 3:16a). Tugas penyelamatan itu dipercayakan oleh Bapa kepada Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus (Yoh 3:16-17; 5:30, 36-37; 7:16). Ketika sampai pada waktunya Yesus menuntaskan tugas-Nya di dunia, Ia mengutus para murid untuk meneruskan pekerjaan-pekerjaan yang telah ia mulai. Untuk itu, Yesus memberikan satu penolong dan penghibur kepada para murid, yakni Roh Kudus (Yoh 14:15-25; 20:22; Kis 2:2-4). Di dalam kesaksian dan kesatuan ketiga pribadi itulah – Bapa, Putera, dan Roh Kudus – (bdk. 1 Yoh 5:7), para murid dimampukan untuk mengemban tugas perutusan dari Yesus.

Lepas dari itu, satu pertanyaan yang secara spontan muncul ketika membaca ayat ini adalah, “Apakah ada bedanya antara pemberian Roh Kudus saat peristiwa penampakan ini dengan pencurahan Roh saat hari Pentakosta?” Ada baiknya bila kita melihat dua peristiwa penganugerahan Roh Kudus itu sebagai peristiwa yang memiliki tujuan berbeda-beda. Tujuan penganugerahan Roh Kudus dalam Yoh 20:22 adalah untuk memberikan karunia kehidupan, yang mengalir dari hati para murid yang percaya (bdk. Yoh 7:38-39). Sementara, dalam peristiwa Pentakosta, pencurahan Roh Kudus ditujukan untuk memberikan kuasa bagi para murid untuk bersaksi dan mengerjakan tugas perutusan yang telah diberikan oleh Yesus. Jadi, ada dua karunia Roh yang berbeda dalam kedua peristiwa penganugerahan Roh Kudus tersebut, yang pertama karunia yang memberikan kehidupan, yang kedua karunia Roh yang memberikan kuasa. Karunia-karunia tersebut merupakan dua aspek dari peran Roh Kudus yang sangat penting di dalam karya perutusan Gereja.

Ayat 23 ‹‹ Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada. ››

Pemberian Roh Kudus ke dalam diri para murid, diteruskan dengan pemberian kuasa pengampunan dosa. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada. Sesungguhnya kuasa untuk mengampuni dosa hanya dimiliki oleh Allah seorang (bdk. Mrk 2:7; Luk 5:21). Yesus, yang adalah Anak Allah yang menjelma menjadi manusia, memiliki kuasa pengampunan dosa itu juga dalam dirinya sendiri (bdk. Mat 9:6; Mrk 2:10; 5:24). Kuasa ini diberikan juga kepada para murid. Para murid yang sebelumnya telah dianugerahi kehidupan baru berkat Roh Kudus, dimampukan untuk menerima kuasa tersebut. Menyitir pendapat Thomas L. Brodie, faktor penting dari kehidupan baru yang diberikan kepada para murid berkat Roh Kudus adalah kuasa untuk mengampuni dosa. Kuasa ini membuka jalan bagi orang-orang yang percaya kepada jalan keselamatan. Melalui kuasa pengampunan dosa ini, para murid berpartisipasi dalam kuasa Yesus sebagai seorang hakim (Yoh 5:27; 9:33) yang punya wibawa untuk menindak perkara dosa (bdk. Mat 16:19; 18:18).

Selain kuasa untuk mengampuni, para murid juga menerima kuasa untuk menyatakan dosa orang tetap ada. Teks Yoh 20:23 ini sejajar dengan teks yang ditulis dalam Mat 16:19 (Yesus kepada Petrus) dan 18:18 (Yesus kepada para murid), “Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga”. Biasanya dimengerti bahwa kuasa istimewa Gereja untuk menerimakan sakramen pengampunan dosa berasal dari teks Matius tersebut. Namun, jika kita membaca teks Yoh 20:23, kiranya teks inilah yang menjadi dasar utama dari praktek pengampunan dosa yang direservasi oleh Gereja.

Dosa bisa diartikan sebagai ketidakpercayaan pada Allah (bdk. Yoh 3:18; 9:41), penolakan yang definitif terhadap apa yang baik dan pemilihan terhadap apa yang jahat (Yoh 3:19-20). Dosa-dosa ini hadir di dalam dunia. Kepada merekalah, para murid juga diutus untuk memberi pengampunan bagi mereka yang percaya pada Yesus, dan demikian sebaliknya bagi orang yang tidak percaya.

Catatan Penutup
Kisah penampakan Yesus kepada murid-murid-Nya sebagaimana dikisahkan dalam Yoh 20:19-23 ini rupanya sarat akan makna. Peristiwa salib yang dialami Yesus membuat hati para murid dilanda ketakutan dan kecemasan. Jangan-jangan mereka juga akan menjadi korban dari kebencian orang Yahudi terhadap Yesus. Meraka pun memutuskan untuk bersembunyi, berkumpul bersama dalam satu rumah yang tertutup rapat. Berita tentang kebangkitan Yesus sebenarnya telah mereka dengar dari Maria Magdalena (lih. Yoh 20:18), atau barangkali juga sempat mereka dengar sebelumnya dari Petrus dan satu murid lain yang percaya selepas melihat fakta kubur Yesus yang telah kosong (lih. Yoh 20:8). Meski demikian, ketakutan masih saja tetap ada dalam diri mereka.

Tuhan yang telah bangkit hadir secara pribadi kepada para murid. Ia menampakkan diri-Nya kepada mereka. Meskipun tubuh Yesus masih tetap sama seperti ketika Ia wafat, namun tubuh Yesus tidaklah terikat pada batasan-batasan material. Tubuh-Nya adalah tubuh yang telah dimuliakan dalam kebangkitan. Kehadiran Yesus yang telah bangkit menerbitkan sukacita di hati para murid. Sukacita mengeyahkan segala rasa ketakutan. Dukacita yang selama ini mereka alami lantaran Yesus, Guru mereka, dijatuhi hukuman mati di salib, sirna dan berganti dengan sukacita yang penuh. Para murid bersukacita sebab mereka kini melihat Tuhan. Dengan demikian, terpenuhilah sabda Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita…Kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu darimu” (Yoh 16:20, 22). Demikianlah sukacita mereka sekarang menjadi penuh, lantaran mereka melihat Tuhan yang telah bangkit.

Kehadiran Yesus yang bangkit membawa tugas bagi para murid. Perutusan yang Yesus terima dari Bapa, kini diteruskan kepada para murid. Para murid diutus untuk melanjutkan karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus, yakni mengantar setiap orang untuk percaya kepada Yesus, supaya mereka beroleh hidup kekal (bdk. Yoh 3:16). Yesus tidak begitu saja mengutus para murid. Kepada mereka, Yesus memberikan Roh Kudus. Melalui Roh Kudus inilah, para murid diciptakan sebagai ciptaan baru, yang memliki hidup baru dalam Roh. Roh Kudus itu jugalah yang akan menjadi penolong dan penghibur bagi para murid. Dialah yang akan menyertai, mengajarkan dan mengingatkan para murid tentang segala sesuatu yang harus diwartakan tentang Yesus (Yoh 14:17, 26). Sebagai ciptaan baru dalam Roh Kudus, para murid juga diikutsertakan untuk mengambil bagian dalam kuasa ilahi, yakni kuasa pengampunan dosa. Bagi Gereja, pemberian kuasa inilah yang menjadi dasar dari praktek sakramen pengampunan dosa yang sampai sekarang kita rayakan.

Daftar Pustaka
Barton, John dan John Muddiman (eds.). The Oxford Bible Commentary. New York: Oxford Universit y Press Inc, 2001.
Brodie, Thomas l. The Gospel According to John: A Literary and Theological Commentary. New York: Oxford Universit y Press Inc, 1993
Hadiwiyata, A. S. Tafsir Injil Yohanes. Yogyakarta: Kanisius, 2008.
Johnston, T. O. D. A Layman’s Commentary on The Gospel of John. Ttp: Owen Jhonston, 2007.
Riyadi, St. Eko. Yohanes: “Firman Menjadi Manusia”. Yogyakarta: Kanisius, 2011.
Vawter, Bruce. The Gospel According to John, dalam Raymond E. Brown, Josep A. Fitzmyer, dan Roland E. Murphy (eds.), “The Jerome Biblical Commentary, Vol 2. London: Geoffrey Chapman, 1968.
http://bible.org/seriespage/exegetical-commentary-john-20, diakses tanggal 5 Mei 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s