Berkumpul di Beranda Facebook


Situasi Pastoral

Mark Zuckerberg bisa jadi tidak berpikir bahwa situs jejaring sosial ciptaannya akan mengubah proses sosialisasi orang-orang, terlebih anak muda, di dunia. Siapa tidak mengenal facebook?! Hampir seluruh orang di dunia mengenalnya, ramai memperbincangkannya, mendaftar menjadi anggotanya, dan membangun jejaring pertemanan melaluinya. Kita mengerti dengan jelas bahwa hasrat primitif manusia dalam hubungan sosial adalah hasrat untuk berkomunikasi dan bersahabat dengan pribadi lain. Dengan amat cerdas, facebook mengelola hasrat komunikasi dan persahabatan antarmanusia tersebut. Facebook memudahkan tiap orang untuk membangun jejaring komunikasi dan persahabatan sosial dalam skala yang massif dan tanpa terkungkung oleh batasan-batasan ruang fisik. Di mana pun dan kapan pun, tiap orang dimungkinkan untuk saling terhubung dan berkomunikasi (mengabarkan keadaan/peristiwa via status, berbincang via chatting, dsb) dengan daya sebar informasi yang jauh lebih cepat, luas, lagi effisien.

Data pada bulan Mei 2012 mencatat bahwa pengguna aktif facebook di dunia mencapai 800an juta orang. Dari jumlah tersebut, 42,2  juta diantaranya adalah pengguna dari Indonesia. Indonesia sendiri menempati urutan keempat negara pengguna facebook terbanyak setelah Amerika Serikat, Brasil, dan India.[1] Sementara itu, data terakhir yang dilansir oleh http://www.socialbakers.com menunjukkan bahwa sekitar 42% pengguna facebook di Indonesia adalah mereka yang berusia 18-24 tahun, menyusul kemudian 25-34 tahun (21%).[2]

Dari data-data tersebut, setidaknya kita bisa menyimpulkan dua hal: Pertama, Indonesia merupakan pangsa pasar yang cukup menjanjikan bagi pertumbuhan facebook; Kedua, mayoritas pengguna facebook di Indonesia adalah orang-orang muda (usia produktif). Dengan semakin meluasnya jaringan internet di Indonesia dan inovasi-inovasi yang dibuat oleh pengelola facebook, misalnya dengan memudahkan pengguna untuk mengaplikasi facebook di telepon seluler, bisa kita prediksi bahwa di tahun-tahun ke depan keberadan facebook akan masih tetap digandrungi di Indonesia, khususnya oleh orang muda.  Tidak salah bila kemudian ada yang berkomentar bahwa generasi muda kita saat ini adalah “generasi facebook”. Facebook telah menjadi bagian dari kehidupan sosial generasi muda Indonesia saat ini.

Orang Muda Katolik adalah juga bagian dari generasi facebook. Hampir semua Orang Muda Katolik memiliki akun facebook pribadi, apalagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Jalinan relasi pesahabatan di antara mereka pun tak lagi terbatas ruang-ruang fisik. Harus diakui bahwa facebook memudahkan proses relasi dan interaksi di antara sesama Orang Muda Katolik itu sendiri. Melalui facebook, Orang Muda Katolik yang berada di dalam satu paroki yang sama dimungkinkan juga untuk membentuk satu jejaring komunitas khusus Orang Muda Katolik paroki tertentu dalam sebuah grup facebook.

Hampir setiap Orang Muda Katolik di paroki-paroki mempunyai grup facebook. Grup facebook tersebut dinamai sesuai dengan nama paroki tempat Orang Muda Katolik berasal, misalnya: OMK Santo Mikael Perak, OMK “Pius X” Blora, OMK St. Paulus Nganjuk, OMK Sanmar Ponorogo, dst. Anggotanya terbatas pada Orang Muda Katolik di paroki yang bersangkutan. Didalamnya, setiap anggota bisa saling berinteraksi dengan berbagi kabar/peristiwa/renungan/agenda kegiatan via status/foto/video/tautan situs. Tak jarang diskusi mengenai masalah/keprihatinan tertentu yang dihadapi oleh Orang  Muda Katolik paroki yang bersangkutan terjadi di grup facebook.

Demikianlah, facebook tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi dan bersahabat, melainkan juga memengaruhi komunikasi dan persahabatan itu sendiri sedemikian rupa sehingga dapat disebut bahwa kita hidup dalam suatu periode transformasi budaya yang besar. Keberadaan facebook melahirkan suatu model baru sosialiasi antarpribadi yang belum pernah terjadi guna menegakkan antar hubungan dan membangun persekutuan.[3]

Persoalan Teologis

Manusia adalah makhluk sosial. Dalam dirinya, manusia selalu rindu untuk berkumpul, berkomunikasi, bersahabat, berjejaring. Intinya, manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia memiliki keterarahan sosial pada pribadi lain. Media sosialisasi dengan pribadi lain itu bentuknya beraneka ragam dan berkembang dari jaman ke jaman. Kalau dulu satu-satunya cara untuk berjumpa dengan pribadi lain adalah dengan berhadapan secara fisik, sekarang, berkat kemajuan teknologi, perjumpaan fisik itu tidak menjadi syarat utama. Munculnya alat penyeranta sebagai media komunikasi baru, disusul kemudian situs-situs jejaring sosial, membuat proses sosialisasi antarpribadi menjadi begitu cepat, mudah, dan bahkan massif. Ruang dan waktu pun menjadi relatif di hadapan media baru ini.

Gereja sangat menghargai keberadaan dan manfaat media-media komunikasi sosial yang baru tersebut. Dalam pandangan Gereja, media-media komunikasi sosial itu merupakan “hadiah dari Tuhan” yang mempersatukan manusia dalam persaudaraan dan memungkinkan manusia untuk ambil bagian dalam rencana keselamatan-Nya (bdk. Instruksi Pastoral Communio et Progressio art. 2). Di hadapan teknologi media yang berkembang dewasa ini, hidup manusia seperti berada dalam  satu gelanggang yang besar. Tidak ada sekat-sekat pembatas. Tiap pribadi bisa dengan leluasa berinteraksi satu dengan yang lain. Proses-proses komunikasi, hidup persahabatan dan berkomunitas, serta kerjasama pun menjadi lebih efektif dan berdaya guna.[4]

Sekalipun demikian, keberadan teknologi media yang baru tidak serta merta lepas dari persoalan. Kehadiran facebook, sebagaimana bahasan kita dalam tulisan ini, adalah seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia memudahkan tiap orang untuk berinteraksi dan membangun jejaring sosial. Namun, di sisi lain, ia juga melemahkan dinamika perjumpaan real antarpribadi yang sarat letupan-letupan ekspresif emosi manusiawi. Perjumpaan dalam facebook adalah perjumpaan tulisan dan/atau gambar. Letupan-letupan ekspresi emosi diredusir menjadi kode-kode komputer, misalnya: kode { :) }untuk ekspresi senang; { :D } untuk ekspresi tertawa; { ): } untuk ekspresi sedih; { ;( } untuk ekspresi menangis, dsb. Ekspresi emosi dalam perjumpaan terasa amat kering dan terbatas.

Kemudian, apabila perjumpaan di dalam ruang facebook itu tidak lagi demi memenuhi hasrat berkomunikasi dan bersahabat, melainkan menjadi sebuah obsesi, maka tak pelak, hasrat itu pun akan memarjinalkan pribadi dalam interaksi sosial sehari-hari yang real. Paus Benediktus XVI, dalam pesan Hari Komunikasi Sedunia (untuk seterusnya disingkat HKS) ke-43, menulis bahwa “Sungguh menyedihkan apabila hasrat untuk mempertahankan dan mengembangkan persahabatan ‘on-line’ mengorbankan kesempatan untuk keluarga, tetangga serta mereka  yang kita jumpai dalam keseharian di tempat kerja, di tempat pendidikan dan tempat rekreasi”.[5] Ada bahaya seseorang menjadi soliter, mengabaikan pribadi-pribadi yang hadir di sini, saat ini, dan terhisap dalam lalu lalang interaksi di “dunia lain”. Atas nama efektivitas interaksi, tatap muka manusiawi yang hangat bisa jadi dipinggirkan, diganti dengan tatap muka virtual.  Kita lantas bisa bertanya “Adakah relasi persahabatan dan persekutuan yang dibangun di ruang facebook dan terlebih grup facebook bagi Orang Muda Katolik paroki, diteruskan di kehidupan konkret dengan membangun relasi yang hidup, mendalam, dan berdaya tahan?!”.

Lebih jauh, harus diakui bahwa keterlibatan orang muda yang semakin besar di ruang jejaring sosial ini telah melahirkan bentuk-bentuk baru relasi antarpribadi. Sebuah relasi di mana tiap pribadi berhadapan dengan layar datar komputer/telepon seluler. Maka, di hadapan relasi yang sedemikian itu masihkah Orang Muda Katolik menunjukkan otentisitas dirinya yang asli beserta dengan nilai-nilai yang dihayati dan potensialitas-potensialitas yang ia miliki? Paus Benediktus XVI dalam pesan pada HKS ke-45 menulis:

 “Masuk ke dalam ruang maya dapat menjadi tanda  pencarian yang otentik akan perjumpaan pribadi dengan orang lain, asalkan tetap tanggap terhadap bahaya seperti menyertakan diri dalam sejenis eksistensi ganda atau menampilkan diri secara berlebihan di dalam dunia maya. Dalam upaya berbagi dan mencari ‘teman’, terdapat tantangan  untuk menjadi otentik dan setia dan tidak menyerah kepada ilusi  untuk mencitrakan tampang publik yang palsu bagi diri sendiri”. [6]

Di dalam facebook, tiap orang memang bisa menampilkan diri sebagaimana yang ia mau, berbagi tentang apa pun juga yang ia inginkan. Tidak ada batasan. Tidak ada kontrol. Citra diri yang sejati dipertaruhkan di sini. Demi pengakuan akan keberadaan diri di tengah gegap gempita interaksi di facebook, seseorang bisa jadi terjebak pada hasrat untuk menampilan citra diri yang palsu. Tataanan nilai pribadi lantas dinafikan demi menjadi populer. Sampai di sini, kita bisa bertanya, “Adakah keterllibatan Orang Muda Katolik dalam (grup) facebook mengembangkan otentisitas, nilai-nilai yang dihayati, dan potensialitas dirinya ataukah sekadar memenuhi dorongan untuk menjadi populer?”

Tanggapan Teologis

Dalam pesan pada HKS ke-43, Paus Benediktus XVI mengungkapkan bahwa:

“hasrat berkomunikasi dan bersahabat ini berakar dari kodrat kita yang paling dalam sebagai manusia dan tak boleh dimengerti sebagai jawaban terhadap berbagai inovasi teknis. Dalam terang amanat Kitab Suci, hasrat untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain, pertama-tama harus dimengerti sebagai ungkapan peran-serta kita akan kasih Allah yang komunikatif dan mempersatukan, yang ingin menjadikan seluruh umat manusia sebagai suatu keluarga”.[7]

Telah dikatakan sebelumnya bahwa hasrat manusia untuk berkomunikasi dan bersahabat adalah hasrat primitif  yang ada dalam diri manusia. Keberadaan facebook, dengan demikian, hanyalah sebagai salah satu inovasi teknis pengelolaan hasrat manusia yang purba itu. Seandainya tanpa hadirnya facebook pun, hasrat untuk berkomunikasi dan bersahabat itu tetap akan mengejawantah dalam bentuk-bentuk yang lain. Menarik bahwa Paus Benediktus XVI melihat dasar dari hasrat sosial kita sebagai jawaban atas kasih Allah yang komunikatif yang ingin menjadikan kita satu keluarga. Secara teologis, kita percaya bahwa manusia diciptakan sesuai dengan citra Allah (bdk. Kej 1:27) sebagai ciptaan-Nya yang mulia. Pun pula, kita meyakini bahwa manusia adalah satu keluarga besar yang diasalkan dari satu keturunan yang sama (bdk. Kej 1:28). Dengan demikian, ada kerinduan dalam diri manusia untuk bersekutu sebagai satu keluarga ciptaan Allah dan bersama-sama membangun persekutuan dengan Allah, Sang Pencipta.

Aspek mendasar dari persekutuan adalah pengenalan mendalam tentang masing-masing pribadi. Akan terasa sangat aneh bila seseorang berkata bahwa dia memiliki banyak sahabat, namun ia tidak memiliki pengenalan yang mendalam tentang sahabatnya itu: apa kegelisahanya saat ini, apa yang menjadi kerinduannya, dsb. Syarat yang perlu untuk pengenalan yang mendalam adalah kehadiran real dengan segala potensialitasnya. Kehadiran real memungkinkan tiap pribadi untuk mencecap dan terlibat dalam satu pengalaman manusiawi yang sama; yang mendalam dan berdaya tahan, paling tidak tersimpan rapi  di brangkas memori; yang hidup dan berdinamika; yang di kemudian hari bisa ditransendir sebagai pengalaman batin bersama.

Jejaring sosial di (grup) facebook memang memudahkan setiap orang untuk membangun persekutuan dengan pribadi-pribadi lain, tak dibatasi ruang dan waktu, akan tetapi nilai luhur persekutuan itu bisa hilang bila persekutuan itu dipahami melulu sebagai tujuan itu sendiri. Karena itu, di dalam (grup) facebook, Orang Muda Katolik perlu juga untuk melihat secara kritis berapa waktu yang dilewatkan untuk berinteraksi di beranda facebook dan berapa waktu yang dilewatkan untuk berinteraksi dalam kehadiran/perjumpaan di ruang-ruang yang konkret. Harus diakui (grup) facebook memudahkan proses-proses informasi yang dulunya berbelit. Misalnya, penyampaian informasi pra/pasca kegiatan. Sebelum ada (grup) facebook, pengurus OMK harus bersusah payah untuk mengetik undangan, mencetaknya, membagikannya kepada anggota secara satu-persatu. Namun, semenjak ada (grup) facebook, informasi seputar pra/pasca kegiatan bisa dilakukan dengan mudah. Pengurus OMK tinggal menulis informasi kegiatan, kemudian mengunggahnya di situs (grup) facebook. Ada yang dilewatkan dalam proses komunikasi yang baru ini, yakni perjumpaan antarpribadi dalam penyampain informasi. Tidak salah memang. Namun perlu disadari bahwa kemudahan penyampaian informasi jangan sampai mengabaikan perjumpaan-perjumpaan pribadi dalam segala dinamika emosionalnya. Paus Benediktus, dalam pesan HKS ke-45, menandaskan bahwa “pentinglah  untuk selalu mengingat bahwa  kontak virtual tidak dapat dan tidak boleh mengganti kontak manusiawi langsung dengan orang-orang  di setiap tingkat kehidupan kita. Dalam era digital juga, setiap orang dihadapkan dengan kebutuhan akan otentisitas dan refleksi”.[8]

Kepada orang muda Katolik di seluruh dunia, Paus Benediktus meminta agar orang muda memperkenalkan nilai-nilai yang melandasi hidup pribadi mereka ke dalam lingkungan budaya baru, yakni budaya teknologi dan informasi.[9] Nilai-nilai Orang Muda Katolik tidak lain adalah nilai-nilai Kristiani. Maka, alih-alih terjebak pada dorongan untuk menjadi populer di facebook atau hanya sekadar memenuhi tuntutan pergaulan tatkala bergabung di grup facebook, Orang Muda Katolik perlu untuk menunjukkan identitas dan otentisitas ke-Katolik-an mereka, khususnya dalam pewartaan kabar gembira Allah. Paus Benediktus XVI, dalam pesan HKS ke-43, menulis: “Hadiah terbesar yang dapat kalian (orang muda) berikan kepada mereka adalah berbagi dengan mereka “kabar gembira” Allah yang telah menjadi manusia, yang menderita, wafat dan bangkit kembali untuk menyelamatkan semua orang”.[10] Menarik bahwa di setiap grup facebook milik Orang Muda Katolik di tiap paroki, hampir selalu dapat kita temukan unggahan atau tautan yang berisi tentang renungan Kitab Suci dan artikel iman. Hal ini patut kita apresiasi. Di tengah kehausan manusia pada apa yang baik dan benar, pewartaan iman di dalam (grup) facebook bisa menjadi oase untuk menyegarkan kehausan manusia tersebut.

Meminjam istilah Paus Yohanes Paulus II, sebagaimana dikutip dalam  dokumen “The Church and Internet”, (grup) facebook bisa menjadi “Areopagus dalam dunia modern” .[11] Di Aeropaguslah, Rasul Paulus, untuk pertama kalinya mengabarkan iman dan memberi kesaksian tentangnya kepada orang-orang Yunani. Maka, di dalam (grup) facebook, alih-alih mencari kepuasan diri, Orang Muda Katolik perlulah juga untuk menjadi saksi-saksi iman dengan mengamini, mengalami, dan menyebarkan apa yang baik dan benar, seturut dengan nilai-nilai Injil, di tengah jejaring sosial yang mereka ikuti. Menyitir tulisan Benediktus XVI, “kita harus menyadari bahwa  kebenaran  yang ingin kita bagikan bukan berasal dari nilai popularitasnya atau jumlah perhatian yang diterima; Kita harus berusaha memperkenalkannya secara utuh, bukan sekadar supaya dapat diterima atau sebaliknya  malah melemahkannya”.[12]

Reksa Pastoral

–  Pertama-tama, Orang Muda Katolik perlu menyadari bahwa nilai perjumpaan real tidak bisa direduksi dengan perjumpaan “online” di (grup) facebook. Dokumen “The Church and Internet” menegaskan bahwa tidak ada sakramen di dalam internet (baca: situs facebook); dan bahkan bila pengalaman-pengalaman religius dimungkinkan terjadi di sana, rahmat Tuhan tidak bisa dilepaskan dari interaksi dunia nyata dengan orang beriman lain.[13]

– Orang Muda Katolik perlu untuk mengambil sikap kritis ketika berhadapan dengan situs jejaring sosial facebook. Facebook bukan media komunikasi dan jejaring sosial yang bebas nilai. Di dalamnya, dampak positif dan negatif berkelindan menjadi satu. Karena itu, sebagaimana anjuran Paus Benediktus XVI dalam pesan HKS ke-40, formasi pendidikan dalam penggunaan media secara kritis dan bertanggung-jawab perlu dikedepankan agar Orang Muda Katolik tahu bagaimana menggunakan media dan sesuai dengan tujuan.[14] Selain itu, Orang Muda Katolik juga perlu belajar bagaimana menempatkan diri di dunia maya, memiliki discernment dalam kerangka moral tentang apa yang mereka temukan atau unggah di (grup) facebook, dan menggunakan situs jejaring sosial itu demi kepentingan banyak orang.[15]

–  Demi kelangsungan grup facebook yang dimiliki oleh hampir tiap Orang Muda Katolik di paroki, maka ada baiknya bila pengurus OMK paroki membentuk tim khusus (admin yang dianggotai oleh beberapa orang) yang masuk dalam kepengurusan OMK paroki. Tujuan lainnya adalah untuk menjaga kontiunitas pewartaan iman lewat unggahan/tautan renungan Kitab Suci atau artikel-artikel iman. Dengan demikian, selain mempermudah proses komunikasi dan membangun jejaring persahabatan, para anggota grup facebook bisa memperoleh oase iman di dalamnya.

–       Para gembala iman (pastor) dituntut untuk juga ambil bagian di dalam geliat Orang Muda Katolik di (grup) facebook. Dengan ikut ambil bagian di dalamnya, para imam dapat memperkenalkan  kehidupan menggereja kepada umat beriman, khususnya anak muda, dan membantu mereka untuk menemukan wajah Kristus. Keterlibatan para imam kiranya memberi tuntunan dan roh yang menjiwai lalu lintas interaksi yang berlangsung di (grup) facebook. Menarik bahwa Paus Benediktus XVI, menyerukan kepada para imam guna menjadi  “bentara-bentara Injil yang bersemangat di ‘ruang publik’ baru media dewasa ini”.[16]

   

Daftar Pustaka:

Benediktus XVI, “Pesan Bapa Suci Benediktus XVI pada Hari Komunikasi Sedunia ke-40, 24 Januari 2006 (Media: Jejaring untuk Komunikasi, Hidup Berkomunitas, dan Kerjasama), diunduh dari  http://www.keuskupanbogor.org/vdokumen/harikomsos40.htm, diakses tanggal 5 Mei 2012.

Benediktus XVI, “Pesan Bapa Suci Benediktus XVI untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-43, 24 Mei 2009 (Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan  Persahabatan)”, diunduh dari http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=5596, diakses tanggal 5 Mei 2012.

Benediktus XVI, “Pesan Bapa Suci Benediktus XVI untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-44, 16 Mei 2010 (Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan  Sabda), diunduh dari http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=6090, diakses tanggal 5 Mei 2012.

Benediktus XVI, “Pesan Bapa Suci Benediktus XVI pada Hari Komunikasi Sedunia Ke-45, 5 Juni 2011 (Kebenaran, Pemakluman dan Kesejatian  Hidup di Jaman Digital)”, diunduh dari http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=6896, diakses tanggal 5 Mei 2012.

Pastoral Instruction, “Communio Et Progressio”, diunduh dari http://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/pccs/documents/rc_pc_pccs_doc_23051971_communio_en.html, diakses tanggal 5 Mei 2012.

Pontifical Council for Social Communication, “The Church and Internet”, diunduh dari http://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/pccs/documents/rc_pc_pccs_doc_20020228_church-internet_en.html, diakses tanggal 5 Mei 2012.

http://checkfacebook.com, diakses tanggal 13 Mei 2012.

http://www.socialbakers.com/facebook-statistics/indonesia, diakses tanggal 13 Mei 2012.


[1] Lih., http://checkfacebook.com, diakses tanggal 13 Mei 2012.

[3] Bdk., Benediktus XVI, “Pesan Bapa Suci Benediktus XVI pada Hari Komunikasi Sedunia Ke-45, 5 Juni 2011 (Kebenaran, Pemakluman dan Kesejatian  Hidup di Jaman Digital)”, diunduh dari http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=6896, diakses tanggal 5 Mei 2012.

[4] Bdk., Benediktus XVI, “Pesan Bapa Suci Benediktus XVI pada Hari Komunikasi Sedunia ke-40, 24 Januari 2006 (Media: Jejaring untuk Komunikasi, Hidup Berkomunitas, dan Kerjasama), diunduh dari  http://www.keuskupanbogor.org/vdokumen/harikomsos40.htm, diakses tanggal 5 Mei 2012.

[5] Benediktus XVI, “Pesan Bapa Suci Benediktus XVI untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-43, 24 Mei 2009 (Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan  Persahabatan)”, diunduh dari http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=5596, diakses tanggal 5 Mei 2012.

[6] Benediktus XVI, “Pesan HKS ke-45”, Loc. Cit.

[7] Benediktus XVI, “Pesan HKS ke-43”, Loc. Cit.

[8] Benediktus XVI, “Pesan HKS ke-45”, Loc. Cit.

[9] Benediktus XVI, “Pesan HKS ke-43”, Loc. Cit.

[10] Benediktus XVI, Ibid.

[11] Pontifical Council for Social Communication, “The Church and Internet”, diunduh dari http://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/pccs/documents/rc_pc_pccs_doc_20020228_church-internet_en.html, diakses tanggal 5 Mei 2012.

[12] Benediktus XVI, “Pesan HKS ke-45”, Loc. Cit.

[13] Pontifical Council for Social Communication, Loc. Cit.

[14] Bdk., Benediktus XVI, “Pesan HKS ke-40”, Loc. Cit.

[15] Bdk., Pontifical Council for Social Communication, Loc. Cit.

[16] Benediktus XVI, “Pesan Bapa Suci Benediktus XVI untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-44, 16 Mei 2010 (Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan  Sabda), diunduh dari http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=6090, diakses tanggal 5 Mei 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s