Persekutuan Kasih Trinitaris dalam Gereja Persekutuan


Tuhanku

Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
 [1]

Bait sajak di atas merupakan nukilan dari sajak “Doa” karangan Chairil Anwar. Chairil rupanya paham benar bagaimana pergumulan batin manusia (yang diwakili oleh subjek “Aku”) di hadapan Tuhan. Manusia tidak bisa lari dari Tuhan Allah, seberapa pun jauh ia mengembara, sekuat apa pun ia memalingkan diri dari-Nya. Ia selalu kembali pulang ke rahim asalinya; ke Pribadi yang mengasalkan dirinya; ke tempat di mana ia  menemukan kepenuhan hakikatnya sebagai manusia. Maka, tepatlah kata Santo Agustinus, “Gelisah hatiku sebelum beristirahat di dalam Engkau, ya Allah”. Persekutuan dengan Allah pun kiranya menjadi proyek hidup manusia.  Sebuah proyek kegelisahan yang baru tuntas manakala manusia berhasil mengetuk pintu rumah Allah dan lalu beristirahat di dalam Dia, dalam persekutuan dengan-Nya.

Lantas, “Dari mana asal kegelisahan manusia untuk bersekutu dengan Allah?” Kita bisa menjawab demikian: kegelisahan itu telah tertanam sejak masa awali – sejak saat manusia pertama jatuh dalam dosa dan lalu mengalami keterpisahan dari Allah (bdk. Kej 3). Keterpisahan dari Allah membuat manusia hidup dalam keadaan yang terlunta dan tak pasti. Manusia harus berjuang, berpeluh keringat, bersaing, bahkan kalau perlu meniadakan satu sama lain demi menegakkan hidup dan keberadaan dirinya (bdk. Kisah Kain dan Habel, Kej 4:1-16). Situasi semacam itulah yang kemudian diwariskan pada kita. Persekutuan kembali dengan Allah lantas menjadi sesuatu yang amat dirindu, tidak saja oleh manusia, melainkan juga oleh Allah. Mengapa? Sebab, Allah adalah kasih (bdk 1 Yoh 4:8). Kasih-Nya mengalahkan ketidaksetiaan yang paling buruk (KGK 219). Lebih jauh, dalam traktat dogmatis iman Kristiani dicatat bahwa “kasih adalah kodrat Allah; Ia sendiri adalah pertukaran kasih abadi antara Bapa, Putera, dan Roh Kudus, dan Ia telah menentukan kita supaya kita mengambil bagian dalam pertukaran itu” (KGK 221). Karena itu, tepatlah apa yang dikatakan oleh Paus Benediktus XVI dalam pembukaan Ensiklik Deus Caritas Est. Ia menulis, “Cinta kasih Allah kepada kita merupakan sesuatu yang fundamental bagi kehidupan kita, karena hal itu membawa kita sampai pada pertanyaan penting tentang siapakah Allah dan siapakah diri kita”.[2] Siapakah Allah? Ia adalah persekutuan kasih Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Dan, siapakah diri kita? Kita adalah pribadi-pribadi yang senantiasa diundang oleh Allah untuk masuk dalam persekutuan kasih Trinitas-Nya. Sebab, makna paling luhur dari martabat kita sebagai manusia terletak pada panggilan kita untuk memasuki persekutuan dengan Allah (lih. GS 19).

Di atas telah dikatakan bahwa persekutuan manusia dengan Allah merupakan sebuah proyek. Baik Allah maupun manusia sama-sama bekerja, dengan caranya masing-masing, untuk membangun persekutuan kasih yang hidup. Dari pihak Allah, Kristus ditetapkan dan diutus sedari semula sebagai penghubung yang niscaya antara Allah dengan manusia. Melalui Kristuslah segala sesuatu dipersatukan, baik yang di sorga maupun di bumi, di dalam Dia sebagai kepala (bdk. Ef 1:10). Dalam Dialah kita didamaikan dengan Allah (bdk. 2 Kor 5:19) dan dipanggil dalam persekutuan dengan-Nya (bdk. 1 Kor 1:9). Karena itu, dari pihak manusia, yang diminta adalah jawaban iman, yakni persetujuan atas panggilan keselamatan dan persekutuan dengan Allah yang ditawarkan oleh Kristus.

Persekutuan kasih dengan Allah itu sendiri sesungguhnya telah terjadi, namun belumlah definitif – sebab baru menemukan kepenuhannya saat Kristus datang ke dunia untuk kedua kalinya “dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27). Meski demikian, persekutuan itu telah dimulai oleh Kristus di dalam Gereja. Kristus, sebagai satu-satunya Pengantara, di dunia ini telah membentuk Gereja-Nya yang kudus, persekutuan iman, harapan, dan cinta kasih sebagai himpunan yang kelihatan (KGK 771). Lebih lagi, Gereja itu di dalam Kristus bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan umat manusia (KGK 775. Lihat pula LG 1). Jadi, di dalam Gereja, ada dua dimensi persekutuan yang hakiki. Pertama, persekutuan vertikal, di mana oleh Allah Bapa, melalui Kristus, dalam Roh Kudus, kita dimasukkan dalam persekutuan Allah Tritunggal dan ambil bagian dalam persekutuan kasih di antara meraka. Kedua, persekutuan horisontal, di mana lewat pembaptisan yang satu dalam Kristus, bersama dengan jemaat Kristus yang lain kita digabungkan menjadi satu tubuh (bdk. Rm 5:10) dan masuk dalam persekutuan yang baru dalam himpunan orang beriman.

Secara panoramik, dalam tulisan ini, penulis akan mengulas dua poin pokok dari diskursus persekutuan Kristiani di atas: Pertama, persekutuan Allah Tritunggal yang menjadi dasar dari segala persekutuan Kristiani; Kedua, hakikat Gereja sebagai misteri persekutuan yang menandakan persekutuan yang kelihatan, baik antara Allah dengan manusia, maupun antara manusia dengan manusia.

Realitas dan Ekonomisitas Trinitarian

Iman Kristiani dibangun dari pengakuan akan realitas diri Allah yang Trinitaris. Inilah dasar sekaligus misteri terdalam dari iman Kristen. Memang, hanya ada satu Allah sajalah yang diakui, disembah, dan dimuliakan, namun dalam satu Allah tersebut terdapatlah tiga pribadi ilahi, yakni Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Ketiga pribadi ilahi tersebut hadir dalam satu hakekat ke-Allah-an yang sama, tidak lebih yang lebih besar dan tidak ada yang lebih kurang. Ketiganya bersatu, namun tidak saling meniadakan, dalam persekutuan kasih yang erat dan tak berkesudahan. Menyitir tulisan Leonardo Boff, “Dalam iman Kristiani, nama ‘Allah’ dipahami sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus dalam korelasi kekal, saling resap dan dalam cinta yang kekal, sehingga ketiganya merupakan Allah yang esa; kesatuan di antara ketiganya berarti persekutuan Pribadi-Pribadi ilahi”.[3]

Ketiga Pribadi ilahi – Bapa, Putera, dan Roh Kudus – tersebut mewahyukan diri dan mengada secara aktif dalam sejarah. Lantaran kehadiran-Nya, sejarah manusia pun menjadi sejarah keselamatan nan dinamis, di mana Allah hadir, mengkomunikasikan diri-Nya, dan berkelindan di dalam kehidupan manusia. Hakikat kemenyejarahan Allah tersebut oleh Karl Rahner dipahami sebagai ekspresi imanen dari Allah Tritunggal. Ia menulis:

“Trinitas (yang hadir) dalam sejarah keselamatan dan pewahyuan adalah Trinitas yang ‘imanen’, sebab pewahyuan diri Allah kepada ciptaan-Nya melalui rahmat dan inkarnasi Allah benar-benar menjadi ungkapan diri-Nya secara total, dan sungguh menampakkan diri-Nya sebagaimana adanya, kemudian sembari mengakui kehadiran Trinitas dalam sejarah keselamatan yang kita tahu dalam pewahyuan diri Allah lewat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita bisa berkata: baik dalam sejarah keselamatan yang hadir dalam lingkup kolektif maupun individual, di sana kita segera dihadapkan bukan sekadar pada daya-daya ilahi ataupun hal-hal lain yang menjadi representasi diri Allah, melainkan menampakkan pada kita kehadiran-Nya secara sungguh sebagai satu Allah dalam diri-Nya sendiri”.[4]

Ada dua hal yang bisa kita diskusikan dari gagasan Karl Rahner. Pertama, pemahaman akan imanensi diri Allah Tritunggal dalam sejarah keselamatan diberikan pada kita melalui rahmat yang Ia curahkan. Akal budi manusia tidaklah cukup mampu untuk menangkap realitas diri Allah yang Mahasegala itu secara penuh dan utuh, jikalau Allah sendiri tidak terlibat dalam pemahaman manusia lewat rahmat yang Ia berikan. Sebab, mengutip KGK 237, “(iman akan Allah) Tritunggal adalah misteri iman dalam arti sesungguhnya, satu dari ‘rahasia-rahasia tersembunyi dalam Allah…yang kalau tidak diwahyukan oleh Allah, tidak dapat diketahui”. Pewahyuan diri Allah itu secara tuntas dikerjakan-Nya dalam peristiwa inkarnasi Kristus, Sang Putera Allah, yang menjadi manusia. Dalam Kristus, kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang Allah dan keselamatan manusia tampak secara jelas bagi kita (lih. DV 2). Melalui pewartaan Kristus, kita mengenal pribadi Allah dalam sebutan yang amat mesra, yakni Bapa. Kita juga mengenal adanya pribadi ilahi yang lain, yakni Roh Kudus – Roh penghibur yang dijanjikan oleh Yesus. Peristiwa inkarnasi, dengan demikian, membuka pemahaman manusia tentang realitas diri Allah yang Trinitaris. Kehadiran ketiga pribadi Allah itu dapat kita simak dalam Injil. Contoh yang paling kentara adalah kisah pembaptisan Yesus: Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:16-17; Mrk 1:10-11; Luk 3:22: Yoh 1:33-34). Selain itu, peristiwa paskah kebangkitan Yesus juga menjadi tonggak bagi pemahaman kita untuk melihat realitas diri Allah yang Triniter. KGK 648 menulis demikian:

“Di situ (peristiwa kebangkitan) ketiga Pribadi Ilahi bekerja sama-sama dan serentak juga menyatakan sifat-Nya yang khas. Peristiwa itu terjadi oleh kekuasaan Bapa, yang ‘membangkitkan’ Kristus, Anak-Nya dan menerima sepenuhnya kodrat kemanusiaan-Nya – bersama dengan tubuh-Nya – dalam Tritunggal. Yesus dinyatakan secara definitif sebagai Putera Allah menurut Roh Kekudusan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati”.

Kedua, dalam sejarah keselamatan, imanensi Trinitas hadir sebagai satu kesatuan yang utuh dan penuh. Kesatuan-Nya tidak hanya melulu pada hakikat ke-Allah-an di antara ketiganya, tapi juga pada setiap karya ilahi dalam sejarah keselamatan. KGK 258 menulis demikian:

“Seluruh karya ilahi adalah karya bersama ketiga Pribadi ilahi. Sebagaimana Tritunggal mempunyai kodrat yang satu dan sama, demikian juga Ia hanya memiliki kegitan yang satu dan sama…Walaupun demikian, tiap Pribadi ilahi melaksanakan karya bersama itu sesuai dengan kekhususan Pribadi. Seturut Perjanjian Baru, Gereja mengakui: Satu Allah dan Bapa, dari-Nya segala sesuatu, satu Tuhan Yesus Kristus, oleh-Nya segala sesuatu, dan satu Roh Kudus, di dalam-Nya segala sesuatu berada”.

Sekarang, kita akan melihat secara lebih detail mengenai “cara mengada” masing-masing Pribadi ilahi yang mewahyukan diri dan berkarya dalam sejarah keselamatan. Pertama, Allah Bapa. Dia adalah Pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan (Syahadat Nicea Konstantinopel). Dialah perencana dari keselamatan kekal manusia (bdk. LG 2). Dialah Asal tanpa Asal; Dari pada-Nyalah Putera lahir; Karena kemurahan dan belaskasih-Nya yang melimpah, dengan bebas Ia menciptakan kita dan memanggil kita untuk ikut bersama dengan-Nya menikmati kehidupan dan kemuliaan-Nya (AG 2). Kedua, Allah Putera. Dia adalah Putera Allah yang tunggal; Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad; Ia dilahirkan bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa, dan segala sesuatu dijadikan oleh-Nya (Syahadat Nicea-Konstantinopel). Dia adalah Pribadi yang diutus Bapa; Ia memulai kerajaan sorga di dunia, dan mewahyukan rahasia-Nya kepada kita, serta dengan ketaatan-Nya, Ia melaksanakan penebusan kita (LG 3). Ia adalah Allah yang berinkarnasi, mengosongkan diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Fil 2:7). Karena itu, Ia tampil sebagai Perantara sejati antara Allah dan manusia; pun juga melalui penjelmaan-Nya yang sejati, Ia menjadikan manusia ikut serta memiliki hakekat ilahi (bdk. AG 4). Ketiga,  Allah Roh Kudus. Ia adalah Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa, Yang serta Bapa dan Putera disembah dan dimuliakan (Syahadat Nicea-Konstantinopel). Roh Kudus inilah yang diutus oleh Kristus dari Bapa, supaya Ia mengerjakan karya penyelamatan-Nya dalam jiwa manusia dan menggerakkan Gereja untuk memperluas diri (AG 4). Ia adalah prinsip pengudus, pembaharu, dan pengantara Gereja serta umat beriman pada kebenaran serta persatuan sempurna dengan Allah Tritunggal (bdk. LG 4).

Demikianlah, ketiga Pribadi Ilahi tersebut berbeda satu dengan yang lain, pertama-tama lantaran hubungan asalinya, dan kemudian juga karena peran meraka yang unik lagi khas dalam sejarah keselamatan. Sekalipun demikian, kodrat mereka satu dan sama, yakni bersatu dalam kodra ke-Allah-an. Karenanya, kita tidak mengakui tiga Allah, melainkan satu Allah dalam tiga Pribadi: Tritunggal yang sehakikat. Pribadi-pribadi ilahi tersebut tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya (KGK 253). Lebih jauh, karena perbedaan real antar Pribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya (KGK 255). Hubungan yang tercipta di antara ketiganya adalah hubungan kasih yang erat, tak terbatas, dan kekal.

Trinitas sebagai Persekutuan Kasih yang Perikhoresis

Telah dikatakan dalam pembahasan sebelumnya bahwa kesatuan di antara ketiga Pribadi Allah berarti persekutuan antar Pribadi-pribadi ilahi (Bapa-Putera-Roh Kudus). Antara ketiga Pribadi ilahi tersebut terjalin saling cinta yang kekal, kehidupan yang mengalir tanpa henti dan secara mutlak di antara mereka, persekutuan tak berkesudahan, di dalamnya setiap Pribadi memberikan apa saja yang bisa diberikan, sehingga Pribadi-Pribadi itu membentuk kesatuan.[5] Dengan kata lain, kesatuan dalam Allah Tritunggal ini adalah kesatuan yang berlandaskan keterbukaan yang hakiki satu Pribadi terhadap Pribadi yang lain; lebih dari itu, kesatuan mereka berlandaskan pada saling serap satu terhadap yang lain, sehingga Pribadi-Pribadi ilahi itu terikat satu sama lain.[6] Jadi, tiap Pribadi ilahi tersebut bersekutu dan secara keseluruhan berada dalam yang lain. Dalam KGK 528 ditulis, “Bapa seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Putera”.

Persekutuan di antara ketiga Pribadi ilahi tersebut, terjalin lantaran kodrat keilahian mereka yang satu dan sama. “Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa; Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus yaitu satu Allah menurut Kodrat”, demikian penegasan dari KGK 253. Memang secara real mereka berbeda dalam Pribadi, namun mereka secara hakiki mereka bersatu dan bersekutu dalam satu kodrat. Oleh karena itu, sekalipun mereka memiliki keunikan dan kekhususan karya perutusan dalam sejarah keselamatan, namun dalam dimensi persekutuan di antara mereka, karya perutusan tersebut tetaplah menjadi karya bersama dari ketiga Pribadi ilahi tersebut.

Selain itu, hubungan persekutuan di antara mereka adalah sebuah hubungan kasih yang kekal, penuh, lagi total. Dalam Allah yang satu, terdapatlah pertukaran kasih abadi Bapa, Putera, dan Roh Kudus (bdk. KGK 221). Gisbert Greshake menulis bahwa “setiap Pribadi ilahi itu sepenuhnya terarah kepada dan berasal dari yang lain dalam hubungan timbal balik yang paling mendalam, di dalamnya setiap pribadi sekaligus memberi dan menerima”.[7] Keeratan hubungan timbal balik itu terjadi lantaran kasih. Sebab hubungan timbal balik atau pertukaran hidup ilahi yang kekal, utuh, lagi total, di antara ketiga Pribadi ilahi tersebut tidak bisa dipikirkan bila dilepaskan dari konteks kasih. Berkaitan dengan ini, Bruno Forte menulis demikian:

Di dalam kesatuan kasih ilahi, Bapa adalah Yang Mencinta yang berelasi dengan Yang Dicinta, yang mengangkat-Nya sebagai Putera; Putera adalah Yang Dicinta yang berelasi dengan Yang Mencinta, yang menerima kehidupan ilahi secara penuh dari Bapa; Roh Kudus adalah Cinta yang mewujud di mana sejauh Dia menyatukan diri dengan Yang Mencinta dan Yang Dicinta…, Ia adalah Roh yang diberikan oleh Bapa dan diterima oleh Putera…”[8]

Dengan demikian, kasih adalah unsur konstitutif yang menyatukan dan berkelindan di dalam diri ketiga pribadi ilahi tersebut. Tidak hanya itu, penulis surat Yohanes bahkan berkata bahwa “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8). Kasih, dengan demikian, dimengerti sebagai hakikat diri Allah. Karena itu, tepatlah yang dikatakan Santo Augustinus, “Jika kamu melihat kasih, kamu memandang Allah Tritunggal”.[9]

Lebih lanjut, persekutuan hidup di antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus, adalah sebuah persekutuan kasih yang perikhoresis. Istilah teknis ini diambil dari bahasa Yunani, yang berarti saling merangkul dan meresapi. Menurut Leonardo Boff, dalam konsep Yunani, istilah perikhoresis ini memiliki dua makna: Pertama, artian pasif, yakni satu terkandung dalam yang lain, tinggal dan ada dalam yang lain. Jika dikenakan dalam misteri Trinitas, maka satu Pribadi berada dalam yang lain, dikelilingi dari segala sisi oleh yang lain; Kedua, artian aktif, yakni saling resap dan saling anyam antara satu Pribadi yang lain dalam Pribadi yang lain. Konsep ini hendak mengungkapkan proses hubungan yang hidup dan abadi antar Pribadi-Pribadi ilahi, dimana satu Pribadi meresapi Pribadi ilahi yang lain.[10] Jadi, dalam konsep perikhoresis ada dinamika hubungan yang timbal balik dan saling meresap di antara Pribadi-Pribadi ilahi. Dalam Kitab Suci, kita bisa melihat bagaimana Yesus menyatakan hubungan perikhoresis tersebut untuk menjelaskan hubungan-Nya dengan Bapa. “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). “Aku dalam Bapa dan Bapa dalam Aku” (Yoh 14:11; 17:21). Demikianlah, dalam Pribadi-Pribadi ilahi terdapat hubungan kesalingan yang meresap dan ada bersama-sama, di mana mereka mengungkapkan diri-Nya dan bersekutu dalam cinta.[11]

Konsep Gereja dalam Konsili Vatikan II

Ada perbedaan yang cukup mendasar mengenai konsep Gereja dalam pra-Konsili Vatikan II dan pasca-Konsili Vatikan II. Sebelum Konsili Vatikan II, Gereja mengerti dirinya sebagai sakramen yang (melulu) kelihatan. Konsep ini ditandaskan oleh Kardinal Bellarminus (1542-1621). Ia merumuskan bahwa Gereja “sama kelihatan dan konkret seperti perhimpunan rakyat Roma, atau kerajaan Perancis atau republik Venesia”.[12] Dalam konsep ini, Gereja pun mewujud sebagai satu bangunan besar institusi di mana berhimpun umat Allah dengan struktur organisatoris-hierarkisnya yang rigid. Maka, pola hubungan yang terjadi adalah pola piramidal. Peran klerus menjadi amat sentral dalam pola ini.

Sesudah Konsili Vatikan II, konsep mengenai Gereja berubah secara signifikan. Gereja tidak melulu dimengerti sebagai realitas yang kelihatan tapi juga realitas yang tak kelihatan. Selain berhimpun umat Allah yang konkret, di dalam Gereja berhimpun pula persekutuan rohani yang senantiasa memperkaya Gereja dengan kurnia-kurnia sorgawi (bdk. LG 8). Dalam konsep ini, dimengerti bahwa Gereja merupakan tubuh mistik Kristus, yang bersama-sama berhimpun dalam satu tubuh di mana Kristus adalah kepalanya (bdk. LG 7). Konsekuensi, Gereja tidak lagi menjadi sebuah bangunan institusi yang rigid, melainkan sebagai sebuah himpunan (rohani) umat Allah yang bersekutu sebagai satu tubuh dalam Kristus, melalui Roh Kudus, menuju Bapa. “Gereja lebih dari sekadar organisasi: Gereja adalah organnisme Roh, sesuatu yang hidup, yang hadir dalam kedalaman diri kita”, demikian ungkap Joseph Ratzinger.[13] Dengan demikian, pola hubungan piramidal pun ditinggalkan dan diganti dengan pola hubungan persekutuan. Tiap anggota Gereja pun mengambil bagian dalam pembangunan tubuh mistik Kristus. Sebab, berkat pembaptisan, Roh mencurahkan rupa-rupa karunia dalam tiap pribadi. Namun, Roh itu adalah Roh yang satu dan sama (bdk. 1 Kor 12:1-11). Roh itu juga secara langsung menyatukan Tubuh dengan daya kekuatan-Nya dan melalui hubungan batin antara para anggota (LG 2).

Model Gereja sebagai Gereja Persekutuan

Konsep mengenai persekutuan banyak tersebar di dalam teks-teks Konsili Vatikan II.[14] Joseph Ratzinger, dalam Communionis Notio, mengungkapkan bahwa persekutuan adalah konsep yang sangat memadai untuk mengungkapkan inti dari misteri Gereja. Ia menulis:

“Gagasan persekutuan terletak pada pengertian Gereja tentang dirinya, yakni sebagai misteri persatuan personal setiap insan dengan Allah Tritunggal ilahi dan dengan orang lain. Persatuan ini dimulai oleh iman dan terarah kepada kepenuhan eskatologis dalam Gereja surgawi…(Gagasan persekutuan itu sendiri) selalu mencakup dua dimensi: dimensi vertikal (persekutuan dengan Allah) dan dimensi horisontal (persekutuan antar-manusia)”.[15]

Dasar dari model Gereja sebagai persekutuan pertama-tama terletak dalam hakikat panggilannya untuk bersekutu dengan Allah. Hal ini bisa kita simak dalam LG 2. Dalam artikel tersebut, ditekankan bahwa Gereja sebagai persekutuan berakar dalam keputusan Allah yang abadi untuk menciptakan manusia dengan tujuan agar ia dapat memperoleh kebahagiaan dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal sendiri.[16] Lebih jauh, jikalau kita menilik sejarah keselamatan, maka kita bisa melihat bahwa Gereja itu nampak sebagai umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus (LG 4) yang diundang untuk masuk ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya (DV 2).

Dalam sejarah keselamatan, persekutuan dengan Allah itu terlaksana secara istimewa dalam diri Yesus Kristus. Melalui peristiwa inkarnasi, dengan mengambil kodrat manusia, Yesus memungkinkan kita untuk mengambil bagian dalam kodrat ilahi. Menurut GS 22, penjelmaan Kristus menjadi manusia menjadikan kodrat kita diangkat mencapai martabat yang amat luhur, dan dengan cara itulah Putera Allah mempersatukan diri-Nya dengan setiap orang. Selepas Yesus wafat dan lalu bangkit, persekutuan antara Allah dan manusia yang telah diejawantahkan oleh Yesus kemudian dilanjutkan oleh Roh Kudus di dalam Gereja. Dalam LG 4 ditulis:

“Ketika sudah selesailah karya, yang oleh Bapa dipercayakan kepada Putera untuk dilaksanakan di dunia (lih. Yoh 17:4), diutuslah Roh Kudus pada hari pentakosta, untuk tiada hentinya menguduskan Gereja. Dengan demikian, umat beriman akan dapat mendekati Bapa melalui Kristus dalam satu Roh (lih. Ef 2:18)”.

Sementara itu, dapat pula ditambahkan bahwa persekutuan dengan Allah dapat dimengerti juga sebagai pengambil bagian dalam hal-hal kudus yang diberikan oleh Allah dalam Gereja. Persekutuan ini berarti karena Roh Kudus kita diberi bagian dan boleh mengambil bagian dalam hidup baru, dalam Injil, dan dalam sakramen-sakramen, teristimewa Ekaristi.[17]

Persekutuan dengan Allah (persekutuan vertikal), mengarahkan pula Gereja pada persekutuan antar-manusia (persekutuan horisontal). Dalam Communionis Notio artikel 3 dinyatakan bahwa:

“Hubungan baru antara manusia dan Allah, yang diadakan Kristus dan dibagikan melalui sakramen-sakramen, mencakup juga hubungan baru antar-manusia sendiri. Oleh karena itu, gagasan persekutuan harus sanggup mengungkapkan juga hakikat sakramental Gereja (bdk. LG 1)…serta kesatuan khusus yang menjadikan para beriman anggota tubuh yang sama, yaitu Tubuh Mistik Kristus, suatu komunitas yang tersusun secara teratur, umat yang telah dipersatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus (LG 4), yang juga memiliki sarana-sarana yang memadai untuk kesatuan kelihatan dan sosial”[18]

Secara khusus, dalam iman Kristiani, diakui bahwa dasar dari persekutuan horisontal ini adalah pembaptisan. Melalui pembaptisan, martabat kemanusiaan kita dipulihkan. Persekutuan dengan Allah yang telah rusak akibat dosa Adam, disatukan kembali, dijadikan sebagai “ciptaan baru” (2 Kor 5:17), dan dimungkinkan untuk “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Ptr 1:4). Selain itu, pembaptisan juga menjadikan kita sebagai anggota-anggota Tubuh Kristus. “Dalam satu Roh, kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh”, demikian tegas rasul Paulus (1 Kor 12:13). Jadi, selain diinkorporasikan dalam kodrat ilahi Kristus, yang dari-Nya kita diikutkan dalam persekutuan Allah Tritunggal, lewat pembaptisan, kita juga diinkorporasikan dalam persekutuan umat beriman yang hadir secara penuh dalam tubuh Gereja.

Sementara itu, diakui pula bahwa dalam Kristus, Gereja bagaikan sakramen keselematan universal, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia (LG 1). Karena itu, Gereja dipanggil untuk menyatukan setiap orang ke dalam suatu persekutuan hidup yang rohani bersama dengan Allah dan persekutuan yang konkret bersama dengan seluruh umat manusia. Hakikat panggilan Gereja ini diwartakan dalam AG 1 sebagai demikian: “Gereja diutus untuk menjadi ‘garam dan terang dunia’ (Mat 5:131-14), dipanggil secara lebih mendesak untuk menyelamatkan dan membaharui semua ciptaan, supaya segala sesuatu dibaharui dalam Kristus, dan supaya dalam Dia orang-orang merupakan satu keluarga dan satu umat Allah”.

Implikasi Persekutuan Trinitaris dalam Gereja Persekutuan

Di atas telah diungkapkan bagaimana Pribadi-Pribadi ilahi dalam Trinitas bersekutu dalam persekutuan kasih yang perikhoresis. Persekutuan itu menjadikan ketiga Pribadi ilahi – Bapa, Putra, dan Roh Kudus – ada bersama-sama dan saling meresap dalam cinta. Dalam karya persekutuan Pribadi-Pribadi ilahi inilah yang kemudian membentuk, memelihara, da membimbing Gereja hingga kini. Lantaran diasalkan dan didasarkan pada persekutuan Trinitas, Gereja pun dipanggil untuk mewujudkan persekutuan itu di dalam dirinya sendiri sebagai tanda dan sarana yang kelihatan dari persekutuan Trinitas.

Term “persekutuan” itu sendiri memiliki dua aspek yang saling berkelindan, yakni aspek kesatuan dan keanekaan. Dalam Trinitas, kesatuan itu terletak pada kodrat ke-Allah-an yang satu dan sama, tidak lebih, tidak kurang. Sementara, keanekaannya terdapat pada cara mengada atau realitas diri yang tiga Pribadi itu. Demikianlah, kedua aspek persekutuan ini juga nyata ada dalam Gereja. Secara sosio-anthoropologis, Gereja adalah himpunan umat beriman yang terdiri dari beragam keanekaan: kharisma, bahasa, pola pikir, sifat kepribadian, status, dll. Namun, secara teologis, berkat pembaptisan, keanekaan itu dimengerti sebagai bagian-bagian yang menyusun satu Tubuh Kristus yang hadir di dalam Gereja. Demikianlah, sebagai satu tubuh, umat beriman dalam Gereja diundang untuk membangun dan memperkaya Gereja dengan keanekaan yang ada pada mereka.

Persekutuan itu haruslah nampak dalam wujud konkret. Namun, bersandar pada gagasan Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostolik Novo Millennio Ineunte, sebelum menyusun rencana-rencana konkrit, kita perlu memajukan spiritualitas persekutuan. Paus menulis:

Spiritualitas persekutuan terutama menunjukkan kontemplasi hati ke arah misteri Tritunggal yang bersemayam dalam batin kita…Spiritualitas persekutuan berarti juga kecapakan untuk memikirkan saudara-saudari kita dalam pangkuan mendalam Tubuh Mistik dan karenanya juga sebagai ‘mereka merupakan sebagian saya’. Hal itu ikut memampukan kita untuk ikut serta menangung pokok-pokok kegembiraan dan penderitaan mereka..menyajikan kepada mereka persahabatan yang mendalam dan berarti. Spiritualitas persekutuan mencakup kecakapan juga memandang apapun yang positif pada sesama, menyambutnya baik dan menghargainya sebagai kurnia dari Allah…Spiritualitas persekutuan berarti, akhirnya, mengerti bagaimana ‘meluangkan tempat’ bagi saudara-saudari kita, sambil ‘menanggung beban-beban sesama (Gal 6:2) dan menolak pencoban-pencobaan cinta diri…[19]

Persekutuan, dengan demikian, mencakup juga soal keterlibatan. Sebagaimana Allah Tritunggal bersekutu dan saling melibatkan diri (ada bersama dan saling meresap) satu sama lain dalam, maka Gereja sebagai sebuah persekutuan dipanggil untuk melibatkan diri dalam kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang jaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita (LG 1). Dan, sebagaimana Allah bersekutu dalam kasih serta menyatakan kasih persekutuan-Nya itu dalam Gereja, maka didorong oleh semangat kasih, Gereja juga dipanggil untuk mewartakan dan membagikan kasih itu pada tiap orang “supaya segenap umat manusia mewujudkan satu Allah, bersatu padu menjadi Tubuh Kristus” (AG 7). Demikianlah perutusan Gereja, sebab Allah membentuk Gereja supaya bagi semua dan setiap orang, Gereja menjadi sakramen kelihatan, yang menandakan kesatuan penyelamatan yang dikerjakan oleh Bapa, melalui Kristus, dan dalam Roh Kudus (bdk. LG 9).

Sebagai penutup, penulis ingin menegaskan kembali bahwa persekutuan merupakan kodrat diri Allah. Dalam persekutuan tersebut, Allah hadir dalam sejarah, menyatakan diri-Nya, dan mengerjakan keselamatan bagi manusia. Karena cinta kasih-Nya, tiap orang diundang untuk masuk ke dalam persekutuan hidup abadi bersama dengan Allah Tritunggal. Gereja, sebagai sebuah himpuan umat beriman yang beresekutu dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus, serta yang diasalkan, didasarkan, dan dipelihara dalam persekutuan Allah Tritunggal itu, dipanggil dan diutus untuk menghidupkan persekutuan di dalam dirinya sendiri, pun pula mengundang setiap manusia untuk membangun hidup persekutuan yang konkret di dunia, sebagai persiapan awal untuk persekutuan hidup abadi bersama dengan Allah.

  

Kepustakaan

Kitab Suci dan Dokumen-dokumen Gerejawi:

ALKITAB. Deuterokanonika. Jakarta: LBI, 2008.

Kardinal Joseph Ratzinger, Communionis Notio, dalam http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/rc_con_cfaith_doc_28051992_communionis-notio_en.html, diakses tanggal 2 Desember 2011.

Paulus, Paus Yohanes. Novo Millennio Ineunte (Pada Awal Milenium Baru), terj. R. Hardawiryana, SJ, Jakarta: Dokpen KWI, 2007.

Vatikan II. Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana (Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI). Jakarta: OBOR, 2002.

_____. Katekismus Gereja Katolik, terj. Herman Embiru. Ende: Percetakan Arnoldus, 1998.

Buku-Buku Pendukung:

Anwar, Chairil. “Doa”, dalam Aku Ini Binatang Jalang: Koleksi Sajak 1942-1949. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Boff, Leonardo. Allah Persekutuan: Ajaran tentang Allah Tritunggal, terj. Aleksius Armanjaya dan Georg Kirchberger. Maumere: Lembaga Pembentukan Berlanjut Arnold Janssen (LPBAJ), 1999.

Cahyadi, Telesphorus Krispurwana. Ensiklik Deus Caritas Est dan Komentar: Gereja dan Pelayanan Kasih. Yogyakarta: Kanisisus, 2010.

Firmanto, Antonius Denny. Gereja, (Promanuscripto). Malang: STFT Widya Sasana, 2009.

Forte, Bruno. The Trinity as History: Saga of The Christian God, terj. Paul Rotondi, OFM. New York: Society of St. Paul, 1989.

Greshake, Gisbert. Mengimani Allah Tritunggal. Maumere: Penerbit Ledalero, 2003.

Rahner, Karl. Foundations of Christian Faith: An Introduction to The Idea of Christianity, terj. William V. Dych. New York: The Crossroad Publishing Company, 1995.

Ratzinger, Kardinal Joseph. The Ecclesiology Of Vatican II, dalam http://www.ewtn.com/library/curia/cdfeccv2.htm, diakses tanggal 2 Desember 2011.


[1] Chairil Anwar, “Doa”, dalam Aku Ini Binatang Jalang: Koleksi Sajak 1942-1949, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007, hlm. 41.

[2] Dikutip dari Telesphorus Krispurwana Cahyadi, EnsiklikDeus Caritas Est dan Komentar: Gereja dan Pelayanan Kasih, Yogyakarta: Kanisisus, 2010, hlm. 21.

[3] Leonardo Boff, Allah Persekutuan: Ajaran tentang Allah Tritunggal, terj. Aleksius Armanjaya dan Georg Kirchberger, Maumere: Lembaga Pembentukan Berlanjut Arnold Janssen (LPBAJ), 1999, hlm. 17.

[4] Karl Rahner, Foundations of Christian Faith: An Introduction to The Idea of Christianity, terj. William V. Dych, New York: The Crossroad Publishing Company, 1995, hlm. 136.

[5] Bdk., Leonardo Boff, Op. Cit., hlm. hlm. 97.

[6] Ibid., 33.

[7] Gisbert Greshake, Mengimani Allah Tritunggal, Maumere: Penerbit Ledalero, 2003, Hlm. 35

[8] Bruno Forte, The Trinity as History: Saga of The Christian God, terj. Paul Rotondi, OFM, New York: Society of St. Paul, 1989, Hlm. 161

[9] dikutip dari Telesphorus Krispurwana Cahyadi, Op. Cit., hlm. 45.

[10] Lih., Leonardo Boff, Op. Cit., hlm. 149-150.

[11] Bdk. Bruno Forte, Op. Cit., hlm. 150.

[12] Dikutip dari Antonius Denny Firmanto, Gereja, (Promanuscripto), Malang: STFT Widya Sasana, 2009, hlm. 65.

[13]Kardinal Joseph Ratzinger, The Ecclesiology Of Vatican II, dikutip dalam http://www.ewtn.com/library/curia/cdfeccv2.htm, diakses tanggal 2 Desember 2011.

[14] Teks-teks tersebut misalnya: LG 4, 8, 13-15, 18-21, 24-25; DV 10; GS 32; UR 2-4, 14-15, 17-19, 22.

[15]Kardinal Joseph Ratzinger, dalam Communionis Notio, disadur dari http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/rc_con_cfaith_doc_28051992_communionis-notio_en.html, diakses tanggal 2 Desember 2011.

[16] Georg Kirchberger, Op. Cit., hlm. 420.

[17] Ibid., hlm. 423.

[18] Kardinal Joseph Ratzinger, Loc. Cit.

[19] Paus Yohanes Paulus, Novo Millennio Ineunte (Pada Awal Milenium Baru), terj. R. Hardawiryana, SJ, Jakarta: Dokpen KWI, 2007, hlm. 48.

2 thoughts on “Persekutuan Kasih Trinitaris dalam Gereja Persekutuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s