Marialis Cultus: Resepsi Teks atas Anjuran Apostolik Paus Paulus VI tentang Penghormatan kepada Maria


Marialis Cultus adalah sebuah anjuran Apostolik yang dikeluarkan oleh Paus Paulus VI kepada Gereja universal, khususnya bagi seluruh uskup dalam Primat Gereja Roma. Anjuran Apostolik ini diberikan pada tanggal 2 Februari 1974, tepat pada pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah, dan tepat pada peringatan sebelas tahun masa pontifikat Paus Paulus VI. Dokumen ini bukan sebuah dokumen yang hendak memperbincangkan tentang pribadi Maria, melainkan tentang bagaimana Gereja menghormati Maria dalam kerangka perayaan liturgi dan juga tentang devosi-devosi terhadap Bunda Maria.

Pertanyaan awal yang perlu untuk diajukan sebelum kita melihat secara lebih jauh isi dokumen Marialis Cultus ini adalah “Apa alasan mendasar kita perlu mempelajari dokumen ini?” Pertama, Marialis Cultus merupakan dokumen pertama yang dikeluarkan oleh Magisterium Gereja, dalam semangat pembaharuan Konsili Vatikan II, yang secara istimewa memperbincangkan penghormatan (devosi) kepada Maria dalam diskursus refleksi teologis-biblis-liturgis-pastoralnya. Isi dokumen ini sendiri banyak merujuk pada pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan oleh Gereja selama Konsili Vatikan II, khususnya menyangkut soal liturgi suci (Sacrosanctum Consilium) dan konsep tentang Gereja (Lumen Gentium 8). Kedua, tatkala menilik isi dari praksis penghormatan kepada Santa Perawan Maria, Paus Paulus VI menandaskan bahwa penghormatan kepada Santa Perawan Maria merupakan satu-satunya ibadat yang selayaknya disebut Kristiani – karena berasal dari Kristus dan memperoleh kekuatan dari-Nya, mendapatkan ungkapan yang tuntas dalam Kristus, serta menghantar kita melalui Kristus dalam roh kepada Bapa.

Dalam tulisan ini, penulis akan berusaha untuk mengurai dan merangkum isi dokumen Marialis Cultus, bagian per bagian sesuai dengan sistematisasi penulisan dokumen tersebut. Sebelumnya, sebagai pengantar masuk dalam pembacaan dokumen Marialis Cultus, penulis akan sedikit mengulas soal devosi dan sejarahnya dalam Gereja Katolik, khususnya devosi kepada Maria. Dengan demikian, kita akan memperoleh gambaran isi yang lebih kurang lengkap menyangkut anjuran Apostolik Paus Paulus VI soal penghormatan kepada Santa Perawan Maria.

Devosi dalam Gereja Katolik

Devosi adalah sebuah bentuk kesalehan rohani umat. Dalam devosi orang mengungkapkan bakti kepada pribadi yang dihormati dan dikasihi. Cinta bakti dalam devosi itu sendiri diarahkan kepada Allah baik secara langsung maupun melalui orang kudus dengan berbagai cara dan sarana, misalnya: diungkapkan dalam doa, madah, kebiasaan yang dikaitkan dengan waktu atau tempat tertentu, dsb.[1]

Di dalam Gereja, penghayatan iman melalui devosi sudah ada sejak masa awal Kekristenan. Namun demikian, devosi baru tumbuh subur di kalangan umat saat abad pertengahan. Pemicunya adalah kehidupan liturgi yang terlampau kering bagi umat. Pada abad VIII, bahasa Latin ditetapkan dan diberlakukan di seluruh Eropa bahasa liturgi yang resmi. Kemudian, pada abad XVI, Konsili Trente menyeragamkan Liturgi Gereja Katolik secara tegas dan kaku. Doa-doa Liturgi dirumuskan secara padat dan rasional, lebih mengungkapkan konsep teologis daripada pengalaman religius umat. Karena itu, umat awam semakin merasa terasing dari liturgi resmi gereja. Keterasingan dan ketidakterlibatan umat dalam liturgi menyebabkan kerinduan umat akan bentuk-bentuk pengungkapan iman yang lebih mudah, sederhana dan memuaskan kebutuhan afeksi mereka. Maka, lahirlah berbagai macam praktek devosi.[2] Sekalipun liturgi Gereja telah banyak mengalami perubahan terutama sejak Konsili Vatikan II, namun sampai sekarang penghayatan iman dalam devosi telah mengakar dalam hati umat. Pengalaman devosi pun menjadi suasana yang dominan dalam kehidupan umat.

Lebih jauh, penting untuk dicatat bahwa devosi merupakan ibadat non-resmi Gereja. Doa, pujian, dan penyembahan yang dilakukan umat dalam devosi melulu dimaksudkan untuk mengungkapkan kesalehan dan cinta bakti umat pada Allah; mengantar umat pada penghayatan iman yang benar akan misteri karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus; mengungkapkan dan meneguhkan iman terhadap salah satu kebenaran misteri iman. Sebaliknya, Liturgi adalah ibadat resmi Gereja. Dalam Konstitusi mengenai liturgi (SC 10), diungkapkan bahwa liturgi adalah puncak dan sumber kehidupan Gereja. Semua kegiatan Gereja memuncak dalam kegiatan liturgi. Dan, darinyalah Gereja mendapatkan rahmat kehidupannya. Dalam liturgi itu sendiri, dinamika gerak yang muncul adalah timbal-balik antara manusia dengan Allah. Di satu sisi, manusia memuji dan menyembah Allah. Sementara itu, di sisi lain, Allah mencurahkan berkat-Nya dengan menguduskan manusia.

Karena itu, setiap tindakan devosi haruslah mengarah pada liturgi, sebab hakikat liturgi adalah pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus untuk memuliakan Allah dan menguduskan manusia. Sebagaimana ditandaskan dalam SC 13, Devosi harus selaras dengan liturgi kudus: bersumber pada liturgi dan menghantar umat kepada perayaan Liturgi (SC.13). Semua kegiatan devosional harus memuncak pada perjumpaan dengan Allah dalam perayaan liturgis.

Sejarah Ringkas Perkembangan Devosi Marial[3]

Dalam sejarah peribadatan Gereja, sekitar tahun 150, para martir mulai diikutsertakan dalam kebaktian umat. Hari kematian (bisa disebut juga “kelahiran baru”) mereka mulai dirayakan, sebab mereka diyakini telah menjadi serupa dengan Kristus (bdk. Kis 7:59-60). Namun, pribadi mereka sendiri belum menjadi sasaran penghormatan yang khusus, melainkan menjadi alasan untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya karena apa yang dikerjakan oleh-Nya dalam para martir tersebut. Semua doa ditujukan pada Allah. Jadi, ingatan akan sang martir mendorong umat untuk beribadat kepada Allah. Baru pada tahun 200, umat mulai mengarahkan doa-doanya kepada para martir. Umat yakin bahwa para martir telah menjadi sahabat Kristus yang seutuhnya. Relasi mereka telah begitu dekat dengan Kristus. Karenanya, mereka pun diyakini dapat menghantarkan doanya kepada Kristus. Doa umat pun akhirnya bergabung dengan doa Sang Martir.

Devosi kepada bunda Maria merupakan perkembangan dan lanjutan dari devosi kepada para martir. Setelah Kekristenan diakui oleh negara (abad IV), zaman para martir berakhir. Maka, gagasan kemartiran pun dirohanikan. Tidak hanya mereka yang menumpahkan darahnya demi Kristus saja yang dapat menjadi sahabat-Nya atau serupa dengan-Nya, tetapi juga mereka yang secara total hidup dalam Kristus. Dalam titik pijak pemahaman seperti itu, Maria pun dipandang sebagai orang kudus, “martir” secara rohani. Umat pun mulai menghormati Maria secara sungguh dan berdoa kepadanya. Apalagi, sejak Konsili Efesus (431) meresmikan gelar Theotokos (Bunda Allah) – gelar yang sudah diserukan oleh umat pada Maria sejak awal abad ke III – dan menyematkannya pada pribadi Maria, hati umat semakin berkobar untuk berdevosi kepada Maria.

Kemudian, sejak abad VII dan sepanjang abad pertengahan, devosi kepada Maria terus berkembang, bahkan hampir saja tanpa kendali. Pesta-pesta Maria terus bertambah banyak. Satu demi satu peristiwa kisah hidup Maria dikenangkan, baik peristiwa yang dikisahkan dalam Injil, maupun peristiwa-peristiwa yang tercantum dalam Injil-injil apokrip. Misalnya saja: Pesta Kabar Malaikat. Maria mempersembahkan Yesus di Kenisah, Pengungsian ke Mesir, Maria mengunjungi Elisabet, pertunangan Maria, Maria dipersembahkan di Bait Allah, Maria dikandung secara ajaib, Pertemuan Maria dengan Yesus di jalan salib, Maria di bawah salib, Peralihan Maria, dsb. Dalam kesalehan rohaninya, umat bahkan menekan pimpinan Gereja untuk menambah lagi pesta dan hari raya Maria, sejalan dengan misteri iman akan Kristus, puteranya, misalnya: jika ada Kristus Raja maka harus ada Maria Ratu; Hati Kudus Yesus – Hati Maria tak Bernoda; dsb. Kerap kali pimpinan Gereja mengalah dengan kehendak umat. Tapi tak jarang juga melawan tendensi tersebut karena penghormatan kepada Maria sudah terlampau banyak. Baru sesudah Konsili Vatikan II, Magisterium Gereja menata ulang pesta-pesta seputar Maria. Banyak diantaranya yang ditiadakan dari penanggalan resmi Gereja.

Bagian I: Devosi kepada Santa Perawan Tersuci dalam Liturgi

Dalam bagian ini, perbincangan tentang Santa Perawan Maria diletakkan dalam terang pembaharuan liturgi Konsili Vatikan II. Pada sub bagian yang pertama, aspek-aspek baru yang dihasilkan dalam pembaharuan liturgi Konsili Vatikan II cukup sering disitir. Dalam terang pembaharuan tersebut, dibandingkan sebelumnya, aktualisasi penghormatan terhadap Maria mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Kemudian, pada sub bagian yang kedua, Santa Perawan Maria ditampilkan sebagai model Gereja dalam merayakan dan menghidupi misteri-misteri Ilahi, terutama dalam peribadatannya.

Perawan Tersuci dalam Liturgi Romawi yang Diperbaharui

Liturgi Romawi yang telah diperbarui mengedepankan perayaan karya penebusan Kristus pada hari-hari tertentu. Seluruh perayaan karya penebusan Kristus dari penjelamaan-Nya sampai dengan penantian kedatangan-Nya kembali dengan jaya, dibagi dalam peredaran seluruh tahun. Hal ini pada akhirnya membuat kenangan akan Perawan Maria, ibu Sang Putra Allah, lebih sesuai dan lebih dekat dalam daur tahunan misteri Sang Putra.

Dalam masa Adven, misalnya, selain menyiapkan kedatangan Yesus Kristus, Penebus, kaum beriman juga diajak untuk merenungkan kasih tak terhingga Perawan Maria yang menantikan putranya, dan bersama dengan Maria meyongsong Sang Juruselamat yang akan datang dengan bertekun dalam doa dan bersorak dalam puji-pujian. Selama masa Adven, perenungan tentang Perawan Maria dan persiapan kedatangan Mesias dilakukan oleh Gereja terutama pada tanggal 17-24 desember, tetapi juga pada tanggal 8 desember dimana misteri Maria dikandung tanpa dosa dirayakan oleh Gereja.

Sementara itu, perenungan akan Santa Perawan Maria juga diperpanjang dalam masa Natal, sebab keperawanannya yang murni melahirkan Sang Juruselamat bagi dunia. Pada hari Kelahiran Yesus Kristus, Gereja menyembah Sang Penebus dan menghormati ibu-Nya yang mulia; pada Hari Raya Penampakan Tuhan, seraya merayakan panggilan universal kepada keselamatan, Gereja memandang Maria yang menunjukkan kepada para Majus, Juru Selamat segala bangsa untuk disembah; dan pada pesta Keluarga Kudus Yesus-Maria-Yosef, dengan penuh hormat Gereja menyelami hidup suci yang dihayati oleh Yesus, Maria, ibunya, dan Yosef, suami Maria yang tulus hati.

Lebih jauh, selama oktaf Natal, perhatian kita harus diarahkan pada Hari Raya Maria Bunda Allah yang jatuh pada tanggal 1 Januari. Perayaan ini dimaksudkan untuk mengenangkan peran Maria dalam misteri keselamatan, sebab melalui dialah kita akhirnya pantas menyambut Kristus, Sang Pencipta Kehidupan. Perayaan itu pun memberi kita kesempatan lagi untuk menyembah Pangeran Perdamaian yang baru lahir, mendengarkan kabar baik dari malaikat, dan juga memohonkan anugerah agung perdamaian dari Allah dengan pengantaraan Maria, Sang Ratu damai (karena itu, pada tanggal 1 januari ini sekaligus juga ditetapkan sebagai hari perdamaian sedunia).

Kemudian, pada tanggal 25 Maret, Gereja merayakan Hari Raya Kabar Sukacita. Dalam perayaan ini Gereja mengenangkan Maria sebagai Eva baru, perawan yang taat dan setia, yang dengan perkataan murah hati “terjadilah” (bdk. Luk 1;38), oleh karya Roh Kudus, telah menjadi Bunda Allah, dan juga ibu sejati semua orang yang hidup, dengan menerima dalam tubuhnya Yesus Kristus, Sang Penyelamat. Dengan demikian, Hari Raya Kabar Sukacita dapat dilihat sebagai perayaan kenangan akan puncak dialog keselamatan antara Allah dan manusia. Peringatan akan persetujuan bebas Sang Perawan akan kerjasamanya dalam rencana keselamatan Allah.

Tanggal 15 Agustus, Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Inilah hari raya kemuliaan jiwa Maria yang tak bernoda dan tubuh perawannya, serta keserupaannya dengan Kristus yang jaya menjadi penuh. Selepas Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, tepatnya delapan hari kemudian, Gereja melanjutkan kenangan akan Maria dengan Pesta Maria Ratu (22 Agustus). Pada hari ini, kita memandang Maria yang bertahta di sebelah Raja Abadi. Sebagai Ratu, ia bergemilang, dan sebagai ibu, ia berdoa bagi kita.

Selain itu, masih ada beberapa pesta lagi yang dirayakan oleh Gereja dalam penghormatan kepada Bunda Maria, yakni: Pesta Kelahiran Maria (8 September) yang bagi seluruh dunia seperti pengharapan dan fajar keselamatan; Pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabet (31 Mei) di mana liturgi membangkitkan kenangan akan Santa Perawan Maria yang membawa Putranya dalam hatinya dan yang dengan penuh kasih sayang mengunjungi serta membantu Elisabet, saudaranya, sekaligus juga memaklumkan kerahiman Allah, Sang Juruselamat; Pesta Bunda Maria Berdukacita (15 September) di mana Maria sebagai ibu berdiri di kaki salib putranya dengan hati yang berduka.

Masih ada pula peringatan atau pesta lainnya tentang Maria yang dikaitkan dengan tempat ziarah lokal, namun mendapat minat yang besar, misalnya: Penampakan Maria di Lourdes (11 Februari); Pemberkatan Basilika St. Maria Maggiore (5 Agustus). Ada pesta-pesta lain yang semula dirayakan oleh kelompok-kelompok hidup bakti tertentu, tetapi sekarang sudah tersebar luas, seperti: Pesta Santa Maria dari Gunung Karmel (16 Juli); Pesta Rosario (7 Oktober). Ada pula peringatan lain, yang lepas dari soal asal-usul apokrifnya, namun memiliki nilai-nilai keteladanan yang tinggi dan meneruskan tradisi kuno yang dihargai, khususnya dari kawasan timur, seperti: Peringatan Maria Dipersembahkan kepada Allah (21 November). Atau juga pesta Maria yang mencerminkan kecenderungan yang timbul dari devosi dewasa ini, yakni: Pesta Hati Maria tak Bernoda (Sabtu Sore sesudah Minggu Pentakosta II).

Lebih dari itu, dalam Doa Syukur Agung, khususnya Doa Syukur Agung III, diungkapkan kerinduan Gereja yang ingin berbagi warisan Putra dengan sang ibu: “Semoga kami disempurnakan oleh-Nya menjadi bagian suatu persembahan abadi bagi-Mu agar kami pantas mewarisi kebahagiaan surgawi bersama para pilihan-Mu, terutama bersama Santa Perawan Maria, Bunda Allah”.

Menarik untuk diungkapkan bahwa bila liturgi suci menengok kembali Gereja Purba, maka kita akan mendapatkan sosok Maria. Dalam Gereja Purba, Maria tampil ketika ia berdoa bersama dengan para rasul. Dan, kini ia juga hadir dan bekerja bersama Gereja yang ingin menghayati misteri Kristus. Cukup banyak bagian doa dalam Missale Romanum yang merefleksikan hal ini.

Buku Tata Bacaan Misa, Ibadat Harian, dan buku-buku liturgi lainnya juga menampilkan sosok Maria dalam perenungan yang dijalankan oleh Gereja.

Santa Perawan sebagai Model Gereja dalam Ibadat Ilahi

Maria adalah contoh sikap rohani. Keutamaan keteladanan Santa Perawan Maria nyata dalam pengakuan yang diserukan Gereja. Ia diakui sebagai teladan termulia Gereja menurut iman, kasih, dan kesatuan penuh dengan Kristus. Berikut ini adalah keutamaan-keutamaan Maria yang dapat dijadikan teladan bagi kaum beriman Kristiani.

Pertama, Maria adalah perawan yang mendengarkan, yang menyambut Sabda dalam iman. Dengan penuh iman, Maria menerima Kristus dalam benaknya sebelum ia mengandung-Nya dalam rahimnya, sembari berkata “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk 1:38). Dengan iman, Maria mengalami sukacita yang penuh akan karya keselamatan Tuhan yang terlaksana lewat dirinya, sebagaimana seruan Elisabet “Dan berbahagialah engkau, sebab apa yang dikatakan kepadamu dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45). Dan, dalam iman, Maria merenungkan segala peristiwa yang ia alami semasa kanak-kanak Yesus (bdk. Luk 2;29, 51). Sikap Maria perlu juga dilakukan oleh Gereja, terutama dalam liturgi, ketika dengan iman, Gereja mendengarkan, menerima, mewartakan, dan menghormati Sabda Allah, meneruskannya pada kaum beriman sebagai Roti Kehidupan.

Kedua, Maria adalah perawan yang berdoa. Hal ini nyata dalam peristiwa kunjungannya pada Elisabet, di mana saat itu Maria mengungkapkan pujiannya pada Allah dengan penuh rasa kerendahan hati, sikap iman dan pengharapan yang penuh sebagaimana kidunnya dalam Magnificat (Luk 1:46-55). Dalam peristiwa di Kana, Maria juga tampak “berdoa”. Ia meminta bantuan kepada Putranya dalam kemesraan keibuan, dan Yesus pun, karena desakan Maria, mengerjakan tanda kehadiran (mukjizat) yang pertama (bdk. Yoh 2:1-12). Akhirnya, deskripsi tentang gambaran Maria sebagai perawan yang berdoa bisa kita baca dalam Kis 1: 14, di mana ditulis “Mereka semua (para rasul) bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus”. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Maria adalah sungguh perempuan yang hidup dalam doa. Lewat doanya, Maria hadir di tengah Gereja perdana dan Gereja sepanjang masa. Dan, sekalipun ia telah diangkat ke surga, ia tidak melepaskan pengutusannya sebagai pengantara dan penolong. Bercermin pada Maria, Gereja adalah juga perawan yang berdoa, yang setiap hari menyampaikan para putranya kepada Allah dan tak kunjung henti memuji Tuhan dan berdoa bagi keselamatan seluruh dunia.

Ketiga, Maria adalah Perawan-Ibu, yakni dia yang karena iman dan ketaatannya, tanpa campur tangan seorang lelaki, melainkan dinaungi Roh Kudus, melahirkan Putra Allah di dunia. Ia dipanggil oleh Allah untuk menjadi pralambang dan teladan kesuburan Gereja perawan, yang juga menjadi ibu, karena oleh kotbah dan baptis melahirkan anak untuk hidup baru yang baka, yang dikandung oleh kerja Roh Kudus, dan dilahirkan dari Allah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa yang terdahulu (Maria) membawa Hidup dalam tubuhnya, yang kemudian (Gereja) membawa Sang Hidup itu sendiri dalam bejana baptis. Ke dalam rahim Maria, Kristus telah datang. Ke dalam bejana baptis, Kristus dikenakan.

Keempat, Maria adalah Perawan yang mempersembahkan diri. Dalam peristiwa di mana Maria membawa Yesus, putranya, ke Yerusalem untuk dipersembahkan kepada Tuhan, Gereja melihat kesediaan hati Maria untuk berkorban, mengatasi arti lazim persembahan ritual. Dalam peristiwa itu, Gereja juga melihat keselamatan universal telah dinyatakan, karena Simeon, yang menyambut dalam Kanak-Kanak Yesus, cahaya untuk menerangi para bangsa dan kemuliaan Israel (bdk. Luk 2:32), mengakuinya sebagai Mesias dan Penyelamat semua orang. Dari kata-kata Simeon yang mengaitkan Putra sebagai “tanda pertentangan” (bdk. Luk 2:34) dengan ibu-Nya di mana hatinya akan ditembus tombak (bdk. Luk2:35), Gereja juga mengerti penderitaan Kristus di Kalvari. Dari sini, dapat pula dikatakan bahwa persembahan diri Maria mencapai puncaknya tatkala ia berdiri di bawah kayu salib (bdk. Yoh 19:25) dan melihat Yesus, putranya, wafat di kayu salib sebagai tebusan bagi semua orang. Untuk meneruskan kurban salib sepanjang abad, Gereja mengadakan kurban ekaristi. Hal ini dilakukan Gereja dalam persekutuan degan para Kudus di surga dan terutama dengan Santa Perawan.

Kelima, Maria adalah pengajar hidup rohani bagi setiap orang Kristiani. Sejak awal pertumbuhan Gereja, Maria telah dijadikan teladan kaum beriman dan memandang hidupnya sebagai ibadat dan pengabdian hidupnya sebagai kewajiban untuk hidup. Santo Ambrosius, pada awal abad ke IV, juga menyerukan agar kaum beriman hendaknya menanamkan di dalam hatinya masing-masing jiwa Maria yang senantiasa memuliakan dan bersukacita dalam Allah. Namun, Maria terutama adalah teladan ibadat yang bertujuan membuat hidupnya sendiri menjadi persembahan kurban bagi Allah. Lewat seruannya: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38), Maria mengantisipasi doa Bapa kami secara amat mengagumkan – “Terjadilah kehendakmu” (Mat 6:10). Dan, jawaban persetujuan Maria bagi semua orang Kristiani merupakan ajaran dan contoh ketaatan kepada kehendak Bapa yang menjadi jalan dan sarana pengudusan diri.

Bagian II: Pembaruan Devosi kepada Maria

Bagian ini secara khusus membicarakan devosi kepada Santa Perawan Maria dalam semangat pembaharuan Gereja pasca Konsili Vatikan II. Dalam kaiatan dengan devosi kepada Maria, prinsip-prinsip dan petunjuk pembaharuannnya pada akhirnya juga memengaruhi katakese terhadap Maria. Karena itu, dalam sub bagian pertama dibicarakan aspek Trinitaris, Kristologis, dan Eklesial dari devosi terhadap Santa Perawan Maria. Sedangkan, dalam sub bagian kedua, diberikan empat petunjuk pelaksanaan devosi kepada Santa Perawan Maria yang dapat menjadi kunci guna mengajar doktrin-doktrin Maria. Empat petunjuk tersebut adalah aspek-aspek biblis, liturgis, ekumenis, dan antropologis.

Aspek-aspek Trinitarian, Kristologis, dan Eklesial Devosi kepada Santa Perawan

Pada hakekatnya setiap ibadat kristiani adalah ibadat yang mengungkapkan ciri Trinitaris dan Kristologis – diarahkan kepada Bapa melalui Kristus dalam Roh Kudus –, demikian halnya dengan ibadat kepada Santa Perawan Maria. Pada Maria segalanya mengacu pada Kristus dan tergantung pada-Nya. Hal itu terjadi karena rencana Allah dalam diri Maria yang memilihnya menjadi ibu Kristus dan melengkapinya dengan kurnia Roh Kudus. Menarik untuk dicatat bahwa dalam studi terhadap Maria dan Roh Kudus, dipahami bahwa intervensi Roh Kudus yang menguduskan diri Perawan Maria merupakan puncak kerja Roh Kudus dalam sejarah keselamatan. Di dalam Roh Kudus, Maria dibentuk dan dijadikan “manusia baru”.

Sementara itu, lantaran peran Maria dalam tata keselamatan, maka Gereja mendudukan Maria dalam tempat yang istimewa. Dalam Lumen Gentium art. 54, dinyatakan bahwa Maria adalah “yang setelah Kristus menduduki tempat yang tertinggi, tetapi amat dekat dengan kita”. Lebih jauh, perhatian kita terhadap keistimewaan Maria dalam Gereja bisa kita simak dari referensi-referensi Konsili Vatikan II khususnya tentang konsep-konsep fundamental dari hakikat Gereja sebagai keluarga Allah, umat Allah, Kerajaan Allah, dan Tubuh Mistik Kristus. Berpijak dari hakikat Gereja, maka dapat dikatakan bahwa kaum beriman adalah anak-anak Perawan Maria. Ia “membantu kita pada “kelahiran kembali” dan pendidikan rohani dalam kasih keibuan. Kita lahir dari rahim(rohani)nya, diberi makan dengan susunya, dan dihidupkan dengan Rohnya. Dan, bersama dengan Gereja, Maria melahirkan Tubuh Mistik Kristus. Keduanya tak bisa dipisahkan. Tak satu pihak pun dari keduanya yang melahirkan Tubuh Mistik Kristus tanpa pihak yang lain.

Empat Petunjuk Devosi kepada Santa Perawan: Aspek Biblis, Liturgis, Ekumenis, dan Antropologis

Penghormatan kepada Maria tidak bisa dilepaskan dari Kitab Suci, malahan harus menimba sebanyak-banyaknya inspirasi rohani darinya. Mulai dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu, kita bisa membaca petunjuk-petunjuk tentang Maria sebagai bunda dan rekan penebus. Maka, devosi kepada Maria sangat perlu diresapi dengan Kitab Suci agar dalam praktek-praktek devosinya kaum beriman dapat diterangi dengan cahaya Sabda Ilahi dan bertindak sesuai dengan perintah Sang Sabda yang menjelma.

Dalam Liturgi yang telah diperbaharui, khususnya dalam norma yang digariskan dalam Sacrosantum Concilium, ditandaskan bahwa “seraya membenarkan latihan kesalehan umat Kristiani, namun hendaknya latihan-latihan tersebut memperhatikan masa liturgis dan diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan liturgi suci, mengalir darinya, dan karena liturgi jauh lebih unggul, maka latihan-latihan kesalehan harus menghantar umat pada perayaan liturgi. Berkaitan dengan itu, perlu untuk diungkapkan bahwa ada dua perilaku yang tak sesuai dengan norma Konsili Vatika II dalam praktek pastoral. Yang pertama adalah perilaku a priori yang menolak latihan rohani atau olah kesalahen rohani yang sudah disahkan oleh Magisterium. Mereka lupa bahwa latihan rohani harus disesuaikan dengan liturgi, dan bukannya dihapus. Yang kedua adalah perilaku yang tanpa kriteria liturgis dan pastoral yang sehat telah mencampuradukkan latihan rohani dengan tindakan-tindakan liturgis atau menyatukannya menjadi perayaan yang tidak teratur atau hanya sekadar tempelan semata. Hal ini terjadi bila dalam perayaan kurban Ekaristi dimasukkan unsur-unsur novena atau latihan rohani lain. ada bahaya bahwa kenangan akan Tuhan sendiri tidak menjadi puncak perayaan, melainkan hanya menjadi kesempatan untuk praktek devosional.

Selanjutnya, penghormatan kepada Perawan Maria juga memiliki ciri ekumenis. Gereja Katolik bersatu dengan saudara-saudara ortodoks di mana mereka memiliki bentuk-bentuk penghormatan kepada Santa Perawan Maria dalam lirik yang indah dan ajaran yang luhur dalam menghormati Maria. Mereka berseru kepada Maria sebagai “Pengharapan Kaum Kristiani”. Gereja Katolik juga bergabung dengan Gereja Anglikan yang teolog-teolog klasiknya sudah menunjukkan dasar biblis yang mantap untuk ibadat Bunda Tuhan dan teolog-tolog kontemporernya semakin mengedepankan makna kedudukan Maria dalam hidup Kristiani. Selanjutnya, Gereja Katolik juga bergabung dengan saudara-saudara Gereja Reformasi, di mana cinta akan Kitab Suci amatlah hidup bila mereka memuliakan Allah dengan kata-kata Santa Perawan (bdk. Luk 1:46-55).

Sementara itu, dalam titik tolak ilmu antropologis, menarik untuk disimak bahwa gambaran Santa Perawan Maria, sebagaimana yang dipresentasikan dalam bentuk-bentuk penghormatan kepadanya, nampak sulit diserasikan dengan gaya hidup dewasa ini, terutama dengan cara perempuan dewasa ini hidup. Dewasa ini, peluang bagi perempuan untuk terlibat aktif dalam kehidupan politik/sosial/budaya sangatlah terbuka lebar. Kenyataan ini mengakibatkan sosok Maria, yang peran dan lingkup hidupnya amat bertolak belakang dengan perempuan dewasa ini, sulit untuk dijadikan teladan. Karena itu, perlu untuk diperhatikan dan ditandaskan beberapa hal berikut. Pertama, Perawan Maria dianjurkan oleh Gereja sebagai teladan bagi kaum beriman bukan karena cara hidupnya, apalagi karena lingkungan sosio-kultural yang dalam perspektif saat ini telah ketinggalan jaman. Maria jadi teladan karena ia mengikuti kehendak Allah tanpa syarat dan penuh tanggung jawab; ia menyambut Sabda Allah dan mempraktekkannya; tindakannya dijiwai semangat kasih dan kesediaan untuk melayani; ia adalah murid Kristus pertama dan paling sempurna. Kedua, harus pula diingat bahwa dari generasi ke generasi, dalam keadan sosio-kultural yang berbeda-beda, kaum beriman telah mengungkapkan perasaan hormat kepada Bunda Maria dengan cara dan sikap yang sesuai zamannya. Dalam memandang sosok dan perutusan Maria – sebagai perempuan baru dan orang Kristiani yang sempurna – kaum beriman telah menyerukan bahwa Maria merupakan model keibuan utama dan teladan mulia hidup yang selaras dengan Injil, serta mempersatukan dalam dirinya situasi yang sangat khas kehidupan seorang perempuan.

Bagian III: Pengamatan Terhadap Dua Contoh Penghormatan kepada Maria: Malaikat Tuhan dan Doa Rosario

Selepas memberi pemahaman umum tentang devosi kepada Santa Perawan Maria dalam dua bagian sebelumnya, pada bagian ketiga ini Paus Paulus VI memberi pengamatan khusus terhadap dua contoh devosi kepada Maria, yakni doa Malaikat Tuhan dan Rosario. Pada sub bagian pertama, perbincangan tentang Malaikat Tuhan lebih dimaksudkan sebagai ajakan mendesak untuk terus didoakan. Sementara itu, pada sub bagian kedua, doa rosario dilihat dalam ciri-ciri alkitabiah dan unsur-unsurnya yang konstitutif.

Malaikat Tuhan

Doa “Malaikat Tuhan” merupakan doa yang sederhana. Sekalipun demikian, doa ini memiliki sifat alkitabiah, asal-usul historis, irama yang hampir liturgis, beritensi untuk menguduskan hari, dan mengingatkan kita pada Misteri Paskah. Karena itu, doa ini tidak memerlukan pembaharuan dan baik untuk terus didoakan di mana pun dan kapan pun dimungkinkan.

Doa Rosario

Rosario Santa Perawan Maria dapat disebut sebagai ringkasan seluruh Injil. Rosario, dalam urutan yang harmonis, merenungkan peristiwa-peristiwa pokok keselamatan yang dilaksanakan Kristus, mulai dari pengandungan-Nya dalam rahim Santa Perawan dan misteri-misteri masa kanak-kanak-Nya, saat-saat puncak misteri Paskah (penderitaan-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya yang mulia), peristiwa Pentakosta yang dialami oleh Gereja muda, dan sampai pada pengangkatan bunda-Nya – Santa Perawan Maria – dengan jiwa-raganya dari lembah kedukaan di dunia menuju tanah air surgawi. Karena itu doa rosario adalah juga doa Injil.

Karena berdasar pada Injil, yang berpusat pada misteri inkarnasi Kristus, maka doa rosario adalah doa dengan orientasi Kristologis yang jelas. Unsur Kristologisnya yang khas nampak dalam seruan “Terpujilah buah tubuhmu Yesus” (Luk 1:42) yang diucapkan oleh Elisabet, pun juga yang menjadi tujuan utama dari pemakluman kabar gembira oleh Malaikat Gabriel kepada Maria. Seruan pujian yang termaktub dalam doa Salam Maria tersebut pada akhirnya menjadikan rosario sebagai doa pujian kepada Kristus. Lebih dari itu, pengulangan Salam Maria dalam doa rosario merupakan rantai yang menyatukan perenungan kita akan misteri-misteri Yesus Kristus, Putera Allah yang berinkarnasi sebagai manusia dalam rahim Perawan Maria, yang menderita, wafat, dan bangkit dari antara orang mati, yang naik kesurga dengan mulia dan dari sana mencurahkan anugerah Roh Kudus.

Menarik untuk dicatat bahwa selama periode terkahir abad pertengahan – ketika semangat liturgi mulai menurun dan umat beriman berpaing dari liturgi menuju devosi kemanusiaan Kritus dan Santa Perawan Maria – beberapa orang menginginkan rosario untuk dimasukkan dalam ritus liturgi, tetapi beberapa orang lain menolak karena khawatir akan jatuh pada kesalahan pastoral masa lalu yang secara tak wajar melecehkan rosario. Namun, sejak Konsili Vatikan II selesai digelar oleh Gereja, perbedatan tersebut dapat diatasi dengan mudah, khususnya dalam terang prinsip konstitusi Sacrosanctum Consilium. Perayaan liturgi dan praktek saleh rosario tidak boleh dipertentangkan atau disamakan. Rosario seperti liturgi bersifat komunal, yakni menimba inspirasi dari  Kitab Suci dan mengacu pada misteri Kristus, tepatnya peristiwa-peristiwa keselamatan yang dilaksanakan Kristus. Dalam liturgi, misteri agung penebusan kita oleh Kristus disingkapkan dan karenanya kita beroleh rahmat keselamatan. Sementara itu, dalam rosario, misteri penebusan Kristus dikenangkan dan memicu batin kita untuk menimba norma kehidupan darinya. Meski demikian, lantaran perbedaan hakikatnya, rosario tidaklah dapat menjadi bagian dari liturgi. Namun, perenungan misteri keselamatan Kristus dalam rosario dapat digunakan sebagai persiapan yang baik untuk perayaan misteri yang sama dalam kegiatan liturgis dan dapat menjadi gemanya yang terus-menerus.

Selanjutnya, menurut tradisinya dan sebagaimana yang diajarkan secara otoritatif oleh Santo Pius V, doa rosario terdiri dari berbagai unsur yang tersusun secara organis. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kontemplasi, dalam persekutuan dengan Maria, yang terdiri dari rentetan misteri keselamatan, dibagikan secara bijaksana dalam tiga siklus, yakni mengungkapkan kegembiraan zaman Mesias, penderitaan Kristus yang menyelamatkan, dan kemuliaan Tuhan yang telah bangkit. Kontemplasi tersebut mendukung refleksi praktis dan menyediakan norma-norma untuk kehidupan.
  2. Doa Tuhan (Bapa Kami), yang karena nilainya yang amat besar kiranya menjadi dasar doa Kristiani yang niscaya.
  3. Untaian doa Salam Maria yang tersusun atas salam malaikat kepada Maria (Luk 1:28) dan salam Elisabet (Luk 1:42) memiliki kemiripan dengan pendarasan kitab Mazmur yang berjumlah seratus lima puluh bab, dan yang secara historis menjadi asal-usul dari praktek kesalehan ini. Hanya saja, dalam tradisinya, untaian Salam Maria yang didoakan dalam rosario dibagi dalam lima puluhan untaian doa Salam Maria pada tiga siklus misteri Kristus yang dikenangkan.
  4. Doksologi “Kemulian kepada Bapa” dipakai sebagai penutup doa dengan memuji Allah Tritunggal, yang dari-Nya, melalui-Nya, dan dalam Dia segala sesuatu ada (bdk. Rm 11:36).

Sementara itu, sebagai Gereja rumah tangga, keluarga Kristiani diundang dengan tulus dan serius untuk menjadikan rosario sebagai doa bersama yang terutama di dalam keluarga. Melaluinya, keluarga-keluarga Kristiani akan mendapat kekuatan untuk mengarungi hidup di dunia yang tidak mudah.

Penutup: Nilai Teologis dan Pastoral Penghormatan kepada Santa Perawan

Sebagai penutup, Paus Paulus VI berusaha untuk menyimpulkan dan menggarisbawahi nilai teologis penghormatan kepada Maria, serta meringkas makna pastoralnya untuk mengingatkan pembaharuan ibadat Kristiani dalam semangat Konsili Vatikan II.

Paus Paulus VI menandaskan bahwa penghormatan kepada Santa Perawan Maria merupakan unsur intrinsik kebaktian Kristiani. Penghormatan yang ditujuan kepada Maria, sejak Elisabet memberi salam bahagia kepadanya (Luk 1”42-45) sampai pada ungkapan pujian dan permohona yang dilakukan oleh Gereja sejauh ini, merupakan kesaksian yang amat kuat terhadap lex orandi (norma doa Gereja) dan juga undangan untuk menjadi lebih sadar akan lex credendi (norma iman Gereja).

Penghormatan kepada Maria yang sedemikian besar itu berakar secara mendalam pada Sabda Allah yang diwahyukan dan mempunyai landasan dogmatis yang kuat: martabat luhur Maria sebagai Bunda Putra dan karenanya juga Puteri Bapa serta Kenisah Roh Kudus menjadikan Maria jauh lebih agung daripada makhluk manapun di dunia atau di surga. Penghormatan tersebut juga dilandasakan pada peran Maria dalam kerangka sejarah keselamatan yang dilaksanakan oleh Putranya; mengingatkan Gereja akan perutusan dan kedudukan istimewa Maria dalam umat Allah – ia adalah angota Gereja yang istimewa, teladan Gereja yang gemilang; menyadarkan Gereja akan kepengantaraan Maria yang tak kunjung henti dan efektif,  yang meskipun telah diangkat ke surga tapi ia tetap dekat dengan mereka yang memohon bantuannya.

Teladan kekudusan Santa Perawan Maria pada akhirnya memberanikan kaum beriman untuk menjadikan Maria sebagai model keutamaan. Keutamaan Maria adalah keutamaan yang injili: iman dan ketataan sepenuhnya terhadap Sabda Allah (Luk 1:26-28, 45; 11:27-29; Yoh 2:5); ketaatan yang murah hati (Luk 1:38); kerendahan hati yang sejati (Luk 1:48); kasih yang suka menolong (Luk 1:39-56); kebijaksanaan yang mendalam (Luk 1:29, 34; 2: 19; 33, 51); sikap hormat kepada Allah, yang terwujud dalam kerelaan memenuhi kewajiban religius (Luk 2;21; 41:22-40), dalam sikap syukur atas pemberian yang diterimanya (Luk 1;46-49), dalam mempersembahkan kurban di Kenisah (Luk 2:22-24); dalam berdoa di tengah jemaat para rasul (Kis 1;12-14); ketabahannya dalam pembuangan (Mat 2;13-23), dan dalam kedukaan (Mat 2;34-35; Yoh 19;25); kemiskinannya yang penuh martabat dan kepercayaannya pada Allah (Luk 1:48; 2:24); kehadirannya di tengah Putra sejak kelahiran di palungan sampai kehinaan di salib (Luk 2:1-7; Yoh 19:25-27); dan kemurnian keperawanannya (Mat 1:18-25; Luk 1;26-28). Dalam teladan keutamaan Bunda Maria tersebut, umat beriman diajak untuk merenungkann dan mewujudkannya dalam hidup sehari-hari.

Lebih jauh, diteguhkan oleh pengalaman selama beberapa abad, Gereja mengakui bantuan dahsyat dari penghormatan kepada Sang Perawan bagi umat beriman di jalan menuju kesempurnaan. Di dalam Kristus, Maria adalah manusia baru. Maria diberikan kepada kita sebagai jaminan dan kepastian bahwa di dalam diri seorang manusia, yakni Maria, rencana Allah dalam Kristus untuk keselamatan manusia seutuhnya telah tercapai.


Pustaka Utama:

Paulus VI, Paus. Marialis Cultus: Menghormati Maria, Anjuran Apostolik Paus Paulus VI, 2 Februari 1974, (terj: Piet Go, O.Carm). Jakarta: DokPen KWI, 2008.

Pustaka Pendamping:

Groenen, Dr. C., OFM. Mariologi: Teologi dan Devosi. Yogyakarta: Kanisius, 1994.

Kaha, Gregorius, SVD. Devosi dalam Gereja Katolik. Diambil dari http://yesaya.indocell.net/id388.htm, diakses tanggal 26 September 2011.

Rapat Pleno KWI 2011. Menemukan Kembali Spiritualitas Devosi. Diambil dari http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150277580997440, diakses tanggal 26 September 2011.


[1] Rapat Pleno KWI 2011, Menemukan Kembali Spiritualitas Devosi, diambil dari http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150277580997440, diakses tanggal 26 September 2011.

[2] Lih. Gregorius Kaha, SVD, Devosi dalam Gereja Katolik, diambil dari http://yesaya.indocell.net/id388.htm, diakses tanggal 26 September 2011.

[3] Uraian dalam sub bab ini diringkas dari Dr. C. Groenen, OFM, Mariologi: Teologi dan Devosi, Yogyakarta: Kanisius, 1994, hlm. 157-167.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s