Guru, Perbuatan Baik Apakah yang Harus Kuperbuat? (Mat 19:16). Pokok-pokok Ajaran dalam Ensiklik Veritatis Splendor Bab 1, Artikel 6-27


Veritatis Splendor bab 1, artikel 6-27, menyajikan sebuah renungan alkitabiah yang dengan lugas memperbincangkan dan menelaah hakikat moralitas Kristiani dalam struktur bangunan dasarnya. Kisah Injil yang menjadi sumber refleksinya adalah dialog antara seorang pemuda dengan Yesus (Mat 19:16-26). “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”, pertanyaan dari seorang pemuda pada Yesus sebagaimana yang dilansir dalam Injil Matius inilah yang menjadi titik tolak diskursus perbincangan ensiklik ini mengenai hakikat moralitas Kristiani.

Bagi seorang pemuda yang datang menemui Yesus, pertanyaan tentang praksis perbuatan baik apa yang harus diperbuat agar memperoleh hidup yang kekal tidak semata-mata diajukan demi perolehan sebuah jawaban yang informatif, melainkan sebuah pencarian mengenai hakikat terdalam dari perbuatan-perbuatan moral. Pertanyaan  tersebut merupakan pertanyaan hakiki dan tak terelakkan bagi hidup setiap orang, sebab pertanyaan itu menyangkut dua tema yang saling berkelindan dalam relung kesadaran pribadi manusia sebagai seorang beriman, yakni soal kebaikan moral apakah yang harus dilakukan dan soal kehidupan kekal.

Pertanyaan tentang “perbuatan baik apakah yang harus diberbuat untuk memperoleh hidup yang kekal” pada akhirnya hanya dapat ditemukan dengan mengarahkan pikiran dan hati kita kepada “Satu” yang baik. Lantas, siapakah “Satu” yang baik itu? Yesus memberi jawaban dengan tegas bahwa “Satu” yang baik itu adalahi Allah. Dialah Sang Kebaikan Mutlak; kepenuhan dari kebaikan; tujuan terakhir dari setiap tindakan moral manusia. Di dalam Allah, kebaikan mendapat gambarannya yang penuh dan utuh. Dalam Perjanjian Lama, kita bisa membaca bagaimana kebaikan Allah itu mengejawantah dalam kehidupan manusia. Meskipun manusia kerap jatuh dalam perbuatan dosa, Allah tetap menaruh kebaikan pada manusia dengan setia memberikan kasih-Nya yang melimpah. Dengan demikian, kehidupan moral atau perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia pada hakekatnya merupakan sebuah jawaban kasih yang sebelumnya telah diterima oleh manusia dari Allah.

Prinsip perbuatan baik itu sendiri telah ditanamkan oleh Allah dalam hati manusia. Allah menciptakan manusia dan melengkapinya dengan kebijaksanaan dan cintakasih kepada tujuan terakhirnya (yakni Allah sendiri) lewat hukum yang tertulis di dalam hatinya, yakni hukum kodrati. Hukum ini tak lain adalah cahaya pemahaman yang dimasukkan Allah ke dalam diri tiap manusia, di mana kita dapat mengetahui apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus dihindari.

Selain itu, dalam Perjanjian Lama, Allah juga mempromulgasikan apa yang baik dan buruk itu dalam dekalog (10 perintah) yang Ia berikan kepada Israel. Isi dari dekalog tersebut menggambarkan syarat dasar untuk mengasihi sesama, sekaligus juga merupakan bukti dari kasih manusia. Selanjutnya, dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus yang adalah pusat tata keselamatan, membawa perintah-perintah Allah menuju kepenuhannya. Ia memperdalam tuntutan untuk mengasihi sesama dan memberikan arti sepenuh-penuhnya. Dalam Yesus, perintah-perintah Allah tidaklah boleh hanya dipahami sebagai batas minimal yang tidak boleh dilalui oleh manusia, melainkan sebagai perjalanan menuju kesempurnaan dalam kehidupan moral.

Hidup Yesus sendiri menjadi teladan untuk mengejar kesempurnaan hidup moral. Mengikuti Kristus, dengan demikian, merupakan dasar yang hakiki dan awali dari moralitas Kristiani. Kenyataan ini tidak hanya menyangkut disposisi batin kita untuk mendengar dan melakukan ajaran-ajaran Yesus, tetapi juga secara radikal berpegang teguh pada pribadi Yesus sendiri, ikut ambil bagian dalam hidup-Nya. Dengan kata lain, mengikuti Yesus bukanlah sekadar meneladan secara lahiriah, melainkan menjadi serupa dengan Dia yang menjadi seorang hamba, bahkan sampai memberikan diri demi keselamatan orang lain. Sementara itu, meneladan dan menghayati Kristus secara penuh dan utuh tidak mungkin bagi kita jikalau kita hanya bersandarkan pada kekuatan diri sendiri, melainkan juga berharap pada rahmat Allah yang harus terus menerus kita mohonkan pada Allah. Dengan bantuan rahmat Allah itulah kita akan mampu mengejawantahkan keutaman moral Kristiani yang terbesar, yakni kasih, sebagaimana yang telah diteladankan oleh Yesus pada kita.

***

Veritatis Splendor bab 1, artikel 6-27, memberikan kepada kita sebuah pemahaman yang mendasar untuk mengerti hakikat dari perbuatan baik. Kebaikan yang kita lakukan bukanlah sebuah tindakan kosong, yang tidak bermakna, dan apa adanya. Selalu ada intensi dalam tindakan baik yang kita lakukan. Bagi orang beriman, intensi itu adalah perolehan hidup kekal. Maka, tepatlah yang ditanyakan oleh tokoh pemuda dalam kisah Injil Matius, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mat 19:16). Dari sini, kita bisa melihat adanya kesinambungan adanya praksis hidup yang jasmani (perbuatan-perbuatan kebaikan) dengan yang rohani (hidup kekal). Apa yang rohani selalu dibangun dengan apa yang jasmani, sebab sebagai seorang beriman, kita adalah makhluk yang mengada di bumi namun terarah ke surga.

Sementara itu, menarik untuk digagas bahwa kita tidak bisa memikirkan kebaikan tanpa ada satu Kebaikan Mutlak yang menjadi sumber dan tujuan dari tiap kebaikan. Dalam perspektif orang beriman, Kebaikan Mutlak itu adalah Allah. Hanya pada Allah lah, kita menemukan kepenuhan dari perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan. Di dalam Allah, kebaikan kita memiliki asal dan tujuan. Artinya, kita melakukan tindakan-tindakan moral yang disebut baik, pertama-tama, karena kita telah mengalami kebaikan yang dari Allah. Bahasa Injili untuk kebaikan Allah itu adalah kasih. Dan, pemenuhan kasih Allah pada manusia itu mewujud sempurna dalam pribadi Yesus Kristus, Sang Penyelamat manusia. Di dalam dan melalui Kristus itulah kita dimampukan untuk tahu apa yang baik dan kepada siapa akhirnya kita mengintensikan perbuatan-perbuatan baik yang kita usahakan.

Secara pribadi, ketika membaca teks enskilik ini, saya dimampukan untuk tidak sekadar melihat perbuatan-perbuatan moral hanya dalam tataran perifial-lahiriah semata, melainkan juga beranjak untuk masuk dalam tataran pemaknaan yang lebih dalam. Inti perbuatan moral adalah kasih. Kasih itu merupakan jawaban dari kasih yang diberikan oleh Allah pada kita. Kasih Allah mewujud secara sempurna di dalam Yesus. Pada Dialah saya, sebagai orang Kristiani, memiliki acuan yang niscaya untuk mengerti dan menghayati bagaimana kasih, yang adalah inti dari perbuatan moral, harus dikonkretkan secara penuh dan utuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s