Dan Allah pun Melihat Semuanya Sangat Baik Adanya


Setiap kisah memiliki sebuah awal. Awal adalah momentum historis yang memicu pergerakan alur. Ada kita di dunia (termasuk juga segala yang tercipta di dunia) pun memiliki awal. Dan awal itu bernama kisah penciptaan. Sebagai sebuah kisah, penciptaan tidak hanya memiliki arti historis, melainkan juga eksistensial bagi keberadaan segala yang tercipta, sebab melaluinya  kita mengetahui dari mana kita berasal dan bagaimana segala entitas-hidup yang ada bersama-sama dengan kita di dunia ini bermula. Karena itu, tuturan tentang kisah penciptaan adalah sesuatu yang nisbi, harus ada untuk menjadi penanda alur kehidupan yang telah berjalan sejauh ini.

Kitab Suci, khususnya dalam Kitab Kejadian 1-2, menyajikan kepada kita sebuah tuturan awali mengenai bagaimana kehidupan yang kita kenal ini tercipta dan bermula. Semuanya terangkum dalam kisah penciptaan. Sebagai sebuah buku iman, kisah awali yang dituturkan di sini, tidaklah berpretensi untuk memaparkan artikulasi-historis-kebermulaan dari segala yang tercipta, melainkan lebih mengurus soal refleksi iman atas hakikat dari fenomen-fenomen keberadaan manusia dan dunia: Darimana ciptaan ini berasal? Bagaimana hubungan antara Pencipta dan ciptaan? Apa intensi dari Sang Pencipta terhadap ciptaan? Dst. Tulisan sederhana di bawah ini tidak berpretensi untuk menelisik pertanyaan-pertanyaan tersebut secara mendetail dan ilmiah, melainkan membaca kisah penciptaan, khususnya dalam Kej 1:1-2:4a yang ditulis oleh Tradisi P, dalam konteks yang lebih bersifat rohani.

Tercipta dari Sabda

Kisah penciptaan dalam Kejadian bab 1 dimulai dengan narasi tentang keadaan bumi yang belum berbentuk dan kosong. Pada saat yang bersamaan, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Apa yang terjadi kemudian, sungguhlah amat menakjubkan. Bumi yang sedari semula berupa massa tak berbentuk, hari demi hari, sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti, dibentuk dan ditata oleh Allah, mulai dari terang pada hari, cakrawala, tetumbuhan, sampai binatang. Allah menciptakan semuanya baik adanya (Kej 1:10, 12, 18, 21, 25). Dan, Semuanya dicipta Allah dengan Sabda-Nya. Ya, dengan kekuatan Sabda Allah lah bumi akhirnya berbentuk dan ciptaan memiliki ruang untuk hidup. Ada penegasan tentang besarnya kuasa Allah di sini. Kuasa Allah mengatasi kekuatan-kekuatan dunia. Maka, tidak ada yang patut disembah di dunia ini selain Allah yang menciptakan dunia dengan kuasa Ilahi Sabda-Nya. Ciptaan bisa berganti, mati dan hidup, tetapi Allah, sebagai yang Empunya ciptaan, tidaklah berganti. Ia terus hidup dan hadir secara mengagumkan dalam ciptaan.

Pauline A. Viviano, dalam tafsirannya, mencatat bahwa kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian, secara literer, memiliki beberapa kesamaan dengan mite kuno tentang penciptaan yang berasal dari Babel, yakni Enuma Elish. Namun, yang menarik, Tradisi P yang diaku sebagai penulis kisah penciptaan ini, menafsirkan dan menuliskan kembali mite kuno tersebut untuk merefleksikan teologinya yang khas.[1] Sebuah teologi yang menandaskan kebesaran kuasa dan karya Allah serta pengejawantahan dan kehadiran-Nya dalam sejarah manusia sejak semula. Karena itu, tak salah bila pemazmur mengajak kita untuk menyerukan pujian pada Allah, Sang Pencipta: “Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta…Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit” (Mzm 148: 5, 13).

Lalu Rupa Mengada

Pembacaan terhadap kisah penciptaan dalam Kejadian bab 1 pada akhirnya menggiring kita pada sebuah momentum yang amat istimewa. Setelah menata dan menciptakan isi dunia, pada hari keenam, akhir dari proses penciptaan, Allah membentuk dan menciptakan manusia. Berbeda dengan tindakan Allah pada ciptaan yang lain, peristiwa penciptaan manusia dituturkan secara lebih terperinci dan lebih hidup. Menyitir tafsiran Viviano, dengan menaruh penciptaan manusia di bagian akhir proses penciptaan, pun pula dengan tindakan penciptaan yang berbeda dari ciptaan yang lain, penulis P ingin menyatakan bahwa manusia adalah puncak dari seluruh penciptaan.[2] Dalam kata yang lain, kita bisa menyebut bahwa penciptaan manusia adalah sebuah kepenuhan dari proses penciptaan. Setelah manusia diciptakan, tidak ada penciptaan yang lainnya lagi. Penciptaan telah paripurna, selesai. Dan setelahnya, Allah pun melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik adanya (Kej 1:31).

Keistimewaan penciptaan manusia, tidak hanya terletak pada kedudukannya sebagai puncak ciptaan, melainkan juga pada keluhurannya sebagai makhluk yang dicipta seturut gambar dan rupa Allah sendiri. Dari sini, kita bisa mencatat bahwa rupanya ada hubungan yang istimewa antara Allah dengan manusia, yang tidak terdapat dalam hubungan di antara ciptaan lain (binatang, misalnya) dengan Allah. Arie Jan Plaiser menulis bahwa kenyataan yang demikian istimewa ini menempatkan manusia sebagai “makhluk teologis”, artinya manusia tidak dapat dipahami lepas dari “Aslinya”, yakni Allah.[3] Dengan demikian, untuk mengetahui hakikat diri manusia, harus ada transendensi dalam diri manusia – mencari kesejatiannya dalam diri Allah. Maka, tak heran bila dalam tulisannya di buku Confessiones, Santo Agustinus berjuar, “Gelisah hatiku sebelum beristirahat di dalam Engkau, ya Allah”.

Penegasan bahwa manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, pada akhirnya membawa perenungan kita pada seruan pemazmur, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm 8:5). Term “apakah” adalah sebuah term yang biasa kita gunakan untuk mencari kejelasan dari pertanyaan-pertanyaan yang berkelindan di penjuru akal. Pemazmur menjadi wakil kita untuk bertanya “apakah manusia itu, sehingga Allah sudi untuk mengingat dan mengindahkannya?”. Pertanyaan ini menjadi amat konkret manakala dalam keseharian hidup kita, kita kerap melalaikan hakikat diri sebagai makhluk teologis yang berpaut pada Allah. Pelanggaran demi pelanggaran kerap kita lakukan. Dosa demi dosa kita tak henti-hentinya menjadi keputusan sadar yang kita buat. Lantas, mengapa Allah masih mengindahkan kita?! Inilah misteri kasih Allah pada manusia. Kasih-Nya sungguh tak terselami – lebih dalam dari samudera, lebih luas dari angkasa, lebih tinggi dari bintang di jagat raya. Karena itu, lepas dari persoalan kelemahan diri kita di hadapan Allah, pada akhirnya, bersama dengan pemazmur, mulut kita diajak untuk menyerukan madah iman ini: “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya…Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi” (Mzm 8:6, 7, 10).


[1] Pauline A. Viviano, Kejadian, dalam Dianne Bergant dan Robert J Karris (eds.), “Tafsir Alkitab Perjanjian Lama”, Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 34.

[2] Ibid., hlm. 35.

[3] Arie Jan Plaiser, Manusia, Gambar Allah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002, hlm. 22.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s