TAFSIRAN ESTER 5:1-8


Bagian I: Dialog Ester dan Raja [5:1-5]

[Ayat 1] Bagian ini dibuka dengan keterangan waktu pada hari yang ketiga. Selain berfungsi sebagai pembuka cerita, keterangan pada hari yang ketiga ini memiliki arti yang cukup penting untuk disimak, sebab biasanya peristiwa-peristiwa yang besar, penting, dan menentukan soal hidup dan mati terjadi pada hari yang ketiga ini (bdk. Kej 42:18; Kel 19:16;  Hak 20:30; 2Raj 20:5). Pada hari tersebut, Ester, keponakan Mordekhai, seorang keturunan Yahudi, yang telah diangkat menjadi ratu menggantikan ratu Wasti (bdk. Est 2:1-18), berdiri di pelataran dalam istana raja. Hal ini dilakukannya agar ia mendapat perhatian dari raja. Saat itu, raja sedang bersemayam di atas tahta kerajaannya, di dalam istana raja. Patut dicatat bahwa pelataran dalam istana raja merupakan tempat previlege bagi raja. Hukuman mati disediakan bagi mereka yang berada di pelataran dalam istana raja itu jika raja tidak berkenan memanggil (bdk. Est 4:11a). Oleh karena itu, tak heran bila Ester berusaha untuk tampil semenarik mungkin, yakni dengan mengenakan pakaian ratu. Besar harapan Ester agar raja tertarik saat melihatnya dan berkenan memanggilnya!

Lantas, mengapa Ester berhasrat untuk mendapat perhatian raja? Pertanyaan ini baru bisa dijawab bila kita merujuk pada teks sebelumnya. Berdasarkan teks sebelumnya, dapat kita ketahui bahwa Ester berniat untuk memohonkan sesuatu kepada raja berkenaan dengan nasib bangsanya (Yahudi!). Bangsanya sedang berada di ujung tanduk, sebab Haman, seorang petinggi istana, telah merencanakan untuk membantai seluruh orang Yahudi di kerajaan Ahasyweros, karena ia merasa telah dilecehkan oleh Mordekhai, seorang Yahudi, paman sekaligus pengasuh Ester (bdk. Est 3:2-4:17).

[Ayat 2] Usaha Ester rupanya berbuah hasil. Barangkali karena terpesona oleh kecantikan Ester (sebab Ester memang seorang yang elok perawakannya dan cantik parasnya! bdk. Est 2:7), raja berkenan kepadanya, ketika ia melihat Ester berdiri di pelataran. Dengan berkenan kepada Ester, maka raja menunjukkan kehendak hatinya untuk mau menanggapi atau merespons “isyarat” (tingkah laku) Ester (bdk. Est 2:17; 8:5; Dan 6:1). Raja lantas mengulurkan tongkat emas kepada Ester. Uluran tongkat emas tersebut merupakan sebuah tanda penerimaan raja kepada Ester. Dengan mengulurkan tongkat emas, raja juga menyatakan kuasa yang dimilikinya pada Ester (bdk. Est 4:11; 8:4). Berhadapan dengan raja yang memiliki kuasa serta kedudukan yang tinggi tersebut, maka cukuplah bila Ester kemudian hanya menyentuh ujung dari tongkat yang diulurkan raja kepadanya. Lagipula, dengan menyentuh ujung tongkat raja, Ester hanya berharap mendapat sedikit perhatian dari raja, sebab sedikit perhatian tersebut sudah cukup melegakan dan menggembirakan baginya (bdk. 1Sam: 14:43).

[Ayat 3] Masih di tempat yang sama, raja bertanya pada Ester perihal maksud dan keinginannya. Menarik untuk disimak bahwa kata “maksud”, “keinginan” (atau juga “permintaan”) digunakan dengan variasi kata yang beragam di dalam teks Ester, misalnya digunakan kata: niat, harapan, rencana, kehendak (serta pesan dan suruhan). Sementara itu, pada ayat-ayat yang menyusul kemudian dalam teks Ester 5:1-8 ini, kata-kata tersebut juga kerap disebut lagi, terlebih pada bagian II (Ayat 6-8). Melihat adanya variasi kata dan terlebih perulangan kata yang kerap terjadi, maka dapat kita simpulkan bahwa kata “maksud”, “keinginan” (atau juga “permintaan”) yang diutarakan oleh Ester menjadi tema sentral dalam cerita ini.

Lebih jauh, keterangan yang mengikuti pertanyaan raja tersebut, cukup menarik juga untuk diperhatikan: Sampai setengah kerajaan sekalipun akan diberikan kepadamu. Keterangan atau pernyataan ini rupanya menunjukkan kepada kita bahwa raja benar-benar tidak bisa melepaskan keterpesonaannya pada Ester. Raja benar-benar dibuat bertekuk lutut oleh Ester, sampai-sampai ia rela untuk menyerahkan setengah kerajaannya pada Ester, seandainya saat itu juga Ester bemaksud untuk meminta atau menginkan wilayah kekuasaannya.

[Ayat 4] Pertanyaan raja segera dijawab oleh Ester: Jikalau baik pada pemandangan raja, datanglah kiranya raja dengan Haman pada hari ini ke perjamuan yang diadakan oleh hamba bagi raja. Sungguh menarik jawaban yang diberikan oleh Ester. Pertama-tama, ia menyatakan jikalau baik pada pemandangan raja. Pernyataan ini mengungkapkan kerendahan hati Ester, yang walaupun dijanjikan setengah kerajaan milik raja, namun ia tetap menyerahkan sepenuhnya penilaian baik-buruk maksud dan keinginan yang akan ia utarakan kepada raja. Memang, biasanya penyataan semacam ini selalu ditempatkan dalam konteks permohonan yang diutarakan oleh seseorang kepada orang lain yang lebih tinggi kedudukannya, agar orang yang lebih tinggi kedudukannya tersebut menimbang-nimbang permohonan yang ditujukan kepadanya seturut dengan apa yang ia anggap baik (bdk. Est 1:19; 3:9; 7:3; 8:5). Jadi, jika raja menilai maksud dan keinginan yang akan diutarakan oleh Ester itu sebagai sesuatu yang baik, maka ia bisa memenuhinya. Dan begitu sebaliknya.

Permohonan Ester rupanya cukup sederhana. Ia hanya meminta agar raja bersama dengan Haman (seorang petinggi istana raja yang berencana untuk memusnahkan orang Yahudi di kerajaan Ahasyweros karena merasa telah dilecehkan oleh Mordekhai. Bdk Est 3:1-5) datang ke perjamuan yang ia adakan. Biasanya, perjamuan selalu diselenggarakan dengan intensi atau tujuan yang dianggap penting (bdk. Est 2:18; 9:22; Kej 21:8; 40:20; 2Sam 3:20). Maka, permintaan Ester tersebut sejatinya bukannya tanpa alasan. Jika kita membaca teks-teks  sesudahnya, maka kita akan mengerti alasan mengapa Ester mengadakan perjamuan tersebut. Lewat perjamuan tersebut, Ester rupanya hendak mengadukan perbuatan jahat Haman yang telah berencana untuk membunuh semua orang Yahudi di wliayah kerajaan Ahasyweros. Oleh karena itu, ia hendak memohon keselamatan bagi bangsanya  dan dirinya sendiri pada raja (bdk Est 7:1-6).

[Ayat 5] Selepas mendengar permohonan Ester tersebut, raja segera memberi titah (kepada bawahannya) agar memanggil Haman dan menyuruh dia untuk datang dengan segera menghadapnya, dan kemudian bersama-sama dengannya menghadiri perjamuan yang diadakan oleh Ester. Penting diingat bahwa dalam titahnya, raja memberi catatan agar Haman disuruh datang dengan segera. Catatan ini menunjukkan bahwa perintah tersebut amatlah mendesak(bdk. Yes 5:26; Kel 12:33; Bil 16:46). Maka, dengan memberi catatan tersebut, raja menghendaki agar Haman datang dengan cepat dan tidak membuang-buang waktu, supaya permintaan Ester bisa segera dipenuhi. Selanjutnya, kalimat Lalu raja datang dengan Haman ke perjamuan yang diadakan oleh Ester menjadi penutup cerita pada bagian I ini.

Bagian II: Permintaan dan Keinginan Ester [5:6-8]

[Ayat 6-8] Kata sambung sementara menjadi penghubung cerita antara bagian II ini dengan bagian sebelumnya.  Setting cerita pada bagian ini adalah di ruang perjamuan makan yang diadakan oleh Ester. Cerita pada bagian ini hampir seluruhnya diisi oleh dialog antara raja dengan Ester. Menarik bahwa isi cerita (dialog antara raja dengan Ester)  pada bagian ini sepenuhnya mengulang apa yang telah diceritakan pada bagian I (khususnya pada ayat 3 dan 4). Pertanyaan raja kepada Ester, pada ayat 6 bagian II  ini,  senada dengan ayat 3 bagian I. Sedangkan, jawaban Ester atas pertanyaan raja, pada ayat 7-8 bagian II ini, senada dengan ayat 4 bagian I.

Perulangan yang amat mencolok semacam ini tentunya bukan tanpa maksud. Jika kita mencermati secara lebih mendalam dialog antara raja dengan Ester pada bagian ini, maka kita akan menemukan bahwa kata “permintaan” dan “keinginan” kerapkali disebut. Setiap ayat pada bagian II ini selalu menyertakan kata “permintaan” dan “keinginan” di masing-masing kalimatnya. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa perihal permintaan dan keinginan menjadi tema sentral pada bagian ini. Jadi, permintaan dan keinginan Ester yang sempat diucapkan pada cerita bagian I ditegaskan, diperjelas, dan diperdalam di dalam cerita pada bagian II ini. Disamping kata “permintaan” dan “keinginan” tersebut, bagian II ini juga kerap diisi oleh perulangan kata “dikabulkan/mengabulkan” dan “dipenuhi/memenuhi”, khususnya pada ayat 6 dan 8. Kata-kata tersebut merujuk pada kesediaan raja untuk menyambut baik (mengabulkan dan memenuhi) permintaan dan keinginan Ester. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ada kesinambungan yang amat kuat dan mencolok antara permohonan yang diutarakan Ester dengan kehendak hati raja untuk mengabulkan dan memenuhi permohonan Ester tersebut.

Meskipun ada perulangan isi cerita di dalam bagian II ini dengan bagian sebelumnya, tapi dalam bagian II ini ada perluasan kalimat dialog yang diucapkan baik oleh raja maupun Ester. Ketika raja bertanya pada Ester perihal apa permintaannya, raja langsung menyambung dengan pernyataan niscaya akan dikabulkan. Selanjutnya, ketika raja bertanya kepada Ester perihal apa keinginannya, raja langsung menyambung dengan pernyataan sampai setengah kerajaan sekalipun akan diberikan kepadamu. Rupanya, pada bagian ini, keterpesonaan raja terhadap Ester semakin menjadi-jadi, sampai-sampai di setiap penggalan pertanyaannya pada Ester, ia menambahkan pernyataan perihal keseriusannya untuk mengabulkan apapun permohonan yang akan diajukan oleh Ester.

Jawaban yang diberikan Ester kepada raja juga diperluas kalimatnya. Permintaan dan keinginan hamba ialah: Jikalau hamba mendapat kasih raja, dan jikalau baik pada pemandangan raja mengabulkan permintaan serta memenuhi keinginan hamba, datang pulalah kiranya raja dengan Haman ke perjamuan yang akan hamba adakan bagi raja dan Haman; maka besok akan hamba lakukan yang dikehendaki raja. Menarik bahwa pada bagian II ini, dalam jawabannya, Ester pertama-tama mengungkapkan jikalau hamba mendapat kasih raja. Ungkapan semacam ini biasanya diserukan oleh orang yang statusnya lebih rendah kepada orang yang statusnya lebih tinggi (bdk. Est 7:3; 8:5; Kej 18:3; 33:15; 39:4; 47:25). Jadi, dengan pertama-tama menyerukan ungkapan tersebut, Ester meminta agar raja menaruh perhatian padanya. Jika raja telah menaruh perhatian padanya, permintaan dan keinginannya pun dapat segera terpenuhi. Disini, permintaan dan  keinginan Ester masih tetap sama, yakni agar raja bersama dengan Haman datang ke perjamuan yang ia adakan. Hanya saja, pada bagian ini, Ester meyampaikan kesediaannya untuk melakukan apapun yang dikehendaki oleh raja pada esok harinya, jika saat itu permintaan dan keinginannya dipenuhi raja. Pernyataan terakhir yang diucapkan oleh Ester ini patut kita cermati lebih mendalam. Bisa jadi, pernyataan tersebut ditambahkan oleh Ester agar raja semakin bersemangat untuk mengabulkan dan memenuhi permintaan serta keinginan Ester, mengingat arti pentingnya perjamuan tersebut bagi kepentingan Ester dan bangsanya (bdk. Est 7:1-6).

REFLEKSI TEOLOGIS

Perbandingan dengan Teks-Teks yang Sejajar

Dalam Perjanjian Lama, sekurang-kurangnya ada 3 teks lain yang sejajar dengan teks Ester 5:1-8. Teks yang pertama bisa ditemukan dalam tambahan Ester 7:1-10. Teks yang kedua adalah Kitab Ester bagian D. Sedangkan, teks yang ketiga terdapat dalam Kitab Yudit 10-11.

Dalam Ester 7:1-10, tokoh Ester, raja, dan Haman digambarkan telah berkumpul dalam sebuah perjamuan yang diadakan oleh Ester. Dalam suasana perjamuan itu, senada dengan cerita dalam Ester 5:1-8, raja mengajukan pertanyaan pada Ester perihal permintaan dan keinginannya. Bedanya, permintaan dan keinginan Ester terungkap jelas dalam teks Ester 7:1-10 ini. Apa yang sebenarnya diminta dan diinginkan Ester pada raja? Rupanya, Ester memohon agar raja berkenan untuk mengaruniakan nyawanya dan nyawa bangsanya. Mengapa? Sebab, ia dan orang-orang sebangsanya (Yahudi) yang berada dalam kerajaan Ahasyweros terancam punah karena bakal dibunuh dan dibinasakan. Lebih jauh, Ester menambahkan bahwa dalang dari kemalangan yang menimpa Ester dan orang-orang sebangsanya adalah Haman. Bagian akhir dari teks selanjutnya ini menceritakan bahwa Haman dihukum mati oleh raja karena perbuatan-perbuatannya tersebut.

Sementara itu, pergulatan hati Ester ketika harus menghadap raja yang tidak banyak terungkap dalam Ester 5:1-8 diceritakan dengan amat menarik dalam tambahan kitab ester bagian D. Dalam teks ini, diceritakan bahwa pada hari ketiga, setelah Ester selesai berdoa dan berdandan, ia berangkat untuk menghadap raja. Penampilannya saat itu amatlah memesona. Meski demikian, dalam hati, ia menanggung ketakutan yang luar biasa akan bayangan hukuman yang bakal ia terima karena kelancangannya menemui raja tanpa disuruh. Apa yang ia takutkan hampir saja terjadi, sebab, di atas tahta kerajaannya, raja menjadi murka  sesaat setelah mengetahui kehadiran Ester. Namun, berkat campur tangan Allah, raja yang tadinya murka  menjadi lembut hatinya tatkala ia menyadari bahwa Ester langsung tak sadarkan diri begitu melihat kemurkaan yang ia tampakkan sebelumnya.

Selanjutnya, cerita dalam Ester 5:1-8 juga terasa senada dengan cerita dalam Yudit 10-11. kedua cerita ini mengungkapkan pokok persoalan yang hampir sama, yakni soal keberanian seorang perempuan menghadap orang yang berkuasa demi sebuah maksud yang teramat penting (sebab menyangkut nyawa banyak orang!). Dalam teks Yudit 10-11, diceritakan bahwa Yudit, seorang janda di kota Betulia yang elok rupanya, menghadap Helofernes, panglima besar tentara Asyur, demi menyelamatkan orang-orang Betulia dari ancaman pendudukan tentara Asyur. Sama seperti Ester, Yudit pun mengalami kecemasan akan keselamatan nyawanya  tatkala memutuskan untuk menghadap Helofernes. Maka, sebelum menghadap Helofernes, ia terlebih dulu juga berdoa pada Allah dan kemudian berdandan dengan amat cantik, sehingga banyak orang terpesona dibuatnya. Terpesona oleh kecantikan, segera Helofernes menyatakan bahwa ia tidak akan membantai orang-orang yang berada di kota Betulia, jika mereka tidak menistakan dia.

Sementara itu, dalam Perjanjian Baru, kalimat pertanyaan raja pada Ester rupanya sejajar dengan kalimat yang diucapkan oleh Herodes dalam teks Markus 6:21-28. Diceritakan bahwa Herodes amat terpesona dengan tarian yang dibawakan oleh anak Herodias di dalam sebuah perjamuan di hadapan para pembesar, pemimpin, dan orang-orang terkemuka di Galilea. Kemudian, di hadapan mereka semua, Herodes bersumpah bahwa ia akan memenuhi permintaan yang diinginkan oleh anak Herodias itu, sekalipun itu setengah dari kerajaannya.

Dari perbandingan teks-teks diatas, dapat kita katakan bahwa cerita dalam Ester 5:1-8 hendak berbicara tentang keberanian dan pengorbanan seseorang untuk datang menghadap orang yang berkuasa demi keselamatan orang banyak. Ester memberanikan diri untuk datang mengadap raja demi memohon keselamatan atas nasib bangsanya yang sedang berada dalam ambang maut akibat ulah Haman. Tindakan Ester ini bukannya tanpa resiko, sebab ia dibayang-banyangi hukuman yang bakal ia terima atas kelancangannya menemui raja tanpa raja menghendaki. Ester meneguhkan hatinya dengan berdoa pada Allah. Kiranya, berkat campur tangan Allah, tindakan dan rencana Ester pun terwujud tanpa suatu halangan apapun. Berdasarkan keterangan tersebut, dapat kita tarik kesimpulan bahwa pokok teologis dari teks Ester 5:1-8 ini adalah campur tangan Allah dalam setiap usaha dan hidup manusia.

Makna Teks Ester 5:1-8 dalam Keseluruhan Kitab Ester

Telah disimpulkan bahwa pokok teologis dari teks Ester 5:1-8 ini adalah campur tangan Allah dalam setiap usaha dan hidup manusia. Namun, pokok teologis ini hanya bisa dilihat jika kita membaca teks Ester 5:1-8 dalam kaitannya dengan keseluruhan kitab Ester. Teks Ester 5:1-8 ini hanyalah episode kecil dari sebuah cerita yang besar, yakni tentang latar belakang Hari Raya Purim yang dirayakan oleh orang Yahudi. Hari Raya Purim merupakan perayaan pembebasan orang Yahudi dari ancaman kebinasaan akibat rencana jahat Haman, yang merasa bahwa harga dirinya telah diinjak-injak oleh Mordekhai, salah seorang dari bangsa Yahudi, karena ia tidak mau menghormatinya. Dalam situasi semacam itu, Ester tampil sebagai seorang pahlawan bagi orang Yahudi. Teks Ester 5:1-8 ini merupakan bagian awal dari kisah awal kepahlawanannya. Ester mengadukan perbuatan jahat Haman kepada raja. Pengaduan Ester membuat Haman dihukum mati oleh raja dan dengan demikian orang-orang Yahudi terbebaskan dari kebinasaan yang membayangi mereka.

Mengapa orang-orang Yahudi saat itu membutuhkan kisah semacam ini? Patut dicatat bahwa cerita ini menggambarkan pengalaman hidup orang-orang Yahudi yang berada di kerajaan Ahasyweros, yakni orang-orang Yahudi yang berada di perantauan. Barangkali cerita ini mau menggambarkan tentang penyertaan Allah terhadap orang-orang Yahudi, umat pilihanNya, meski mereka berada di “tanah asing.” Allah sejatinya tidak melupakan mereka. Sebaliknya, Allah memperhatikan hidup mereka dan ikut campur tangan untuk membebaskan mereka dari kesusahan hidup yang mereka alami di tempat perantauan. Campur tangan Allah ini dengan amat memikat ditampilkan dalam sosok Ester.

Lebih jauh, lewat cerita ini, orang-orang Yahudi barangkali juga hendak mengungkapkan kekuasaan serta kebesaran Allah yang jauh mengatasi kekuasan serta kebesaran setiap orang. Allah yang mereka sembah adalah Allah yang berkuasa, sehingga tak ada yang harus mereka takutkan berhadapan dengan kekuasaan seseorang yang dengan sewenang-wenang meindas mereka. Sebab, Allah akan menjadi pembebas mereka dan menghukum siapapun yang menjadi lawan mereka.

Pesan Teks

Teks Ester 5:1-8 ini pertama-tama berbicara tentang tindak kepahlawanan Ester yang memberanikan diri untuk menghadap raja demi menyelamatkan bangsanya. Namun, usaha penyelamatan ini bukannya tanpa resiko. Ia menangung kecemasan akan hukuman yang bakal ia terima karena telah berani untuk menghadap raja di pelataran dalam istananya tanpa disuruh. Untungnya kecemasan ini tidak lantas menghentikan niat Ester untuk menghadap raja. Ia mengabaikan keselamatan nyawanya sendiri demi menyelamatkan nyawa orang-orang sebangsanya. Ia rela untuk mengorbankan dirinya demi keselamatan banyak orang!

Tindakan Ester tersebut mengingatkan kita akan pengorbanan diri Yesus yang rela mati di kayu salib demi menebus dosa-dosa manusia. Bagi Yesus, keselamatan tiap orang jauh lebih berharga dari pada keselamatan nyawaNya sendiri. Semuanya dilakukan oleh Yesus karena kasihNya yang besar pada manusia. Ia sendiri menyatakan bahwa “tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

Selanjutnya, dalam cerita ini kita bisa menemukan gambaran tentang Allah sebagai sosok penolong dan penghibur orang yang berkesusahan. Gambaran Allah yang semacam ini menjadi nyata dalam pergulatan hati Ester berhadapan dengan nasib bangsanya dan nasibnya sendiri. Di satu sisi, ia memang harus menghadap raja untuk menyelamatkan orang-orang sebangsanya, tapi di sisi lain ia cemas akan hukuman yang mungkin saja ia terima seandainya raja tidak bersedia menerima kehadirannya di pelataran dalam istananya. Dalam situasi dilematis semacam ini, Ester hanya bisa berharap pada Tuhan. Selama tiga hari lamanya, Ester bersama dengan orang-orang sebangsanya, tak henti untuk berdoa dan berpuasa agar Allah berkenan untuk meneguhkan hatinya dan memuluskan rencana/niatnya.

Menarik bahwa di taman Getsmani, menjelang penyalibanNya, Yesus pun berdoa pada BapaNya di Surga agar Ia sudi untuk meringankan beban hatiNya. Senada dengan hal ini, Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi menulis “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6).

Kemurahan hati yang ditunjukkan oleh raja kepada Ester juga patut untuk kita refleksikan lebih jauh. Dalam kemurahan hatinya, raja menerima kehadiran Ester dengan tangan terbuka, bahkan ia juga menjanjikan setengah kerajaannya seandainya Ester menginginkannya. Berkat kemurahan hati raja tersebut, Ester pun dengan leluasa menyampaikan permintaan dan keinginan yang ada di dalam hatinya.

Kemurahan hati raja ini tentunya menyadarkan kita akan besarnya kemurahan hati Allah. Apapun yang baik yang kita minta pada Allah pastinya akan dikabulkanNya. Yesus sendiri telah berucap “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (Mat 7:7-8).

Pembacaan Feminis

Pembacaan feminis memaksa kita untuk mendekonstruksi pola pikir kita terhadap perempuan yang biasannya kerap disingkirkan, disepelekan, atau bahkan dilecehkan, karena dianggap lemah dan tak berdaya. Melalui pembacan feminis, teks-teks Kitab Suci tidak lagi dilihat dan dibaca hanya dari sudut pandang lelaki saja, melainkan juga dari sudut pandang perempuan. Allah, dengan demikian, tidak lagi hanya dipandang sebagai sosok yang “berjenis kelamin laki-laki” sebagiama yang terkonstruksi dalam budaya patriarkal, tapi Ia juga “berjenis kelamin perempuan.” Artinya, sebagai sosok yang “berjenis kelamin perempuan”, Allah hadir dengan pesan-pesan yang dekat dengan dunia perempuan. Ia meninggikan martabat perempuan dalam setiap pesan yang ia sampaikan dalam Kitab Suci.

Lantas, apa yang bisa kita katakan jika kita hendak membaca teks Ester 5:1-8 ini dari sudut pandang feminis? Dalam teks ini tokoh utama yang ditampilkan adalah Ester, seorang perempuan keturunan Yahudi. Kenyataan ini amatlah menarik, sebab dalam budaya patriarkal masyarakat Yahudi, seorang perempuan jarang diberi tempat untuk menampilkan dirinya. Namun apa yang terjadi justru sebaliknya, sosok Ester tampil dominan dalam teks ini dan teks-teks sesudahanya. Ester tampil sebagai seorang pahlawan yang membebaskan orang-orang Yahudi dari ancaman kebinasaan yang diakibatkan oleh Haman. Dengan amat cerdas, Ester memanfatakan kecantikan yang ia miliki untuk menarik perhatian raja untuk memenuhi permohonannya dan kemudian “menyeret” Haman ke tiang gantungan.

Melihat sepak terjang Ester yang demikian, dapat kita simpulkan bahwa karya keselamatan Allah bagi umatnya tidak melulu dikerjakan oleh kaum lelaki saja. Allah menetapkan Ester untuk menjadi tokoh pengubah sejarah. Berkat tindakannya yang mengagumkan, orang-orang Yahudi yang berada di kerajaan Ahasyweros bisa terus menorehkan kisah hidup mereka masing-masing.

Dalam ruang lingkup Indonesia, menurut saya, perempuan tangguh seperti Ester ini secara amat mencolok hadir dalam diri Marsinah. Ia adalah simbol perjuangan kaum buruh melawan para pemilik pabrik yang dengan seenaknya mengabaikan dan bahkan merampas hak-hak pekerjanya. Meski akhir hidupnya amat tragis, namun Marsinah telah mengorbarkan semangat untuk terus vokal dan berjuang melawan setiap sistem kebijakan ketenagakerjaan yang menindas buruh. Perempuan lain yang patut juga disebut adalah Butet Manurung. Butet Manurung menampilkan tindakan yang luar biasa dengan masuk ke pedalaman Kalimantan dan mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan anak-anak di pedalaman kalimantan tersebut. Marsinah, Butet Manurung, dan perempuan-perempuan lain di negeri ini adalah para penggerak sejarah dalam konteks hidup dan bidangnya masing-masing. Sebagai seorang perempuan, mereka tidak mempersoalkan status “ke-perempuan-an” mereka sebagai sesuatu yang menghalangi mereka untuk bertindak lebih banyak demi keselamatan/kesejahteraan/kebahagiaan banyak orang di sekitar mereka.

EKSKURSUS

Susunan Kitab Ester

Kitab Ester kiranya dapat dibagi dalam 4 bagian. Bagian I adalah Ester 1-2. bagian II adalah Ester 3-4. Bagian III adalah Ester 5-7. Dan, bagian III adalah Ester 8-10.

Bagian I. Ester 1-2 à Ester mengganti kedudukan Ratu Wasti

Bagian ini merupakan pembuka cerita dalam kitab Ester. Bagian ini diawali dengan keterangan waktu: “Pada zaman Ahasyweros.” Kiranya, keterangan ini menunjukkan bahwa kisah-kisah yang akan ditampilkan dalam kitab Ester (hanya) berlangsung pada zaman pemerintahan raja Ahasyweros.

Gagasan dasar yang menyatukan bab 1 dan 2 adalah pencopotan Wati sebagai ratu dan pengangkatan Ester menjadi ratu menggantikan Wasti. Latar belakang mengapa Wasti sampai dicopot kedudukannya sebagai ratu diceritakan pada bab 1. Sedangkan, proses pengangkatan Ester menjadi ratu menggantikan Wasti diceritakan pada bab 2. Pada bab 2  ini, tokoh Ester dan Mordekhai disebut untuk pertama kalinya. Sementara itu, menarik bahwa pada akhir bab 2 ‘disisipi’ cerita mengenai tindak kepahlawanan Mordekhai (2:19-23). Nampaknya, kisah mengenai Mordekhai ini disisipkan untuk menyiapkan gagasan tentang arti penting sosok Mordekhai dalam kisah –kisah berikutnya.

Tokoh-tokoh yang banyak memainkan peran dalam bagian ini adalah raja (Ahasyweros), Wasti, Ester, dan Mordekahi. Namun, dari keempat tokoh tersebut, tokoh raja menduduki tempat yang dominan. Namanya dicantumkan sebagai subjek dalam kalimat atau anak kalimat sebanyak 18 kali. Menyusul kemudian Ester (12 kali), Mordekhi (8 kali), dan Wasti (7 kali).

Bagian II. Ester 3-4 à Niat jahat Haman dan Usaha Mordekhai

Frasa “Sesudah peristiwa-peristiwa ini” menjadi penghubung antara bagian kedua ini dengan bagian sebelumnya. Pada bagian ini, tokoh Haman muncul untuk pertama kalinya. Disamping nama Haman, muncul juga nama Mordekahi, Ester, dan raja (Ahasyweros). Diantara tokoh-tokoh tersebut, Mordekhai disebut secara dominan. Sebanyak 8 kali namanya ditempatkan sebagai subjek kalimat atau anak kalimat dalam bagian ini. Menyusul kemudian Haman dan Ester (6 kali), serta raja (3 kali).

Gagasan dasar yang menyatukan kedua bab ini adalah niat jahat Haman yang berencana untuk memusnahkan orang Yahudi di wilayah kerajaan Ahayweros dan reaksi Mordekhai atas rencana tersebut serta serta usaha yang ia lakukan untuk menyelamatkan bangsanya dari bahaya pemusnahan. Latar belakang niat Haman untuk memusnahkan orang Yahudi dijabarkan pada bab 3. Sedangkan, reaksi serta usaha Mordekhai untuk menyelamatkan bangsanya dijabarkan pada bab 4. kesatuan antara bab 3 dan bab 4 juga bisa dilihat dari adanya beberapa pengulangan gagasan. Misalnya, soal perak yang ditimbang untuk perbendaharaan raja sebagai harga pembinasaan orang Yahudi (13:9 dan 4:7), juga soal salinan undang-undang yang dikeluarkan di Susan untuk memusnahkan orang Yahudi (3:12-13 dan 4:8).

Bagian III. Ester 5-7 à Usaha Ester untuk menyelamatkan orang Yahudi

Bagian ini dibuka dengan keterangan “Pada hari yang ketiga.” Keterangan ini menjadi pembuka kisah mengenai usaha penyelamatan yang dilakukan Ester guna menyelamatkan orang-orang Yahudi. Secara khusus, usaha penyelamatan Ester ini diceritakan pada bab 5:1-8 dan bab 7. Pada bab 5:1-8, Ester memberanikan diri untuk menghadap raja, lantas memintanya untuk datang ke perjamuan bersama dengan Haman yang ia adakan. Maksud Ester mengadakan perjamuan ini baru terungkap pada bab 7, dimana ia mengadukan niat jahat Haman pada raja. Dengan demikian, kiranya dapat dikatakan bahwa kata “perjamuan” menjadi penyatu bagian ini. Pada bagian ini, kata perjamuan disebut sebanyak 7 kali (5:4, 5, 8, 12, 14; 6:14; 7:1).

Sementara, bab 5:9-14 dan bab 6 dapat dikatakan sebagai sisipan peristiwa yang terjadi dalam selang waktu antara rencana perjamuan yang diadakan oleh Ester pada bab 6 dengan pelaksanaan perjamuan itu pada bab 7. Keduanya juga bisa dikatakan sebagai keterangan penjelas atas persitiwa yang telah diungkapkan pada bab-bab sebelumnya. Bab 5:1-7 kiranya menerangkan lebih jauh kemarahan Haman atas tindakan ‘pelecehan’ yang dilakukan oleh Mordekhai kepadanya. Sedangkan, bab 6 kiranya menerangkan lebih lanjut mengenai buah/ganjaran yang diperoleh Mordekhai atas  tindak kepahlawanannya dalam bab 2:19-23.

Tokoh yang dominan menempati subjek dalam kalimat atau anak kalimat pada bagian ini adalah Raja (Ahasyweros). Ia disebut sebanyak 21 kali. Menyusul kemudian, Haman (20 kali), Ester (12 kali), dan Mordekhai (3 kali).

Bagian IV. Ester 8-9 à Kemenangan orang Yahudi

Bagian ini berkisah tentang keberhasilan usaha Ester (dan Mordekhai) dalam menyelamatkan orang Yahudi, dan tindakan serta euforia orang Yahudi dalam merayakan pembebasan mereka dari usaha pemusnahan yang dilancarkan Haman. Tokoh yang dominan pada bagian ini adalah orang Yahudi. Mereka disebut sebagai subjek dalam kalimat atau anak kalimat sebanyak 17 kali. Menyusul kemudian, raja (9 kali), Ester (8 kali), Mordekhai (7 kali), dan Haman (3 kali).

Keberhasilan usaha ester diceritakan dalam bab 8. Pada bab ini, Ester berhasil mendapat kuasa dari raja Ahasyweros untuk menetapkan surat titah yang bisa menyelamatkan nyawa orang Yahudi. Bab 9 berkisah tentang tindak lanjut orang Yahudi atas surat titah tersebut. Dalam bab ini, diceritakan tentang bagaiamana orang Yahudi membantai semua orang yang dulu pernah memusuhinya, serta penetapan hari raya Purim sebagai peringatan sukacita lolosnya orang Yahudi dari bahaya maut yang mengancam mereka. Sementara, bab 10 berkisah tentang kebesaran yang diterima oleh Mordekhai atas jasanya dalam usaha untuk menyelamatkan orang Yahudi.

Apakah Bab 9 dan 10 merupakan Sebuah Tambahan?

Bab 9 dan 10 kiranya dapat disebut sebagai tambahan. Ada beberapa alasan yang dapat menguatkan pernyataan ini:

  1. Kisah dalam Ester 1-8 nampaknya telah berakhir dengan kalimat “Demikian juga di tiap-tiap daerah dan di tiap-tiap kota, di tempat manapun titah dan undang-undang raja telah sampai, ada sukacita dan kegirangan di antara orang Yahudi, dan perjamuan serta hari gembira; dan lagi banyak dari antara rakyat negeri itu masuk Yahudi, karena mereka ditimpa ketakutan kepada orang Yahudi” (8:7). Kalimat ini menjadi semacam kesimpulan dari cerita-cerita sebelumnya. Dengan kalimat ini, penulis kiranya hendak mengungkapkan bahwa niat jahat yang dilancarkan oleh Haman pada orang Yahudi di wilayah kerajaan Ahasyweros pada akhirnya menuai kegagalan, sebab atas usaha Ester (dan Mordekhai) orang Yahudi bisa terbebas dari tragedi pemusnahan yang membayangi mereka.
  2. Keterangan waktu yang teramat panjang yang dipakai dalam bab 9 nampak sejajar dengan keterangan waktu yang dipakai dalam bab 1 sebagai pembuka sebuah cerita. Dengan demikian, bab 9 (dan bab 10) ini menawarkan sebuah ‘cerita yang baru.’
  3. Terjadi perubahan subjek dominan yang amat mencolok pada kedua bab ini bila dibanding dengan bab-bab sebelumnya. Bab 9, misalnya, sejak permulaan menampilkan orang Yahudi sebagai subjek cerita. Dalam bab ini, sebanyak 16 kali orang Yahudi ditempatkan ditempatkan subjek yang dominan dalam kalimat ataupun anak kalimat yang ada. Sedangkan, raja dan Ester yang biasanya menampati subjek dominan ‘cuma’ disebut sebanyak 4 kali (raja) dan 2 kali (Ester). Sementara, dalam bab 10, hanya ada 2 tokoh yang ditempatkan sebagai subjek cerita, yakni raja dan Mordekhai. Raja hanya disebut sebanyak satu kali, sedangkan Mordekhai menjadi subjek yang dominan karena disebut sebanyak 3 kali.
  4. Adanya perubahan subjek yang dominan tersebut jelas mempunyai maksud tersendiri. Bab 9 yang dengan panjang lebar menggambarkan kisah pembalasan yang dilakukan oleh orang Yahudi terhadap musuh-musuhnya barangkali menjadi latar belakang diadakannya perayaan Purim yang ditetapkan oleh Mordekhai, sebagai sebuah hari raya sukacita untuk mengenangkan  kemenangan atau pembebasan orang Yahudi atas mereka yang berniat memusnahkan orang Yahudi. Sementara, bab 10 barangkali ditulis untuk mentokohkan Mordekhai sebagai pahlawan orang Yahudi. Menarik bahwa peran Ester dalam usaha penyelamatan orang Yahudi tidak banyak disebut di sini. Padahal dalam Ester 1-8, peran Ester, dibanding dengan Mordekhai, terasa amat penting  dalam penyelamatan orang Yahudi, sebab dialah yang maju menghadap raja guna memohonkan keselamatan bangsanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s