TUHAN, MANUSIA, DAN EKSISTENSI DALAM PERBINCANGAN SARTREAN (RESEPSI FILOSOFIS ATAS TULISAN EKSISTENSIALISM IS A HUMANISM KARYA JEAN-PAUL SARTRE)


Kuseru saja Dia

Sehingga datang juga

Kami pun bermuka-muka

Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada.

Segala daya memadamkannya

Bersimpuh peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang

Gelanggang kami berperang

Binasa-membinasa

Satu menista lain gila.

[Chairil Anwar, Di Mesjid, 29 Mei 1943][1]

Sajak di atas dikutip bukan tanpa alasan. Dalam sajak tersebut, subjek (a)ku (Chairil?!) mewakili disposisi batin tiap orang tatkala bertem(p)u(r) dengan realitas transenden yang terepresentasi dalam subjek Dia (Tuhan). Bagi subjek a(ku), pertemuan itu sekaligus juga menjadi saat pertempuran dengan subjek Dia. Pertemuan itu bukan sekadar perjumpaan banal diantara dua subjek yang saling merindu, melainkan saat dimana genderang perang mulai ditabuh. Maka, jadilah kedua subjek yang bersemuka itu saling beradu untuk binasa-membinasakan: tak jelas karena apa, barangkali demi sebuah penegakan keniscayaan eksistensi diri; tak juga begitu jelas siapa yang akhirnya menang dan kalah dalam pertempuran itu, yang pasti dalam sajak ini nampak sekali kelihatan bahwa subjek (a)ku kewalahan untuk bisa menundukkan subjek Dia.

Akhir dari pertempuran antara manusia dengan Tuhan digagas secara berbeda oleh Sartre. Baginya, kemenangan mutlak ada di tangan manusia. Jadi, tak terdengar lagi kewalahan sebagaimana yang dialami oleh subjek a(ku) dalam sajak Di Mesjid, yang ada hanya luapan kegembiraan manusia lantaran lepas dari bayang-bayang keberadaan Tuhan. Tuhan telah tiada, sekarang manusia tak bisa lagi diperkuda. Manusia kini merdeka untuk menegakkan eksistensinya tanpa harus takluk pada segala konsepsi ilahi yang termaktub dalam apa yang disebut sebagai kodrat manusia tercipta. Gagasan Sartre ini bisa kita baca dalam tulisannya yang berjudul Existensialism is Humanism. Dalam tulisan ini, Sartre memang menegaskan identitasnya sebagai seorang eksistensialis-ateis. Penegasan tersebut setidaknya mengatakan dua hal pada kita: (1) kesungguhan proyek Sartre untuk memperjuangkan keniscayaan eksistensi manusia yang mendahului dan bahkan melampaui essensinya; (2) konsekuensinya, ia menolak adanya realitas transenden (Tuhan) yang lazim diyakini sebagai penentu cara hidup manusia.

Berangkat dari buah penanya tersebut, penulis akan mencoba untuk mengurai proyek dan konsekuensi logis yang diambil Sartre dalam menegakkan keniscayaan eksistensi manusia. Secara khusus, penulis beritensi untuk menjawab pertanyaan berikut: “Apa yang mendasari eksistensi manusia? Bilamana eksistensi manusia itu merdeka? Mengapa Tuhan perlu dimatikan dalam perolehan kemerdekaan eksistensi manusia?” Sebagai sebuah resepsi filosofis, maka tulisan Existensialism is Humanism akan menjadi sumber dialog yang pertama dan utama dalam paper kecil ini.[2]

Titik tolak perbincangan: Atau Tuhan atau manusia

Eksistensi mendahului essensi. Itulah tesis dasar Sartre. Tesis ini merupakan pembalikan yang amat tajam dari tradisi filsafat Barat yang bergulir sejak periode Plato.[3] Dalam tradisi filsafat Barat, pertanyaan tentang siapakah manusia mendapat jawaban dari lansiran-lansiran mengenai apa yang disandang oleh manusia sedari kodratnya: kita menyebutnya secara beragam, entah itu akal budi, martabat diri, atau citra Allah. Kodrat itu-lah yang menjadi pendefinisi essensi diri manusia. Dan, kodrat tersebut tak lain adalah konsepsi yang dimakzulkan Tuhan pada tiap pribadi manusia; yang memaksa manusia untuk mengabstraksi dirinya dalam satu konsep universal dan tunggal.

Sementara, bagi Sartre, pertanyaan tentang siapa itu manusia menyiratkan jawaban yang fragmentaris dan tak berkesudahan. Disebut fragmentaris, sebab kini tidak satu konsepsi pun yang bisa mendefinisikan manusia. Essensi manusia didapat manakala ia bereksistensi. Disebut tak berkesudahan, sebab pengaktualan eksistensi merupakan opus magna bagi manusia dalam dunia-hidup-kesehariannya, melibatkan keseluruhan pilihan-pilihan hidupnya, kemungkinanya, penolakannya, keinginan-keinginannya, dsb. Pendek kata, manusia adalah dia-yang-ingin-menjadi. Essensinya bergantung secara mutlak pada proses ke-menjadi-an tersebut. Selain membalik tradisi filsafat barat, dengan gagasan semacam itu, Sartre pun tak pelak mengambil jalur ateisme sebagai pilihan cara beradanya.

Dalam presumsi Sartre, jika Tuhan ada, maka manusia akan membawa beban kodrat dalam hidupnya. Eksistensinya dideterminasi oleh essensi. Maka, cara seseorang untuk mendefinisikan dirinya sendiri pun tak bisa lain kecuali merujuk pada konsepsi yang telah dicipta Tuhan bagi tiap manusia. Konsepsi itu seolah menjadi buku pegangan bagi manusia dalam caranya mewujudkan diri di dalam dunia. Sebaliknya, jika Tuhan tidak ada, maka tidak ada kodrat asali, tidak ada konsepsi yang membatasi atau mengatur cara mengada manusia dalam dunia. Essensinya dibentuk oleh eksistensi. Dengan demikian, manusia bebas untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Ia merdeka untuk mengaktualkan pilihan, keputusan, mimpi, gagasan, dan/atau kemungkinan-kemungkinannya, tanpa harus terlebih dulu melirik pada sederet manuale ketetapan-ketetapan ilahi. Dalang dari kehidupan manusia, dengan demikian, adalah manusia itu sendiri, bukan Tuhan. Maka tepatlah apa yang dikatakan oleh Sartre, “Manusia bukan sesuatu yang lain kecuali bahwa ia menciptakan dirinya sendiri.” Inilah prinsip dasar eksistensialisme.

Karena alasan itu, Sarte kemudian juga memberi penegasan soal keistimewaan martabat manusia. Menurutnya, dibanding dengan entitas materi lain yang ada di dunia ini, manusia memiliki martabat yang jauh lebih luhur sifatnya. Term “keluhuran martabat” yang dimaksud di sini bukan keluhuran sebagaimana yang lazim dimaksud dalam tradisi filsafat dan agama samawi, melainkan merujuk pada cara mengadanya yang unik. Pada materi non-manusia, keberadaannya pertama-tama ditentukan oleh essensinya, yakni maksud dan tujuan dari pembuatnya. Sebuah MP3, misalnya, pertama-tama hadir untuk memenuhi kehendak si penciptanya, yakni sebagai alat pemutar musik, tidak yang lain. Keberadaanya, dengan demikian, sudah terkonsepsikan sedari awal. Pada manusia, berlaku hal yang sebaliknya. Ia bereksistensi dulu baru kemudian menemukan essensinya. Essensinya baru ia temukan ketika ia sudah berada dalam tahap akhir dari perjalanan mengadanya di dunia (=mati). Totalitas tindakan, sikap, dan pikiran yang ia perbuat sepanjang hidupnya itulah yang akhirnya membentuk essensinya.

Menegaskan dan merayakan kebebasan

Kebebasan adalah term kunci yang mendasari tesis dasar Sartre. Rigorisitas eksistensi yang mendahuli essensi hanya bisa dipikirkan manakala kebebasan ada pada manusia. Secara tegas, Sartre bahkan berkata bahwa manusia adalah kebebasan. Rumusan ini memang cukup ekstrim. Tidak cukup dikatakan bahwa manusia memiliki kehendak bebas atau kebebasan merupakan sifat hakiki dari manusia. Harus dikatakan bahwa manusia adalah kebebasan. Manusia tidak lain daripada kebebasan itu sendiri.[4] Paham kebebasan inilah yang secara rigid menjadi alasan Sartre untuk menolak adanya Tuhan. Jika Tuhan ada, maka manusia tidak lagi bebas, sebab cara mengadanya akan ditentukan oleh aneka nilai dan aturan yang ditetapkan Tuhan (lewat Kitab Suci, misalnya). Aneka nilai dan aturan itu menjadi legitimasi mutlak dalam cara manusia menentukan hidupnya dan caranya mengalami dunia. Dengan demikian, lantaran adanya Tuhan itu bertolak belakang dengan adanya kebebasan manusia, konsep keberadaan Tuhan mesti ditiadakan dalam akal budi manusia.

Yang menjadi pertanyaan sekarang: jika Tuhan tidak ada, maka adakah lagi ukuran moral yang harus diikuti oleh manusia? Menyitir tulisan yang dibuat oleh Vincent Martin, Sartre menegaskan bahwa karena Tuhan tidak ada, maka tidak ada hukum mengenai moralitas, tidak ada norma-norma yang objektif.[5] Pribadi manusia yang bersangkutan-lah yang menjadi juri moralitas tertinggi. Dengan kata lain, dalam kebebasannya, manusia sekaligus juga bertindak sebagai seorang penemu nilai bagi hidupnya sendiri. Nilai-nilai yang ia temukan dan ia gengam adalah nilai yang lahir dari cara beradanya sebagai seorang yang eksisten, yang mengalami dunia dengan kesadaran persoanal yang penuh, otentik, dan bebas.

Sekalipun demikian, manusia tidak serta merta bebas untuk bertindak semaunya. Menurut Sartre, kebebasan manusia adalah kebebasan yang bertanggung-jawab. Tanggung-jawab adalah emblem yang lahir dari pilihan bebas manusia. Term “tanggung-jawab” di sini tidak sekadar merujuk pada individualitas manusia, melainkan juga pada sosialitas manusia secara keseluruhan. Artinya, dalam kebebasannya, manusia juga bertanggung-jawab atas semua orang. Untuk menjelaskan hal ini, Sartre berpijak pada presumsi bahwa apa yang selalu dipilih oleh manusia adalah apa yang baik, dan tidak ada sesuatu pun yang baik kecuali kalau hal itu baik juga untuk semua orang. Guna melicinkan pemahaman ini, mari kita simak contoh yang diberikan oleh Sartre: “ketika saya memutuskan untuk menikah dan memiliki anak, bahkan kalau pernikahan itu sepenuhnya bergantung dari hasrat dan keinginan pribadi saya, maka dengan itu saya tidak hanya berikrar memenuhi keputusan pribadi saya semata, melainkan juga umat manusia secara keseluruhan, yakni dengan mempraktekkan pernikahan monogami.” Jadi, tatkala mempraktekkan kebebasannya, tanggung-jawab yang dipikul oleh manusia jauh lebih besar daripada yang dapat ia andaikan, sebab manusia mengemban kewajiban untuk memutuskan apa yang baik bagi keseluruhan komunitas dunia-kehidupannya.

Lebih jauh, paham kebebasan yang dicanangkan oleh Sartre tersebut berhubungan erat dengan pembedaan yang ia lakukan terhadap dua tipe eksistensi/cara berada, yakni: etre-en-soi (being-in-itself) dan etre-pour-soi (being-for-itself).[6] Etre-en-soi (Ind : ada-pada-dirinya) adalah apa yang ada begitu saja. Tipe eksistensi ini dimiliki oleh benda-benda yang tak berkesadaran, dan karenanya tidak memiliki kemungkinan untuk bergerak ke arah “menjadi”. Eksistensi jenis ini adalah eksistensi yang mandeg, padat, tanpa celah, objektif, dan identik dengan dirinya sendiri. Sedangkan, etre-pour-soi (Ind: ada-bagi-dirinya) adalah tipe eksistensi yang dimiliki secara khas oleh manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran. Kesadaran manusia tidak pernah identik dengan dirinya sendiri, sebab manusia selalu dapat mengatakan “tidak”.[7] Kemungkinan untuk menidak inilah yang menstrukturir kebebasan manusia. Maka sebagai etre-pour-soi, manusia bebas untuk memilih yang satu dan menolak yang lain.

Dengan kebebasan untuk menidak, manusia pun memiliki kapasitas untuk melangkah ke arah “menjadi”. Dalam ke-menjadi-annya, essensi manusia berada dalam domain yang bersifat dinamis. Essensinya bergantung dari bagaimana ia menggarap eksistensinya untuk menjadi apa yang ia inginkan. Dengan kata lain, karena manusia bebas, maka ia tidak dapat dikategorikan sebagai yang begini atau begitu. Ia sama sekali bebas, sama sekali tidak terdeterminasi. Dengan demikian, manusia tidak memiliki hakekat yang pasti, yang harus diterimanya begitu saja. Ia adalah makhluk yang terlempar ke dalam eksistensinya, satu-satunya makhluk yang eksisitensinya mendahului essensinya.[8]

Eksistensi sebagai proyek

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, keseriusan Sartre dalam menggarap soal kebebasan manusia berdampak pada ketiadaan Tuhan sebagai otoritas penentu dalam cara berada manusia. Lantaran keberadaan Tuhan telah tiada, maka etika hidup yang niscaya bagi manusia adalah etika yang semata eksistensialis. Dalam etika eksistensialis, hidup tidak dipandang sebagai sesuatu yang sudah jadi, melainkan belum selesai, dapat diubah dan bahkan harus diubah.[9] Dalam arti ini, keberadaan manusia dapat dipandang sebagai sebuah proyek.

Sebagai sebuah proyek, maka keberadan manusia tidaklah bisa dibatasi pada aktualisasi eksistensi yang hanya sekali-dua kali, melainkan berulang-kali sampai manusia menemukan penghabisannya dalam kematian. Dan, hanya pada saat kematiannya itulah biografi lengkap hidup manusia bisa terbaca jelas. Dengan kata lain, bahwa manusia itu begini atau begitu, baru bisa terumuskan tatkala ia sudah di akhir hayat. Ketika manusia hidup, essensinya baru sebatas kemungkinan untuk menjadi, sebab ia masih memiliki kemampuan untuk menidak terhadap segala lansiran identitas yang bisa jadi dibebankan orang lain padanya.

Proyeksitas eksistensi inilah yang sesungguhnya digarap oleh Sartre tatkala menyurakan tesis eksistensi mendahului essensi. Sartre sendiri mengatakan bahwa manusia pertama-tama adalah sebuah proyek yang menghayati dirinya sendiri secara subjektif. Manusia adalah sebagaimana ia merancang dirinya sendiri untuk berada. Dalam arti ini, maka identitas manusia sebagai seorang aktivis kemanusiaan, misalnya, baru bisa diamini manakala dalam sepanjang hidupnya, ia mendedikasikan hidupnya dalam sebuah proyek eksistensi yang konret dan kontinyu, misalnya: memperjuangkan penegakan HAM seperti Munir, membela kepentingan kaum buruh seperti Marsinah, dsb. Jadi, identitas/essensi manusia semata lahir dari apa-apa yang dikerjakan oleh manusia dalam mengatualkan eksistensinya sebagai proyek yang berlangsung sepanjang hidup.

Akhir Kata

Tuhan, manusia, dan eksistensi adalah tiga hal yang nampak mengemuka dalam tulisan Existensialism is a Humanism karya Sarte. Ketiga hal tersebut mendapat keterkaitannya dalam persoalan kebebasan. Kebebasan itu bukan sesuatu lain di luar diri manusia. Kebebasan adalah manusia itu sendiri. Konsekuensi dari kebebasan, menurut Sarte, adalah tiadanya Tuhan. Sebab, jika Tuhan ada, maka dalam cara beradanya, manusia akan dideterminasi oleh kodratnya sebagai makhluk tercipta atau oleh tumpukan ketetapan-ketatapan ilahi. Sementara itu, dengan tiadanya Tuhan, manusia dimampukan untuk merealisasikan dirinya sebagai makhluk yang mencipta. Dengan term “mencipta” yang dimaksud adalah kapasitas manusia untuk membentuk essensinya, lepas dari otoritas manapun juga. “Manusia mencipta dirinya sendiri”, demikian kata Sartre. Eksistensinya, dengan demikian, mendahului essensinya.

Dengan cara pandang yang sedemikian radikal ini, Sartre sesungguhnya menggiring manusia untuk menyadari kesejatian hidupnya. Meski demikian, apa yang digagas oleh Sartre bukannya tanpa soal. Gagasan-gagasannya dalam tulisan  Existensialism is a Humanism masih menyisahkan sekian banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Misalnya, tidakkah kebebasan manusia selalu berada dalam putaran medan nilai yang bisa jadi amat kompleks? Benarkah bahwa jika Tuhan tidak ada, maka manusia bisa  semakin meluhurkan dirinya? Bukankah dengan keyakinan akan aturan moral yang subjektif tiap orang akan saling beradu demi membela apa yang ia yakni sebagai yang benar? Pertanyaan-pertanyaan lain masih bisa dirinci lebih lanjut. Pendek kata, tulisan Sartre masih meninggalkan lubang menganga untuk digugat dan dipertanyakan.

Di luar semua keberatan tersebut, harus diakui bahwa Sartre membawa angin segar bagi pemahaman kita mengenai bagaimana eksistensi manusia harus dijalankan. Tradisi filsafat dan religus sebelum Sartre adalah tradisi yang menaruh beban berat pada pundak manusia. Manusia semata dinilai sebagai objek yang pasif dari subjek ilahi. Manusia seolah tidak bisa menentukan sendiri bagaimana ia harus berada. Ia dianggap serupa anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan dengan demikian harus tunduk pada otoritas yang berwibawa (=Tuhan). Dengan tesis dasarnya bahwa eksistesi mendahului essensi, maka Sartre sejatinya hendak memprokamirkan keluhuran diri manusia sebagai subjek yang otonom dan otentik.

Daftar Bacaan

Bacaan Utama:

Sartre, Jean-Paul. Existensialism is a Humanism. diunduh dari http://www.marxists.org/reference

/archive/sartre/works/exist/sartre/htm, diakses tgl. 12 Mei 2010.

Bacaan Pendukung:

Adian, Donny Grahal. Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra, 2005.

Anwar, Chairil. Aku ini Binatang Jalang: Koleksi Sajak 1942-949. Jakarta: Gramedia, 2007.

Bertens, K. Panorama Filsafat Modern. Jakarta: Gramedia, 1987.

Magnis-Suseno, Frans. Menalar Tuhan. Yogyakarta: kanisius, 2006.

Mangunhardjana, A. Isme-Isme dari A sampai Z. Yogyakarta: Kanisius, 1997.

Martin, Vincent. Filsafat Eksistensialisme, terj. Taufiqurrohman. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.


[1] Disadur dari Chairil Anwar, Aku ini Binatang Jalang: Koleksi Sajak 1942-949, Jakarta: Gramedia, 2007, hlm. 31.

[2] Referensi atas tulisan Existensialism is Humanism, penulis ambil dari http://www.marxists.org/reference/archive/

sartre/works/exist/sartre.htm (diakes tgl. 12 Mei 2010). Untuk selanjutnya, sumber referensi ini akan diandaikan bila penulis menyitir gagasan Sartre dalam tulisan tersebut.

[3] Bdk. Donny Grahal Adian, Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif, Yogyakarta: Jalasutra, 2005, hlm. 161.

[4] K. Bertens, Panorama Filsafat Modern, Jakarta: Gramedia, 1987, hlm. 167.

[5] Vincent Martin, Filsafat Eksistensialisme, terj. Taufiqurrohman, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, hlm. 32.

[6] K. Bertens, Loc. Cit.

[7] Bdk. Ibid. Lihat pula, Donny Grahal Adian, Op. Cit., hlm. 164-165.

[8] Frans Magnis-Suseno, Menalar Tuhan, Yogyakarta: kanisius, 2006, hlm. 94.

[9] Bdk. A. Mangunhardjana, Isme-Isme dari A sampai Z, Yogyakarta: Kanisius, 1997, hlm. 64.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s