MEMELUK “KEPASTIAN”, MEMASUNG KEBENARAN (RESENSI DAN KAJIAN MORAL ATAS FILM DOUBT)


DOUBT. Sebuah film tentang keraguan. Adakah keyakinan harus selalu dibuktikan? Adakah “kepastian” selalu berarti kebenaran meski menyisahkan beragam pertanyaan?

Syahdan, pada tahun 1964, di kawasan Bronx, New York, berdirilah Gereja katolik St. Nicholas. Gereja ini dikepalai oleh Bapa Flynn, seorang pastor yang simpatik, bersahabat, dan progresif. Di gereja inilah layar film ini mulai dibentang. Di gereja ini pula, ihwal keraguan disodorkan sebermula di hadapan penonton lewat kotbah Bapa Flynn. “Apa tindakanmu saat ragu?” demikian Bapa Flynn mengawali kotbahnya dengan sebuah monolog yang menghentak. Tapi yang kemudian terasa memikat adalah pernyataannya di penghujung kotbah, “Keraguan dapat menjadi ikatan yang sama kuat dan menyokong seperti kebenaran.” Persis dalam emblem inilah alur film ini bergulir.

Bersandingan dengan Gereja St. Nicholas, berdiri pula sekolah Katolik dengan nama serupa, untuk anak-anak usia remaja (SMP). Sekolah ini dipegang oleh Suster Aloysius. Berkebalikan dengan pribadi Bapa Flynn, Suster Aloysius adalah sosok yang tegas, kaku, dan konservatif. Angin perubahan Gereja yang sedang berhembus dalam Konsili Vatikan II (1962-1965) rupanya belum mampir padanya. Maka, tindakan-tindakan yang berbau modern, seperti: memakai bolpoin, menyanyikan lagu profan dalam perayaan natal, atau bahkan minum teh dengan racikan tiga keping gula pun masih dianggap tabu olehnya.

Di tahun yang sama, Gereja dan sekolah St. Nicholas membuat langkah yang amat berani. Seorang anak kulit hitam, Donald Miller, diperkenankan untuk masuk dalam lingkungan pelayanan mereka. Di gereja, Donald dipercaya untuk tugas putra altar. Sementara, di sekolah, ia mencecap pendidikan yang sama dengan anak-anak keturunan Italia dan Irlandia yang bermukim di daerah Bronx. Sayangnya, tak semua orang menghargai keberadaannya. Di tengah keterasingan yang ia alami, khususnya di sekolah, Bapa Flynn hadir sebagai sosok pelindung baginya.

Suatu hari, Suster James, rekan biarawati Suster Aloysius dan sekaligus juga pengajar di sekolah St. Nicholas, mendapati keanehan pada diri Donald. Selepas dipanggil menghadap ke ruangan Bapa Flynn, Donald nampak ketakutan dan tercium bau alkohol dari nafasnya. Suster James menengarai bahwa sesuatu yang buruk telah dilakukan oleh Bapa Flynn pada Donald. Kecurigaan Suster James makin bertambah kuat manakala ia mendapati Bapa Flynn menaruh sebuah kemeja secara diam-diam ke dalam loker Donald. Suster James lantas melaporkan segala kecurigaannya kepada Suster Aloysius.

Sudah sejak awal sebenarnya Suster Aloysius menaruh curiga pada Bapa Flynn. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, St. Nicholas adalah paroki ketiga yang disinggahi oleh Bapa Flynn. Kepindahan yang sedemikian cepat ini sungguh tidak biasa. Bapa Flynn pasti melakukan sesuatu yang buruk di paroki-paroki sebelumnya. Laporan Suster James makin menguatkan presumsi negatif Suster Aloysius terhadap Bapa Flynn. Ditambah pula, pada suatu ketika, dari sudut jendela kantornya, Suster Aloysisus juga sempat memergoki Bapa Flynn menarik dengan paksa pergelangan tangan William London, entah untuk alasan apa. Antara fakta kepindahan yang amat cepat dari satu paroki ke paroki lain, laporan Suster James, serta peristiwa “William London”, Suster Aloysius melansir adanya benang merah yang menyudutkan Bapa Flynn. Ia berasumsi bahwa Bapa flynn adalah seorang peleceh seksual anak-anak (pedofil). Ia pun berniat untuk membuka kedok Bapa Flynn.

Sebuah pertemuan enam mata pun diatur. Suster Aloysius mengundang Bapa Flynn dan juga Suster James untuk datang ke ruangan kantornya. Dengan nada penuh tuduhan, Suster Aloysius memaksa Bapa Flynn untuk menjelaskan apa yang sebenarnya ia lakukan terhadap Donald. Lantaran dipojokkan, Bapa Flynn mau tak mau berterus terang. Ia memanggil Donald karena ingin membereskan pelanggaran yang diperbuat oleh anak itu. Donald kepergok meminum anggur altar, itulah alasan mengapa ia memanggil Donald ke kantornya. Jawaban Bapa Flynn cukup melegakan Suster James. Ternyata kecurigaannya timbul lantaran salah sangka. Tapi beda dengan Suster Aloysius. Ia masih merasa bahwa Bapa Flynn menyimpan kebohongan di balik kata-katanya. Kecurigaannnya terhadap Bapa Flynn masih mengental di kepalanya. Ia masih bersikeras hati bahwa Bapa Flynn pasti melakukan hal yang tak patut terhadap Donald. Untuk membuktikan keyakinannya, Suster Aloysius pun memanggil Nyonya Miller, ibu Donald. Ketegasan sikap yang diambil Suster Aloysius rupanya turut menggiring kembali Suster James pada jurang keraguan. Apalagi, pada suatu ketika, Suster James mendapati dengan mata kepala sendiri betapa Bapa Flynn menunjukkan sikap yang “berlebihan” terhadap Donald saat ia digangu temannya.

Pertemuan yang telah disepakati antara Suster Aloysius dengan Nyonya Miller akhirnya berlangsung. Di penghujung pertemuan mereka, Nyonya Miller akhirnya mengakukan sebuah fakta yang mengejutkan perihal anaknya. Donald, anaknya, memang memiliki kecenderungan seksual yang tak lazim. Namun, ia sendiri tidak begitu peduli dengan kecurigaan Suster Aloysius yang meyakini bahwa Bapa Flynn telah melakukan pelecehan (seksual) terhadap anaknya. Sikap Bapa Flynn yang begitu baik pada Donald menjadi alasan yang cukup bagi Nyonya Miller untuk tidak lagi memperpanjang masalah seputar anaknya. Sebab, di antara semua orang yang mengenal Donald, baik ayahnya maupun teman-teman sekolahnya, hanya Bapa Flynnlah yang menjadi sosok pelindung bagi Donald.

Pertemuan dengan Nyonya Miller pada akhirnya makin mengokohkan penilaian buruk Suster Aloysius terhadap Bapa Flynn. Sebuah keputusan penting pun dibuat oleh Suster Aloysius. Ia berniat untuk menyingkirkan Bapa Flynn dari lingkungan Gereja dan Sekolah St. Nicholas. Niatnya berbuah hasil. Bapa Flynn akhirnya pindah ke paroki lain. Nampaknya, kemenangan mutlak berhasil diraih oleh Suster Aloysius dalam “pertarungan”nya dengan Bapa Flynn. Namun toh pada akhirnya, kemenangan itu menyisahkan kegelisahan batin yang mendalam pada diri Suster Aloysius. Di penghujung film, dengan berurai air mata, Suster Aloysius mengakui bahwa dirinya berada dalam keraguan yang amat sangat. Sebab, ia sama sekali tidak mendapat bukti yang pasti atas kecurigaannya terhadap Bapa Flynn, meski demikian dengan keyakinan yang pasti ia memeluk kecurigaan tersebut.

Sampai di akhir film, kita pun tak tahu apakah Bapa Flynn memang seorang peleceh seksual atau bukan. Namun, justru di sinilah letak kehebatan film ini. Kita tidak diberi jawaban, melainkan hanya disuguhi tampilan peristiwa dan emosi wajah yang tak jarang juga membuat kita ragu dalam memberikan penilaian dan putusan moral.

DOUBT dan Persoalan Moral

Hati nurani yang ragu-ragu. Hati nurani merupakan pisau penilaian moral yang tertanam dalam diri manusia. Lazimnya, hati nurani menyediakan sebuah tuntunan pasti bagi seseorang untuk bertindak dan menindak sebuah objek perbuatan susila. Masalahnya, manusia tak selalu mengalami dan mendapati objek perbuatan yang melulu bersifat statis (gampang dinilai secara moral), melainkan kompleks dan dinamis. Objek perbuatan pun kerap tak tampil telanjang dalam kacamata pengamatan manusia. Berhadapan dengan situasi semacam ini, hati nurani manusia dipaksa untuk mengambik jarak terhadap penilaian moral yang seketika. Inilah kondisi di mana hati nurani manusia menjadi ragu-ragu. Prinsip moral yang berlaku dalam kondisi semacam ini adalah mewajibkan manusia untuk tidak bertindak. Sebab, melakukan tindakan tertentu dengan hati nurani yang ragu-ragu beresiko untuk masuk ke dalam dosa dan ketidakadilan.[1] Dalam film DOUBT, persoalan hati nurani yang ragu-ragu ini menjadi pergumulan yang serius bagi Suster James. Ia ragu untuk menilai apakah Bapa Flynn memang seorang peleceh seksual atau bukan. Kecurigaan buta Suster Aloysius terhadap Bapa Flynn, mau tak mau, turut juga mempengaruhi Suster James untuk berasumsi negatif terhadap perilaku seksual Bapa Flynn, apalagi Suster Aloysius melansir kecurigaannya dengan kata-kata dan simpulan peristiwa yang cukup meyakinkan. Namun, keteguhan sikap Bapa Flynn yang menolak segala tuduhan yang dialamatkan padanya tak pelak juga memaksa Suster James untuk berpikir ulang mengenai segala asumsi negatifnya terhadap Bapa Flynn. Sungguhkah Bapa Flynn seorang peleceh seksual?! Suster James tak tahu. Ia ragu. Keraguan yang serupa juga dialami oleh Suster Aloysius. Meski ia nampak kukuh dengan asumsi negatifnya terhadap Bapa Flynn, namun di akhir film ini, Suster Aloysius mengakui bahwa sebenarnya ia berada dalam domain keraguan yang amat sangat.

Dalam perspektif moral, jika seseorang dilanda hati nurani yang ragu-ragu, maka orang tersebut harus menunda keputusan tindakannya sampai ia mendapat kepastian tentang apa yang harus dibuat. Lantas, bila keraguan itu tidak dapat dipecahkan dengan segera, maka diterapkanlah prinsip refleks, yakni kaidah kebijakan yang mengatasi keraguan. Prinsip ini menandaskan bahwa:  dalam hal yang meragukan, presumsi berpihak kepada terdakwa; suatu kejahatan tidak boleh diandaikan, melainkan harus dibuktikan; bukti yang menguntungkan harus ditafsirkan secara longgar, sedang bukti yang memberatkan harus dirafsirkan secara sempit.[2] Dengan kata lain, dalam keadaan ragu, penilaian moral terhadap objek perbuatan orang lain haruslah berada dalam perspektif yang tidak menyudutkan, hingga ada bukti yang pasti. Prinsip inilah yang rupanya dilupakan baik oleh Suster James maupun Suster Aloysius. Bedanya, Suster James sempat menginsafi kekeliruannya dengan tidak lagi serta merta menuduh Bapa Flynn sebagai seorang peleceh seksual. Tidak demikan halnya dengan Suster Aloysius. Tanpa ada bukti valid yang cukup, Suster Aloysius terus saja menyudutkan Bapa Flynn, bahkan dengan keyakinan yang tak tergoyahkan ia berniat untuk “mengusir” Bapa Flynn dari Paroki St. Nicholas.

Kecurigaan tanpa alasan. Kecurigaan tanpa alasan ialah kecenderungan untuk berpikir buruk mengenai sesama tanpa alasan yang cukup.[3] Tanpa alasan yang cukup berarti cenderung untuk mengedepankan asumsi dan menafikan pencarian validitas bukti. Secara moral, kecenderungan untuk memeluk sikap semacam ini jelas tidak bisa dibenarkan, sebab kehormatan personal dan sosial orang lain amat dirugikan dengan tuduhan negatif yang tak beralasan. Dalam film DOUBT, aktualisasi sikap ini hadir nyata dalam diri Suster Aloysius. Kecurigaan buta Suster Aloysisus terhadap Bapa Flynn membuat ia merasa tak wajib untuk memperoleh bukti yang pasti. Laporan Suster James, peritiwa “William London”, pembicaraan dengan Ny. Miller, juga penafsiran atas mimik muka Bapa Flynn, menjadi alasan yang cukup baginya untuk memastikan bahwa Bapa Flynn adalah seorang peleceh seksual. Suster Aloysisus rupanya alpa bahwa perolehan kebenaran tidak bisa hanya didasarkan pada rentetan pengamatan yang perifial. Apa yang dilansir sebagai sebuah kebenaran haruslah diteguhkan dengan bukti yang tak terelakkan. Di sinilah letak kesalahan Suster Aloysius. Ia menjadikan asumsi sebagai bukti. Padahal, asumsi hanyalah tahap awal bagi seseorang untuk naik dalam tangga perolehan rigorisitas kebenaran.

Dusta. Dusta adalah pernyataan yang bertentangan dengan keyakinan batin dan pengetahuan seseorang.[4] Dalam dusta, persoalan kebenaran menjadi ihwal yang terpasungkan. Di film DOUBT, tindakan dusta ini hadir mengemuka dalam diri Suster Aloysius. Demi membuka kedok Bapa Flynn, Suster Aloysius berdusta bahwa ia telah menelusuri masa lalu Bapa Flynn                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 dengan menghubungi seorang biarawati di paroki yang dipimpin oleh Bapa Flynn sebelumnya. Nyatanya, pada Suster James, Suster Aloysius mengaku bahwa ia sama sekali tidak pernah  menghubungi biarawati tersebut. Meski Suster Aloysius sebenarnya bermaksud baik, yakni ingin menggali kebenaran pada diri Bapa Flynn, namun cara yang ia lakukan jelas salah dan tidak bisa dibenarkan secara moral.

Pencemaran nama baik. Nama baik adalah harta sosial.[5] Dengan nama baik, seseorang dimampukan untuk menjalankan tugas publik dan menjalin hubungan sosial dengan leluasa. Maka, pencemaran nama baik adalah serupa api yang meluluhlantahkan segala keleluasaan orang dalam hidup sosialnya. Tak ada lagi penghormatan, yang tersisa bagi orang yang nama baiknya tercemar hanyalah stigma buruk semata. Padahal, Kehormatan adalah nilai penting untuk eksistensi manusia di dunia. Tiadanya kehormatan dalam diri seseorang menjadikannya sebagai seorang yang tak lagi punya martabat untuk dipandang sebagai pribadi yang luhur. Hal inilah yang nampaknya ingin diperbuat oleh Suster Aloysius terhadap Bapa Flynn. Berbekal “kepastian” yang ia pegang, Suster Aloysius pun bertekad untuk menghancurkan reputasi Bapa Flynn. Memang, sampai di penghujung film, kita tak tahu apakah kepergian Bapa Flynn dari Paroki St. Nicholas turut juga menerbitkan stigma buruk baginya di kalangan umat. Sebab, nyatanya Bapa Flynn toh meninggalkan Paroki St. Nicholas dengan suasana yang baik-baik saja. Akan tetapi, dengan perginya Bapa Flynn dari Paroki St. Nicholas, niat Suster Aloysius untuk menjatuhkan reputasi Bapa Flynn nampaknya menuai sukses. Dengan kepergian yang mendadak dari Paroki St. Nicholas, umat pasti akan bertanya-tanya, “Ada yang sebenarnya terjadi? Apa yang telah dilakukan oleh Bapa Flynn sehingga ia pindah secepat ini?” Jika pertanyaan-pertanyaan ini dibiarkan bergulir tanpa arah dan tanpa jawaban yang memadai, maka gosiplah yang akan banyak berbicara. Padahal, dalam gosip, perkara kebenaran selalu bersifat abu-abu – kabur dan tak jarang jatuh pada justifikasi yang keliru.

DOUBT dan Kita

Asumsi dan fakta. Inilah dua persoalan yang nampak saling berperang dalam film DOUBT. Yang satu seolah tampil untuk mengalahkan yang lain. Padahal, sejatinya asumsi dan fakta adalah dua hal yang tak boleh dilepas dalam upaya pencapaian kebenaran. Keduanya bukan ihwal yang independen, melainkan teriikat satu sama lain. Dalam usaha perolehan kebenaran, asumsi selalu harus dikonfrontasikan dengan fakta, sementara fakta baru bisa dicari bila asumsi digagas terlebih dulu. Asumsi dan fakta, dengan demikian, bagaikan dua sayap yang memungkinkan kita untuk terbang menuju angkasa kebenaran. Jika asumsi dilepaskan dari fakta, demikian juga sebaliknya, maka yang lahir darinya adalah sebuah kebenaran buta. Apa yang kemudian ditampilkan dalam kebenaran buta ini adalah emblem-emblem yang amat reduktif dan destruktif sifanya. Ambillah contoh sejarah kelam bangsa kita dalam peristiwa “Gerakan 30 September”. Tanpa hendak berpretensi untuk mengurai segala intrik politik di balik peristiwa berdarah itu, harus kita akui bahwa selama ini kita terbenamkan dalam lautan asumsi tatkala menuduh siapa dalang di balik gerakan tersebut. Rezim Orde Baru melansir bahwa PKI-lah dalangnya. Padahal, berdasar hasil studi para sejarahwan dewasa ini, lansiran itu hanyalah tuduhan yang tak berdasar. Bukti-bukti yang ada saat ini malahan menjauhkan PKI dari segala tuduhan yang menimpa mereka. Akan tetapi, coba tengok apa yang kita yakini selama ini (paling tidak sampai lengsernya Soeharto sebagai Presiden RI). Kita termakan oleh fitnah yang dialamatkan oleh rezim Orde Baru pada PKI. Sadar atau tidak, selama ini, kita pun akhirnya mengamini segala pembantaian terhadap simpatisan PKI dan stigma-stigma negatif yang melekat pada anak-cucu mereka. Lihatlah betapa pencerabutan paksa antara  asumsi dan fakta bisa berubah menjadi kebenaran yang membutakan mata dan menutup telinga kita atas jeritan para korban tak bersalah yang menjadi kambing hitam dari permainan kekuasaan yang kejam lagi licik!

Cinta akan kebenaran. Pertarungan antara asumsi dan fakta yang tampil mengemuka dalam film DOUBT sesungguhnya adalah simptom dari persoalan moral yang lebih mendasar, yakni matinya cinta akan kebenaran. Cinta akan kebenaran adalah keterarahan budi dalam mengakui kebenaran sebagai sebuah nilai yang senantiasa menjadi titik pusat perhatian.[6] Karena itu, matinya kebenaran sama artinya dengan melemahnya nilai-nilai kehidupan –  tak ada lagi yang bisa jadi tuntunan dan sandaran kepercayaan. Hidup pun lantas menjadi momok yang menakutkan, penuh dengan wajah-wajah yang tak berbelas kasih dan tak punya hati. Simaklah betapa mudahnya peradilan negeri ini membiarkan para pelaku kejahatan yang berpangkat dan berdasi untuk melenggang keluar dari hukuman lantaran sogokan uang. Sementara, pada orang-orang kecil yang tak punya apa-apa untuk ditawarkan, hukum berlagak kejam dan bahkan berlebihan.

KV II melihat kewajiban mencari dan menerima kebenaran sebagai sebuah kewajiban yang utama (bdk. DH 2). Karena itu, cinta akan kebenaran mutlak harus diperjuangkan. Kita patut bersyukur sebab di negeri ini masih ada orang-orang yang menjunjung tinggi nilai luhur kebenaran. Mereka adalah orang-orang yang terus berteriak lantang untuk menyuarakan beragam fenomen banal yang makin memiriskan hati, seperti: korupsi di antara para pejabat negeri, hukum yang bisa dibeli, pelanggaran HAM yang terlupakan, pendidikan yang terkomersialisasi, dsb. Pada merekalah kita bisa belajar untuk mencintai dan memeluk kebenaran dengan berani.

Daftar Bacaan:

Dokumentasi dan Penerangan KWI. Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana. Jakarta: OBOR, 2002.

Go, Piet. Moral Konkrit 2: Kehormatan-Kebenaran-Kesetiaan, diktat. Malang: STFT Widya Sasana. 1980.

Pesckhe, Karl-Heins. Etika Kristiani Jilid I: Pendasaran Teologi Moral, terj. Alex Armanjaya, dkk. Maumere: Penerbit Ledalero. 2003.

_________________, Etika Kristiani Jilid III: Kewajiban Moral dalam Hidup Pribadi,                  terj. Alex Armanjaya, dkk. Maumere: Penerbit Ledalero. 2003.


[1]Karl-Heins Pesckhe, Etika Kristiani Jilid I: Pendasaran Teologi Moral, (terj. Alex Armanjaya, dkk.), Maumere: Penerbit Ledalero, 2003, hlm. 214.

[2] Bdk. Ibid, hlm. 217

[3] Piet Go, Moral Konkrit 2: Kehormatan-Kebenaran-Kesetiaan, diktat, Malang: STFT Widya Sasana, 1980, hlm. 22.

[4] Karl-Heins Pesckhe, Op. Cit., hlm. 200.

[5] Karl-Heins Pesckhe, Etika Kristiani Jilid III: Kewajiban Moral dalam Hidup Pribadi, (terj. Alex Armanjaya, dkk.), Maumere: Penerbit Ledalero, 2003, hlm. 186.

[6] Ibid., hlm. 191.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s