MELIK NGGENDONG LALI


Konon, pada sebuah sore, Daud, raja Israel yang termasyur itu, mendadak lupa daratan lantaran melihat Batsyeba mandi (tanpa busana, tentu saja!) dari atas sotoh istananya. Terbakar oleh gelora nafsu yang menderu, Daud pun menyuruh orang untuk mengambil Batsyeba agar bisa disetubuhinya. Perbuatan Daud jelas tidak dapat dibenarkan, sebab Batsyeba telah menjadi istri orang. Tapi, siapa coba yang berani mengacuhkan titah seorang raja yang berkuasa? Pada Daud, kuasa telah menjadi senjata ampuh baginya untuk memasung tatanan moral jadi hikayat usang. Ia lupa pada segala keteladanan yang disyaratkan bagi seorang raja. Ia lupa akan martabatnya sebagai orang yang diurapi Allah.

Kisah Daud adalah secuil kisah dimana perolehan kekuasaan selalu berujung pada hasrat untuk lupa akan sesuatu. Dalam khasanah budaya Jawa, hasrat untuk lupa karena kuasa itu dilansir dalam sebuah emblem yang amat memikat, yakni melik nggendong lali. Secara harafiah, melik nggendong lali berarti hasrat mengandung lupa. Dalam ikonografi budaya Jawa, emblem melik nggendong lali sering digambarkan sebagai berikut: Petruk memakai busana raja, berada di ruangan mewah, memangku wanita, dan minum arak keras (Basis, No. 11-12, Th. ke-50, Nov-Des 2001:13). Ikon ini mengacu pada sepenggal kisah dalam dunia pewayangan dengan lakon Petruk Dadi Guru. Begini ceritanya: Syahdan, Batara Guru jatuh cinta pada Lesmanawati, seorang manusia biasa. Untuk itu, ditemani Batara Narada, ia meninggalkan kahyangan dan turun ke dunia manusia. Kedua dewa itu kemudian menanggalkan busana kedewaannya dalam sebuah goa dan menggantinya dengan pakaian manusia biasa. Tanpa dinyana, Petruk dan Gareng bertandang ke goa itu. Mereka pun menemukan busana yang ditinggalkan oleh kedua dewa tersebut. Maka, dicobalah busana itu dan jadilah mereka serupa dengan Batara Guru dan Batara Narada. Dengan bantuan Batara Endra dan Batara Kamajaya, terbanglah kedua dewa palsu itu ke kahyangan. Sesampainya di kahyangan, Petruk mengubah seluruh tatatan yang ada. Pada dewa disuruhnya menabuh gamelan, sementara para bidadari kahyangan dimintanya menari. Maka, berpestalah mereka. Dan, mereka pun akhirnya lupa diri, lupa akan kedewaannya, lupa akan keteladannya. Mereka larut dalam pesta dan mabuk karena kebanyakan minum arak (Bdk. Ibid.:75). Di sini, melik nggendong lali berarti siapa yang berkuasa dia akan lupa.
Nah, sekarang saya tidak ingin lagi bertutur tentang segala kisah di dunia entah, melainkan mengajak anda untuk berpikir dan berefleksi dalam domain yang menggairahkan sekaligus menggentarkan banyak orang. Domain itu bernama politik, dimana kekuasaan adalah sokoguru yang menopangnya. Namun, sebelumnya ijinkan saya untuk mengutarakan satu poin penting berikut: barangkali anda bertanya, apa hubungan antara kisah Daud dan Petruk yang saya tuturkan di atas dengan dunia politik yang akan kita perbincangkan? Hubungannya amat sangat jelas. Pada Daud dan juga Petruk, pesona kekuasaan membuat mereka lupa pada segala yang bernama aturan, identitas asal, juga martabat luhur kepemimpinan. Mereka telah menjadi orang yang melik nggendong lali. Dan sungguh, demikian pulalah wajah-wajah orang yang mengisi dunia politik kita. Politik yang sejatinya dimaksudkan untuk mengurus tata hidup bersama tak lagi menjadi tujuan utama. Bonum commune (kesejahteraan bersama) yang menjadi cita-cita luhur politik pun dengan tragis beralih menjadi bonum personale (kesejahteraan pribadi). Semuanya ini terjadi lantaran para pemimpin politik kita telah melik nggendong lali. Yang mereka ingat hanyalah bagaimana menikmati kekuasaan, sementara siapa yang menghantar mereka pada kekuasaan dan apa yang harus mereka kerjakan dengan kekuasaan, tak lagi menjadi diskursus yang licit lagi urgen dalam praksis politis mereka.

Apa yang saya katakan bukan sekadar bualan belaka, tapi berdasar pada fakta atas beragam fenomen yang melanda dunia politik kita. Mari kita ambil beberapa contoh. Anda tentu masih ingat bagaimana euforia pesta demokrasi (baca: pemilu) di negeri ini berlangsung, bukan? Tatkala genderang kampanye dibunyikan, maka beramai-ramailah para kandidat pemimpin negeri kita ini mengobral janji dengan mengusung serentetan platform program yang mengatasnamakan rakyat, sebut saja: sekolah gratis, pengangguran berkurang, pengentasan kemiskinan, dsb. Namun, adakah kesemua program itu mereka perjuangkan selepas kita mencontreng nama mereka? Bagi sebagian kecil pemimpin negeri yang berhati mulia, hal itu mungkin saja terjadi. Akan tetapi, ada cukup banyak pemimpin berhati busuk yang selepas mendapat kursi di pemerintahan menjadi lupa dengan rakyat yang memilihnya. Atas nama kepentingan diri sendiri, kekuasaan yang mereka miliki pun menjadi kesempatan untuk memperkaya diri. Maka, janganlah heran bila tiap hari, di media massa, kita selalu disuguhi berita kasus korupsi. Namun, anehnya, kasus korupsi yang diwartakan secara blak-blakan dengan ancaman hukuman yang tak ringan, tidak juga membuat pemimpin negeri ini jera. Tahu apa alasannya? Sebab, korupsi telah menjadi bagian dari kesadaran yang banal dari seseorang tatkala memeluk kekuasaan!
Perselingkuhan antara kekuasaan dengan “kelupaan” (baca: melik nggendong lali) yang terjadi di negeri ini makin terasa menyesakkan manakala ingatan kita tertuju pada aksi-aksi premanisme politik dalam kasus-kasus berdarah, seperti: tragedi Trisakti-Semanggi I-II, penculikan aktivis 1997/1998, juga kematian Munir. Memang benar beberapa orang yang terlibat dalam kasus-kasus itu telah diadili. Akan tetapi, benarkah orang-orang yang diadili itu adalah dalang yang sebenarnya? Tidakkah mereka hanya tangkapan kecil yang dikorbankan demi selamatnya atasan? Kita semua tak begitu tahu dan para pemimpin negeri ini pun seolah tak mau tahu. Parahnya, sekarang, kasus-kasus itu mulai dianggap sebagai sejarah kelam yang hendak didamaikan. Tujuannya jelas, yakni agar tampuk kekuasaan para dalang di balik tiap kasus itu tak lagi tergoyangkan

Selain beragam fenomen di atas, ihwal melik nggendong lali juga hadir dalam wujudnya yang paling kejam dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Selama beberapa dekade, pemerintah negeri ini melansir bahwa gerakan itu didalangi oleh anggota PKI. Namun, beberapa penelitian sejarah terakhir ini membuktikan bahwa klaim itu sungguh tak beralasan. Dalam hasil studinya, Prof Wertheim bahkan secara tegas menyatakan bahwa Soehartolah otak di balik aksi gerakan tersebut (Prof. Wertheim, sejarah tahun 1965 yang tersembunyi, promanuscripto, 2008). Lantas mengapa PKI yang dijadikan kambing hitam? Banyak teori yang bisa diberikan, tapi yang jelas dengan cara itulah Soeharto bisa lenggang menuju tampuk kekuasaan. Dan, ketika kekuasaan itu ia peroleh, lupalah ia dengan begitu banyaknya korban yang bergelimpangan demi pencapaian ambisi politiknya. Kemudian, tampillah ia menjadi “raja” yang menghalalkan segala cara demi kesejahteraan diri dan kroni-kroninya. Dan, tak bisa dipungkiri bahwa dengan senyumnya yang menawan serta program pembangunan yang ia canangkan, Soeharto pun membuat kita lupa untuk bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada tahun paling berdarah dalam sejarah Indonesia itu.

Sampai di sini, kita telah melihat betapa pesona kekuasaan bisa mengubah sesorang menjadi sosok yang pelupa, narsistis, dan tak bermoral. Lantas, kita mesti harus bagaimana? Tak ada jalan lain bagi kita selain harus berjuang untuk melawan segala lupa yang terjadi karena kuasa. Di negeri ini, perjuangan melawan lupa secara konsekuen telah dilakukan oleh para orangtua yang anaknya menjadi korban dalam tragedi Trisakti-Semanggi. Pada setiap hari kamis, mereka berdiri hening selama satu jam di depan Istana Presiden (karena itu, aksi mereka biasa disebut sebagai “Aksi Kamisan”). Mereka sengaja tidak menyuarakan apa-apa. Dengan berdiri dan dalam keheningan, mereka hanya ingin agar petinggi negeri ini tidak melupakan peristiwa yang merenggut nyawa anak-anak mereka. Aksi yang lebih “vulgar” bisa kita lihat dalam geliat perlawanan rakyat (ormas dan/atau LSM) yang tak henti meneriakkan kebenaran di tengah puing kebohongan, kebejatan, dan ketidakdilan yang lahir dari rahim para penguasa. Pada merekalah kita harus belajar dan berterima kasih untuk segala perjuangan melawan penguasa yang melik nggendong lali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s