BERENANG DALAM ARUS DERAS TEKNOLOGI BERSAMA DON IHDE


Filsafat Teknologi (Don Ihde Tentang Dunia, Manusia, dan Alat)

Francis Lim

Yogyakarta: Kanisisus, 2008

xv + 199 halaman

Dunia-kehidupan kita adalah dunia yang makin berwajah teknologis. Teknologi hadir dimana-mana. Ia tampil memikat dalam ribuan rupa dan daya. Ia seakan menjadi realitas yang tak terelakkan dalam keseharian kita. Sangatlah sukar bagi kita yang hidup di masa ini untuk sedetik lepas dari penguasaan alat teknologi. Kita memakainya dan tanpa sadar melekat padanya. Hidup kita pun seolah sudah terstukturir dalam apa yang disebut sebagai cara berada teknologis. Tingkah laku kita diatur olehnya, bahkan ruang kesadaran kita pun ikut terkonstruksi dalam sensualisme rasa kemudahan/kecepatan/ketepatan yang ia tawarkan. Pada akhirnya, teknologi mendeterminasi hidup kita. Keseluruhan cara pandang kita mengenai alam semesta, masyarakat, dan bahkan diri sendiri pun diubah olehnya.

Melalui buku “Filsafat Teknologi” ini, Francis Lim mengajak kita untuk mempertanyakan teknologi dan mengambil disposi kritis tatkala berhadapan dengannya. Dengan menggumuli pemikiran Don Ihde, seorang filsuf Amerika yang intens menyibak persoalan instrumentasi teknologis dalam dunia-kehidupan manusia, Francis Lim menantang kesadaran kita dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang makin terasa urgen untuk dijawab, seperti: Apakah hakikat teknologi itu? Bagaimana teknologi bisa memengaruhi dan bahkan mengubah cara berada manusia dalam dunia kehidupannya? Apakah teknologi itu netral dalam dirinya sendiri?

Pendekatan yang dipakai oleh Don Ihde dalam diskursus filosofisnya mengenai teknologi adalah fenomenologi. Dengan pendekatan ini, Ihde hendak mengkaji fenomena teknologi dan bukan dampak teknologi (hlm. 24). Baginya, pengalaman akan teknologi selalu merupakan pengalaman-praksis-kebertubuhan. Dalam bingkai pengalaman itu, teknologi yang dihasilkan tidak selalu mengikuti intensi dan desain penciptanya, melainkan bisa bervariasi dan bertransformasi ciri penggunaannya dalam beragam konteks. Oleh karena itu, pendekatan Ihde terhadap teknologi juga bersifat relativistik (hlm. 26). Subjek (penguna teknologi) dan objek (alat teknologi) tidak dipandang sebagai dua realitas yang independen, melainkan bergantung, berhubungan dan berinteraksi satu sama lain. Dalam keseluruhan intensitas serta intensionalitas relasi subjek-objek inilah penafsiran terhadap teknologi dalam dunia-kehidupan manusia dapat dilihat dalam bingkai yang utuh.

Cara Ihde mempersepsi teknologi banyak dipengaruhi oleh Heidegger. Sebagai salah seorang pengagas awal diskursus filsafat teknologi, Heidegger mempersoalkan dimensi ontologis dari teknologi, yakni sebagai cara penyingkapan Ada. Dimensi ontologis ini disiapkan oleh Heidegger sebagai pembebas penafsiran teknologi yang sekadar berhenti pada apa yang ontis, yakni pemahaman teknologi yang bersifat instrumentalistis (sarana) ataupun antropologis (aktivitas). Meski demikian, dalam pencarian dimensi ontologis dari teknologi, apa yang ontis itu tidak dibuang, melainkan dijadikan sebagai titik tolak untuk menyingkap kebenaran yang tersembunyi dari balik cara berada alat teknologi. Usaha untuk menemukan “roh” yang ada dalam hadirnya alat teknologi dalam dunia-kehidupan manusia tersebut, pada akhirnya menunjukkan sejauh mana orientasi kita terhadap penggunaan alat-alat teknologi. Heidegger lantas memaklumkan adanya ketergantungan-teknologis yang banal dalam cara hidup kita. Tubuh kita seolah-olah meluas atau melar karena alat-alat, sehingga kita dan alat menjadi satu dalam sikap melihat sekeliling (hlm. 69). Ketergantungan tersebut membingkai cara pandangan kita dalam persepektif teknologis. Kita bertindak dan berpikir dalam dunia alat. Ketergantungan ini tidaklah tersadari, sebab kita sudah merasa nyaman dengan dunia alat. Apalagi, ketika menggunakan alat-alat teknologi, alat tersebut seolah menarik diri dan menjadi latar belakang dari si subjek pengguna alat, sementara materi alat sudah tidak disadari lagi.

Bertolak dari pemikiran Heidegger, Ihde lantas mengartikulasikan secara rigid fenomen hubungan yang terjadi akibat intimitas manusia dengan teknologi. Pertama, hubungan kebertuhuhan. Dalam hubungan ini, alat digunakan sebagai perpanjangan dari tubuh manusia (hlm. 101). Manusia menubuh dengan alat, dan melaluinya manusia berelasi dengan dunia. Alat teknologi, dengan demikian, menjadi semacam mediasi yang mengarahkan intensionalitas manusia dengan dunianya. Kedua, hubungan hermeneutis, dimana alat teknologi dibaca sebagai teks yang perlu ditafsirkan (hlm. 109). Dalam pola hubungan ini, kesahihan pengalaman manusia akan dunianya ditentukan oleh sejauh mana ia berhasil membaca dan menafsirkan alat teknologi yang telah menjadi perantaranya dengan dunia-kehidupan. Ketiga, hubungan keberlainan. Dalam hubungan ini, teknologi dilihat sebagai Yang Lain atau lebih tepatnya sebagai quasi-Yang-Lain (hlm. 115). Dengan kata lain, seberapa pun eratnya kita menubuh dengan alat-alat teknologis, kita tetap tidak bisa larut sepenuhnya dengannya. Alat-alat teknologi masih tetap memiliki logika internalnya atau “cara hidup”nya sendiri. Keempat, hubungan latar belakang. Dalam hubungan ini, tatkala alat teknologi digunakan, ia berfungsi di latar belakang dan kurang diperhatikan (hlm. 122). Kita memang masih memakainya, namun kita tidak menyadari kehadirannya. Kehadirannya seakan absen dalam kesadaran kita, sebab yang kita butuhkan dari teknologi adalah fungsinya dan bukan cara kerjanya.

Beragam artikulasi hubungan tersebut seolah menegaskan tesis awal Heidegger bahwa cara manusia mengalami dunia diubah secara ontologis lewat penggunaan alat-alat teknologi. Sekurang-kurangnya ada tiga ranah perubahan pengalaman/persepsi yang diajukan oleh Ihde sebagai konsekuensi logis dari penggunaan alat-alat teknologi, yakni perubahan pengalaman/persepsi mengenai waktu, ruang, dan bahasa. Dalam ketiga perubahan pengalaman/persepsi tersebut, teknologi menghadirkan struktur magnifikasi/amplifikasi (pembesaran atau penajaman ciri suatu objek) dan sekaligus reduksi (pengerdilan ciri suatu objek). Kedua struktur tersebut saling berkelindan satu dengan yang lain. Dengan memagnifikasi suatu objek, objek tersebut dibawa dari kedudukan latar belakang ke kedudukan latar depan, dihadirkan ke hadapan si pengamat. Akan tetapi, terjadi reduksi pada lingkungan sebelumnya (hlm. 85).  Misalnya, ketika kita melihat sebuah sepeda yang ada di kejauhan dengan teropong, maka detail sepeda tersebut akan nampak jelas bagi kita. Akan tetapi, objek lain yang berada di sekitar sepeda itu seolah hilang dalam pengamatan kita.

Sementara itu, dalam buku ini, Francis Lim tidak hanya menguraikan gagasan Ihde tentang hubungan antara manusia dengan teknologi, tapi juga menyoal bagaimana sejatinya keberadaan teknologi itu sendiri dalam dunia-kehidupan. Menurut Ihde, semua jenis teknologi itu tertanam dalam budaya. Ketertanaman teknologi dalam budaya menunjukkan bahwa suatu alat teknologi yang sama dalam konteks budaya yang lain bisa menjadi alat teknologi yang “berbeda” karena penggunaannya berubah mengikuti budaya yang menerapkannya. Setelah teknologi diterapkan dalam budaya yang menerimanya, konteks penggunaannya menjadi stabil (hlm. 137). Dengan gagasan ini, dapat disimpulkan bahwa teknologi itu bersifat netral karena tidak mengandung tujuan dalam dirinya sendiri. Akan tetapi, bagi Ihde, kenetralan teknologi itu cuma ilusi, sebab teknologi bukan semata-mata alat yang tergantung pada penggunaan manusia. Teknologi merupakan hubungan yang relatif antara pengguna dan alat teknologi (hlm. 144).  Intensi pengguna inilah yang pada akhirnya menyebabkan teknologi menjadi tidak bebas nilai.

Menarik bahwa dalam buku ini, Francis Lim tidak hanya sekadar menguraikan struktur bangunan pemikiran Ihde mengenai teknologi, namun ia juga memberikan tanggapan kritisnya sehubungan dengan celah-celah pemikiran Ihde yang belum sempat tergarap. Lim menilai bahwa kajian Ihde mengenai hubungan manusia-alat teknologi-dunia sangat individualistik dan subjektif, alih-alih sosial (hlm. 180). Pengalaman penggunaan alat teknologi dan perubahan persepsi yang kemudian menyusul masih berhenti pada taraf pengalaman individu in se, sementara kajian komprehensif mengenai pengalaman kolektif penggunaan alat masih belum digarap (misalnya: dalam konteks sosial-poltik), kecuali dalam konteks budaya. Kajian Ihde mengenai alat juga belum masuk dalam ranah etika. Padahal, persoalan etika makin menyeruak tatkala penerapan teknologi dalam kehidupan manusia memengaruhi manusia sebagai individu dan cara hidup koletif masyarakat (hlm. 190). Diskusi mengenai alat-alat teknologi yang makin canggih dan kompleks juga belum disentuh oleh Ihde, sebab ia hanya berfokus pada alat-alat sederhana yang erat dengan dunia hidup manusia.

Lepas dari beberapa kajian yang menurut Lim belum sepenuhnya digarap secara mendalam oleh Ihde, buku ini menyajikan sebuah pendekatan yang kritis tatkala kita berhadapan dengan teknologi. Bersama Ihde, Lim mengajak kita untuk membaca peran dan pengaruh alat-alat teknologi secara lebih utuh, yakni tidak hanya memaknainya sebagai sesuatu yang “terberi”, tapi sebagai sesuatu yang disadari. Dengan pembacaan yang tepat mengenai alat teknologi, maka kita pun akan menjadi bebas dalam berhungan dengan teknologi dan tidak jatuh pada keterikatan pasif yang malah menjadikan kita sebagai “budak teknologi”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s