Tentang Natal


Dalam keheningan dan kesederhanan Natal

Tuhan datang dalam hening. Tak diiringi dengan  kemeriahan yang memekakkan telinga, juga nyanyi yang berisik. Ia datang dalam keheningan yang agung: malam yang sunyi, langit yang jernih. Dalam nuansa yang sederhana: beberapa ekor domba, segelintir gembala, palungan kayu yang usang, jerami yang berserakan, orangtua yang mendekap mesra. Penginjil Lukas menggambarkan dengan tepat suasana sakral nan sublim itu: “dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” (Luk 2:7). Tak terdengar ada nada kegaduhan dalam penggambaran peristiwa kelahiran itu. Semauanya berjalan dengan amat cepat, biasa, dan sunyi.

Keheningan dan kesederhanaan peristiwa kedatangan Tuhan itu kini nampaknya tak banyak diingat lagi. Nuansa estetis dari peristiwa sakral itu kini telah beralih menjadi sebuah pesta yang penuh dengan keramaian dan kemeriahan. Beragam rapat diadakan. Belasan bahkan puluhan juta uang dikumpulkan. Rangkaian pesta perjamuan dirancang dan digelar. Bermacam-macam ornamen dan hiasan dipajang dengan amat ramai di sudut-sudut rumah dan di dalam ruangan-ruangan Gereja. Seolah-olah tiap orang bersepakat, “Tak pernah boleh ada perayaan natal tanpa ada pesta sukacita yang hingar-bingar. Tak cukup kiranya disebut perayaan natal tanpa ada pohon natal yang tinggi menjulang dan kandang domba yang dibangun dengan megah.” Pada akhirnya, perayaan peristiwa kedatangan Tuhan telah berubah menjadi bagunan struktur, dan dikendalikan oleh struktur. Dalam bagunan struktur itu, pengalaman spiritual yang hening dan sederhana tak memiliki lagi ruang untuk menunjukkan diri.

Dunia kita memang telah banyak berubah. Dalam peradaban yang makin melesat, sadar atau tidak, kita terpogram untuk mematerialisasi segala hal yang kita alami, bahkan sampai pada hal-hal yang kita imani. Peradaban kita mengajarkan bahwa apa yang istimewa harus ditampilkan dengan megah, hingga membuat mata semua orang terpukau dan berdeecak kagum. Hal yang sama terjadi pada agama. Keberadaan Tuhan dipoles sedemikian rupa dengan hiasan keagungan yang semu, yang bisa layu dan jadi abu. Padahal, Tuhan tidak butuh apapun dari kita untuk menunjukkan keagungannya. Oranamen-ornamen keagungan yang coba kita sematkan dan haturkan padaNya adalah sebuah kesia-siaan yang niscaya.

Natal, perayaan peristiwa kedatangan Tuhan, adalah momen yang teramat luhur untuk kita cecap. Sebab, Tuhan hadir sebagai seorang pribadi, menawarkan cinta untuk kita rasa, memampukan kita untuk bersemuka dengan Allah. Tak ada ungkapan syukur yang paling indah untuk anugerah yang melimpah itu selain memberikan hati kita yang sunyi dan sederhana, tanpa pretensi apapun juga, tanpa hasrat untuk hanyut dalam kemeriahan yang sia-sia. Bukankah pemazmur pernah berkata, “Sebab Engkau tidak berkenan akan korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur, hati yang remuk redam tidak akan Kau pandang hina, ya Allah.” (Mzm 17-18).

Sedikit Cerita tentang Natal

Berita kelahiran Yesus dikisahkan dengan amat menarik dalam Injil Lukas (bab 1-2) dan Matius (bab 1-2). Dalam kisah yang mereka tulis, kedua penginjil tersebut seolah menegaskan bahwa inkarnasi diri Allah dalam rupa manusia merupakan sebuah fakta historis. Menarik bahwa dalam penceritaan peristiwa sesudah kelahiran Yesus, keduanya tidak menampilkan kisah yang seragam. Sesudah kelahiran Yesus, penginjil Lukas bercerita soal: kedatangan para gembala; penyunatan dan penyerahan Yesus di kenisah; dan tinggalnya Yesus di kenisah pada umur 12 tahun. Sementara, penginjil Matius berkisah tentang: kunjungan para majus (sarjana) dari Timur; pengusiran ke Mesir; dan pembunuhan kanak-kanak di Betleham. Meskipun demikian, keduanya bersepakat bahwa: Maria, ibu Yesus, adalah seorang perawan; ia menerima kabar dari malaikat tentang anak yang akan dilahirkannya; kandungan Maria berasal dari Roh kudus; Yusuf-keturunan Daud- tahu akan hal-hal yang menyertai kelahiran Yesus; juga anak yang lahir dari rahim Maria haruslah diberi nama Yesus, sebab ia adalah seorang penyelamat yang dijanjikan Allah. Melalui penceritaan tentang kelahiran Yesus, juga hal-hal yang melatarbelakangi dan mendahului peristiwa kelahiran tersebut, keduanya hendak membangun sebuah teologi inkarnasi: bahwa Yesus itu sunguh Allah dan sungguh manusia, anak Allah dan anak Maria.

Dalam sejarah, catatan awal mengenai perayaan natal, kelahiran Yesus, terjadi pada tahun 336 SM. Perayaan tersebut berlangsung di kota Roma, dan jatuh pada tanggal 25 desember. Tidak ada yang tahu pasti apakah Yesus memang dilahirkan pada tanggal tersebut. Kitab Suci tidak memberikan data apapun tentang hal itu. Dalam catatan sejarah Romawi, tanggal 25 desember adalah perayaan Hari Raya Kelahiran Dewa Matahari yang Tak Terkalahkan (Dies Natalis Solis Invicti). Perayaan ini merupakan pesta kafir bangsa Romawi sebelum dimasuki oleh Kekristenan. Perayaan itu sesungguhnya hendak menandai titik balik peredaran matahari. Kembalinya matahari yang telah sekian lama tidak muncul akibat musim dingin, dirayakan sebagai sesuatu yang agung – tanda kemenangan dewa Matahari atas kekuatan gelap.Ketika kekristenan mulai merasuk dalam jiwa orang Roma, Gereja pada akhirnya menjauhkan umat beriman dari gagasan kafir tersebut dan ”membaptisnya” dengan perayaan misteri kelahiran Yesus. Yesus lah Sang Matahari sejati yang menerangi setiap insan.

Natal sejatinya adalah sebuah perayaan peristiwa cinta. Pada hari natal, kita merayakan keagungan cinta Allah pada manusia yang telah mengaruniakan PutraNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Inisiatif pertama dari peristiwa cinta tersebut adalah Allah. Dengan mengutus PutraNya yang terkasih untuk turun ke dunia dan menjadi serupa dengan manusia, Allah sesungguhnya mengangkat nilai kemanusiaan kita yang terluka akibat dosa dan menjadikan kita anak-anakNya. Sebab, “Penyelamat dunia yang hari ini lahir telah memberikan kita warisan sebagai anak-anak Allah” (bdk. Rumusan doa ekaristi hari Natal).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s