Berkatekese dengan Majalah Paroki


Belakangan ini, ketika budaya cetak  menggeser budaya lisan, media-media komunikasi visual mulai banyak dilirik sebagai alternatif cara dalam berkatakese. Salah satunya adalah penerbitan majalah paroki. Penerbitan majalah dirasa sangat menguntungkan dalam pengajaran katakese bagi umat, sebab jangkauan  penyebaran katakesenya bisa semakin meluas, tidak hanya terbatas pada ruang-ruang pengajaran katakese yang menuntut kehadiran imam atau katekis dan umat. Apalagi, jika penerbitan majalah tersebut didukung oleh tingginya kualitas tampilan dan isi. Tampilan yang menawan dan isi yang berbobot akan membuat majalah tersebut dicari dan dibaca banyak orang. Dan, logikanya, jika majalah tersebut semakin banyak dicari dan dibaca orang, maka pokok-pokok katakese yang hendak diwartakan dalam majalah tersebut dapat dengan mudah tersampaikan kepada umat.

Melihat besarnya keuntungan yang didapat dalam penyebaran katakese tersebut, maka tak heran jika banyak paroki mulai memformat ulang cara berkateksenya. Penggunaan media-media komunikasi, semacam penerbitan majalah paroki, dioptimalkan, sekali lagi,  dengan harapan katakese tersebut tersampaikan pada banyak umat.  Tapi, apakah memang benar demikian? Apakah penerbitan majalah paroki tidak malah semakin membuat penyampaian katakese itu menjadi kering, karena tidak ada umpan balik atau dialog yang terjadi antara imam atau katekis sebagai pengajar katekese dengan umat sebagai penerima katakese? Atau malah sebaliknya, kehadiran majalah paroki dapat menjadi alternatif yang cerdas ditengah keterbatasan waktu dan tenaga para pengajar katekese, lagipula bukankah beragam rubrik yang tersedia di dalam setiap edisi penerbitan majalah paroki dapat semakin memperkaya khasanah pengetahuan iman/katekese umat, yang bisa jadi tidak didapat atau terjawab di ruang-ruang pengajaran katekese?

Majalah sebagai Media Komunikasi

Media komunikasi, semacam radio, televisi, internet, surat kabar atau majalah, merupakan wadah/saluran yang menghubungkan komunikator (penyampai pesan) dan komunikan (penerima pesan) secara massal. Pesan-pesan yang disampaikan dalam media komunikasi massa sejatinya bertujuan untuk menginformasikan, mendidik, menghibur, dan bahkan memengaruhi opini komunikan terhadap perkara tertentu.[1] Upaya-upaya komunikasi semacam itu ditangkap dengan amat baik oleh majalah. Meski terbit secara berkala, dan tidak meyampaikan pesan/informasi yang aktual secara cepat tiap harinya, seperti yang dilakukan oleh radio, televisi, internet, ataupun surat kabar, majalah tetap memegang kendalinya sebagai salah satu penyampai pesan yang efektif dan diminati banyak orang. Apa sebabnya? Secara amat menarik, majalah mampu memfokuskan diri untuk mengusung tema-tema tentang sisi kehidupan manusia. Misalnya saja, dewasa ini, kita mengenal beragam majalah yang mengupas habis sisi-sisi kehidupan wanita, budaya, keluarga, lingkungan hidup, komputer, sampai kehidupan rohani sekalipun. Sisi-sisi inilah yang ditawarkan oleh majalah, dan menjadi ciri khasnya.

Sebagai sebuah media komunikasi, sekali lagi, majalah berfungsi untuk menyampaikan pesan kepada komunikan/pembaca. Lantas, bagiamana caranya agar pesan tersebut dapat dengan mudah diterima oleh komunikan/pembaca? Kiranya, ada beberapa macam model komunikasi massa yang dilirik oleh majalah (dan juga media komunikasi lain) agar pesan yang disampaikannya benar-benar efektif dan mendapat tempat di hati komunikan/pembaca. Model-model komunikasi massa tersebut antara lain:[2]

Pertama, model jarum hipodermik. Dalam model ini, media komunikasi dianggap menimbulkan efek yang kuat, terarah, terus menerus, dan langsung memengaruhi komunikan. Kedua, model komunikasi satu tahap Model ini menyatakan bahwa media komunikasi menimbulkan efek pengaruh yang berbeda untuk setiap komunikan. Besar-kecilnya efek pengaruh tersebut  bergantung pada seberapa sering komunikan berhadapan langsung dengan media komunikasi yang bersangkutan. Ketiga, Model komunikai dua tahap. Model komunikasi ini mensyaratkan adanya kelanjutan penyampaian pesan. Pesan pertama disampaikan oleh media komunikasi kepada komunikan. Selanjutnya, pada tahap kedua, komunikan tersebut menyalurkan informasi yang telah diterima kepada orang lain, dan begitu seterusnya. Keempat, Model komunikasi tahap ganda. Model komunikasi yang terakhir ini merupakan gabungan dari ketiga model komunikasi yang sebelumnya. Pesan yang hendak disampaikan dalam media komunikasi, bisa jadi ditangkap saat komunikan berhadapan langsung dengan media tersebut, tapi juga tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang menangkap pesan tertentu melalui informasi yang disampaikan oleh komunikan pertama yang sebelumnya telah terlebih dahulu menangkap pesan tersebut.

Majalah Paroki

Majalah paroki merupakan suatu bentuk elaborasi yang luar biasa antara  tugas katekese yang diemban oleh Gereja dengan pemanfaatan media-media komunikasi yang sedang berkembang, khususnya teknologi media cetak. Sejatinya, majalah paroki tidaklah berbeda dengan majalah sekular lainnya, kemasan, format, dan gaya penulisannya hampir sama. Hanya saja, majalah paroki memiliki ruang lingkup yang terbatas dibanding majalah sekular lain. Penyebarannya khusus ditujukan untuk umat paroki dimana majalah tersebut diterbitkan. Selain itu, perbedaan yang mencolok antara majalah paroki dengan majalah sekular lain terletak pada visi dan misinya. Majalah paroki tidaklah berorientasi bisnis, visi dan misinya diletakkan sepenuhnya pada usaha-usaha pewartaan iman umat.

Sementara itu, untuk membedakannya dengan majalah sekular lain, majalah paroki mendasarkan diri pada prinsip-prinsip berkut:[3] Pertama, mengutamakan pemuatan informasi yang berguna bagi perkembangan wawasan iman dan kepribadian umat. Kedua, menjunjung tinggi dan mengedepakan nilai-nilai Kristiani. Ketiga, mengutamakan ajaran iman secara alkitabiah. Dan, keempat, menjunjung tinggi kesaksian hidup/iman umat.

Lebih jauh, penerbitan majalah paroki tidaklah tanpa sebab. Penerbitan majalah paroki, sekali lagi, sejatinya berfungsi sebagai sarana pengajaran atau penyampaian katekese bagi umat. Lewat majalah paroki, umat mendapat pengetahuan yang mendalam tentang pokok-pokok iman Katolik. Selain itu, majalah paroki juga berfungsi sebagai wadah pertukaran ide atau informasi antara paroki  dan umat seputar kegiatan-kegiatan yang terjadi di paroki, permasalahan umat, pun juga isu-isu aktual yang menjadi keprihatinan Gereja (paroki).

Katekese

Katekese merupakan salah satu tugas Gereja yang amat penting. Tujuan khas katekese adalah sebagai sarana pengajaran dan pendewasaan iman umat.[4] Lewat katekese, Gereja membina segenap umat supaya menjadi dewasa dalam iman, pun juga menghantar mereka untuk memasuki kepenuhan hidup Kristen.[5] Lebih jauh, Gereja selalu memandang katekese sebagai kewajiban suci dan hak yang tidak boleh diambil dari padanya. Panggilan untuk pelayanan pastoral yang diterima oleh Gereja (perdana) dalam Perjanjian Baru dan perintah yang diembannya untuk menyebarkan Kabar Gembira kepada segenap bangsa dan mengajar mereka, merupakan titik tolak dari kewajiban suci Gereja untuk menjalankan tugas katekese. Di lain pihak, katekese juga merupakan hak, khususnya bagi segenap umat beriman yang telah dibabptis. Sebab, dengan dibaptis mereka berhak menerima dari Gereja pengajaran dan pendidikan, yang memungkinkan mereka untuk menghayati hidup Kristen yang sejati.[6]

Majalah Paroki dan Katekese

Paus Yohanes Paulus II, lewat anjuran apostoliknya tentang penyelenggaraan katekese (Catechesi Tradendae, 1992:22), menulis bahwa katekese perlu terus menerus dibaharui dengan perluasan visinya, dengan peninjauan kembali metode-metodenya, dangan usaha menemukan bahasa yang sesuai, dan dengan penggunaan upaya-upaya baru untuk menyampaikan pesan iman agar dapat ditangkap dengan sungguh oleh setiap umat beriman. Oleh karena itu, sesuai dengan semangat jaman ini, Gereja menyadari bahwa pemanfaaatan media-media komunikasi sosial merupakan pilihan yang tepat sebagai usaha untuk menyiarkan dan mengajarkan Warta Keselamatan dengan wajah yang baru lagi segar. Pun juga, dalam Dekrit InterMirifica (1992: 5) ditegaskan bahwa pemanfaatan media komunikasi sosial, kalau digunakan dengan tepat, dapat berjasa besar bagi umat manusia, sebab sangat membantu untuk menyegarkan hati dan mengembangkan budi, dan untuk menyiarkan serta memantapkan Kerajaan Allah.

Diantara sekian bentuk media komunikasi sosial yang berkembang dewasa ini, (penerbitan) majalah menjadi salah satu pilihan yang diambil oleh Gereja untuk menjalankan tugas katekesenya. Majalah, terlebih majalah paroki, akhirnya menjadi tempat referensi yang penting bagi umat Kristen untuk memahami dan mendalami pokok-pokok pewartaan iman/katekese yang hendak diwartakan oleh Gereja setempat.

Refleksi Reksa Pastoral

Pada bagian terdahulu telah dikatakan bahwa perkembangan teknologi media komunikasi dewasa ini tak pelak membuat Gereja berpikir ulang dan menimbang cara pewartaannya. Konsili Vatikan II dalam dokumen tentang komunikasi sosial (InterMirifica), no. 3, menegaskan bahwa “hak alamiah Gereja untuk menggunakan dan memiliki serba ragam alat ini (media-media komunikasi. red)… bagi pendidikan Kristen dan semua usaha penyelamatan jiwa-jiwa. Lebih jauh, dalam Chistifidelis Laici (1998), sebagaimana yang disitir oleh Franz-Josef Eilers, SVD, Paus Yohanes Paulus II menulis bahwa “dunia komunikasi massa menyajikan suatu medan karya yang baru bagi misi Gereja, karena ia mengalami suatu perkembangan yang cepat dan inovatif, dan pengaruhnya telah meluas ke seluruh dunia pada pembentukan mentalitas dan kebiasaan-kebiasaan.”[7] Dalam cara pandang yang demikian, maka muncullah upaya-upaya untuk memanfaatkan media komunikasi yang ada di bawah pengaruh Gereja.

Majalah paroki adalah wadah dialog yang efektif antara Gereja dan umat. Sebagai sebuah dialog, pewartaan yang terjadi pun tidak hanya berlangsung satu arah atau melulu dari pihak Gereja sebagai pengemban tugas ketekese umat, tapi juga berlangsung dua arah, dimana umat ikut ambil bagian dalam setiap bentuk upaya katekese, entah dengan mengirimkan beragam tulisan yang bisa membangun iman sesama umat ataupun dengan ikut mencurahkan tenaga, biaya, dan waktu demi kehadiran/kelangsungan majalah ini.  Sungguh merupakan berkah tersendiri bagi Gereja jika mampu menangkap roh kehidupan yang bernyala di tiap hati umat paroki tersebut.

Lebih lanjut, harus disadari bahwa paroki merupakan penggerak utama dan tempat yang tepat untuk penyelenggaraan katekese dari Gereja kepada umat. Paroki juga sejatinya menjadi tempat referensi guna menimba pengetahuan iman dan bekal rohani bagi umat Kristen. Maka, seyogyanya paroki mengoptimalkan setiap bentuk usaha pewartaan katekese, entah itu dengan menerbitakan majalah paroki, atau bisa juga dengan bentuk-bentuk lain, seperti: pengadaan buletin paroki yang bentuknya lebih sederhana dan murah, pengadaan perpustakaan paroki guna menunjang pengetahuan umat, dsb.

Daftar Pustaka

Dokumen Konsili Vatikan II. Inter Mirifica, terj. Robert Hardiwiryana, SJ, Jakarta: Depaetemen DOKPEN KWI, 1992.

Effendi, Prof. Drs. Onong Uchjang, M.A. Ilmu, Teori & Filsafat Komunikasi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993, hlm. 93-94.

Eilers, Franz-Josef, SVD. Berkomunikasi dalam Gereja. Flores: Nusa Indah, 2002

http://pelitaku.sabda.org, diakses tgl. 2 November 2007.

.Paulus, Paus Yohanes II. Catechesi Tradendae, terj. Robert Hardiwiryana, SJ, Jakarta: Depaetemen DOKPEN KWI, 1992.


[1]Bdk, Prof. Drs. Onong Uchjang Effendi, M.A, Ilmu, Teori & Filsafat Komunikasi, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993, hlm. 93-94.

[2] Bdk, Ibid, hlm. 83-86.

[3] Bdk, http://pelitaku.sabda.org, diakses tgl. 2 November 2007.

[4] Bdk, Paus Yohanes Paulus II, Catechest Tradendae, terj. Robert Hardiwiryana, SJ, Jakarta: Depaetemen DOKPEN KWI, 1992, hlm. 25.

[5] Ibid,  hlm. 23.

[6] Bdk, Ibid, hlm. 24.

[7] Franz-Josef Eilers, SVD, Berkomunikasi dalamGereja, Flores: Nusa Indah, 2002, hlm. 93.

3 thoughts on “Berkatekese dengan Majalah Paroki

  1. artikel ini bagus sekali… sungguh kaya & inspiratif, didukung oleh referensi yang sangat memadai… terima kasih karena telah menginspirasi… dan selamat hari komunikasi sedunia :-)

    • Sangat menarik tulisan yang ada, namun saya berfikir untuk mengembangkan media elektronik, seperti menampilkan majalah versi e-paper yang bisa dibaca dengan media2 yang ada seperti i-pad atau samsung android agar misi yang disampaikan bisa diterima lewat media modern.

      Sementara itu, isi media pewartaan, sampai saat ini masih terlihat old fasion sehingga umat hanya melihat sekilas kadang hanya foto2nya mengenai materi jadi nomor kesekian. Ini menjadi pertimbangan menarik agar pewartaan bisa diterima sesuai dengan waktu.

      Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s