Tingkatan Ekonomi


Orang Hindu (kuno) mengenal sistem kasta sebagai dasar pembagian masyarakat. Dalam sistem kasta, tingkatan masyarakat yang tertinggi adalah milik Kaum Brahmana, menyusul kemudian Kaum Ksatria, Kaum Waisa, dan Kaum Sudra. Kelahiran menjadi faktor penentu penggolongan kasta sesorang. Pembagian masyarakat dalam kasta-kasta atau tingkatan-tingkatan itu memengaruhi status dan peranan sosial seseorang dalam masyarakat. Semakin tinggi kasta sesorang, maka semakin tinggi pula jabatan dan kehormatan yang akan diperoleh seseorang dalam masyarakat.

Pembagian masyarakat yang hampir sama pun terjadi di dalam masyarakat modern. Namun, dasar pembagiannya bukan lagi soal kelahiran, melainkan soal tinggi-rendahnya tingkatan ekonomi yang dimiliki oleh seseorang dalam masyarakat. Saat ini, kita mengenal adanya  tiga lapisan masyarakat yang terjadi akibat perbedaan tingkat perekonomian tersebut, yakni masyarakat kelas atas, masyarakat kelas menengah, dan masyarakat kelas bawah. Lapisan masyarakat kelas atas diisi oleh orang-orang yang mapan atau berkelimpahan secara ekonomi, misalnya: pejabat teras di berbagai instansi pemerintahan, CEO perusahaan multinasional, dsb. Lapisan masyarakat kelas menengah diisi oleh orang-orang yang berkecukupan secara ekonomi, misalnya: pegawai negeri, pegawai kantor, dsb. Sementara itu, lapisan masyarakat kelas bawah diisi oleh orang-orang yang secara ekonomi berkekurangan, misalnya: pedagang keliling, pengasong, buruh pabrik, dsb.

Lapisan ekonomi tersebut memiliki sifat vertikal. Artinya, makin tingi suatu lapisan ekonomi, makin tinggi pula kedudukan ekonominya. Kedudukan ekonomi yang tinggi menyebabkan pula tingginya status dan peranan sosial yang diterima oleh seseorang dalam masyarakat. Dan begitu sebaliknya.

Namun, harus disadari bersama bahwa ada bahaya yang cukup besar jika perbedaan perekonomian malah menimbulkan kesenjangan ekonomi yang cukup mencolok dalam masyarakat. Misalnya saja dalam tragedi tahun 1998, dimana penolakan terhadap rezim Soeharto malah berubah menjadi kebencian rasialis terhadap orang-orang Cina yang dianggap telah memonopoli perekonomian di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s