Perempuan Jawa


Perempuan, dalam konsep budaya Jawa, memiliki posisi yang tidak menguntungkan. Ia terjebak dalam hegemoni budaya Jawa yang lebih mengagungkan kekuasaan, kekuatan, dan kepemimpinan laki-laki dibanding perempuan. Ia dipandang sebagai makhluk yang lemah dan butuh perlindungan. Oleh karena itu, kehadirannya hanya dianggap sebagai konco wingking (orang yang selalu berada di belakang) yang menemani laki-laki semata.

Konsep budaya semacam itu pada akhirnya meredusir peran seorang perempuan di dalam keluarga. Di dalam keluarga, peran seorang perempuan hanya terbatas pada kewajiban untuk masak (memasak), macak (berdandan), dan manak (melahirkan). Dengan kata lain, ruang gerak perempuan menjadi terisolir pada soal dapur dan soal menyenangkan suami (di atas ranjang). Berbeda dengan perempuan, laki-laki Jawa memiliki ruang gerak yang cukup luas lagi bebas. Perannya sebagai seorang kepala keluarga memungkinkannya untuk ‘bertualang’ di luar rumah. Bahkan, ada adagium Jawa yang mengatakan bahwa seorang seorang laki-laki memiliki kuasa untuk mengejar harta, tahta (kedudukan), dan wanita. Seorang perempuan Jawa tidak mungkin bisa merasakan ‘anugerah’ budaya semacam ini.

Tak pelak, ketimpangan gender semacam itu akan semakin memperlemah kedudukan perempuan di dalam masyarakat. Maka, kesetaraan gender menjadi mendesak untuk dilaksanakan, khususnya dalam setiap bentuk budaya patriakhi, yang lebih mengagungkan keberadan laki-laki dan sebaliknya merendahkan keberadaan perempuan. Secara amat menarik, Mathew Henry mengungkapkan kesetaraan yang seharusnya terjadi diantara pria dan wanita, dengan puisi berikut ini:

Woman was created (wanita diciptakan) / From the rib of man (dari tulang rusuk laki-laki) / Not from his head (bukan dari batok kepalanya) / To be above him (untuk menjadi atasannya) / Not his feet (bukan pula dari kakinya / To walked upon (untuk dijadikan alasnya) / But from his side (melainkan dari rusuknya) / To be equal (untuk menjadi teman sekutunya) / Near his arm (dekat dengan lengannya) / To be protected (untuk dilindunginya) / And close to his heart (dan dekat dengan hatinya) / To be loved (untuk dicintainya).

Dengan demikian, perbedaan jenis kelamin (gender) bukanlah alasan untuk memperlakukan perempuan secara tidak adil. Perbedaan jenis kelamin adalah kodrat yang tidak bisa dihindari. Dan, satu hal yang harus diingat, meski memiliki jenis kelamin yang berbeda, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hakekat yang sama sebagai seorang manusia  dan ciptaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s