MASYARAKAT DAN AWAL MULA ILMU SOSIOLOGI


No man is an island. Sejatinya, tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu hidup sendiri. Sedari lahir, seseorang membutuhkan orang lain untuk bisa (bertahan) hidup. Kebutuhan akan relasi dengan orang lain tersebut akan semakin terasa dan kentara ketika seseorang tersebut hidup di dalam masyarakat. Relasi individu di dalam masyarakat adalah relasi yang berstruktur, yang mengandaikan adanya sistem hidup bersama (biasanya berupa nilai-nilai dan norma-norma yang harus ditaati oleh setiap anggota masyarakat), dan kesadaran hidup bersama (common sense). Relasi tersebut, pada akhirnya, akan membentuk “mental sosial” dalam diri tiap individu dalam masyarakat (Mills menyebut mental sosial sebagai “imaginasi sosiologis”). Berkat “mental sosial” tersebut, tiap individu mampu untuk menyelesaikan tiap permasalahannya dengan kerangka sosial yang telah ada.

Sementara itu, masyarakat itu sendiri merupakan suatu organ yang hidup, dimana senantiasa terbuka kemungkinan untuk berubah dan berkembang. Nah, perubahan dan perkembangan yang ada di dalam masyarakat inilah yang ditangkap, diminati, dan diteliti oleh ilmu sosiologi.

Sebagai suatau disiplin ilmu akademis, ilmu sosiologi termasuk ilmu yang relatif baru. Ilmu ini “baru” lahir pada abad ke 19, sebagai jawaban atas perubahan-perubahan tatanan sosial dalam masyarakat yang terjadi pada waktu itu (sebuah dampak yang tak terhindarkan dai revolusi industri!). Dan, orang yang pertama kali memperkenalkan  kata “sosiologi” adalah Auguste Comte (1798-1853). Meski demikian, jauh sebelum era Comte, pemikiran tentang masyarakat telah lebih dulu ada. Diantaranya ada pemikiran dari Plato, Aristoteles, Hobbes, dsb. Hanya saja sumbangan pemikiran mereka tentang masyarakat masih terbatas pada gagasan-gagasan spekulatif-filosofis. Adalah jasa Auguste Comte yang kemudian mengubah cara studi tentang masyarakat tersebut.

Comte menjalankan studi sosial (studi mengenai masyarakat) seperti studi “hard science”, yakni dengan menggunakan data. Suatu cara studi yang tidak pernah dilakukan oleh para pemikir masyarakat sebelumnya. Dengan demikian, sebagai sebuah ilmu, sosiologi tidak lagi dikerjakan berdasarkan asumsi-asumsi atau spekulasi-spekulasi belaka. Pemikiran tentang masyarakat, menurut Comte, haruslah dibentuk melalui pengamatan (opbservasi) dan pengumpulan data-data (fakta-fakta) mengenai keadaan masyarakat yang senyatanya. Lebih jauh, Comte juga menyatakan bahwa pada dasarnya ada 3 tahap perkembangan masyarakat, yakni tahap teologis, metafisis, dan positivistis. Tahap terakhir inilah yang menjadi tahap terakhir perkembangan masyarakat, dimana ilmu positif (ilmu yang mengandaikan pengamatan dan data!) memainkan peranan yang cukup vital untuk menilai dinamika hidup masyarakat.

Masyarakat adalah bagian integral dari kehidupan manusia. Tiap individu tentunya tidak bisa menolak kenyataan bahwa ia dilahirkan di tengah-tengah masyarakat. Kenyataan yang demikian, mau tidak mau, membuat individu harus menyesuaiakan diri dengan nilai-nilai dan norma-norma yang telah menjadi kesepakatan masyarakat dimana ia tinggal, agar ia tidak dikusilkan atau dianggap sebagai orang asing/aneh. Relasi yang kemudian terjadi disini adalah relasi memengaruhi-dipengaruhi. Masyarakat, dengan nilai dan normanya, memiliki kekuatan yang cukup besar untuk memengaruhi pola pikir dan pola tindakan individu. Sebaliknya, individu menerima begitu saja apa yang telah digariskan oleh masyarakat, sekali lagi, jika ia tidak mau dikucilkan, diasingkan, atau dianggap aneh oleh masyarakat. Meski demikian, dinamika hidup dan perubahan-perubahan dalam masyarakat tidak bisa dilepaskan dari individu-individu yang kreatif dan inovatif dari masyarakat tersebut. Misalnya saja, penemuan mesin uap oleh James Watt yang sedikit banyak memengaruhi terjadiya revolusi industri.

Lantas, dimanakah posisi kita di dalam masyarakat? Apakah kita hanya menjadi orang yang pasif dan mengikuti begitu saja tiap perubahan dalam masyarakat ataukah kita menjadi agen-agen perubahan dalam masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut lantas bisa dikembangkan untuk mempertanyakan eksistensi Gereja di tengah masyarakat. Apakah Gereja saat ini telah menjawabi setiap “perubahan yang mencemaskan” di dalam masyarakat dewasa ini (mis: konsumerisme, hedonisme,dsb) atau malah diam saja, tidak mampu berbuat apa-apa melihat realitas yang berkembang di dalam masyarakat tersebut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s