Kekerasan Atas Nama Agama


‘Tuhan tak punya agama,’ demikian kata Gandhi tatkala melihat kenyataan yang memilukan sekaligus memalukan dari penghayatan keagamaan bangsanya. Betapa tidak, dua kelompok yang sama-sama mengklaim dirinya beragama, yang mengakui adanya Tuhan, terlibat bentrokan beradarah nan tragis sepanjang sejarah India. Tiap orang, dengan bendera agamanya masing-masing, merasa diri paling benar, dan lantas merasa berhak menghancurkan serta merampas hak-hak hidup orang lain demi mencapai tujuan (politik) tertentu. Tidakkah mengherankan! Bagaimana mungkin nama Tuhan yang begitu agung dilibatkan dalam hal-hal ‘kotor’ semacam itu? Bukankah Tuhan, yang diyakini oleh semua agama, adalah pecinta kehidupan. Dan, bukankah di tiap-tiap mimbar keagamaan selalu diserukan indahnya perdamaian/kerukunan/kebahagiaan? Maka, tak heran jika kemudian Gandhi berseru bahwa Tuhan tak punya agama. Sebab, nilai-nilai agama yang begitu luhur telah ‘diperkosa’ dan ‘diperalat’ oleh pemeluknya.

Realitas keberagamaan kita di Indonesia tak kalah memilukan. Identitas ‘negara agamis’ yang melekat pada bangsa kita, seperti yang ditulis oleh Abdul Mukti, ternyata tidak selalu mendapat pengabsahannya. Rasa-rasanya, identitas tersebut telah menjadi slogan usang ditengah pergolakan keagamaan bangsa kita dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini. Masih hangat dalam ingatan kita bagaimana aksi-aksi kekerasan berlabel agama atau yang mengatasnamakan agama turut mewarnai perjalanan bangsa kita. Sebut saja, kasus Poso (dimana hampir setiap hari darah ditumpahkan oleh masing-masing orang yang berbeda keyakinan), atau juga aksi-aksi terosisme demi penegakan keyakinan agama tertentu (amat menggelikan, nama Tuhan selalu saja diserukan oleh para pelaku teror sesudah mereka berhasil menunaikan tugasnya, seolah-olah Tuhan merasa senag dan dimuliakan dengan tindakan mereka). Maka, meyitir pernyataan Abdul Mukti, kenyataan yang demikian mengakibatkan produk keberagamaan yang muncul dari bangsa kita adalah ‘keberagamaan yang tegang.’ Sehingga, alih-alih membela agama, kekerasan-kekerasan yang disebut diatas malah menjerumuskan agama ke dalam bentuk-bentuk yang sangat memalukan.

Lantas, apa yang harus segera dilakukan? Sekali lagi, meyitir pernyataan Abdul Mukti, sekurang-kurangnya ada 3 hal yang patut menjadi bahan perenungan para pemeluk agama di Indonesia. Pertama, agama harus menjadi ‘juru runding.’ Kedua, membangkitkan agama dalam pengertian pluralistik. Dan, ketiga, memprioritaskan aspek afektif keagamaan, misalnya melakukan aksi pembebasan dan pemberdayaan umat, ketimbang menekankan aspek doktrinal yang membabi buta. Dengan demikian, agama bisa menjadi sesuatu yang ‘menyenangkan’ dan menjadi corong terdepan dalam menyuarakan nilai-nilai humanistik-transendental.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s