KEBUDAYAAN


Masyarakat dan kebudayaan. Dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Keduanya membentuk kesatuan relasi yang amat erat. Melalui kebudayaan, masyarakat mengungkapkan dirinya, mengukuhkan identitasnya, dan mengatur tatanan-tatanan sosialnya. Dengan demikian, melihat kebudayaan suatu masyarakat tertentu sama dengan melihat bagaimana pola pikir dan pola tindakan masyarakat tersebut. Sebab, pola pikir dan pola tindakan masyarakat biasanya mengikuti suatu pola tertentu. Pola-pola yang telah disepakati bersama dan yang hendak dilestarikan. Pola-pola tersebut terangkum dan terintegrasikan dalam suatu nilai hidup yang disebut dengan kebudayaan. Sehingga, menjadi suatu keharusan bagi setiap anggota masyarakat yang baru untuk mengenal dan membiasakan diri dengan kebudayaan yang dilestarikan oleh masyarakat dimana ia tinggal. Hal ini dimaksudkan supaya ia (anggota masyarakat baru) bisa hidup bersama dan diterima dalam pergaulan hidup masyarakat di sekitarnya.

Eksistensi kebudayaan sangatlah bergantung pada dinamika hidup masyarakat yang ada di dalamnya, karena ia adalah produk olahan dari daya cipta (budi), rasa (perasaan), dan karsa (kehendak) manusia. Kebudayaan lama bisa digantikan dan disempurnakan dengan kebudayaan baru, lewat perkembangan gagasan-gagasan dan penemuan-penemuan yang inovatif lagi kreatif. Kemungkinan itu bisa terjadi jika tiap anggota masyarakat mau untuk terus-menerus mengolah, mengembangkan, dan mempertajam daya cipta, rasa, dan karsanya.

Selain itu, kebudayaan itu sendiri memiliki beberapa ciri khas yang melekat padanya. Diantaranya, bersifat memaksa (generasi terdahulu memberikan warisan budaya yang harus diikuti oleh generasi berikutnya), menajamkan rasa persatuan antaranggota masyarakat, kriteria yang melatarbelakangi pembagian dalam masyarakat (misalanya, sebutan masyarakat Jawa, masyarakat Bali, dsb), dan memiliki sifa-sifat universal (seperti, bahasa, kesenian, sistem religi, dsb).

Lantas, “Apakah ada kaitan antara agama yang saya yakini (agama Katolik) dengan kebudayaan yang saya miliki (kebudayaan Jawa)?” Pertanyaan itu muncul mengingat adanya bungkus-bungkus kebudayaan lain (kebudayaan Romawi) yang menempel dalam agama yang saya yakini. Bungkus-bungkus kebudayaan tersebut nampak jelas dalam produk-produk keagamaan yang biasanya dipakai untuk merepresentasikan simbol kehadiran Tuhan.Misalnya saja, soal pemakaian roti dan anggur dalam konsekrasi, “Mengapa kok tidak memakai nasi dan teh saja yang dekat dengan realitas keseharian saya untuk menyimbolkan tubuh dan darah Kristus?” atau soal pakaian imam, “Mengapa imam harus memakai kasula/alba kok tidak memakai surjan saja?”, dsb. Tentu saja, dibalik pemakaian produk-produk keagamaan tersebut ada serangkaian argumen teologis yang mendasarinya. Tetapi, yang ingin saya tekankan, sekali lagi, ternyata ada bungkus kebudayaan lain di dalam agama yang saya yakini saat ini.

Nah, jika demikian, “Bagaimana saya harus menghayati rasa keagamaan saya tanpa harus meninggalkan rasa budaya asli saya?” Belakangan ini, misalnya, marak diadakan misa-misa inkulturatif dalam Gereja, ada misa inkulturasi budaya Jawa, inkulturasi budaya Kalimantan, bahkan misa ruwatan. Sebuah upaya yang cukup brilian dan patut diacungi jempol, karena hal tersebut menandakan bahwa Gereja telah melirik, menghargai dan memasukkan kekhasan budaya setempat untuk pewartaan imannya. Namun, sayangnya, saya mempunyai kesan bahwa misa inkulturasi yang dilakukan oleh Gereja hanya sekadar menempatkan produk-produk kebudayaan setempat sebagai tempelan atau dekorasi misa semata. Nilai-nilai luhur kebudayaan setempat belum begitu banyak dieksplorasi dan dielaborasi oleh Gereja. Lantas, yang menjadi PR bagi kita sekarang adalah soal bagaimana menemukan dan mengintegrasikan nilai-nilai budaya setempat dengan nilai-nilai kristiani, agar wajah Gereja di Indonesia bisa semakin membudaya dan meng-Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s