Demonstrasi (Gerakan Kelompok Sosial ataukah Kerumunan?)


Dulu, ketika para penguasa negeri ini bertingkah bak raja, kata “demonstrasi” menuntut sesuatu yang mahal untuk bisa menjadi sebuah gerakan. Jadi, jangan harap kita bisa menyaksikan orang-orang turun ke jalan, berteriak, dan berorasi, untuk menyatakan sikap atau menyerukan aspirasi tertentu dihadapan publik, apalagi jika pernyataan sikap atau seruan itu jelas-jelas menyentil telinga para penguasa. Menentang kebijakan impor beras dari negara tetangga, misalnya. Bisa-bisa kita lantas dituduh subversif atau pembangkang. Dan, ganjaran bagai mereka yang subversif atau pembangkang adalah ruang isolasi atau penjara. Menyedihkan.

Beruntung, saat ini kita hidup di era yang lebih permisif untuk sekadar menyerukan kritik, gagasan, atau tuntutan. Lewat demonstrasi, seruan semacam itu pun kini menjadi mungkin untuk dilontarkan di ruang-ruang publik, tanpa takut diintimidasi oleh kaki tangan penguasa. Tak pelak, aksi-aksi demonstrasi pun belakangan ini marak disuguhkan oleh media massa kita. Misalnya saja, aksi untuk menuntut perbaikan gaji guru dan buruh, atau untuk menolak diundangkannya peraturan pemerintah yang baru.

Aksi-aksi demonstrasi semacam itu bukanlah aksi perseorangan, melainkan aksi massal yang melibatkan puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan orang, yang beramai-ramai turun ke jalan. Mereka tergabung dalam kelompok-kelompok sosial tertentu sebagai wadah atau motor gerakan meraka. Misalnya, Forkot (Forum Kota), PMII (Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia), asosiasi kaum buruh Indonesia, dsb. Sehingga, kritik atau tuntutan yang mereka serukan tidak lagi mengatasnamakan kepentingan pribadi mereka, melainkan bersama-sama mereka berjuang demi kepentingan yang diusung oleh kelompok mereka masing-masing.

Sebagai gerakan massal, mereka sangat terorganisir. Kerumunan yang mereka ciptakan ketika turun ke jalan tidaklah sama dengan kerumunan orang yang terjadi di pasar. Lantas, apa yang membedakan? Kerumunan orang di pasar tidak memiliki kesadaran akan adanya ikatan sosial yang menyatukan mereka. Interaksi yang terjadi diantara mereka biasanya bersifat spontan, tidak terduga.

Lain dengan kelompok-kelompok sosial yang turun ke jalan, seperti yang telah dicontohkan di atas. Kelompok-kelompok sosial semacam itu merupakan kumpulan orang-orang yang secara rapi terorganisir. Di dalamnya, setiap orang memiliki tugas dan peranan masing masing. Dan, yang paling penting mereka menyadarai akan adanya ikatan-ikatan sosial yang menjalin dan menyatukan kebersamaan mereka, seperti: kepentingan yang sama, daerah yang sama, keturunan yang sama, dsb. Sehingga, ketika kelompok sosial tertentu turun ke jalan untuk memprotes kenaikan harga sembako, misalnya, maka panas terik, rasa lapar, atau bahkan hadangan para petugas keamanan tidak akan menyurutkan langkah mereka. Karena, mereka telah disatukan oleh gairah kepentingan dan tujuan yang sama, yakni tuntutan untuk menurunkan kembali harga sembako tersebut.

Namun, agaknya patut disayangkan ketika aksi simpatik dan heroik dari para demonstran atau kelompok-kelompok sosial tertentu yang turun ke jalan untuk menyuarakan kebenaran, malah berubah menjadi aksi kerumunan orang-orang yang  brutal dan penuh kekerasan. Kita bisa saja menyalahkan para provokator yang tidak bertanggung jawab. Tapi, kita juga patut bertanya apakah kelompok-kelompok sosial tersebut mampu mengontrol dan mengorganisir kekuatan massanya dengan baik?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s