SPE SALVI (Iman dan Harapan)


Iman adalah harapan

Penderitaan, kecemasan, kekacauan, atau juga ketidakadilan, merupakan realitas yang tak terelakkan dalam sejarah hidup manusia. Masih kita ingat betapa rendahnya harga hidup manusia dihadapan ancaman perang yang serasa tiada berakhir di Irak. Pun juga, betapa kita, akhir-akhir ini, merasakan kecemasan yang tiada berujung akibat melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok yang semakin melangit. Berhadapan dengan situasi semacam itu, kita lantas bertanya, akankah semuanya akan berakhir? Akankah ada hidup yang lebih baik? Atau, akankah ada kebahagiaan dan keselamatan yang bisa kita nikmati?

‘Kita diselamatkan dalam pengharapan,’ demikian kata Santo Paulus kepada jemaat di Roma (Rom 8:24). Ya, (hanya) dalam pengharapanlah kita akan mendapatkan keselamatan, kebahagiaan, hidup yang lebih baik, atau apapun namanya, di tengah carut-marutnya hidup kita di dunia ini. Lantas, yang menjadi pertanyaannya, dimanakah kita bisa menemukan titik cerah harapan itu? Ensiklik Spe Salvi, yang dikeluarkan oleh Paus Benediktus XVI, secara tersurat menyatakan bahwa harapan itu ada dalam iman. Harapan itu bertumbuh dalam iman. Bahkan, harapan itu sendiri adalah iman.

Secara amat menarik, Paus Benediktus XVI berusaha untuk menjelaskan gagasan tersebut dengan menengok kembali kehidupan umat Kristen awali sebelum dan sesudah memiliki iman. Sebelum memiliki iman, umat Kristen awali terperangkap dalam dunia dan masa depan yang gelap. Ilah-ilah yang mereka sembah terbukti tak dapat dipercaya dan dipertanyakan. Mitos-mitos yang mereka yakni tentang ilah-ilah yang mereka sembah pun ternyata tidak memberikan jaminan keselamatan kepada mereka. Sementara itu, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Santo Paulus juga melukiskan bahwa sebelum berjumpa dengan Kristus, umat Kristen bagai ‘tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia’ (Ef 2:12). Situasi yang menyedihkan tersebut  tersebut seketika berubah ketika mereka berjumpa dengan dengan Kristus dan meletakkan iman padaNya. Berkat iman itu mereka lantas mendapat secercah harapan atas hidup mereka. Mereka tidak lagi hidup dalam kegelapan. Sebaliknya, hidup dan masa depan yang menjanjikan telah menanti di depan mereka.

Dalam harapan semacam itu, tidak berarti mereka lantas menjadi tahu segala hal yang bakal terjadi dalam kehidupan mereka, tapi, lebih dari itu, mereka menjadi tahu bahwa hidup mereka tidak akan berakhir dalam kehampaan atau kesia-siaan. Harapan akan hidup baru yang penuh arti, atau lebih tepatnya hidup yang telah diubah oleh Allah dan disatukan denganNya, pada akhirnya telah menjadi satu-satunya pemuas kegelisahan hidup mereka di dunia ini. Seperti yang ditulis oleh Benediktus XVI dalam ensiklik ini, ‘Mereka yang memiliki harapan hidup secara berbeda, sebab mereka telah diberikan karunia kehidupan yang baru.’

Lebih jauh, Benediktus XVI mengungkapkan kisah hidup Josephine Bakhita untuk membantu kita memahami apa artinya sebuah perjumpaan dengan Allah, beriman padaNya, dan beroleh pengharapan dari iman tersebut. Josephine Bakhita lahir di Dafur, Sudan. Kisah hidupnya diwarnai dengan beragam penderitaan yang amat memilukan. Pada usia 9 tahun, ia diculik oleh seorang penjual budak, dipukuli sampai berdarah, dan dijual sampai lima kali di pasar budak Sudan. Ketika bekerja sebagai budak di rumah seorang istri Jendral, ia didera setiap hari, dan akibatnya, ia memiliki 144 luka yang  membekas di tubuhnya. Kisah pedih hidupnya mulai berubah ketika ia dibeli oleh seorang pedagang Italia untuk seorang konsul Italia, pada tahun 1882. Disini, secara kebetulan, ia menjumpai sosok ‘Tuan’ yang amat berbeda dari tuan yang selama ini ia kenal. ‘Tuan’ tersebut ialah Paron, sebutan untuk Allah yang hidup (Yesus Kristus) dalam dialek Venesia. Dia mendengar bahwa Paron tersebut adalah Tuhan diatas semua Tuan. Ia adalah Tuhan semesta alam. Tuhan ini baik dan penuh cinta. DihadapanNya, semua tuan yang pernah ia layanai tidak ada apa-apanya. Lambat laun, Josephine Bakhita  bahkan mulai menyadari bahwa Tuhan yang telah ia jumpai ternyata jauh lebih mengenal dan mencintainya daripada dia sendiri.

Perjumpaannya dengan Tuhan (Yesus) tersebut membuat dia memiliki harapan baru. Tidak lagi sekadar harapan sederhana supaya memperoleh tuan yang tidak kejam lagi, tapi sebuah harapan besar bahwa dia benar-benar merasa dicintai, dan apapun yang akan terjadi padanya ia akan tetap ditemani serta dicintai secara tulus oleh Tuhan yang telah ia jumpai tersebut. Perjumpaannya dengan Yesus membuat ia ‘ditebus.’ Ia bukan lagi seorang hamba, melainkan seorang anak Allah yang merdeka. Dan, pada akhirnya ia menanggapi perjumpaannya dengan Tuhan tersebut dengan menerima baptisan serta komuni kudus dari Gereja. Sesudah itu, ia lantas bergabung dengan konggregasi suster Canossian, dan sejak saat itu ia mulai menyebarkan harapan yang ia temukan dalam iman kepada Yesus kepada banyak orang, agar setiap orang memiliki pengaharapan dan mengalami penebusan serta penyelamatan di dalam diri Yesus Kristus

Melihat hal itu, dapat kita simpulkan bahwa iman Kristen sejatinya tidak hanya bersifat informatif, tapi juga performatif. Artinya, Kabar Gembira yang kita terima bukan sekadar pentransferan iman, melainkan sebuah keniscayaan yang membuat sesuatu terjadi dan yang  bisa mengubah hidup seseorang. Harapan setiap orang ditumbuhkan, dan, sekali lagi, keselamatan pun menjadi sebuah keniscayaan di tengah beragam penderitaan, kecemasan, dsb, yang dialami oleh tiap orang. Kisah hidup umat kristen awali dan Josephine Bakhita adalah buktinya.

Konsep harapan berdasar-iman dalam Perjanjian Baru dan Gereja awali

1. Pengantar

Perjumpaan dengan Allah merupakan benih awal tumbuhnya harapan. Berkat harapan, umat Kristen memiliki perspektif yang sama sekali baru dalam memandang kehidupan di dunia ini. Kehidupan, dengan beragam situasi penderitaan dan kesremawutannya, tidak lagi dipandang secara pesimis. Ada secercah harapan yang ditawarkan oleh Kristus bagi orang yang percaya. Sebuah harapan yang menyelamatkan. Sebuah harapan yang ‘membebaskan’ tiap orang yang percaya dari belenggu kesemrawutan hidup dan penderitaan yang mereka alami di dunia ini. Kepastian akan adanya harapan  semacam itu secara nyata disaksikan oleh umat Gereja awali dan secara tersurat termuat dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru. Dibawah ini, kita akan melihat lebih jauh bagaimana harapan yang terkandung dalam iman Kristiani dihidupi oleh umat Gereja awali dan diwartkan dalam teks-teks Perjanjian Baru.

2. Harapan berdasar-iman dalam Gereja awali

2.1. Latar belakang situasi Gereja awali

Periode awal Kekristenan sarat dengan pengalaman penganiayaan dan perbudakan. Banyak orang Kristen dikejar-kejar, dijadikan budak, atau bahkan dibunuh, bila mereka tidak mau mengingkari iman mereka dan berbalik memeluk agama yang disahkan oleh negara. Iman Kristiani yang sarat dengan pesan revolusi sosial secara paksa dibungkam oleh para penguasa saat itu, nasibnya sama buruknya dengan perjuangan Spartacus atau juga Bar-Kochba yang berujung pada pertumpahan darah. Namun, patut diingat bahwa Yesus bukanlah Spartacus atau Bar-Kochba. Yesus tidak sedang berjuang untuk pembebasan politis seperti mereka. Pesan yang dibawa oleh Yesus untuk dunia jauh berbeda dibanding mereka berdua.

Kehadiran Yesus membawa pesan yang istimewa tentang perjumpaan dengan Allah yang hidup. Perjumpaan tersebut memberi sebuah harapan yang mengatasi setiap bentuk penganiayaan dan perbudakan yang dialami oleh umat Kristen saat itu. Bahkan, harapan tersebut mengatasi kematian yang menakutkan begitu banyak orang. Harapan tersebut adalah harapan yang mentransformasi hidup dan dunia dari dalam. Harapan yang semacam itu adalah harapan yang membebaskan.

2.2. Harapan yang membebaskan

2.2.1 Kesaksian dalam Perjanjian Baru

Surat Paulus kepada Filemon adalah sebuah bukti nyata bahwa iman kepada Kristus, yang dipegang teguh oleh umat Gereja awali, membawa harapan yang membebaskan bagi mereka. Surat ini merupakan surat pribadi yang ditulis Paulus dari dalam penjara kepada Filemon. Surat tersebut dipercayakan oleh Paulus kepada Onisimus, seorang budak Filemon yang melarikan diri. Paulus menulis, “Aku mengajukan permintaan kepadamu bagi anakku (Onesimus) … dimana aku telah menjadi bapa baginya dalam penjara … aku mengirimkan dia kembali kepadamu, mengirimkan hartiku sendiri … mungkin inilah kenapa dia berpisah darimu untuk sementara waktu, sehingga engkau bisa mendapatkannya kembali untuk selamanya, namun tidak lagi sebagai budak, tapi lebih dari budak,  yakni sebagai saudara terkasih…” (Fil 10:16). Disini, Paulus mengingatkan bahwa meskipun menurut hukum sipil ada jurang yang memisahkan status antara majikan dan budak, tetapi sepanjang mereka adalah anggota-anggota dari Gereja yang satu dan sama, status mereka tidaklah berbeda. Dihadapan Allah dan Gereja, mereka semua telah menjadi satu saudara di dalam iman. Berkat rahmat baptisan, mereka telah dilahirkan kembali, diberi minuman dari roh yang sama, dan menerima tubuh Tuhan yang satu dan sama. Keyakinan inilah yang pada akhirnya merubah masyarakat dari dalam.

Gambaran dari situasi dan harapan yang serupa dapat pula ditemukan dalam Surat Pertama kepada jamaat di Korintus. Dalam surat ini digambarkan bahwa banyak umat Kristen awali berada pada strata sosial bawah. Namun, justru dalam situasi semacam inilah umat Kristen awali menjadi lebih terbuka terhadap pengalaman akan harapan baru (seperti yang kita lihat dalam contoh Bakhita). Lantas, bagaimana dengan kaum aristokrat pada masa itu, apakah mereka menutup diri dari harapan yang terkandung dalam iman Kristiani tersebut? Nyatanya tidak. Pada masa ini, terjadi juga pertobatan dalam kaum aristokrat. Mengapa? karena mereka sudah lelah hidup tanpa harapan dan tanpa Allah di dunia ini. Mitos-mitos yang semula mereka percayai telah kehilangan kredibilitasnya. Agama mereka (agama negara romawi) lambat laun telah terfosilkan menjadi seremoni sederhana yang terlalu rituil dan menekankan unsur-unsur lahiriah semata. Kenyataan tersebut pada akhirnya malah menjadikan agama mereka hanya sekadar ‘agama politis.’ Rasionalisme politis telah mengukung dewa-dewa mereka pada suatu ruang ketidak-nyataan. Para ilahi dilihat dalam berbagai cara di balik kuasa-kuasa kosmik.

2.2.2. Kesaksian Bapa Gereja (St. Gregorius Nazianze)

Berhadapan dengan situasi keagamaan (agama negara) yang makin lama makin terasa ‘memperbudak’ tersebut, karena sarat dengan aroma mitos dan ramalan-ramalan bintang (astrologis) yang sia-sia,  Santo Gregorius Nazianze memberikan sebuah gambaran yang mencerahkan tentang kuasa Kristus, sumber iman dan harapan tiap orang beriman. Ia mengatakan bahwa astrologi telah berakhir pada saat para majus dituntun oleh bintang datang menyembah Kristus, Sang Raja baru, karena bintang-bintang sekarang bergerak pada orbit yang ditentukan Kristus. Melalui gambaran semacam itu, Santo Gregorius Nazianze hendak mengatakan bahwa bukanlah ‘roh-roh elemental semesta’ atau hukum-hukum materi yang mengatur dunia dan seluruh umat manusia, melainkan Allah yang berpribadilah yang mengatur semuanya. Pribadi Yesus jauh mengatasai hukum-hukum materi yang ada. Ia berkuasa penuh atas hidup manusia dan dunia.

Dalam cara pandang yang demikian, maka, tiap orang yang beriman dan menaruh pengharapan pada Kristus dibebaskan dari ‘perbudakan’ hukum-hukum alam, sebab oleh karena kuasa Kristus hukum-hukum material tersebut tidak berkuasa lagi atas hidup orang beriman. Sekali lagi, hidup lantas tidak lagi dipandang sebagai sebuah produk dari hukum-hukum dan keacakan materi.

2.2.3. Kesaksian dalam gambaran Kristus di sarkofagus

Harapan umat kristen awal nampak jelas dalam gambaran Kristus yang kerapkali dituangkan di sarkofagus-sarkofagus (peti mati) kuno. Pada sarkofagus-sarkofagus tersebut, Yesus Kristus digambarkan sebagai Sang filsuf dan Sang gembala. Sebagai Sang filsuf, Yesus digambarkan dengan memegang injil di tangan yang satu dan tongkat bepergian seorang filsuf di tangan yang lain. Dengan tongkatNya, Ia menguasai kematian. Sementara itu, Injil yang dibawaNya melambangkan kebenaran yang dicari oleh banyak filsuf kebanyakan pada waktu itu dengan sia-sia. Dengan kata lain, Ia tidak seperti filsuf-filsuf kebanyakan yang kerjanya cuma sekadar berkoar-koar, mengumbar kata-kata manis tanpa arti, demi mendapatkan uang dari pekerjaannya tersebut. Lebih dari itu, Yesus, sebagai Sang filsuf sejati, tahu bagaimana menunjukkan jalan hidup yang benar. Dia menunjukkan jalan, dan jalan ini adalah jalan kebenaran bahkan Dia sendiripun adalah jalan hidup dan kebenaran. Jalan yang ditunjukkanNya adalah jalan di seberang kematian, sebuah jalan yang mengatasi kematian.

Sementara itu, gembala adalah sebuah ekspresi umum akan sebuah mimpi tentang hidup yang damai dan sederhana, yang dirindukan oleh orang-orang di tengah kebingungan banyak orang di kota-kota besar. Gambaran semacam itu sekarang dibaca dalam perspektif yang baru. Yesus digambarkan sebagai seorang gembala yang sejati. Seorang gembala yang menggiring dan melapangkan jalan bagi domba-dombaNya, bahkan di jalan kematian sekalipun. Sebab, Yesus sendiri telah melalui jalan kematian yang menakutkan banyak orang tersebut.  Dia telah turun ke kerajaan maut. Dia telah menguasai kematian, dan Dia telah kembali untuk menuntun kita sekarang serta memberi kita kepastian bahwa bersama denganNya, kita bisa menemukan sebuah jalan melalui kematian tersebut. Gambaran semacam itu senada kidung yang terdapat di dalam kitab Mazmur 23 “Tuhanlah gembalaku: aku takkan kekurangan… meskipun aklu berjalan melalui lembah bayang-bayang kematian, aku tidak takut yang jahat, karena Engkau bersamaku…” Inilah sebuah harapan yang muncul dalam kehidupan dari seorang yang percaya

3. Harapan berdasar-iman dalam Perjanjian Baru

Definisi iman yang berhubungan erat dengan kebajikan harapan dapat kita temukan dalam bab kesebelas dari Surat kepada orang Ibrani, “Iman adalah hypostastis dari hal-hal yang diharapkan; bukti dari hal-hal yang tidak kelihatan.” Dalam perkembangannya, kata Yunani hypostatis, oleh para Bapa Gereja dan teolog-teolog abad pertengahan, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi substantia. Sehingga ayat tersebut dapat kita baca sebagai berikut, “Iman adalah substansi dari hal-hal yang diharapkan; bukti dari hal-hal yang tidak kelihatan. Lebih jauh, Santo Thomas Aquinas mendefinisikan iman sebagai sebuah habitus, yakni sebuah disposisi yang stabil atas roh, yang lewat roh tersebut hidup abadi berakar dalam diri kita dan akal budi lantas dituntun mengimani apa yang tidak dilihat olehnya.

Dengan pengertian diatas, iman lantas tidak lagi diartikan dalam tataran subjektif sebagai ‘keyakinan pribadi’ (yang buta), melainkan diartikan dalam tataran objektif sebagai ‘bukti’ (dari hal-hal yang tidak kelihatan, yang akan datang). Dengan kata lain, iman bukan sekadar dambaan pribadi atas hal-hal yang akan datang, yang sekarang masih absen total. Iman memberi kita bukti’ dari hal-hal yang saat ini tidak kelihatan dan yang masih kita tunggu kehadirannya (misalnya, hadirnya Kerajaan Allah ataupun juga kerinduan akan kehidupan kekal).

Penjelasan di atas akan menjadi semakin jelas dan konkret bila kita melihat secara lebih dekat ayat ke 34 dalam bab kesepuluh Surat kepada orang Ibrani. Disini, sang pengarang mengalamatkan tulisannya kepada umat yang percaya pada Kristus, sebagai penghiburan di tengah beragam pengalaman penganiayaan yang telah mereka alami. Ia menulis, “Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika hartamu dirampas  (hyparchonta), kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan lebih menetap sifatnya.”

Kata hyparchonta, yang tertulis dalam ayat tersebut, mengacu pada kepemilikan, pada kebutuhan mendasar tiap orang di dunia ini, atau pada ‘substansi’ hidup yang darinya kita bergantung, yakni kebutuhan-kebutuhan materi yang menyokong kehidupan kita di dunia ini, misalnya, makanan, harta, dsb. Sayangnya,  selama masa penganiayaan, ‘substansi’ materi tersebut, yang merupakan sumber rasa aman kehidupan, telah diambil dari umat Kristen. Meskipun demikian, mereka tetap tabah dalam pencobaan dan tetap teguh memegang iman, karena mereka memiliki ‘substansi’ yang lebih baik bagi eksistensi hidup mereka. Sebuah ‘substansi’ yang kekal, yang tidak seorangpun dapat mengambilnya. ‘Substansi’ yang kekal tersebut pada akhiranya merelatifisir ‘substansi’ materi, yang melulu bergantung dan berpuas diri pada barang-barang duniawi yang tidak menyelamatkan. Kesadaran baru akan pemahaman ‘substansi’ tersebut diperlihatkan secara nyata oleh para martir, dimana mereka rela mengorbankan nyawa demi mempertankan iman. Atau juga, terlihat dalam tindakan penyangkalan yang agung, dari para rahib abad pertama sampai ke Santo Fransiskus dari Asisi, tak terkecuali kaum religius dewasa ini, yang mennggalkan segalanya demi cinta akan Kristus.

Melalui teladan hidup mereka, pemahaman akan ‘substansi’ yang baru ini telah terbukti menjadi sebuah ‘substansi’ sejati, yang mengalirkan harapan dari orang-orang yang telah disentuh oleh Kristus. Harapan tersebut juga mengalir bagi orang lain yang masih hidup di dalam kegelapan dan tanpa harapan. Sementara itu, bagi kita, teladan hidup yang ditampakkan oleh para martir, para rahib, ataupun kaum religius, bisa menjadi sebuah ‘bukti’ de facto, bahwa hal-hal yang akan datang (janji Kristus) bukanlah sebuah realitas yang kita tunggu dengan tangan hampa, tapi merupakan sebuah kehadiran nyata di saat ini.

Untuk lebih mendalami refleksi atas pendekatan hidup di atas, kita akan memakai istilah hypomone dan hypostole yang tertulis di dalam surat kepada Ibrani (10:36, 39). Hypomone seringkali diterjemahkan sebagai kesabaran, ketekunan, dan ketetapan. Tahu bagaimana untuk menanti dan secara sabar bertekun mengahadapi setiap bentuk pencobaan adalah hal yang penting bagi umat yang percaya untuk dapat ‘menerima apa yang dijanjikan’ (10:36). Dalam konteks religius Yudaisme kuno, kata ini (hypomone) kerapkali digunakan untuk mengekspresikan harapan akan Allah Israel, dimana mereka dengan setia lagi tekun berpegang pada perjanjianNya di tengah dunia yang tidak lagi mengindahkan ketetapan dan perjanjianNya. Dengan demikian, kata hypomone tersebut mengindikasikan adanya sebuah harapan yang dihidupi, sebuah kehidupan yang didasarkan atas kepastian harapan. Sementara itu, di dalam Perjanjian Baru harapan akan Allah ini memiliki sebuah  signifikasi baru, yakni harapan dalam Kristus. Melalui Kristus, Allah telah mewahyukan diriNya sendiri. Melalui Kristus pula, Allah telah mengkomunikasikan kepada kita sebuah ‘substansi’ dan kepastian dari hal-hal yang akan datang.

Sementara itu, istilah yang kedua, yakni hypostole, memiliki arti ‘bersembunyi dibelakang,’ karena kurangnya keberanian untuk berbicara secara terbuka dan gamblang atas kebenaran. Bersembunyi dibalik roh ketakutan akan mengarahkan kita pada kebinasaan (Ibr 10:39). Namun, Allah tidak memberikan kepada kita roh ketakutan tetapi roh kekuatan, cinta, dan pengendalian diri. Sikap inilah yang harus dimilki oleh setiap umat Kristen.

4. Penutup

Kita telah melihat bersama bahwa iman pada Kristus membawa harapan yang mencerahkan bagi orang yang percaya dan yang ‘menanti dengan setia.’ Namun, pengahrapan tersebut tidak menghilangkan segala pertanyaan dan kesulitan mereka di dunia. Mereka masih harus tetap berjuang di dunia ini. Tetapi, mereka tidak berjuang tanpa motivasi dan tanpa harapan. Harapan, memungkinkan mereka untuk bertahan di saat-saat yang sulit sekalipun. Malahan, dengan semangat harapan (dan iman), mereka dapat mentransformasi hidup mereka dan dunia di sekitar mereka menjadi lebih baik, positif dan penuh optimisme. Kisah budak Onesimus dan majikannya, Filemon, seperti yang digambarkan oleh Santo Paulus merupakan buktinya. Tidak hanya itu, teladan hidup dari para martir, para rahib/kaum religius, ataupun kisah Josephine Bakhita yang telah kita dengar, juga menghantar kita pada pemahaman akan adanya dunia yang bisa ‘diubah’ atau ditransformasi dari dalam, lewat tindakan dan sikap hidup yang terus-menerus memantulkan semangat iman dan harapan yang sejati.

Dengan kata lain, harapan yang terkandung dalam iman kepada Kristus, memungkinkan banyak orang dibebaskan atau diselamatkan dari kungkungan dunia, yang sarat dengan pengalaman penderitaan maupun kebahagian materi yang tiada artinya ini. Dan, pada akhirnya, umat Kristiani dihadapkan pada keharusan untuk meletakkan harapannya jauh di depan, ke kehidupan kekal. Dalam surat kepada orang Ibrani dikatakan bahwa umat Kristiani hendaknya mencari ‘tempat tinggal di masa depan,’ sebab di bumi ini mereka tidak memiliki tempat tinggal yang permanen (Ibr 11:13-16). Namun, tidak berarti bahwa mereka melulu harus hidup untuk masa depan dan melupakan setiap pengalaman di dunia saat ini. Sekali lagi harus dikatakan bahwa harapan yang dipegang oleh umat Kristen, selain mendambakan janji kristus di kemudian hari, yakni lewat kepenuhan Kerajaan Allah dan kehidupan kekal, harapan itu juga bisa menjadi sarana untuk mentransformasi dunia saat ini menjadi lebih baik.

Hidup Abadi – Apakah itu?

Hidup abadi menjadi harapan yang (amat) menjanjikan bagi tiap orang  yang beriman. Harapan akan adanya hidup abadi memungkinkan tiap orang yang beriman untuk melihat dunia yang sekarang dalam cara pandang yang baru. Carut marutnya dunia ini dan realitas kematian yang tak terelakkan, tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan, sebab melalui iman ada pengharapan akan hidup abadi yang menanti dan bisa ‘dinikmati’ nanti, selepas mati. Ritual baptisan dalam Gereja, secara tersurat, meyiarkan harapan semacam ini. Tiap orang yang dibaptis pastinya akan menyuarakan harapannya untuk memperoleh hidup abadi sebagai ‘upah’ atas iman mereka.

Tapi, apakah memang benar harapan atau kerinduan akan hidup abadi itu sungguh diinginkan oleh tiap orang dewasa ini? Nyatanya tidak. Ada begitu banyak orang dewasa ini yang menolak iman, hanya karena mereka tidak begitu yakin akan adanya kebahagiaan dalam hidup abadi, yang dijanjikan dalam iman tersebut. Mereka beranggapan bahwa merindukan adanya kebahagiaan dalam hidup abadi itu adalah sesuatu yang naif. Kebahagiaan yang sesungguhnya itu ada di dunia ini, dan harus dicari serta diperjuangkan di dunia ini pula. Iman pun lantas dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk mencari kebahagiaan sebesar-besarnya di dunia ini.

Dalam cara pandang yang demikian, maka, kematian menjadi sebuah realitas yang tidak diinginkan. Sebisa mungkin kematian haruslah ditunda supaya tiap orang bisa puas menikmati kebahagiaan hidup di dunia ini. Tapi, sekeras apapun tiap orang mencegah datangnya kematian, cepat atau lambat kematian akan tetap menghampiri mereka. Santo Ambrosius menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang bisa melepaskan diri dari kematian. Bagi Santo Ambrosius, kematian merupakan awal hidup baru yang bisa membebaskan manusia dari tekanan dosa yang tak tertahankan. Lewat kematian itulah manusia akan mengalami keselamatan.

Dengan demikian, setiap upaya untuk menghilangkan kematian atau menundanya sungguh merupakan sesuatu yang amat mustahil, sebab kematian merupakan keharusan bagi setiap orang. Pada poin inilah muncul kontradiksi atas sikap yang kita tunjukkan berhadapan dengan kematian. Di satu sisi, kita tidak ingin mati, mereka yang mencintai kita di dunia ini juga tidak mengharapkan kita mati dan meninggalkan mereka. Namun, disisi lain, kita juga tidak bisa hidup terus menerus di dunia ini. Kita tidak mungkin menyangkal hukum alam yang menjadikan kita tua dan kemudian mati.

Sikap paradoksial kita tersebut pada akhirnya memunculkan pertanyaan yang lebih dalam, yakni, “Apakah sebenarnya ‘hidup’ itu?” Dan, “Apa sebenarnya makna ‘keabadian’ itu?” Pertama-tama harus kita akui bahwa pengertian tentang ‘hidup’ yang sebenarnya tidaklah sama dengan pengertian hidup dalam bahasa kita sehari-hari. Santo Agustinus, dalam suratnya kepada Proba, seorang janda Romawi dan ibu dari tiga konsul, menulis demikian: pada akhirnya kita menginginkan satu hal, yakni ‘hidup berbahagia.’ Hidup semacam inilah yang kita cari. Sebuah hidup yang menawarkan kebahagiaan yang sejati. Namun, Santo Agustinus menambahkan bahwa realitas hidup semacam itu tidaklah kita tahu sama sekali, bahkan di saat kita berpikir bahwa kita telah menjangkau, menyentuh, dan merasa menikmati hidup sejati yang menawarkan kebahagiaan tersebut, hal tersebut masih nampak kabur bagi kita. Itulah realitas yang sesungguhnya dari hidup abadi. Istilah ‘hidup abadi’ memang dimaksudkan untuk memberi nama dari realitas yang saat ini tidak kita ketahui, tapi kita tahu bahwa realitas tersebut ada.

Lebih jauh, gagasan ‘keabadian’ nyatanya memberikan kepada kita gambaran akan realitas yang tidak pernah berakhir, dan gambaran semacam itu jelaslah menakutkan kita. Sementara, sekali lagi, hidup yang kita alami di dunia ini membuat kita merasa sayang untuk meninggalkannya, meskipun seringkali hidup tersebut membawa kesulitan daripada kepuasan. Maka, saat ini kita perlu memiliki pengertian yang tepat tentang gagasan keabadian tersebut. Keabadian bukanlah semacam pergantian hari yang terus-menerus, yang tak berakhir di kalender, melainkan saat dimana kebahagiaan mencapai titik tertingginya. Sebuah saat dimana waktu – sebelum dan sesudah – menjadi tidak ada lagi. Gagasan semacam ini hanya bisa kita pahami kalau kita hidup dalam makna yang penuh, menceburkan diri kita pada lautan cinta yang tak terbatas dari Tuhan, dimana kita terliputi oleh sukacita yang melimpah karenaNya. Senada dengan apa yang  diekspresikan oleh Yesus dalam Injil Yohanes, “Aku akan melihat engkau lagi dan hatimu akan bersukacita, dan tidak ada yang akan mengambil sukacita darimu” (16:22). Itulah yang harus kita lakukan untuk mengerti hidup abadi, objek harapan dari iman Kristiani tersebut.

Apakah harapan Kristen itu individualistis?

Kehidupan kekal adalah kerinduan terdalam dari tiap orang beriman. Sementara itu, surga adalah ‘gambaran nyata’ dari kerinduan tersebut. Surga merupakan rumah kediaman Allah sendiri. Di dalam surga itulah tiap orang beriman akan mengalami persekutuan dengan Allah, hidup bersama denganNya, dan menikmati kebahagiaan sejati yang disediakan olehNya. Maka, tak heran, dalam sepanjang sejarah Kekristenan, ada banyak orang yang rela meninggalkan segala kepunyaan mereka di dunia ini (hyparchonta) dan bertekad untuk hidup seturut nilai-nilai Injil – bahkan secara amat radikal. Mereka memilih untuk tinggal di bilik-bilik yang sunyi guna menghidupi semangat hidup kontemplatif, menghindari setiap bentuk keramaian (dan segala persoalan) dunia, dan juga mempraktekkan askese yang keras. Semuanya dilakukan demi sebuah ‘tiket’ untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Akan tetapi, dewasa ini, bentuk penghayatan hidup yang demikian dipertanyakan banyak orang. “Tidakkah bentuk penghayatan hidup semacam itu malah akan menjatuhkan konsep harapan Kristen menjadi bersifat individualisme murni, yakni sebuah upaya untuk lari dari dunia, berusaha meninggalkan kesuraman hidup di dunia, dan memilih untuk mengungsi, menyendiri, sembari mengharapkan kehidupan kekal di surga, atau dunia yang lebih baik yang ditawarkan dalam iman?” Guna menjawab pertanyaan tersebut, Benediktus XVI merujuk pada gagasan yang disampaikan oleh Henri de Lubac dan Benard dari Clairvaux. Keduanya menegaskan bahwa harapan Kristen itu sepenuhnya bersifat sosial dan universal.

Dengan merujuk pada teologi patristik, Henri de Lubac menunjukkan bahwa keselamatan itu merupakan sebuah realitas sosial atau keselamatan komunal. Titik tolak gagasannya adalah pemahaman tentang dosa. Dosa, oleh para Bapa Gereja, dianggap sebagai sebuah kehancuran, perpecahan, atau pengkotakkan atas kesatuan manusia. Gambaran yang pas dari pemahaman tersebut adalah Babel, tempat dimana bahasa manusia dikacaukan. Oleh karena itu, penebusan atau keselamatan dilihat sebagai pemulihan kembali kesatuan yang sempat retak. Sebuah kesatuan yang terdiri atas orang-orang beriman, dimana rasa ‘ke-aku-an’ untuk memeroleh keselamatan pribadi  itu disingkirkan. Sehingga, yang ada adalah rasa ‘ke-kami-an,’ dimana tiap orang beriman dalam kesatuan Gereja universal atau kumpulan orang beriman berharap bersama-sama, berusaha bersama-sama untuk memeroleh keselamatan yang dijanjikan Allah.

Sementara itu, Bernard dari Claivaraux menanggapi pandangan umum yang menganggap bahwa biara adalah tempat untuk melarikan diri dari dunia dan untuk menarik diri dari tanggungjawab di dunia bagi orang-orang yang merindukan keselamatan atau kehidupan kekal.  Menurutnya, biarawan memiliki tujuan mulia lewat cara hidupnya yang (seolah-olah) menarik diri dari keramaian dunia tersebut. Biarawan mengemban tanggungjawab yang cukup besar bagi keseluruhan tubuh Gereja dan bagi kemanusiaan. Ia mengutip kata-kata dari buku pseudo-Rufinus untuk menunjukkan betapa mulia tugas dan cara hidup yang dihayati oleh para biarawan: “bangsa manusia hidup berkat beberapa orang; kalau bukan mereka dunia akan lenyap…” Lebih jauh, ia menandaskan bahwa para biarawan haruslah juga menjadi seorang pekerja agrikultural-laborantes. Upaya ini dimaksudkan agar para biarawan tidak lagi dipandang sebagai seorang yang kerjanya melulu berdoa, menghayati hidup kontemplatif, tanpa pernah berurusan dengan hal-hal duniawi (kerja manual). Dengan demikian, sejatinya ada dua fungsi biara, yakni sebagai ‘tempat peggemburan’ hidup spiritual dan hidup praktis.” Semua usaha tersebut dilakukan untuk mempersiapkan dan juga menghadirkan sebuah “firdaus baru” di dunia ini.

Transformasi atas harapan-iman Kristen di jaman modern

Dunia, dengan setiap bentuk perkembangan dan perubahannya, membawa implikasi yang serius bagi penghayatan harapan-iman Kristen. Seiring dengan kemajuan peradaban dunia, refleksi kritis atas konsep harapan-iman Kristen pun semakin banyak dilontarkan. Misalnya saja, apakah pesan yang dibawa oleh Yesus itu bersifat individualistis? tidakkah pengharapan akan ‘keselamatan jiwa’ atau ‘kehidupan kekal’ yang ditawarkan dalam iman Kristen itu malah membuat manusia seakan-akan lari dari tanggungjawabnya di dunia? Untuk menjawab permasalahan diatas, kita harus melihat pondasi-pondasi yang ada di jaman ini, jaman modern.

Francis Bacon berpendapat bahwa suatu era baru telah muncul. Dasar dari era ini adalah pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan yang memampukan manusia untuk menafsir dan memapukan alam beserta hukum-hukumnya. Hal ini tentunya berdampak pada aplikasi teologis: dominasi ciptaan, yang hilang akibat dosa asal, akan diraih kembali dengan ‘tangan manusia.’ Dengan kata lain, penebusan atau pemulihan kembali atas apa yang dihilangkan manusia akibat pengusirannya dari ‘Firdaus’ tidak lagi diharapkan dari iman kepada Yesus, tetapi kepada pencapaian-pencapain ilmu pengetahuan manusia. Sampai pada poin ini, konsep harapan mendapat bentuk yang baru, tidak lagi berupa harapan akan kehidupan kekal yang ditawarkan dalam iman, tapi sekarang, harapan disebut sebagai ‘iman kepada kemajuan.’

Lebih jauh, gagasan kemajuan tidak bisa dilepaskan dari aspek rasio dan kebebasan. Kemajuan adalah penaklukkan atas setiap bentuk ketergantungan, menuju ke arah kebebasan yang sempurna, dimana tiap orang bisa menjadi ‘tu(h)an’ atas dirinya sendiri. Sementara itu, di dalam kedua aspek kemajuan tersebut, terkandung pula aspek politik. Dominasi rasio dinyatakan sebagai kondisi baru umat manusia setelah mereka mendapatkan kebebasan total. Dalam sejarah peradaban manusia, realisasi aspek politik tersebut nampak dalam revolusi Perancis dan revolusi proletarian (yang terjadi pada abad ke sembilan belas). Kedua tahapan revolusi tersebut nantinya sangat berpengaruh pada perkembangan konsep harapan iman Kristen.

Revolusi perancis merupakan sebuah upaya untuk menetapkan aturan rasio dan kebebasan menjadi sebuah realitas politis. Pada awalnya, Eropa di jaman pencerahan amat terpesona dengan peristiwa seputar revolusi ini. Namun, dalam perkembangannya, muncul sebuah refleksi baru atas penekanan rasio dan kebebasan yang amat diagung-agungkan tersebut. Imanuel kant menandaskan bahwa adanya recolusi (Perancis) bisa mempercepat transisi dari iman gerejawi ke iman rasional. Di sini Kerajaan Allah yang diproklamirkan oleh Yesus mendapatkan sebuah definis baru dan mengambil sebuah modus baru, yakni sebuah ‘pengharapan yang akan segera terjadi,’ sebuah pengharapan yang muncul dan terjadi di dalam sejarah hidup manusia. Dengan kata lain, Kerajaan Allah yang awalnya dimaklumkan oleh ‘iman Gerejawi’ dilenyapkan dan diganti oleh ‘iman religius,’ yakni dengan iman rasional yang sederhana.

Sementara itu, pada abad ke sembilan belas, perkembangan industrialisasi dan kemajuan yang begitu cepat akibat ilmu pengetahuan manusia, malah memunculkan sebuah situasi sosial yang baru, yakni menjamurnya kelompok pekerja industri – yang disebut ‘industrial proletariat’ – yang kondisi hidupnya amat menyedihkan. Oleh karena itu, Frederic Engels menyerukan sebuah revolusi proletarian yang baru, sebuah revolusi yang bisa menggoncang dan membalik seluruh stuktur dari masyarakat ‘borjuis’ yang mapan. Karl Marx menyambut seruan tersebut. Menurutnya, sebuah langkah besar dan baru diperlukan dalam sejarah manusia untuk menuju pada ‘keselamatan’ – menuju pada ‘Kerajaan Allah’ yang dideskripsikan oleh Kant. Hal ini dipicu setelah kebenaran akan kehidupan selepas kematian ditolak, sehingga ada pertanyaan yang sangat mendesak untuk menetapkan kebenaran macam apa yang ada sekarang dan yang disini. Dengan demikian, kritikan terhadap surga lantas ditransformasikan menjadi kritikan terhadap bumi.

Namun, seiring dengan kemenangan revolusi, pandangan Marx terbukti keliru. Marx menujukkan dengan tepat bagaimana caranya untuk membuang tatanan yang ada, tapi dia tak mengatakan bagaimana tatanan yang baru akan diorganisir. Sehingga, revolusi untuk menggulingkan tatanan yang lama, pada kenyataannya, tidak membawa sebuah duni ayang sempurna, tapi malah meninggalkan jejak-jejak kehancuran yang mengejutkan. Marx terlampau mudah berpikir bahwa setelah ekonomi diperbaiki dengan benar, maka senuanya akan otomatis berjalan dengan benar. Ia lupa bahwa manusia lebih dari sekadar produk dari kondisi ekonomi.

Berhadapan dengan kompleksitas situasi kemajuan semacam itu, kita harus bersikap kritis dan menanyakan: apakah sesungguhnya makna dari kemajuan? apa yang dijanjikan dan yang tidak dijanjikannya? Pada abad kedua puluh, secar amat menarik, Theodor W. Adorno merumuskan masalah iman atas kemajuan: di amengatakan bahwa kemajuan adlah perkembangan dari ketapel menuju ke bom atom. Disini kekaburan dari kemajuan menjadi jelas. Kemajuan memang menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru untuk kebaikan, tetapi sekaligus juga membuka kemungkinan yang mengejutkan bagi kejahatan. Sehingga, bila kemajuan teknis tidak diimbangi dengan pembentukan etis manusia, maka produk-produk kemajuan akan menjadi ancaman yang serius bagi manusia dan dunia.

Lebih jauh, harus juga dipertanyakan: kapankah rasio, yang merupakan anugerah Allah kepada manusia, menjadi buta terhadap Allah? Jika kemajuan memerlukan pertumbuhan moral dari sisi manusiawinya, maka rasio juga memerlukan keterbukaan kepada daya penyelamatan iman, kepada pembedaan antara yang baik dan yang jahat, supaya rasio tersebut bisa mengarahkan kehendak kepada jalan yang benar. Sementara itu, mengingat kemajuan, perkembangan, dan perubahan dunia saat ini, ada baiknya kita merefleksikan tulisan dari Santo Paulus dalam Efesus 2:12. Ia menandaskan bahwa Kerajaan Allah yang dicapai tanpa Allah, yakni sebuah kerajaan (yang dibangun oleh) manusia semata, maka kerajaan tersebut secara tidak terelakkan akan berakhir sebagai ‘akhir yang melenceng.’ Oleh karena itu, kemajuan dunia yang dilandaskan oleh rasio patutlah merangkul iman untuk samapi pada hakekat yang sejati dari pengaharapan Kerajaan Allah dan pemenuhannya di dunia ini.

Bentuk sebenarnya dari harapan Kristen

Kemajuan ilmu pengetahuan manusia dewasa ini telah memberi artikulasi baru terhadap konsep penebusan. Subjek penebusan tidak lagi ditempatkan pada Kristus, tapi pada ilmu pengetahuan. Dengan demikian, konsep harapan pun beralih dari harapan akan kehidupan kekal yang ditawarkan oleh Kristus menuju harapan akan kemajuan yang dipromosikan oleh ilmu pengetahuan. Akan tetapi, apakah konsep harapan semacam itu benar-benar bisa menebus manusia? Apakah ‘dunia baru’ yang dibangun oleh kemajuan ilmu pengetahuan menawarkan sebuah dunia yang kekal, yang tidak akan berakhir dan berkesudahan? Rupanya tidak.

Harus kita akui bahwa kemajuan ilmu pengetahuan itu bagaikan dua keping mata uang yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, ilmu pengetahuan memang membuat dunia manusia menjadi lebih baik, akan tetapi, di sisi lain, tak bisa dielakkan bahwa produk-produk  ilmu pengetahuan juga bisa menghancurkan dunia manusia. Dengan demikian, sejatinya ilmu pengetahuan bukanlah sarana yang cocok untuk menebus manusia. Manusia hanya bisa ditebus oleh cinta. Ketika seseorang mengalami cinta yang besar dalam hidupnya, pada saat itulah ia mengalami penebusan. Cinta tersebut bukanlah cinta manusiawi yang rapuh dan bisa dihancurkan oleh kematian.  Cinta tersebut adalah cinta tak bersyarat yang dibawa oleh Yesus Kristus. Sebuah cinta yang menawarkan kehidupan sejati dan mengatasi kematian.

Cinta tersebut memampukan setiap orang untuk memandang ‘hidup’ dalam perspektif yang sebenarnya, yakni bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara, dan dengan iman kita menantikan sebuah ‘kehidupan kekal.’ Perspektif hidup semacam itu dibangun dalam sebuah pola hubungan, antara kita (manusia) dengan Dia (Allah) yang adalah sumber hidup. Hanya bila kita berada dalam hubungan dengan Dia yang tidak bisa mati, yang juga adalah Hidup dan Cinta itu sendiri, maka kita berada dalam hidup – maka kita hidup.

Lebih jauh, hubungan kita dengan Allah tersebut juga dibangun melalui persekutuan dengan Yesus, sehingga kita tidak bisa menjalin hubungan tersebut secara individualistis. Mengapa? Karena Yesus telah memberi diriNya tebusan bagi banyak orang. Jadi, berada dalam persekutuan dengan Yesus berarti menarik kita ke dalam ‘ada bagi semuanya.’ Dia membuat kita bertanggung jawab untuk hidup bagi sesama. Tapi, harus diingat bahwa hanya melalui persekutuan dengan Dia lah maka kita bisa benar-benar menjadi ada bagi sesama. Maximus Sang Pengaku turut memberi penegasan soal kaitan antara cinta kepada Allah dan tanggung jawab kepada sesama. Menurutnya, cinta akan Allah disingkapkan dalam tanggung jawab cinta kepada sesama. Mencintai Allah berarti memprasyaratkan sebuah kebebasan interior atas semua kepemilikan dan semua barang materi.

Kaitan antara cinta akan Allah dan tanggung jawab kepada sesama nampak jelas dalam hidup Santo Agustinus. Setelah pertobatannya ke iman Kristen, bersama dengan teman-temannya, ia memutuskan untuk mempraktekkan hidup kontemplatif, mengarahkan perhatian kepada Sabda Allah dan perkara-perkara abadi. Namun pilihan hidup semacam ini seketika berubah, saat ia menghadiri liturgi minggu di kota pelabuhan Hippo. Ia dipanggil diantara para jemaat oleh Uskup, dan lantas menerima tahbisan untuk tugas pelayanan imam di kota itu. Peristiwa ini ia refleksikan dalam bukunya, Confession: “Takut oleh dosa-dosaku dan beban kegundahanku, aku telah memutuskan dalam hatiku, dan memikirkan untuk pergi ke belantara; tapi Engkau melarangku dan memberiku kekuatan, dengan berkata: Kristus mati bagi semua orang, sehingga mereka yang hidup boleh hidup tidak lagi bagi diri mereka sendiri tapi bagi Dia yang bagi diri mereka tersebut telah mati.”

Bagi Agustinus hal tersebut berarti sebuah kehidupan baru yang total. Menurutnya, Injil sejatinya menimbulkan sebuah ketakutan yang sehat, yang mencegah kita dari hidup bagi diri kita sendiri dan mendorong kita untuk meneruskan harapan yang kita pegang bersama. Ia menulis sebagai berikut: “… yang berhati lemah di hibur, yang lemah didukung … yang tak berpendidikan perlu diajar, yang malas digerakkan, … yang putus asa dibangkitkan, mereka yang cekcok diperdamaikan; yang membutuhkan perlu dibantu, yang terjajah dimerdekakan, yang baik didukung, yang jahat ditoleransi; semua harus dikasihi” Lebih jauh, Agustinus menandaskan bahwa sumber dari kekuatan dan komitmennya untuk menjadi ‘ada bagi orang lain’ adalah Kristus sendiri. Di saat ia lemah, ia diberi kelimpahan kekuatan. Ia menaruhpengahrapan yang besar padaNya. Atas dasar kekuatan harapan inilah, ia mendedikasikan dirinya dengan total kepada orang-orang biasa dan kepada kotanya—mengingkari kebangsawanan spiritualnya, berkhotbah dan bertindak dengan cara yang sederhana bagi orang yang sederhana.

Sampai sejauh ini, kita bisa menyimpulkan bahwa dalam sejarah hidupnya, manusia mengalami banyak harapan. Kadang salah satu harapan tersebut nampak seolah-olah memuaskan. Di jaman sekarang, ilmu pengetahuan diproyeksikan sebagai harapan untuk menciptakan dunia yang sempurna. Sehingga, harapan Biblis akan Kerajaan Allah segera digantikan oleh harapan dalam kerajaan manusia. Hal ini nampaknya menjadi sutau harapan besar dan relistis bagi manusia. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, menjadi jelas bahwa harapan semacam itu secara konstan menurun. Harapan tersebut tidaklah membahagiakan, sebab memiliki kesudahan.

Oleh sebab itu, yang diperlukan oleh manusia sekarang adalah harapan besar/ agung yang melampaui segalanya. Harapan semacam itu hanya pada Allah, yang melingkupi keseluruhan realitas dan yang dapat menganugerahkan kepada kita apa yang tidak dapat kita peroleh. Dengan kata lain, Allah lah yang sejatinya menjadi pondasi harapan. Dia bukan sembarang allah, tapi Allah yang mempunyai wajah manusia dan yang mencintai kita sampai kesudahannya, setiap diri kita dan kemanusiaan dalam keseluruhannya. KerajaanNya bukanlah sebuah khayalan saat mendatang, yang terletak di sebuah masa depan yang tidak akan pernah tiba. KerajaanNya hadir dimanapun Dia dicintai dan dimanapun cintaNya mencapai kita. CintaNya saja memberi kepada kita kemungkinan untuk dengan terjaga bertahan hari demi hari di dunia ini.

Doa sebagai sebuah sekolah harapan

Semangat harapan Kristen sejatinya dibangun lewat doa.  Doa memungkinkan tiap orang beriman untuk berelasi mesra dengan Allah, Sang sumber harapan yang sejati. Dengan doa, tiap orang beriman akan disadarkan bahwa ia dicintai, didengarkan, dan diberi harapan. Ketika tidak ada seorang pun yang mendengarkan kita lagi, Allah masih mendengarkan kita. Ketika kita tidak dapat lagi berbicara kepada siapapun atau memanggil siapapun, kita selalu dapat berbicara kepadaNya. Ketika tidak ada lagi seorangpun yang membantu kita menghadapi sebuah kesulitan, Dia dapat membantu.

Dengan kata lain, lewat doa, kita tidak akan pernah merasa sendirian, kita diberi harapan. Almarhum Cardinal Nguyen Van Thuan telah membuktikannya. Hampir selama 13 tahun ia dipenjara, bahkan sembilan tahun dari waktu tersebut ia habiskan dalam kurungan soliter (dikurung sendiri jauh dari yang lain). Namun, ia tetap bertahan dalam situasi yang sepertinya tanpa harapan tersebut. Apa yang menjadi kekuatannya? Tidak lain kecuali doa. Dengan mendengar dan berbicara kepada Allah, harapannya justru semakin ditambah dan diperdalam, ia tidak larut dalam penderitaan yang ia alami. Harapan tersebut pada akhirnya memampukan dia untuk menjadi saksi akan harapan bagi seluruh orang di dunia, seorang saksi akan sebuah harapan besar yang tidak bergeming, bahkan di malam-malam kesendirian.

Sementara itu, Santo Agustinus, dalam sebuah homili atas Surat Pertama Yohanes, mendeskripsikan dengan indah hubungan yang intim antara doa dan harapan. Dia mendefinisikan doa sebagai sebuah latihan keinginan. Manusia diciptakan untuk menerima karunia-karunia yang besar Allah. Tapi hatinya terlalu kecil untuk menerima karunia-karunia tersebut. Hati tersebut harus direntangkan. Hati manusia harus disiapkan dan ‘diperlebar’ supaya ia siap menerima karunia-karunia yang disediakan Allah baginya.

Lebih jauh, Santo Agustinus kemudian menggunakan sebuah gambaran yang sangat indah untuk mendeskripsikan proses penyiapan dan ‘pelebaran’ hati manusia teresebut. Ia menulis sebagai berikut: “Umpamanya Allah berkeinginan untuk memenuhimu dengan madu (sebuah simbol kelembutan dan kebaikan Allah),  tapi bila engkau penuh dengan cuka, ‘dimanakah engkau akan menaruh madunya?’ Bejananya, yaitu hatimu, harus pertama-tama diperbesar dan kemudian di bersihkan, dibebaskan dari cuka dan rasanya.”

Patut pula diingat bahwa berdoa bukanlah melangkah keluar dari hiruk-pikuknya dunia dan tenggelam dalam kesendirian kita guna memeroleh kebahagiaan diri kita sendiri. Ketika berdoa, kita membuka diri kita kepada Allah dan sekaligus kepada sesama kita. Sementara itu, dalam doa, kita juga harus belajar untuk memurnikan keinginan-keinginan sesaat kita, dengan memohon permintaan-permintaan yang dangkal dan hanya demi kepuasan atau kenyamanan diri kita saat ini.

Kita harus membebaskan diri dari setiap kepalsuan tersebut. Mengapa? Karena, Allah telah mengetahuinya. Ia tahu kedalaman lubuk hati kita, ketika kita datang kehadapanNya. Kita diminta untuk jujur dan membersihkan diri dari setiap kelemahan pribadi tersebut. Keengganan kita untuk melepaskan diri dari kelemahan pribadi tersebut merupakan kesalahan yang fatal, karena kita telah mematikan suara hati kita sendiri. Padahal, suara hati adalah sebuah ruang dimana kita bisa mendengar suara Allah.

Supaya doa mengembangkan kekuatan pemurnian tersebut, maka, doa  harus menjadi sebuah perjumpaan pribadi yang intim antara diriku sendiri dengan Allah, Allah yang hidup. Disamping itu, doa harus terus dituntun dan dicerahkan oleh doa-doa agung Gereja dan para kudus, oleh doa liturgis. Sehingga, berdoa harus selalu melibatkan percampuran antara doa umum dan pribadi.

Akhir kata, dapat kita simpulkan bahwa doa merupakan cara kita berbicara kepada Allah dan Allah berbicara kepada kita. Dengan cara ini, kita melalui pemurnian-pemurnian yang menjadikan diri kita terbuka kepada Allah dan selanjutnya siap bagi pelayanan terhadap sesama – menjadi pelayan harapan bagi yang lain, karena harapan dalam artian kristen adalah selalu harapan bagi sesama yang lain juga. Harapan tersebut adalah harapan aktif, dimana kita berjuang agar semuanya berada pada rel yang benar dan agar dunia tetap terbuka pada Allah. Hanya dengan semacam ini, harapan Kristen akan menjadi sebuah harapan yang manusiawi.

Tindakan dan penderitaan sebagai pengatur untuk mempelajari harapan

Setiap harapan manusia sejatinya direpresentasikan dalam wujud tindakan. Melalui tindakannya, manusia berusaha untuk merealisasikan harapan-harapan yang ia rindukan. Dalam cara pandang semacam ini, harapan lantas dimengerti sebagai daya pendorong  bagi setiap tindakan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Sehingga, jika setiap orang tidak memiliki harapan, maka hidupnya akan menjadi sebuah kehampaan semata.

Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari seing ditemui kenyataan bahwa harapan-harapan yang dibangun oleh manusia tidak kunjung mencapai pemenuhannya – khususnya pada harapan-harapan kecil yang diidamkan manusia, seperti: kesejahteraan dalam bidang ekonomi, kelanggengan situasi politik, dsb. Meski demikian, adalah tetap penting untuk tetap berharap, meski dalam perjalanan hidup kita mendapati bahwa tampaknya harapan kita menjadi sia-sia atau bahkan tampaknya tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Dan, hanya dengan keyakinan bahwa hidup kita dikuasai dan disertai oleh kekuatan cinta Allah lah kita mampu untuk berharap, bertindak dan tahan uji dalam setiap kegagalan hidup di dunia ini.

Oleh karena itu, sangatlah penting untuk membuka dan membiarkan Allah masuk ke dalam diri kita. Sebab, seandainya kita berharap dan bertindak untuk membangun Kerajaan Allah, misalnya, maka kita tidak bisa mengandalkan usaha pribadi kita sendiri. Jika demikian yang terjadi, justru yang kita bangun adalah kerajaan manusia semata  yang dapat berakhir. Kerajaan Allah adalah sebuah karunia, sehingga untuk masuk ke dalam kerajaan tersebut, jasa-jasa kita tidaklah menjadi tolak ukur yang pertama.

Lebih dari itu, dengan membuka dan membiarkan Allah masuk ke dalam diri kita, seketika itu juga kita membuka diri kepada kebenaran, kepada cinta, dan kepada apapun yang baik. Hal tersebut nyata dalam diri para kudus. Hidup mereka merupakan sebuah kesaksian yang nyata bahwa pada dasarnya manusia adalah ‘rekan kerja Allah’ di dunia. Hidup dan karya mereka menjadi sebuah sumbangan yang besar bagi keselamatan dunia. Meneladan hidup dan karya para kudus tersebut, kita juga diajak untuk memberikan apa yang baik bagi dunia, memberikan harapan bagi orang lain (sembari meneguhkan harapan kita sendiri), lewat tindakan kita. Dasar dari tindakan kita adalah harapan yang besar akan janji keselamatan Allah. Janji itulah yang memberi kita keberanian dan yang mengarahkan setiap tindakan kita.

Sementara itu, seperti halnya tindakan, pendertitaan adalah juga sebuah unsur esesnsial dari keberadaan manusia di dunia ini. Berhadapan dengan situasi penderitaan yang terelakkan, tentunya semua manusia berusaha dengan segala cara untuk menghindari dan mengatasinya. Sampai saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadi barisan terdepan yang dirancang oleh manusia untuk mengelakkan setiap bentuk penderitaan yang dialami manusia. Namun, alih-alih bisa mengelakkan pendeitaan, ilmu pengatahuan dan teknologi justru membuat penderitaan semakin bertambah (tengok saja hasil dari perkembangan teknolgi nuklir dewasa ini!).

Kita berusaha untuk menghilankan penderitaan, tapi tetap saja kita tidak bisa melakukannya, karena penderitaan tersebut berada di luar kuasa kita. Sebab, tak seorangpun bisa menghilangkan kekuatan kejahatan dan juga kekuatan dosa yang adalah sumber dari segala penderitaan. Hanya Allah sendirilah yang mampu mengatasi penderitaan. Ia yang telah masuk ke dalam sejarah dunia dan membuat dirinya serupa dengan manusia, memiliki kekuatan untuk ‘menghapus dosa dunia.’ Melalui iman dalam keberadaan kekuatan ini, harapan bagi penyembuhan dunia telah muncul dalam sejarah

Berhadapan dengan situasi penderitaan yang tak terelakkan, sebagai umat Kristen, kita diajak untuk tidak melarikan diri dan ‘mati-matian’ berusaha untuk mengelakan diri dari realitas penderitaan. Sebaliknya kita diajak untuk mentrasnformasi penderitaan tersebut dan menyadarinya sebagai pendewasaan iman dalam Kristus yang juga telah menderita dengan cinta yang tak terbatas. Paus Benediktus XVI menempatkan Paul Le-Bao-Tiah, seorang martir Vietnam, sebagai model orang yang dalam hidupnya mampu mentarnsformasi penderitaan.

Dalam perjalanan hidupnya, Paul Le-Bao-Tiah pernah mengalami penderitaan yang tertahankan di dalam penjara, karena mempertahankan imannya. Di dalam penjara, ia mengalami siksaan-siksaan baik secara fisik maupun secara mental, yang membuatnya amat menderita. Ia melukiskan situasi di penjara tersebut sebagai gambaran dari neraka abadi. Namun, ditengah-tengah situasi semacam itu, ia tetap memancarkan kegembiraan. Sebab, oleh karana rahmat Allah, ia menyadari bahwa ia tidak sendirian. Kristus ada bersamanya. Dia menyadari bahwa Kristus sendiri telah turun ke neraka, dan oleh karenanya, Ia dekat dengan mereka yang menderita. Kristus telah mengubah kegelapan menjadi sebuah terang yang bercahaya, sebuah terang yang menyelamatkan.

Lebih jauh, Paus menambahkan bahwa nilai kemanusiaan tiap orang sejatinya diukur dari kesediaan mereka untuk ikut solider dengan sesama yang menderita. Solider dengan sesama yang menderita berarti bahwa aku mengambil penderitaannya sedemikian rupa sehingga penderitaan itu menjadi milikku juga., dan karena penderitaan tersebut sekarang telah menjadi penderitaan bersama, antara aku dan di yang menderita, maka penderitaan ini ditembus oleh terang cinta. Dalam terang cinta tersebut, kita memberikan penghiburan kepada sesama yang menderita. Kata bahasa latin untuk penghiburan adalah con-solatio, kata ini mau menunjukkan tindakan bersama dengan yang lain dalam kesendiriannya, sehingga kesendirian itu berhenti menjadi kesendirian yang sunyi. Dengan penghiburan dalam cinta tersebut, orang  yang menderita pun mendapat kekuatan kembali untuk bangkit dari penderitaannya.

Dalam iman Kristen, kita telah meyakini bahwa Allah juga turut menderita bersama dengan kita. Dia sendiri datang ke dunia guna menjadi manusia dan menderita dengan manusia dalam cara yang nyata – dalam daging dan darah – semata-mata karena manusia begitu berharga bagi Allah. Oleh karenanya dalam semua penderitaan manusia, kita disatukan dengan penderitaan Kristus yang membawa penghiburan (consolatio) bagi semua orang yang menderita. Dalam keyakinan semacam ini, maka sebuah bintang harapan pun muncul di tengah-tengah ketidak-berdayaan manusia dalam penderitaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s