DIALOG ANTARAGAMA DALAM PENDEKATAN TEOSENTRISME


Pluralitas keagamaan menjadi satu fakta penting yang tak terelakkan dalam kontkes kehidupan kita dewasa ini. Di Indonesia saja, kita telah bersinggungan dengan beragam bentuk agama yang berbeda-beda, sebut saja: Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Jumlah ini belum termasuk agama-agama lokal (aliran kepercayaan) yang tersebar di seantero nusantara. Berhadapan dengan situasi semacam ini, mau tidak mau, kita dipaksa untuk memikirkan ulang keberadaan agama kita dalam relasinya dengan agama-agama lain. Pola pikir kristosentris telah lama usang seturut dengan kenyataan bahwa tiap agama sejatinya memiliki cahaya kebenaran dalam dirinya yang memampukan pemeluknya untuk mencapai keselamatan. Gagasan tersebut telah digaris bawahi dalam Konsili Vatikan II. Dalam Nostra Aetatae, artikel 2, dinyatakan bahwa “ Gereja Katolik tidak menolak apa pun, yang di dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannnya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang.” Pernyataan ini sejatinya memuat sikap Gereja yang menaruh perhatian dan penghargaan terhadap apa yang baik dan luhur dalam agama-agama lain.

Dalam cara pandang yang demikian, dewasa ini, teolog-teolog dalam Gereja menyodorkan pola pikir teosentris yang terasa lebih inklusif dalam relasi dengan agama-agama lain. Beberapa tokoh yang menjadi penggerak model teosentris ini adalah John Hick, Raimundo Panikkar, dan Stanley Samartha. Ketiga tokoh ini menyuarakan tentang pentingnya menempatkan Allah (Sang Realitas Ilahi) di atas atau di balik agama-agama yang ada, daripada mengklaim Yesus sebagai satu-satunya penyelamat manusia.

John Hick mengajukan revolusi Copernikus dalam teologinya. Sebagaimana Copernikus berpendapat bahwa matahari lah yang menjadi pusat tata surya, begitu juga kita harus memandang bahwa Allah lah yang menjadi pusat agama-agama yang ada. Dengan kata lain, teologi ini menuntut perubahan paradigma konsep keagamaan (=keselamatan?!), dari yang berpusat pada Kekristenen/Yesus menjadi berpusat pada Allah. Allah atau yang kemudian disebut oleh Hick sebagai suatu Realitas Ilahi/Yang Mutlak/Sang Logos, menurutnya, berada di balik setiap agama yang ada. Namun, tiap-tiap agama memahami dan mengekspresikan realitas Allah tersebut dengan cara yang berbeda, sesuai dengan kondisi historis, sosial, dan psikologikalnya masing-masing. Lebih jauh, ia menambahkan bahwa tiap agama sejatinya memiliki satu “struktur soteriologis” yang umum, yakni membawa manusia pada keselamatan.

Berangkat dari pemahaman di atas, Huck lantas mengaggas suatu Kristologi yang baru. Menurutnya, keyakinan Kristen mengenai inkarnasi dan keilahian Yesus adalah sebuah mitos yang harus ditafsir ulang. Inkarnasi dan keilahian Yesus, baginya, merupakan cara figuratif yang dipakai oleh jemaat Kristen awali untuk menyatakan kedekatan Yesus dengan Allah. Padahal, dalam Kitab Suci, Yesus tidak pernah secara eksplisit menyatakan diriNya sebagai seorang Mesias/Anak Allah. Mitos tersebut jelas tidaklah efektif untuk membangun sebuah dialog inklusif antaragama. Sebab, dalam cara pandang semacam ini, Yesus dipandang sebagai satu-satunya penyelamat atau satu-satunya norema final bagi agama-agama lain. Dengan memahami inkarnasi sebagai sebuah mitos, maka kita dapat mengungkapkan bahwa Allah memang dapat dijumpai dalam diri Yesus, tapi kehadiran tersebut bukanlah sesuatu yang mutlak. Allah juga bisa hadir dalam diri yang lain di tiap-tiap agama.

Selanjutnya, Raimundo Panikkar mengajukan gagasan mengenai prinsip transenden atau misteri sebagai sebuah “fakta religius” yang hadir dimana-mana dan di dalam setiap agama. Tiap interpretasi dan nama yang dilekatkan pada “fakta religius fundamental” tersebut akan semakin memperkaya kenyataan misteri atau Realitas Ilahi yang ada di tiap agama. Menurutnya, dialog antaragama tidak akan pernah terjadi bila tiap agama mengklaim bahwa dirinya adalah sebuah nama yang absolut dan final bagi agama-agam lain. Oleh karena itu, Panikkar lantas menggagas interpretasi baru bagi kristologi Kristen. Dalam interpretasi tersebut, ia membedakan antara Kristus universal dengan Yesus partikular. Kristus, baginya, adalah simbol dari kepenuhan relaisasi keilahian, kemanusiaan, dan kosmis. Dengan kata lain, Kristus adalah simbol dan substansi dari dinamika kesatuan nondualistik antara Tuhan, manusia, dan dunia. Kristus adalah Sang Logos, kekal, dan universal.

Lebih jauh, Panikkar meyakini bahwa Kristus atau Sang Logos tersebut telah berinkarnasi dalam diri Yesus dari Nasaret. Namun, dia menolak jika Yesus lantas diklaim sebagai satu-satunya, yang final dan definitif, dalam peristiwa inkarnasi tersebut. Dalam pemahaman semacam ini, ia hendak mengungkapkan Kristus, sebagai simbol universal untuk keselamatan, tidak dapat diobjektivikasi melulu pada satu pribadi historis tertentu. Dengan demikian, Kristus sejatinya tidak bisa dibatasi hanya dalam figur Yesus dari Nasaret saja. Sebab, Kristus juga hadir dalam subjek-subjek partikular, yang mengambil rupa dalam beberapa nama historis, seperti: Rama, Krisna, dll.

Senada dengan dua tokoh diatas, Stanley Samartha mengajukan relativitas dari tiap revelasi yang diklaim oleh agama-agama yang ada. Ia berpendapat bahwa tidak ada satu figur religius atau agama yang dapat menyebut dirinya sebagai sebuah realitas yang final dan penuh atau memiliki kepenuhan revelasi bagi tiap orang. Oleh karena itu, ia mempertanyakan keabsolutan norma final dan universal dari Kristus. Revelasi yang dimiliki oleh tiap agama hanyalah sebentuk revelasi-revelasi partikular dari Sang Misteri atau Realitas Ilahi. Senada dengan Panikkar, Samartha pun menilai bahwa Kristus bisa saja termanifestasikan dalam figur-figur yang lain, tidak hanya Yesus dari Nasaret saja. Lebih jauh, menurutnya, pendakatan semacam ini akan membebaskan orang Kristen dari anggapan diri bahwa mereka lah pemilik wahyu dan kebenaran satu-satunya. Dalam kondisi semacam inilah dialog antaragama bisa berlangsung.

Sementara itu, kritik atas normativitas Kekristenan juga mengemuka dalam gagasan tentang dialog antara Yahudi dan Kristen, juga dalam teologi politik/pembebasan. Dalam memajukan dialog antara Yahudi dan Kristen, keduanya dianggap sebagai kenyataan yang saling melengkapi, meskipun kedua agama tersebut jelas berbeda. Dalam dialog ini, revelasi Allah di Gunung Sinai dianggap sejajar dengan revelasi Allah dalam diri Yesus. Lebih jauh, konsekuensi logis dari dialog ini adalah Yesus tidak lagi dipandang sebagai Mesias yang secara definitif dijanjikan Allah. Sedangkan, dalam gagasan teologi politik/pembebasan, diajukan gagasan tentang “heurmenetika etis” yang menginterpretasikan ulang keunikan Yesus dalam terang dialog antaragama. Kebasolutan Kristologi kristen dianggap sebagai sesuatu yang menyiratkan “imperalisme kultural” dari Barat sebagai buah kerja para misonaris.

Pendekatan-pendekatan di atas dapat kita puji sebagai sebuah upaya yang signifikan untuk memajukan sebuah dialog yang inklusif diantara agama-agama yang ada. Sebab, di tengah pluralitas keagamaan dewasa ini, dialog bisa menjadi sarana yang konkret untuk menyingkirkan tiap bentuk arogansi keagamaan yang mengklaim bahwa agamanya sendiri lah yang paling benar,  sedangkan yang lain itu sesat. Dialog, dengan demikian, dapat menjadi sarana pencair ketegangan dari sikap fundamentalis-ekstrimis yang kerap terjadi diantara agama-agama yang ada, khususnya Islam dengan Kristen. Meski demikian, harus kita akui pula bahwa pendekatan-pendekatan dialog yang diajukan di atas bisa-bisa menjerumuskan kita pada pola pikir relativisme atas agama-agama yang ada. Pluralitas lantas dimaknai sebagai relativisme keunikan agama. Di dalam relativisme, perbedaan tiap agama menjadi tidak terasa. Relativisme, dengan demikian, bisa melenyapkan keunikan pribadi dari Yesus, misalnya, menjadi sama seperti yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s