RASA KEBANGSAAN DAN CINTA TANAH AIR (SEBUAH REFLEKSI KRITIS)


Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang selama hidupku

Biarpun aku pergi jauh

Tidak kan hilang dari kalbu

Tanahku yang kucintai

Engkau kuhargai

Kapan terakhir kali kita menyanyikan lagu diatas? Perasaan apa yang pertama kali muncul ketika mendengar atau menyanyikan lagu diatas?…. Bolehlah kita katakan kalau lagu diatas merupakan rekaman ungkapan syukur dan bangga dari seorang anak negeri atas keelokan, kehangatan, dan beragam kelimpahan rahmat lain yang ia rasakan dari negerinya. Bolehlah juga kita katakan kalau negeri itu adalah negeri Indonesia. Ya, dulu, negeri Indonesia termasuk dalam jajaran negeri yang diimpikan banyak orang, dimana tanahnya subur, gemah ripa loh jinawi, penduduknya memiliki kehangatan khas orang Timur, dsb. Sebuah negeri yang selalu membawa kenangan manis lagi indah bagi tiap orang yang pernah mendatanginya , apalagi bagi orang yang pernah tinggal disana.

Tapi, sekali lagi, itu dulu. Kenangan manis lagi indah tersebut bisa jadi akan berubah menjadi kegetiran yang amat sangat bila melihat realitas negeri kita dewasa ini. Hampir tiap hari, di banyak media cetak dan elektronik, kita melihat bagaimana hutan-hutan negeri kita ditebangi dan digunduli oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung-jawab, pulau-pulau negeri kita lenyap satu demi satu karena tanah/pasirnya dijual ke negeri lain, pertikaian-pertikaian antarkelompok yang berlabel SARA yang terus saja bermunculan, dsb, dst (akan menjadi amat sangat panjang bila kita hendak meneruskan inventaris “ketidakindahan” negeri kita saat ini).

Nah, berangkat dari realitas yang demikian, apakah kita masih bisa berbangga diri untuk mengaku sebagai orang/bangsa Indonesia? Masihkah kita saat ini punya kesadaran untuk mencintai tanah air kita?

Indonesia. Tempatku berpijak, hidup, kini dan nanti

Kesadaran awal yang harus kita bawa dalam penghayatan rasa kebangsaan dan cinta tanah air adalah kenyataan bahwa kita telah menjadi bagian tetap dari bangsa ini, bangsa Indonesia. Di sinilah tempat kita lahir, berpijak, hidup, bertumbuh dan berkembang, dan (mungkin saja) kita nanti akan menghembuskan nafas terakhir di tanah air ini. Bahkan, kalaupun suatu saat kita meninggalkan negeri ini dan menetap di negeri lain, kita tidak akan pernah bisa meninggalkan identitas kita sebagai orang/bangsa Indonesia.

Harus kita sadari  kalau negeri ini adalah sama seperti rumah kita sendiri. Laiknya sebuah rumah yang harus dirawat, dijaga, dan dibersihkan bila ada kotoran-kotoran yang berserakan, supaya tiap orang yang tinggal di dalamnya bisa merasa krasan dan nyaman. Begitupun halnya yang harus kita lakukan terhadap negeri ini. Pada pembicaraan awal, kita telah sama-sama tahu bahwa ada banyak realitas yang tidak mengenakkan yang terjadi di negeri ini. Nah, sebagai bagian dari keluarga besar negeri ini, apa yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan keelokan dan kehangatan negeri ini? Apa yang bisa kita buktikan pada orang lain kalau kita masih punya rasa kepedulian dan kebanggan akan bangsa dan tanah air ini?

Catatan kecil  tentang permasalahan yang terjadi di Indonesia

Setelah menemukan kembali jati diri kita sebagai seorang Indonesia, sekarang kita akan mencoba melihat secara lebih kritis salah satu permasalahan yang dihadapi oleh negeri kita, khususnya masalah pembalakan hutan secara liar. Permasalahan ini merupakan salah satu diantara beragam permasalahan lain yang terjadi akibat sikap keacuhan atau ketidak pedulian kita terhadap bangsa dan tanah air kita.

Harian Kompas (Jumat, 4 Mei 2007) memberitakan, “Indonesia Masuk ‘Rekor Dunia’ sebagai Penghancur Hutan Tercepat di dunia.” Hal ini tentunya membuat kita tersentak kaget. Bayangkan, menurut data FAO yang dilansir oleh harian Kompas, tingkat kehancuran hutan kita mencapai 2 persen tiap tahun, atau 51 kilometer persegi tiap hari. Tidakkah mencengangkan?!

Jika kita mencoba untuk menggali akar permasalahannya, maka kita akan menemukan bahwa penghancuran hutan yang terjadi di Indonesia, disebabkan oleh dua faktor. Pertama, pemenuhan kepentingan pribadi oknum-oknum tertentu yang ingin mengeruk uang sebanyak-banyaknya dari penebangan hutan secara liar. Orang-orang macam ini sepertinya telah menggadaikan hati nuraninya sebagai seorang manusia dan anak bangsa, dan/atau hanya menghambakan dirinya pada uang serta kekayaan.

Kedua, soal rendahnya tingkat pendidikan yang bisa dikenyam oleh sebagian besar orang negeri ini. Tingkat pendidikan/pengetahuan masyarakat yang sangat rendah tersebut membuat masyarakat kita dengan mudah diperalat dan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut.

Permasalahan ini bisa saja dihindari jika kita sedari awal kita punya kesadaran dan kecintaan yang tinggi akan bangsa/tanah air kita ini. Sebab, masakan kita tega berbuat sesuatu hal yang menyakitkan atau merusak pada orang yang kita cintai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s