PERBEDAAN ISLAM PERMULAAN DENGAN ISLAM MASA KINI


Islam Permulaan

Agama Islam dibawa masuk ke Indonesia oleh para pedagang Gujarat. Mulanya, mereka tidak bermaksud untuk menyebarkan agama, tetapi hanya ingin berdagang saja. Meski demikian, selain berdagang, mereka juga bergaul dan melakukan kontak pribadi dengan penduduk setempat. Berawal pergaulan dan kontak pribadi itulah, banyak penduduk setempat tertarik dengan ajaran agama mereka. Sementara itu, penyebaran agama Islam, khususnya di Jawa, juga tak terlepas dari jasa para wali. Lewat pendekatan yang persuasif dan inkulturatif, mereka berhasil mengislamkan banyak orang. Bahkan, mereka juga berhasil menjadikan agama Islam sebagai agama rakyat.

Nah, yang patut kita pertanyakan sekarang, “Mengapa, pada waktu itu, agama Islam cepat diterima oleh banyak orang?” Dari pertanyaan ini, kita akan tahu bagaimana ciri-ciri Islam permulaan yang membedakannya dengan Islam masa kini.

Pertama, Islam diminati banyak orang karena ia lahir dari kontak pribadi, bukan dengan paksaan atau todongan senjata. Jadi, banyak orang masuk Islam karena pilihan mereka sendiri, bukan pilihan yang dipaksakan oleh orang lain.

Kedua, kontak awal antara orang-orang Indonesia dengan agama Islam adalah melalui dunia perdagangan. Dalam  pergaulan dengan para pedagang asing, mereka (orang-orang Indonesia atau penduduk setempat) melihat keakraban yang terjalin erat di dalam kelompok pedagang Islam, yakni para pedagang Gujarat. Para pedagang Islam tersebut selalu berkumpul bersama untuk melakukan sholat, memberikan salam satu sama lain saat bertemu (misalnya, salam “Assalam’mualaikum”), dsb. Jenis keakraban semacam itu tidak mereka temukan dalam penghayatan hidup keseharian dan keagamaan mereka selama ini. Selain itu, mereka juga melihat bahwa tidak ada sistem kasta dalam agama Islam. Hal ini jelas menggembirakan mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu. Sebab, mereka akan terlepas dari ikatan norma hidup yang membagi mereka dalam tingkatan-tingkatan kasta tersebut.

Ketiga, kehadiran Islam permulaan tidak menghilangkan budaya lokal yang sudah berakar kuat dalam jiwa penduduk setempat. Dengan kata lain, Islam permulaan adalah agama yang merakyat dan membudaya. Penghayatan keagamaannya terasa amat dekat dan menyatu dengan realitas hidup keseharian penduduk setempat. Hal ini terutama dilakukan oleh para wali. Secara amat menarik, para wali melakukan inkulturasi budaya setempat dengan nilai-nilai Islam. Misalnya, mereka menggunakan sastra mistik jawa (serat suluk) dan wayang dalam penyebaran dan penanaman nilai-nilai Islam. Penghormatan terhadap arwah leluhur mereka teruskan, tapi bentuknya mereka ganti dengan menghormati makam-makam Islam. Bahkan, sistem kerajaan lama, yang merupakan warisan kerajaan Hindu-Budha, pun tetap mereka pertahankan.

Islam Masa Kini

Pembahasan mengenai Islam masa kini akan penulis dasarkan pada pembedaan model-model Islam yang dilakukan oleh Mansour Fakih. Menurut Mansour Fakih, ada empat model Islam yang saat ini ada dan berkembang di Indonesia, yakni; Islam tradisional (konservatif), modernis, revivalis (fundamentalis), dan transformatif.

  • Islam tradisional atau konservatif adalah Islam yang taat mengikuti tradisi yang telah diwariskan secara turun-menurun. Mereka berkeyakinan bahwa hidup itu sudah ditentukan dan/atau digariskan oleh Yang Diatas (Tuhan). Tiap manusia memiliki takdir/nasibnya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, ketika melihat kenyataan hidup yang tidak adil, yang biasanya mereka terima, mereka hanya pasrah begitu saja, tidak berbuat apa-apa. Meski demikian, sikap hidup keagamaan mereka amatlah taat. Mereka menjalankan setiap bentuk ibadah keagamaan mereka dengan penuh semangat dan dengan penuh keyakinan akan besarnya pahala atau ganjaran yang bakal mereka terima dari Tuhan. Model Islam seprerti ini bisa kita temukan pada masyarakat Islam yang tinggal di pedalaman atau di desa-desa. Sebab, kehidupan sosio-religiusnya belum tercampur dengan unsur-unsur modern. Di Indonesia, organisasi Islam yang mewadahi masyarakat Islam model ini adalah NU (Nadhatul Ulama).
  • Islam modernis adalah Islam yang mengikuti perkembangan atau kemajuan jaman yang sedang terjadi. Mereka terang-terangan mengikuti gaya hidup dan mentalitas sekuler serta cara berpikir yang rasional yang menjadi ciri khas kehidupan modern. Islam model ini bisa kita jumpai pada masyarakat Islam yang tinggal di kota-kota besar. Di Indonesia, organisasi Islam yang mengusung semangat modernis adalah Muhammadiyah.
  • Islam revivalis atau fundamentalis adalah Islam yang mendasarkan dirinya secara radikal pada teks-teks Alquran. Mengambil mentah-mentah apa yang tertulis di dalam teks-teks Alquran tersebut. Selain itu, mereka juga antipati terhadap berbagai macam “isme” yang sedang berkembang, misalnya, marxisme, liberalisme, kapitalisme, termasuk juga kristianisme. Mereka mengangap “isme-isme” tersebut sebagai ancaman dalam kehidupan beragama mereka. Dewasa ini, di Indonesia, ada banyak kelompok-kelompok fundamentalis yang bermunculan Diantaranya, FPI (Frony Pembela Islam), FBR (Forum Betawi Rempung), dsb. Kelompok-kelompok tersebut, sekali lagi, ingin mendasarkan seluruh kehidupannya (dan bahkan juga kehidupan seluruh masyarakat) pada kitab suci Alquran dan juga nilai-nilai budaya Arab. Seperti, pemakain jilbab atau bahkan burqa (pakaian tradisional wanita Arab), penegakkan syariat Islam di negara Indonesia, dsb.
  • Islam transformatif adalah Islam memiliki cara berpikir yang progresif dan liberal.. Kelompok Islam model ini diwakili oleh para pemikir muda dari golongan NU, yang tergabung dalam organisasi JIL (Jaringan Islam Liberal). Kelompok tersebut memandang setiap persoalan dengan mentalitas yang sama sekali baru, berlainan dengan cara berpikir Islam sebelumnya. Mereka sangat terbuka pada pemikiran-pemikiran di luar Islam, bahkan mereka cukup berani untuk memikirkan kembali penghayatan keagamaanya secara kritis. Selain itu, Islam model ini juga memiliki kepedulian yang cukup besar terhadap masalah-masalah kebangsaan, seperti, masalah disintegrasi bangsa, hubungan antaragama, pengentasan bangsa kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dsb.

Keempat model pembagian Islam, menurut Mansour Fakih, tersebut merupakan gambaran yang cukup tepat untuk menunjukkan realitas kehidupan Islam di Indonesia dewasa ini. Namun, diantara keempat model Islam diatas, ada satu model Islam yang akhir-akhir ini nampak menonjol di Indonesia, yakni Islam fundamentalis. Penghayatan keagaaman Islam fundamentalis berbeda jauh dengan penghayatan Islam pada permulaan. Islam fundamentalis sepertinya enggan untuk berkompromi dengan budaya lokal Indonesia. Malahan, mereka mengambil alih budaya luar (budaya Arab) sebagai cara penghayatan keagamaan mereka. Seperti, memelihara jenggot, memakai peci atau surban untuk yang laki-laki, dan memakai burqa untuk yang perempuan. Mereka pun terus berupaya agar syariat Islam diterapkan di negeri ini. Mereka menghilangkan kontak pribadi dan dialog dengan pemeluk agama lain. Bahkan, dalam kenyataan sehari-hari, seperti yang diberitakan oleh berbagai media massa, kita menemukan bahwa tak jarang mereka melakukan tindakan-tindakan kekerasan bila ada kelompok lain yang tidak sependapat dengan mereka. Mereka tak segan-segan untuk beradu fisik, merusak fasilitas umum, menebarkan teror, dsb. Tindakan-tindakan semacam itu jelas bertentangan  prinsip demokrasi di Indonesia. Pun juga bertentangan dengan semangat awal Islam pada permulaan, yang menghargai nilai-nilai budaya setempat dan mengembangkan kontak pribadi  yang mengesankan dengan banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s