PERANG SALIB I


Persoalan superior-inferior selalu saja hadir dalam perjumpaan antara agama satu dengan agama yang lain. Persoalan ini mewujudnyata dalam gagasan tentang kaum yang benar dan kaum yang kafir. Bahwa yang kafir harus dijadikan benar merupakan suatu kewajiban dari kaum yang benar. Hal ini nampak jelas dalam gerakan fundamentalis keagamaan.

Gerakan ini berusaha menunjukkan identitasnya dalam berbagai tindakan intimidasi yang berujung pada tindakan fisik. Beberapa hal yang terjadi di Indonesia dapat menjadi contohnya, misalnya: Bom Bali, kerusuhan Poso, Bom Malam Natal di berbagai wilayah di Indonesia pada tahun 2002 sampai 2004, perusakan tempat ibadah. Di lingkup yang lebih luas kita dapat melihat invasi Amerika Serikat terhadap Irak yang meskipun dilandasi oleh alasan sekuler tetapi tetap bermuatan momentum religius di dalamnya[1].

Sejarah selalu berulang, demikian kata orang bijak. Rupanya hal ini bukanlah sesuatu yang baru. Perang yang dilatar belakangi oleh semangat religius tersebut sebenarnya telah dimulai sejak abad pertengahan, yakni ketika Paus Urbanus II menyerukan Perang Suci (Perang Salib)[2].

Tulisan ini hendak memaparkan beberapa peristiwa yang terjadi seputar Perang Salib I (1096-1146). Rujukan utama tulisan ini adalah pemikiran Karen Amstrong dalam bukunya yang berjudul Perang Suci, dari Perang Salib hingga Perang Teluk. Tentunya rujukan utama ini perlu dikaji berdasarkan teori rekonstruksi sejarah demi mencari obyektifitas sejarah dan pemaknaan yang lebih baik atas sejarah.

Konteks historis

Abad XI merupakan abad dimana Eropa mulai mengakhiri “masa-masa kegelapannya.”[3] Sejak kekaisaran Romawi mengalami kemunduran, tidak ada satu institusi atau kerajaan lain pun di Barat yang dapat mengisi kekosongan kekuasaan politik yang ditinggalkan oleh para kaisar Romawi. Raja dan wangsa silih berganti. Namun, kekuasaan mereka umumnya tidak berlangsung lama. Dalam masa ini, kota-kota di Eropa mengalami kehancuran. Pada masa ini, berkembang juga bentuk-bentuk pemerintahan feodal. Masyarakat hidup dalam berbagai kelompok, dimana para bangsawan menjadi penguasa tanah, dan para ksatria serta para petani menjadi abdi para bangsawan tersebut.[4] Dalam situasi masyarakat feodal semacam ini, tak jarang para kstaria berperang diantara mereka sendiri demi berebut daerah kekuasaan baru yang lebih luas, atau karena konflik internal di dalam kerajaan mereka sendiri mereka maju berperang demi merebut tahta kerajaan.

Dalam situasi kekacauan semacam itu, satu-satunya lembaga yang masih dapat tegak berdiri adalah Gereja. Gereja lantas tampil sebagai pemimpin dunia Eropa. Maka, tak ayal Gereja pun memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat pada masa itu. Berkat peranan dan pengaruhnya tersebut, Gereja dapat mengikat Eropa menjadi satu kesatuan. Masyarakat Eropa dipersatukan oleh satu ikatan yang kuat, yakni iman Kristen, dimana Paus menjadi pusat kepemimpinan.[5]

Disamping Gereja sebagai pusat pemersatu dunia Eropa, lembaga Gereja mulai memperbaharui diri. Hal ini ditampakkan dengan adanya reformasi Cluny. Para rahib reformasi Cluny berusaha mengkristenkan masyarakat Eropa dan mendidik meraka dengan cara Kristen yang sejati. Reformasi Cluny secara amat menggebu mendengungkan ideologi ziarah, yang telah menjadi tradisi pada awal perkembangan Gereja.[6] Dalam ideologi ziarah yang didengungkan oleh reformasi Cluny, perjalanan menuju tempat ibadah adalah sejenis pelatihan yang membentuk dan mengajarkan mereka tentang makna menjadi seorang Kristen yang sesungguhnya.[7] Bagi orang Kristen, tempat ibadah yang paling suci adalah Yerusalem. Yerusalem menjadi tempat yang istemewa dan suci di kalangan umat Kristen, karena ditempat itulah Yesus wafat dan bangkit lagi untuk menyelamatkan dunia.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa abad XI merupakan masa dimana sikap hormat bakti terhadap relikui suci mencapai puncaknya. Kesalehan umat Kristen di Barat diwujudkan dalam hasrat yang kuat dan kerinduan yang mendalam untuk melihat tanah suci di Yerusalem. Pada abad itu, jumlah peziarah dari dunia Barat (Kristen) berlipat ganda.[8]

Namun, ada masalah besar yang dialami oleh peziarah Kristen saat itu. Sejak 1076, orang-orang Turki Saljuk merebut Yerusalem dari kafilah Mesir. Mereka lantas mengadakan ekspansi ke daerah-daerah kekaisaran Timur.[9] Hal ini menimbulkan gangguan bagi para peziarah yang mengadakan perjalanan ke Tanah Suci. Sebab, orang-orang Turki Saljuk mulai melarang para peziarah Kristen memasuki tempat-tempat suci di Timur.

Seruan Paus Urbanus II

Melihat berbagai situasi yang carut-marut di Eropa, Paus Urbanus tidak tinggal diam. Ia melihat bahwa situasi Eropa saat itu  bersinggungan erat dengan situasi internal Gereja. Hal ini dapat dimengerti bahwa sejak runtuhnya kekaisaran Romawi beberapa kedudukan penting dalam kerajaan dipegang oleh hirarki Gereja. Artinya Gereja mulai mengurusi hal-hal duniawi yang menyangkut tugas kenegaraan.

Dalam situasi seperti ini Paus Urbanus mengundang para uskup di wilayah Kekristenan Barat untuk membahas masalah-masalah umum yang sedang terjadi dalam Gereja saat itu. Pada 18 November 1095, dibuka suatu sinode di Clermont. Agenda yang dibahas saat itu adalah masalah umum perihal reformasi Gereja, inverstitur awami, simoni dan perkawinan para imam, perzinahan Raja Perancis dan gagasan the Peace of God[10].

Sinode Clermont banyak menduduki tempat penting dalam sejarah karena pidato Paus Urbanus tentang gagasan the Peace of God. Gagasan the Peace of God ini dirasa akan menjawabi kebuntuan yang dihasilkan oleh berbagai pertikaian antar sesama Kristen di Eropa. Melalui gagasan ini diungkapkan tentang penindasan-penindasan yang dialami oleh Gereja-Gereja Kristen di wilayah Timur[11].

Gagasan the Peace of God mempunyai pengertian bahwa kedamaian baru bisa terjadi bila sesama orang Kristen, baik kaya maupun miskin, bergandengan tangan membantu saudara-saudarinya yang tertindas. Dan bukan saling bermusuhan antar sesama warga Kristen sebagaimana terjadi di Eropa saat itu. Gagasan ini secara nyata menemukan bentuknya dalam Perang Salib.

Dalam gagasan Perang Salib ini, Paus Urbanus II sebagai salah satu pendukung Reformasi Cluny, memiliki motivasi awal religius. Motivasi awal ini berkaitan erat dengan gagasan the Peace of God dan konsep ziarah yang banyak dihidupi oleh orang-orang Kristen pada masa itu. Yerusalem dimengerti sebagai suatu relikui suci dimana Yesus pernah berkarya hingga wafat dan bangkit. Pemahaman ini memberi penegasan bahwa Yerusalem adalah hak milik Gereja, sehingga harus dibebaskan dari semua unsur non-Gereja (pendudukan Yerusalem oleh orang-orang Islam).

Perang Salib menjadi sarana pembebasan Yerusalem tersebut. Dengan ikut serta dalam  perang salib, mereka memilih cara yang paling tepat dan benar dalam jalan salib Tuhan. Siapa pun yang jatuh di tanah suci, mati demi memberikan kesaksian akan Kristus dan terbilang dalam gugusan martir.[12] Rupanya hal ini berkaitan erat dengan pemberian indulgensi penuh kepada  setiap orang yang bergabung dalam pembebasan Yerusalem.

Sinode Clermont menjanjikan indulgensi penuh bagi siapa saja yang ikut serta dalam membela hak milik Gereja. Mereka yang memanggul salib demi alasan keagamaan, akan dibebaskan dari semua denda dosa yang dijatuhkan oleh Gereja.[13] Indulgensi itu sendiri merupakan wewenang dari paus, yang didasarkan pada Matius 16:19 “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga”. Pemberian indulgensi itu menjadikan perjalanan para ksatria sebagai bentuk tertinggi dari pertobatan.[14] Kiranya tawaran indulgensi ini menjadi daya tarik tersendiri.

Motif yang ditawarkan oleh Gereja ini, ternyata tidak sepenuhnya menjadi motif murni dari mereka yang ikut dalam Perang Salib I ini. Motif –motif lain yang terselubung dibalik keikutsertaan para ksatria dalam Perang Salib I seperti: Bohemund dari Toronto, yang menginginkan sebuah kerajaan di Timur sekaligus menegaskan identitasnya sebagai orang Frank yang menggabungkan  cintanya pada Tuhan dan cintanya pada perang; Robert dari Normandia yang menginginkan silih atas kejahatan yang pernah ia lakukan terhadap Gereja dan biara; ada juga yang memandang kesempatan ini sebagai pembalasan dendam yang bersifat religius; beberapa memiliki pengharapan akan suatu dunia baru; sebagian lagi terpikat oleh pesona kota suci Yerusalem; motif untuk mendapatkan kekayaan serta nama besar; Banyak dari mereka yang percaya bahwa mereka akan meningkatkan taraf hidup mereka dan menjadi kaya serta terkenal; ada juga yang sekedar mencari petualangan baru. Walaupun begitu, semua motif yang campur-baur itu tertransformasikan oleh pengalaman perang Salib itu sendiri.[15]

Selain berkotbah, Urbanus II juga menyebarkan undangan secara tertulis. Tiga diantaranya ditujukan kepada orang-orang Flemings (akhir tahun 1095), Bologna (Agustus 1096), dan para rahib Vallombrosa (September-Oktober 1096).[16] Seruan dan undangan Urbanus II untuk melancarkan perang Salib, segera ditanggapi dengan penuh antusias oleh banyak kalangan orang Kristen di Eropa. Tidak hanya para bangsawan dan ksatria saja tetapi juga para petani, dan peziarah miskin lainnya yang angkat senjata untuk membebaskan Kota Suci Yerusalem.

Efek dari seruan Paus ini, menurut Karen Amstrong, para ksatria Kristen Eropa menyerbu Asia Kecil dan membersihkan wilayah ini dari kaum muslim, berbaris menuju Yerusalem dan membebaskan kota suci itu dari tangan para kafir.[17]

Perjalanan ke Yerusalem

Ada dua kelompok pasukan yang ambil bagian dalam Perang Salib I. Kelompok pertama dibentuk di Speyer, terdiri dari para petani miskin yang kurang pengalaman tempur.  kelompok yang serupa juga dibentuk di perancis di bawah bimbingan Petrus, Sang Pertapa. Dalam perjalanan ke Yerusalem, kedua kelompk ini mengalami nasib yang mengenaskan. Mereka dengan mudah dikalahkan oleh tentara Turki Saljuk di Asia Kecil. [18]. Kelompok kedua, terdiri dari para ksatria yang terlatih dengan persenjataan lengkap dipimpin oleh Bohemund dari Taranto, Tancred, Godfrey dan Baldwin dari Bouillon, Robert dari Normandia, Robert dari Flanders dan Raymund dari St. Gilles.[19]

Sebelum menuju Tanah suci, gelombang pasukan kelompok kedua Perang Salib bergerak menuju Konstantinopel untuk membantu Kaisar Aleksius Kommnenus dalam upaya memerangi ekspansi orang-orang Turki Saljuk. Bagi orang-orang Byzantium, para ksatria ini serupa dengan invasi besar-besaran kaum barbar yang telah menghancurkan kekaisaran Romawi di Eropa. Aleksius sendiri juga terkejut. Kedatangan para ksatria Perang Salib ini merupakan hal yang mencemaskan. Karena itu ia bernegoisasi agar para ksatria itu mengikrarkan sumpah setia kepadanya sebagai seorang kaisar. Bagaimanapun juga tujuan para ksatria ini adalah merebut kembali wilayah-wilayah yang diduduki oleh orang-orang Turki Saljuk di Asia Kecil dan Anatolia, yang sebenarnya dimiliki secara sah oleh Konstantinopel.[20]

Pada bulan Mei 1097, gabungan para ksatria Perang Salib dan tentara Kekaisaran Byzantium mengepung dan merebut ibukota Turki Saljuk di Nicea, yang saat itu dipimpin oleh Sultan Kilij Arslan I. Para ksatria Perang Salib terus bergerak membebaskan daerah di sekeliling Antiokhia dan Armenia. Dalam pergerakan itu, mereka membagi pasukan dalam dua kelompok besar. Dalam peristiwa pembebasan itu, para ksatria Perang Salib mengalami peristiwa yang membuat kesadaran religius mereka meningkat. Peristiwa itu terjadi di Dorylaeum dan Antiokhia.

Ketika kelompok pertama yang dipimpin oleh Bohemund, Stephen dari Blois, dan Robert dari Flanders sampai di Dorylaeum, mereka dikepung oleh pasukan Kilij Arslan. Tidak ada harapan bagi mereka untuk lolos dari pembantaian. Namun ketika Kilij Arslan telah meyakini kemenangannya, datang kelompok kedua dari pasukan Perang Salib yang jumlahnya lebih besar dengan dipimpin Raymund dari St Gilles. Akhirnya mereka memukul mundur seluruh pasukan Kilij Arslan. Pembebasan yang datang tiba-tiba itu diyakini sebagai suatu mukjizat yang luar biasa. Peristiwa ini mengubah pandangan tentang misi mereka.[21]

Di Antiokhia mereka dihadapkan pada cuaca yang buruk dan kelaparan, sementara mereka masih di luar benteng kota. Beberapa peristiwa rohani seperti penemuan tombak yang diyakini suci dan doa yang dipanjatkan oleh para rahib melipat-gandakan semangat pasukan Perang Salib untuk terus bergerak menyerang pasukan Turki Saljuk di kota itu. Akhirnya mereka mampu memecah-belah kekuatan lawan dan menduduki Antiokhia.[22]

Pembebasan Yerusalem

Pada tanggal 13 Mei 1099, dengan bekal motivasi religius yang semakin meningkat, tentara salib memulai bergerak maju ke Yerusalem. Pada tanggal 7 Juni 1099, pasukan perang salib tiba di benteng kota Yerusalem. Akhirnya tanggal 15 Juli 1099 mereka mulai mendesak masuk ke kota Yerusalem dan menaklukkannya. Selama tiga hari mereka membantai penduduk muslim dan Yahudi yang tinggal di Yerusalem.[23]

Tentang pembantaian itu, Raymund Anguiles, seorang saksi mata mengisahkannya demikian:

Pemandangannya sangat mengerikan. Beberapa diantara orang-orang kami menyembelih kepala orang-orang muslim, yang lainnya menembak dengan anak panah, sehingga mereka jatuh dari menara, yang lainnya lagi menyiksa orang-orang muslim secara perlahan-lahan dengan cara melemparkan tubuh mereka ke dalam api. Tumpukan potongan kepala, tangan dan kaki banyak ditemukan di jalan-jalan kota tersebut. Berjalan harus hati-hati agar tak menginjak mayat orang atau kuda. Tetapi, ini kecil dibandingkan peristiwa yang terjadi di kuil Sulaiman, sebuah tempat dimana biasanya diadakan kebaktian-kebaktian agama. Apa yang terjadi di sana? Jika saya berkata sebenarnya maka pasti Anda tak akan percaya. Jadi setidaknya cukuplah dengan mengatakan bahwa di kuil dan serambi Sulaiman darah menggenang setinggi lutut. Tempat ini sudah seharusnya dibanjiri oleh darah orang-orang kafir, mereka telah terlalu lama melakukan dosa penghujatan.[24]

Pembantaian itu bukan sekedar perang penaklukkan tetapi merupakan hukuman dari Tuhan sendiri, sebagaimana Tuhan dahulu telah menghukum seluruh tentara Mesir di laut Merah. Perjalanan Suci telah menjadi pertempuran kaum yang benar melawan iblis. Berdasar kesaksian Raymund, Karel Amstrong menfasirkan bahwa Tuhan turut campur tangan atas sejarah manusia dan menggunakan orang-orang suciNya untuk menyelamatkan dunia. [25]

Selain pembantaian itu tentunya ada dokumen-dokumen yang mengisahkan tentang karya amal kasih, penitensi dan iman yang sungguh hidup. Sayangnya dokumen-dokumen semacam ini tidak pernah ditampilkan ke publik.[26]

Seminggu sesudah peristiwa ini, para pasukan Perang Salib membutuhkan seorang raja untuk kerajaan Kristen Baru. Para rohaniwan berjabatan tinggi dan beberapa ksatria ningrat mengangkat Godfrey dari Bouillon menjadi raja. Tapi Godfrey menolak gelar raja. Ia tidak mau memakai mahkota emas di tempat Sang Juru Selamat memakai mahkota duri. Ia lebih memilih julukan Pelindung Makam Suci.[27]

Rupanya pembantaian ini melenceng jauh dari tujuan mulia yang diserukan oleh Paus Urbanus II. Perang yang dilandasi oleh semangat religius yang awalnya hendak menaklukan Kota Suci demi kewibawaan Gereja Barat, menjadi sebuah pembantaian yang sadis dan dilandasi semangat barbar.

Beberapa hal yang terjadi sesudahnya

Tak lama setelah kemenangan atas Yerusalem, beberapa kelompok religius militer dibentuk demi tujuan khusus. Ordo Hospitaler merupakan salah satu kelompok religius yang lahir pada masa ini. Mereka menghidupi sebuah kemiskinan suci, yang bekerja secara sukarela menjadi satu dengan kaum miskin, menjalani hidup dalam kemiskinan suci Kelompok lain yang terkenal adalah Ksatria Templar yang mengabdikan hidupnya untuk Kerajaan Suci Yerusalem.

Kedua kelompok ini memiliki tugas yang hampir sama. Pertama, mengakarkan agama Kristen secara fisik dan kuat di Tanah Suci. Kedua, mendesak perbatasan-perbatasan Islam secara agresif dan berada di garis depan dalam Perang Suci. Mereka juga menanamkan pengaruhnya baik dalam bidang militer maupun dalam hal kekayaan.[28]

Anehnya, beberapa daerah yang menjadi jantung negeri Islam di daerah Timur Dekat tampaknya tidak memberi perhatian terhadap pendudukan Yerusalem oleh pasukan Perang Salib. Tahun 1128 menjadi suatu saat yang merupakan titik balik kekuatan muslim. Hal ini dikarenakan munculnya tokoh bernama Imaduddin Zangi yang diangkat oleh Sultan Rum di Asia Kecil. Ia menjadi tanda kebangkitan jihad di kalangan muslim untuk merebut kembali Yerusalem. Ia sendiri semakin menonjol karena kemenangannya atas suatu kota Kristen, yakni Edesa pada bulan November 1144. Setelah kematiannya pada 30 September 1146, ia diganti oleh Nuruddin, anak keduanya. Nuruddin memahami jihad sebagai pembelaan diri. Dalam gagasan ini, Nuruddin berpendapat bahwa bertempur melawan agresi Barat adalah kewajiban seorang Islam. [29]

Sehingga tidak dapat dikatakan bahwa kaum muslim tidak memberi perhatian atas jatuhnya Yerusalem ke tangan orang Kristen. Perang terus berlanjut diantara kedua belah pihak. Kemenangan pasukan Kristen di Yerusalem merupakan awal dari suatu pertikaian selama berabad-abad.

Analisa kritis atas Karen Armstrong dalam Perang Suci

Dalam membaca peristiwa Perang Salib, perlu diingat bahwa Perang Salib adalah hasil dari sebuah gagasan yang dirasa menjawabi persoalan jaman. Sehingga pembacaan ini tidak boleh dimuati oleh persepsi religiusitas pembaca sekarang. Artinya, peristiwa ini tidak dapat dimengerti dalam konteks benar atau salah dari pemahaman kita sekarang. Misalnya, mengapa Gereja sebagai suatu institusi religius justru memekikkan perang yang berujung pada tindakan sadis?

Dari Perang Salib, kita dapat menyimpulkan bahwa agama dapat memobilisir massa. Dengan kesamaan keyakinan, tujuan-tujuan tertentu dapat  diwujudkan. Dengan bercermin dari Perang  Salib, kita dapat memahami mengapa dewasa ini banyak terjadi gerakan fundamentalis di antara kedua agama ini.

Perang Salib I merupakan suatu gerakan dengan tujuan mulia sebagaimana diyakini oleh orang-orang Kristen pada masa itu (Kekristenan Barat) berusaha untuk mewujudkan keyakinan bersama, yaitu suatu wujud nyata Kerajaan Allah di dunia. Gerakan Perang Salib mengambil gagasan yang bersemangat misioner: tempat tinggal setan dan kaum kafir harus dibersihkan supaya Kerajaan Allah dan Gereja menyebar ke seluruh dunia.[30] Namun dalam kelanjutannya, rupanya muatan berbagai motivasi sekular turut mempengaruhi jalannya Perang Salib itu. Yang lebih fatal lagi adalah munculnya sikap kebencian antar agama monoteis yang bersangkutan sampai sekarang. Hal ini dapat dilihat dari tulisan-tulisan yang beredar. Dimana pihak yang satu menyalahkan pihak yang lain atau pengklaiman diri sebagai pihak yang benar.

Sebuah tulisan tentang sejarah tidak dapat diyakini sebagai suatu fakta sejarah secara mutlak obyektif. Hal ini jelas dikarenakan suatu tulisan sejarah adalah hasil konstruksi sejarah dari penulisnya. Demikian juga dalam Perang Suci karya Karen Armstrong, tidak dapat disebut sebagai sejarah yang mutlak obyektif. Karena terdapat beragam data yang tidak ditemukan atau tidak diungkap dalam tulisan tersebut. Misalnya, berkenaan dengan indulgensi yang menarik minat para pasukan Perang Salib, tentang semangat jaman Abad Pertengahan yang melatar belakangi Perang Salib dari kedua belah pihak.

Motivasi religius rupanya cukup mendapat perhatian dari Karen Armstrong, sayangnya hal ini kurang diulas dengan lengkap. Demikian juga tentang beberapa peristiwa yang dialami pasukan Perang Salib sebelum sampai di kota Yerusalem, yang mungkin dapat memberi jawaban akan pertanyaan kita tentang alasan mengapa pasukan Perang Salib melakukan pembantaian di Kota Suci.

Berkaitan dengan gagasan `visi tiga sisi` sebagaimana diungkapkan oleh Karen Armstrong, karya ini rupanya cukup dapat memberi suatu gambaran yang menyeluruh dan cukup mendekati posisi netral di antara ketiganya. Penekanan mengenai konsep jihad yang disajikan telah memberi kejelasan tantang berbagai gerakan fundamentalisme dewasa ini. Namun, sejarah sebagai konstruksi tidak pernah dapat diandaikan sebagai suatu potret, yang menampilkan seluruh peristiwa secara lengkap.

Sejarah sebagai konstruksi lebih tepat diumpamakan sebagai lukisan, dimana ada banyak unsur dan karakter pelukisnya yang nampak dalam karyanya. Dalam penulisan sejarah terkandung pandangan tersebut, cara pendekatan dan metode, gaya bahasa sejarawan. Tentunya suatu fakta sejarah mengikat sejarawan tersebut dalam penulisannya. Sejarawan wajib menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi kepada awam. Karena itu sejarawan diharapkan tidak mencampuri pengungkapan kejadian sejarah dengan interpretasi pribadi, apalagi ekspresi emosional yang tidak relevan dengan sejarah.

Misalnya, melalui interpretasinya atas pasukan Perang Salib yang disebutnya sebagai `umat pilihan Allah` yang seolah-olah dibenarkan untuk melakukan tindakan sadis, nampaknya Karen Armstrong jatuh disposisi di atas. Ekspansi orang-orang Turki Saljuk yang mengancam kekaisaran Timur hanya sekilas ditampilkan, padahal seruan Urbanus II untuk menggerakkan Perang salib salah satunya adalah untuk menjawabi persoalan Gereja Timur.

Beberapa hal penting mengenai konflik internal yang terjadi dalam tubuh masing-masing agama rupanya juga berat sebelah. Sejak `Pengantar` buku Perang Suci ini, telah ditampilkan dengan jelas bahwa akar munculnya konflik antar agama ini adalah seruan Urbanus II yang mengawali Perang Salib.[31]

Eddy Kristiyanto sendiri mengatakan bahwa terdapat empat versi laporan pidato dari Paus Urbanus II, yang konon tidak satupun otentik. Sebab beberapa ditulis setelah beberapa abad dan masing-masing berbeda satu sama lain. Bisa jadi laporan-laporan itu merupakan rekonstruksi ulang atas garis besar pidatonya.[32]

Istilah Perang Salib yang digunakan dapat dipahami sebagai bentuk anakronimistme Karen Armstrong atas peristiwa tersebut. Artinya, Karen Armstrong menggunakan istilah yang belum ada pada waktu itu. Istilah Perang Salib baru dimunculkan pada abad XIII, bahkan kemudian istilah itu sendiri sangat jarang digunakan.

Secara memadai Karen Armstrong telah menjawab pertanyaan yang ia lontarkan pada bagian Pengantar. Inilah yang menjadi kelebihan buku Perang Suci ini. Ia menunjukkan dengan baik bahwa segala gerakan fundamentalisme keagamaan dewasa ini menemukan akarnya dalam peristiwa sejarah. Sehingga melalui pemahaman yang ia coba berikan dalam buku ini diharapkan bahwa orang dapat belajar dari sejarah. Dan demikianlah seharusnya.

Refleksi Singkat

Sejarah panjang pertikaian agama menunjukkan bahwa apa yang terjadi antar agama dewasa ini bukanlah hal baru. Sebagai sebuah peristiwa sejarah, apa yang pernah terjadi dalam Perang Salib tidak dapat dihakimi sebagai suatu persoalan dengan kaca mata kita sekarang. Apa yang terjadi pada masa itu adalah sebuah produk jaman, demikian juga mereka yang terlibat di dalamnya.

Seturut berbagai perkembangan akan ilmu pengetahuan dan penghormatan akan keberadaan orang lain dan institusi keagamaan lain, tentunya peristiwa sejarah kelam tersebut tidak seharusnya terjadi. Namun, masih saja terjadi dan muncul begitu banyak gesekan di sana-sini berkaitan dengan hal ini. Sejarah harus dipahami dan dimaknai secara baru, artinya suatu sejarah tidak pernah lepas dari sejarawan yang terlibat didalamnya. Sehingga yang harus ditemukan kemudian bukan hanya fakta sejarah sebagaimana ia terjadi tetapi juga bagaimana seharusnya kita bersikap sekarang.

Sejarah Perang Salib memberikan pelajaran berharga bahwa rasa superior dan inferior yang ada selama ini dapat berakibat fatal jika terus menerus dihidupi. Hendaknya, sebuah perbedaan atau ketidak pahaman akan apa yang ada dalam agama lain dipandang sebagai suatu keunikan dalam penghayatan hidup beragama. Sebagai sebuah keunikan, setiap perbedaan adalah sesuatu yang berharga untuk bersama-sama dijaga dan dipelihara.

DAFTAR PUSTAKA

Armstrong, Karen, Perang Suci: Dari Perang Salib hingga Perang Teluk, Jakarta: Serambi, 2007.

Armstrong, Karen, Sejarah Tuhan, Bandung: Mizan, 2001.

Kristiyanto, Eddy, OFM, Gagasan yang Menjadi Peristiwa, Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Irvin, Dale T. dan Scott W. Sunquist, Kekristenan: Gerakan Universal, Ledalero: Maumere, 2004.

Sardar, Ziauddin dan Zafar Abbas Malik, Mengenal Islam for Beginners, Bandung: Mizan, 1999.

…, Ensiklopedia Nasional Indonesia, Jilid I, Jakarta: Cipta Adi Pustaka, 1988.


[1] Bdk. Karen Armstrong, Perang Suci, dari Perang Salib hingga Perang Teluk,terj. Hikmat Darmawan, Jakarta: Serambi, 2001, hlm. 9.

[2] Istilah ini sebenarnya baru dipakai pada abad XVIII, istilah yang dipakai pada masa itu adalah expeditio, iter in terram sanctam, perjalanan ke Tanah Suci, juga peregrinatio, suatu istilah teknis untuk ziarah. (Eddy Kristiyanto, OFM, Gagasan yang Menjadi Peristiwa, Jogjakarta: Kanisius, 2002, hlm. 184.

[3] Perang Salib I yang mulai berlangsung pada abad ini sejatinya menandai keluarnya Eropa dari periode panjang barbarisme yang dikenal sebagai zaman kegelapan. (Bdk. Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, Bandung:Mizan, 2001, hlm. 266.)

[4] Masyhuri, Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid I, Jakarta:Cipta Adi Pustaka, 1988, hlm. 3.

[5] Ibid., hlm. 4.

[6] Eddy Kristiyanto, Op. Cit., hlm. 181.

[7] Karen Armstrong, Op. Cit., hlm. 105.

[8] Eddy Kristiyanto, Op. Cit., hlm. 174.

[9] Ibid., hlm. 176.

[10] Ibid., hlm. 178.

[11] Ibid., hlm. 179.

[12] Ibid., hlm. 192.

[13] Ibid., hlm. 179.

[14] Bdk. Dale T. Irvin Scott W. Sunquist., Kekristenan: Gerakan Universal, Sebuah Ulasan Sejarah, Maumere: Ledalero, 2004, hlm. 617.

[15] Karen Armstrong, Op. Cit, hlm. 249 dan Eddy Kristiyanto, Op. Cit., hlm. 182.

[16] Secara eksplisit, pembebasan Yerusalem ini baru diuungkapkan dalam surat kepada orang-orang Bologna dan para rahib Vallombrosa. Ibid., Eddy Kristiyanto,  hlm. 180.

[17] Ibid., Karen Armstrong, hlm. 27.

[18] Dale T. Irvin dan Scott W. Sunqist., Op.Cit., hlm. 619.

[19] Karen Armstrong, Op. Cit., hlm.243-248

[20] Dale T. Irvin dan Scott W. Sunqist., Op.Cit., hlm.620.

[21] Karen Armstrong, Op. Cit., hlm. 255-257.

[22] Ibid., hlm. 263-283.

[23] Ziauddin Sardar dan Zafar Abbas Malik menceritakan bahwa pertempuran terjadi selama  40 hari. Pasukan prang Salib menewaskan 70.000 orang pria, wanita dan anak-anak [muslim dan Yahudi] dalam Mengenal Islam for Beginners, Bandung:Mizan, 1999, hlm. 139. 40 hari itu dapat dipahami sejak pertempuran 7 Juni hingga 15 Juli ditambah pembantaian orang-orang muslim dan Yahudi di dalam kota Yerusalem.

[24] Ibid., hlm.139.

[25] Karen Armstrong., Op.Cit., hlm. 290-291.

[26] Eddy Kristiyanto., Op.Cit., hlm. 181.

[27] Karen Armstrong., Op.Cit., hlm. 291.

[28] Ibid., hlm. 301.

[29] Ibid., hlm. 308-314.

[30] Eddy Kristiyanto., Op.Cit., hlm. 192.

[31] Karen Armstrong., Op.Cit., hlm. 9.

[32] Eddy Kristiyanto., Op.Cit., hlm. 179.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s