MESIAS


Pengantar

Dalam Perjanjian Baru, Yesus dari Nazaret digelari dan diakui sebagai Mesias, artinya ‘yang diurapi’ (mesyiah),1 oleh para murid. Gagasan tentang Mesias sebenarnya bukan suatu hal yang baru. Sudah sejak  lama gagasan tentang Mesias mengakar kuat dalam hidup dan pemikiran orang Yahudi. Mereka mengharapkan dan menantikan kedatangan  Mesias yang hadir sebagai sosok yang berkuasa, meraja, atau mulia, yang olehNya Israel mendapat kemenangan dari para musuh, kekuasaan atas bangsa lain, dan kesejahteraan untuk selama-lamanya. Dalam cara pandang yang demikian, maka, tak ayal, Mesias didudukkan oleh orang Yahudi dalam gambaran yang sepenuhnya nasional, politis, dan materialis.

Harapan yang sedemikian besar jelas tidak terpenuhi dalam diri Yesus. KematianNya di kayu salib membuyarkan harapan dan gambaran Mesias orang Yahudi. Lantas, mengapa Para Rasul tetap menganggap dan mewartakan Yesus sebagai seorang Mesias? Apa benar Dia adalah Mesias yang telah lama dinantikan orang Yahudi? Jika benar, bagaimana menjelaskan konflik yang terjadi antara gambaran Mesias orang Yahudi dengan gambaran Mesias yang diwartakan oleh Para Rasul? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang hendak dijawab oleh penulis dalam tulisan sederhana ini.

Mesias dalam Gambaran PL

Asal-usul ide tentang Mesias sebenarnya erat sekali hubungannya dengan ide perjanjian antara Allah dan Israel (Yahudi) yang menjadi umat pilihanNya. Perjanjian tersebut menandaskan bahwa kelak bangsa Israel berhak mendapat kehormatan, kemulian, dan supremasi sebagai sebuah bangsa. Mesias lalu menjadi duta mratansi Allah, Juruselamat yang dinantikan kehadirannya, yang dengan perantaraanNya, Israel akan menerima kepenuhan janji Allah.[2] Dengan kata lain, Mesias ‘dikirim’ oleh Allah untuk menggenapi suatu tujuan penyelamatan bagi umatNya.

Pada mulanya, impian itu sederhana. Impian itu tidak lebih dari negeri yang aman, adil, makmur, dan penuh kedamaian di bawah pemerintahan raja dinasti Daud Hal ini nampak dalam nubuat-nubuat nabi Yesaya (9:2-7; 11:1-5.; 32:1-5, atau juga 3:2-6). Dalam nubuat-nubuat tersebut, raja, dalam dinasti Daud, digambarkan sebagai:

pahlawan yang berkuasa, yang mampu menolong umat dari kesusahan dan mendudukkan lawan-lawan, pemimpin yang bijaksan dan adil dalam tindakan, raja yang akan membersihkan Yerusalem menjadi kota suci dan raja itu akan berkuasa selama-lamanya.[3]

Gambaran Mesias tersebut terus hidup dalam impian-impian orang Yahudi. Namun, di kemudian hari, oleh sebagian besar orang Yahudi, gambaran Mesias ‘diubah’ menjadi harapan pada seorang tokoh yang ilahi dan adikodrati. Mengapa? Karena impian-impian indah akan kekuasaan, kemakmuran, atau juga kemerdekaan yang bakal dialami oleh Israel ternyata tak kunjung datang. Israel terus saja dijajah dan dipebudak oleh bangsa-bangsa lain yang lebih kuat. Dekadensi moral dan spiritual pun semakin terasa. Akibatnya, banyak pemikir Yahudi yang menumpukan harapannya tidak lagi pada daya dan kekuatan manusiawi, melainkan pada kekuatan ilahi, kuasa adikodrati, yang memasuki dunia manusia dengan daya surgawi. Dengan demikian, sekali lagi, gambaran tentang Mesias lantas menjadi semakin ilahi dan adikodrati. Gambaran ini nampak jelas terutama dalam tulisan Henokh (38:1.2; 45:3.4; 49:2.4) dan Ezra (12:30-32; 13:4.25.26).[4] Meski demikian, gambaran tentang Mesias, oleh orang Yahudi, tetap ditempatkan dalam bingkai tokoh penyelamat atau penguasa yang sanggung membawa Israel kepada kemuliaan dan kejayaan sebagai sebuah bangsa.

Mesias dalam Gambaran PB

Dalam PB, khususnya keempat Injil dan Kisah Para Rasul, gelar Mesias[5] kerapkali disematkan pada diri Yesus dari Nasaret. Sebagai contoh:

  1. Ketika Andreas bertemu Yesus, ia segera memberitahu Simon, saudaranya, dengan pernyataan bahwa ia menemukan Mesias (Yoh 1:41).
  2. Di kaisarea Filipi, Petrus mengakui Yesus sebagai Mesias (Mat 16:16; Mrk 8:29; Luk 9:20).
  3. Setelah Yesus ditangkap dan dibawa ke pengadilan agama, Imam agung bertanya kepada Yesus apakah Ia Mesias, Sang Terurapi (Mat 26:63; Mrk 14:16; Luk 22:67).
  4. Inti pewartaan Paulus adalah pemakluman bahwa Yesus itu seorang Mesias (Kis 9:22; 17:3}

Pemberian gelar Mesias atau Kristus pada diri Yesus tidaklah tanpa sebab. Mengingat harapan mesianis yang tumbuh subur kala itu dalam diri orang Yahudi, maka  tidak mengherankan, melihat apa yang dikerjakan oleh Yesus, banyak orang disekitarNya mulai bertanya-tanya apakah Ia adalah Mesias yang diharapkan, dan bahkan ada yang mulai menganggapnya demikian. Dalam tindakan dan ajaranNya, mereka melihat dan mendengar sejumlah hal yang dinantikan dari seorang Mesias. Ia mengatakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Ia tampil sebagai seorang yang berkharisma, seorang yang dipenuhi dengan kuasa Roh Allah. Ia mengadakan mujizat, membawa kesembuhan, atau juga menjamu orang yang lapar. Tanda-tanda yang demikian sudah cukup bagi sejumlah orang Yahudi yang hidup dalam keadaan yang sulit, untuk mulai melihat seorang Mesias dalam diri Yesus, orang Nazaret itu.[6]

Namun, yang menjadi pertanyaannya, apakah Yesus, sesuai dengan pandangan lingkungannya, juga memandang diriNya sebagai Mesias? Jawabannya tidak. Yesus nampaknya tidak bermaksud memenuhi semua segi harapan mesianik yang hidup di tengah masyarakat Yahudi. Dan, selama hidupNya, Ia tampak tidak ingin memperkenalkan diriNya sebagai Mesias kepada masyarakat Yahudi yang luas, sebagimana nampak dalam Injil Markus (1: 23-25. 32-34; atau juga 8.30). Mengapa demikian? Sebab, dalam gambaran serta harapan mesianis yang hidup dalam pemikiran orang Yahudi, ada beberapa segi yang tidak menjadi maksud Yesus. Misalnya, gambaran Mesias sebagai seorang penguasa kerajaan dunia, yang mulia, kuat dan kuasa.

Yesus menyatakan ke-Mesias-an diriNya dengan cara yang sama sekali lain dengan gambaran Mesias yang sudah umum beredar dalam orang Yahudi kebanyakan, yakni melalui sengsara dan wafatNya di salib. Sebuah gambaran yang tidak bisa diterima oleh masyarakat Yahudi luas. Bagaimana mungkin seorang Mesias menderita? Tapi itulah kenyataannya. Mesias yang dijanjikan itu harus terlebih dulu mengalami sengsara dan wafat di salib guna memperoleh kemuliaan yang lebih tinggi, yakni kekuasaan atas dosa dan maut, lewat kebangkitanNya dari antara orang mati. Poin kebangkitan inilah yang lantas diserukan oleh para rasul, untuk menyatakan bahwa, Yesus yang mereka salib adalah sungguh-sungguh Mesias yang dijanjikan Allah. Kebangkitan lalu merupakan peneguhan, bahwa apa yang dilaksanakan Yesus hingga wafatNya memiliki nilai bagi karya Allah untuk manusia.

Konflik Gambaran[7]

Pada bagian ini, penulis akan sedikit mengurai gambaran tentang Mesias yang terekam dalam PL dan PB. Dari sini, akan nampak jelas bagaimana Yesus mengartikulasikan dan mengaktualisasikan peran ke-Mesias-annya, dan bagiamana gambaran Mesias yang ditampilkan oleh Yesus menjadi problem serius orang Yahudi kebanyakan.

  1. Gambaran Mesias Yahudi pada dasarnya adalah nasional. Kedatangan Mesias semata-mata dipandang sebagai ‘hadiah’ istimewa atau privelese dari Allah kepada bangsa Yahudi. Gambaran semacam itu jelas bertentangan dengan apa yang diwartakan oleh Yesus. Karya dan ajaran Yesus adalah untuk semua manusia. Perhatiannya bukan melulu perhatian nasional atau demi keselamatan Israel semata. SikapNya terhadap orang kafir, perlakuanNya terhadap orang Samaria, atau juga kelembutanNya terhadap putri Syro-Fenesia, jauh dari kesan semacam itu.
  2. Gambaran Mesias Yahudi pertama-tama adalah materialis. Mesias didambakan sebagai salah seorang raja, keturunan Daud, yang berkuasa. Dialah yang sanggup mengalahkan musuh-musuh Israel, yang pada akhirnya membawa bangsa tersebut pada hidup mulia dan sejahtera. Hal ini jelas bertentangan dengan pesan yang dibawa oleh Yesus. Yesus mengumumkan kekuasaan atau Kerajaan Allah bukan dengan tindakan peperangan, melainkan dengan tindakan belas kasihan. Ia melihat karyaNya sebagai pelayanan, bukannya sebagai dominasi.3
  3. Gambaran Mesias Yahudi adalah tokoh yang mulia, kuat-kuasa dan megah. Hal ini jelas tidak sesuai dengan sikap dan tindakanYesus sebagai seorang hamba Yahwe yang harus menderita. Bagi orang Yahudi, Mesias yang menderita itu tidak mungkin, tidak bisa dipercaya. Tapi itulah kenyataannya. Melalui sengsara, wafat, dan terutama kebangkitanNya, Yesus menunjukkan kemenangan serta kekuasaanNya atas dosa dan maut.

Penutup

Akhirnya,  dapat dikatakan bahwa pengertian Mesias mengalami perubahan yang cukup radikal dalam lingkungan Kristen. Kehadiran Yesus membuyarkan gambaran mesianis yang telah lama hidup dalam pemikiran orang Yahudi. Dalam Kekristenan, Yesus tidaklah dipandang sebagai Mesias dalam arti penguasa dunia yang mencapai kemenangan lewat perjuangan fisik. Kemenangan yang ia tawarkan justru bermula dari kekalahanNya di kayu salib. Ia menunjukkan kepada banyak orang akan Allah yang merajai hati, Mesias yang meraja dalam penderitaan. Dan, jika Paulus mewartakan Yesus sebagai Mesias dan Penyelamat, maka penyelamatan itu terlaksana justru melalui salib dan kebangkitan Yesus.

Daftar Pustaka

Darmawijaya, St. Pr. Gelar-Gelar Yesus. Yogyakarta: Kanisius,  1987.

Harun, Martin, OFM. “Mesias dalam Apokaliptik Abad Pertama,” dalam Tom Jacobs, SJ (Ed), Yesus Kristus Pusat Teologi. Yogyakarta: Kanisius, 1986.

Walker, Dr. D.F. Konkordansi Alkitab. Yogyakarta: Kanisius, 1994.


1 Di dalam PL, pengurapan dihubungkan dengan tiga macam orang. Pertama, dihubungkan dengan nabi. Elia diperintah agar mengurapi Elisa sebagai nabi, menggantikan kedudukan dan peranannya (1 Raj 19:16). Kedua, dihubungkan dengan imam. Allah memerintahkan imam-imam diurapi dan disucikan sehingga pantas menjadi pelayan bagiNya (Kel 28:41). Ketiga, dihubungkan dengan raja. Atas perintah Allah, Samuel mengurapi Daud di hadapan saudara-saudaranya, karena Daud adalah orang pilihan Allah (1 Sam 16:12.13). Tiga peran yang juga menjadi ciri tugas perutusan Yesus. (Bdk. St. Darmawijaya, Pr, Gelar-Gelar Yesus, Yogyakarta: Kanisius,  1987, hlm. 79-80).

[2] Bdk, Ibid, hlm. 81-82.

[3] Bdk, Ibid, hlm. 82.

[4] Ibid, hlm 84.

[5] Patut diperhatikan bahwa dalam PB, kata ‘Mesias’ kerapkali diterjemahkan dangan kata ‘Kristus.’ Kiranya, makna tersebut sama. Kristus dalam bahasa Yunani adalah terjemahan, tafsiran Mesias dalam bahasa Ibrani. Sehingga, penyebutan Yesus Kristus sama artinya dengan mengakui dia sebagai Mesias, sang terurapi, tokoh yang dijanjikan. (Bdk, Ibid,, hlm. 80).

[6] Bdk, Martin Harun, OFM, Mesias dalam Apokaliptik Abad Pertama, dalam Tom Jacobs, SJ (Ed), Yesus Kristus Pusat Teologi, (Yogyakarta: Kanisius, 1986), hlm 42.

[7] Bdk, Ibid, hlm. 98-99.

3 Martin Harun, OFM, Op. Cit, hlm. 43.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s