MEMERDEKAN MORALITAS YANG TERBELENGGU (KRITIK NIETZSHE ATAS SISI BURUK MORALITAS DALAM AGAMA [KRISTEN])


Catatan Awal

Moral adalah sebuah sistem berpikir yang menyoal hakikat baik-buruk tindakan manusia. Dalam tatanan sistem itu, setiap tindakan manusia disetir, dievaluasi, dan pada akhirnya dinilai berdasarkan nilai-nilai rigid kaidah moral, yakni: afirmasi terhadap apa yang baik dan negasi terhadap apa yang buruk. Namun, apa itu baik dan apa itu buruk? Para moralis mendefinisikan “baik” sebagai apa yang mendatangkan manfaat atau kegunaan. Dengan kata lain, kebaikan adalah segala hal yang selama ini telah membuktikan diri sebagai sesuatu yang berguna dan karenanya meletakkan tuntutan paling tinggi untuk dianggap berharga. Sementara, keburukan adalah lawan dari pengertian itu. Keburukan adalah sebuah kerusakan yang tak berguna.[1]

Tuntutan untuk melakukan apa yang baik dan menjauhi apa yang buruk itu makin dipertegas dalam moralitas agama. Cetusan-cetusan “hasrat primodial-kebinatangan” manusia dianggap oleh moralitas agama sebagai cetusan-cetusan amoral. Dengan demikian, hasrat untuk menguasai, narsisisme seksual, kultus diri, gairah yang meluap-luap, dsb, adalah hasrat-hasrat yang mesti dikekang bahkan dibunuh kalau seseorang tidak ingin dikucilkan dalam kawanan orang yang berpredikat baik dan lantas dicap sebagai orang yang berdosa. Hasrat-hasrat semacam itu jelas tidak memberi kegunaan apapun bagi manusia untuk mentransendir kualitas dirinya. Namun, gagasan moral seperti ini dikritik oleh Nietzche. Ia muak pada segala jenis kaidah moral yang malah menolak atau berkata “tidak” pada gairah-gairah primodial kehidupan manusia. Justru dalam gairah primodial itulah keluhuran manusia akan dapat mengemuka.

Dengan demikian, apa yang diamini sebagai fakta moral dipertanyakan oleh Nietzshe. Menurutnya, moralitas dalam dirinya sendiri itu tidak ada, yang ada hanyalah interpretasi moral. Adapun, interpretasi moral itu sendiri berasal dari luar-moral.[2] Dengan kata lain, moralitas kita adalah moralitas cangkokan, sebab bukan kita sendiri yang sedari awal bertindak sebagai subjek moral, nilai-nilai moralitaslah yang terlebih dahulu  mendeterminasi perilaku kita. Dalam perspektif semacam ini, maka tepatlah bila kita bertanya: mengapa saya harus melakukan ini dan itu? Mengapa tidak boleh berbuat sebaliknya? Apa yang mendasari tuntuan dan larangan itu? Pertanyaan-pertanyaan ini mendesak untuk diajukan, sebab konsep “baik” dan “buruk” telah lama menjejali kesadaran kita dan kita tidak berdaya untuk menolaknya. Melalui pembacaan terhadap ide-ide Nietzsche, kita akan melihat bagaimana moralitas itu diasalkan, bagaimana ia dijungkirbalikkan, dan bagaimana seharusnya moralitas itu dijalankan.

Dua Macam Moralitas

Dalam buku Beyond Good and Evil, khususnya pada aforisme yang ke-260, Nietzshe menulis bahwa pada dasarnya ada dua jenis moralitas yang saling berkelindan dalam hidup manusia. Kedua moralitas tersbut adalah moralitas tuan dan moralitas budak. Keduanya bertolak belakang satu dengan yang lain. Moralitas tuan merupakan sebuah ungkapan dari rasa hormat dan penghargaan terhadap diri sendiri.[3] Manusia dengan moralitas ini merupakan manusia yang punya jiwa mulia. sebab dia tidak membutuhkan persetujuan siapa pun untuk apa yang dilakukannya. Dia adalah penentu nilai.[4] Ia punya kekuatan moral dalam dan atas dirinya sendiri. Dengan kata lain, ia adalah subjek atas tindakannya dan sekaligus juga penilai dari tindakannya sendiri. Ia bertindak karena ingin bertindak, bukan lantaran dideterminasi oleh tuntutan atau larangan ini dan itu. Moralitas jenis ini adalah moralitas yang aktif dimana diri yang otonom berperan sebagai penentu moralitas tindakan.

Sementara itu, budak, di lain pihak, tidak dapat bertindak sendiri. Tindakannya selalu berada di bawah perintah tuannya.[5] Moralitas budak, dengan demikian, adalah moralitas yang tergantung atau moralitas suruhan. Ia tidak mempunyai kekuatan untuk menjadi subjek atas tindakannya sendiri. Moralitas yang ada pada mereka adalah moralitas kelamahan dan ketakutan untuk bertindak secara otonom. Moralitas ini merupakan moralitas yang reaktif lantaran setiap bentuk tindakannya dideterminasi oleh otoritas di luar dirinya (si tuan) yang tidak bisa mereka kuasai, yang mereka takuti, dan yang kemudian mereka benci, meski dalam hati.

Perbedaan kualitas moral diantara keduanya, pada akhirnya menggariskan adanya perbedaan pemaknaan tentang konsep “baik” dan “buruk”. Bagi pemangku moralitas tuan, apa yang baik adalah segala kualitas yang merujuk pada superioritas diri dan kehidupan. Sedangkan, apa yang buruk adalah segala hal yang berkebalikan dari diskursus kualitas tersebut. Konsep baik-buruk dari moralitas tuan itu berlawanan secara total dengan moralitas budak. Moralitas budak merupakan negasi radikal atas apa yang dihidupi oleh moralitas tuan. Apa yang baik dalam moralitas budak adalah apa yang dianggap sebagai yang buruk dalam moralitas tuan, yakni perendahan segala vitalitas kehidupan atau inferioritas diri, seperti: pengingkaran diri, perendahan diri, belas kasih, dsb. Sementara itu, lantaran tidak memiliki daya kemerdekaan moralitas sebagaimana tuannya, apa yang dianggap baik oleh si tuan, dengan serta merta dianggap jahat oleh si budak.

Terjadinya Penjungkirbalikan Nilai-Nilai

Perbedaan yang tajam antara moralitas tuan dan moralitas budak pada akhirnya melahirkan sebuah  sentimen kebencian yang mendalam dari si budak kepada sang tuan. Si budak, yang iri lantaran sang tuannya memiliki kemerdekaan penuh moralitas atas tindakannya sendiri, membatinkan sentimen kebenciannya ke dalam dirinya sendiri, sehingga sentimen kebencian itu meresapi segala apa yang  ia pikirkan dan perbuat. Dari sentimen kebencian itu meletuslah pemberontakan di kalangan budak terhadap tuannya. Namun, menurut Nietzche, pemberontakan tersebut hanyalah sebuah peristiwa balas dendam imajiner.[6] Artinya, pemberontakan ini sejatinya tidak berlangsung dalam ranah praksis-politis, melainkan digelar dalam ranah moralitas. Dalam pemberontakan itu, sentimen kebencian para budak menjadi sebuah kekuatan kreatif baginya untuk menghasilkan nilai-nilai baru yang  merevisi dan mereaksi secara negatif atas keagungan moral sang tuan. Dengan kata lain, sentimen kebencian para budak itu menjungkirbalikkan penilain baik-buruk dari moralitas tuan.[7]

Menurut Nietzsche, pemberontakan atau penjungkirbalikan nilai itu pertama kali dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Dalam Genealogi Moral, Nietzsche menulis:

”Orang-orang suci tersebut [orang-orang Yahudi, red] berhasil dalam membalaskan dendam diri mereka sendiri atas musuh-musuhnya dan para penindasnya dengan membalikkan seluruh nilai mereka secara radikal, yakni lewat sebuah tindakan dendam yang paling spiritual…Adalah Yahudi yang dengan ketakutan yang konsisten, berani menyingkirkan persamaan-persamaan nilai aristokrasi dari baik/terhormat/berkuasa/indah/bahagia dengan kebencian yang membara dari perendahan hak dan ketakberdayaan bahwa hanya orang miskin, tak berkuasa adalah orang yang baik; hanya orang yang menderita, sakit dan jelek, yang benar-benar diberkati Tuhan. Tapi anda yang terhormat dan berkuasa di muka bumi ini akan selamanya menjadi yang jahat, kejam, kikir, tak beriman, dan lalu yang terkutuk serta yang dilaknat.”[8]

Penjungkirbalikan nilai yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi tersebut menunjukkan pada kita bagaimana orang-orang yang dalam hidup keseharian tersisih dan disingkirkan mendapat ilusi spiritual yang memungkinkan mereka untuk berbangga diri atas keadaan mereka saat ini, dan kemudian merendahkan mereka yang menjali hidup dengan mental aristokrat.

Di kemudian hari, penjungkirbalikan nilai yang telah dimulai oleh orang-orang Yahudi itu mewujud sempurna dalam rupa Kekristenan. Di dalam Kekristenan, ketidakberdayaan orang-orang yang lemah, rendah, dan kalah dari orang-orang yang bermental kuat dan bermoral mulia makin terinstitusionalisasi. Melalui Kekristenan, sentimen kebencian terhadap apa yang disebut sebagai kualitas moral tuan disebarkan dengan semangat yang menggebu-gebu. Nilai-nilai seperti: kebanggaan, tanggung jawab besar, semangat yang berkobar-kobar, hewanisme hebat, naluri untuk berperang dan menaklukkan, pendewaan hawa nafsu, dsb, dikatakan buruk oleh Kekristenan.[9] Dengan demikian, Kekristenan menjadi pelaku utama dari apa yang disebut sebagai moralitas budak, dimana yang diamini adalah nilai-nilai ketaatan, kerendahan hati, sikap rela, kesediaan untuk tidak membalas, dsb.

Dengan tampil dan berkuasanya kebudayaan Kristen, kebudayaan-kebudayaan lain dicap sebagai barbar yang tidak mampu melahirkan kebaikan. Namun, moralitas semacam inilah, yang menurut Nietzsche, malah menghantarkan Eropa (wilayah dimana Kekristenan mendominasi) masuk ke dalam nihilisme, antimanusia dan antikehidupan.[10] Daripada mengafirmasi nafsu-nafsu spontan manusia yang sesungguhnya merupakan dorongan primodial-eksistensial hidup itu sendiri, Kekristenan malahan meredam setiap bentuk nafsu itu dan menjadikannya sebagai kejahatan yang binal.

Lebih jauh, Kekristenan memiliki cara yang cerdik guna melanggengkan kuasa moralitasnya. Segala yang dianggapnya buruk dibatinkan dan diarahkan ke dalam diri manusia. Pembatinan itu seringkali disebut sebagai ”suara hati”. Dengan adanya suara hati ini, manusia menjadi makhluk setengah-hewan yang menyiksa dirinya sendiri, seperti binatang laut yang dipaksa hidup di darat. Naluri mereka tiba-tiba ditangguhkan.[11] Suara hati tersebut adalah juga interiorisasi moralitas budak yang berlangsung secara halus. Dalam proses ini, individu dibius dengan nilai-nilai yang dapat menjamin kelangsungan hidup dari sebuah moralitas tertentu yang dicangkokkan kepadanya.[12] Melalui interiorisasi moral itu, manusia bersikap resisten terhadap dorongan-dorongan yang dikategorikan sebagai yang buruk atau jahat, dan melawannya dengan sistem norma moral yang reguler.[13] Suara hati atau interiorisasi moral itulah yang akhirnya membuat tiap orang Kristen menerima tanpa syarat moralitas budak yang diajarkan oleh Kekristenan padanya, meskipun sesungguhnya moralitas itu menjauhkan manusia dari kehidupan yang penuh daya dan kekuatan, dan menggantinya dengan semangat yang lemah terhadap kehidupan.

Kehendak Untuk Berkuasa Sebagai Prinsip Moral yang Sejati

Makin mengemukanya keberadaan moralitas budak yang antikehidupan itu, mendorong Nietzsche untuk menempatkan moralitas ke wadah yang semestinya. Sebagai bentuk perlawanannya terhadap tuntutan untuk mengikuti kategorisasi baik-buruk menurut moralitas Kekristenan, Nietzsche menyebut diri sebagai seorang amoralis. Sebutan itu ia sematkan pada dirinya lantaran tuntutan-tuntutan moralitas Kekristenan malahan membuat tiap orang ”terlibat dalam suatu rangkaian tugas yang menjerat dan menyesakkan nafas, dan tidak dapat bebas”.[14] Maka tepatlah apa yang dikemudian hari diucapkan oleh Ingmar Bergman, seorang sutradara film, ketika ia melepaskan diri dari tekanan moralitas keagamaannya, katanya: “Superstruktur keagamaan saya yang berat ke atas telah runtuh. Ketika segi religius dari kehidupanku terhapus, hidupku terasa lebih mudah dijalani”[15]

Perlawanan Nietzche terhadap tekanan moralitas Kekristenan (moralitas budak) itu ia dasarkan dengan mempertanyakan hakekat moralitas. Menurutnya, moralitas selalu berarti penafsiran untuk suatu penilaian. Penafsiran dan penilaian itu dilakukan oleh manusia lantaran ia hendak mempertahankan kehidupannya.[16] Dan, jika moralitas itu diciptakan guna mempertahankan kehidupan, maka moralitas tersebut tak lain adalah sebuah manifestasi dari kehendak untuk berkuasa. Penting untuk dicatat bahwa, menurut Nietzsche, kehendak untuk berkuasa itu tidak lahir dari ego untuk menguasai. Yang terjadi adalah sebaliknya, egolah yang keluar dari kehendak untuk berkuasa.[17] Jadi, kehendak untuk berkuasa adalah daya primordial yang sudah ada dalam diri manusia sejak awal. Melalui daya itulah, ego manusia diarahkan guna mempertahankan dan kemudian meningkatkan kualitas kehidupannya. Dengan kehendak untuk berkuasa, manusia menjadi subjek-subjek yang otonom bagi dirinya sendiri, sehingga vitalitas kehidupannya menjadi terasa makin menawan dan menggairakan.

Dalam pemahaman di atas, maka konsep tentang yang ”baik” mestinya adalah apa saja yang meningkatkan kehendak untuk berkuasa, sementara yang ”buruk” adalah semua yang mengalir keluar dari sikap lemah dan kalah. Konsep semacam ini jelas bertentangan dengan konsep moralitas dalam Kekristenan, dimana moralitas digunakan sebagai alat untuk menjahui nafsu-nafsu dan mencap buruk/jahat apa saja yang keluar dari dorongan kehendak untuk berkuasa. Namun, justru dalam perbedaan konsep inilah Nietzsche menunjukkan bagaimana moralitas itu seharusnya dijalankan: bukan dengan patuh pada otoritas moral dan menegasi setiap letupan-letupan primordial kehidupan, melainkan dengan menjadi subjek yang otonom yang mengatakan ”Ya” pada setiap dorongan ke arah keluhuran dan vitalitas dalam kehidupan.

Catatan Penutup

Dengan mengatakan bahwa moralitas adalah manifestasi dari kehendak untuk berkuasa, Nietzshe sejatinya hendak mengangkat kembali keluhuran moralitas tuan yang makna dan hakekatnya telah dipeyoratifkan oleh moralitas Kristiani. Maka ada dua hal yang kiranya perlu untuk kita lakukan jika kita hendak memerdekakan moralitas kita. Pertama, kita harus mengklaim kedaulatan atas diri kita sendiri. Dalam kemenagan ini kita mesti belajar untuk menerima dan mencintai diri kita sendiri, bahkan bila dalam diri kita terdapat aspek-aspek yang tercela. Kedua, kita harus menciptakan sebuah perspektif tentang dunia yang berada dalam disposisi menerima dan mencintai itu pula.[18] Ini adalah tugas berat. Namun, bila kita berhasil melakukannya, maka kita akan mendapat kedirian kita yang utuh.

Daftar Pustaka

Danto, Arthur, NIetzche. Dalam D.J. O’Connor (ed). A Critical History of Western Philosophy. New York: The Free Press. 1985.

Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern: Dari Machiacelli sampai Nietzsche. Jakarta:Gramedia. 2007.

Mohammad, Goenawan. Bergman. Dalam Tempo, No 24/xxxvi/6-12 Agustus 2007.

Nietzsche, Friedrich. Beyond Good and Evil: Periode menuju Filsafat Masa Depan. (Terj. Basuki Heri Winarno). Yogyakarta: Ikon Teralitera. 2002.

Nietzche, Friedrich. Genealogi Moral. (Terj. Pipit Maizier). Yogyakarta: Jalasutra, 2001.

Poole, Ross. Moralitas dan Modernitas: Di bawah Bayang-Bayang Nihilisme. (Terj. F. Budi Hardiman). Yogyakarta: Kanisius. 1993.

Russell, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat: dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang. (Terj. Sigit Jatmiko, dkk). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002.

Sunardi, St. Nietzche.Yogyakarta: LkiS.1996.


[1] Teori Kebaikan dan keburukan menurut Herbert Spencer sebagaimana yang disadur oleh Nietzche dalam Genealogi Moral, (Terj. Pipit Maizier), Yogyakarta: Jalasutra, 2001, hlm 22.

[2] St. Sunardi, Nietzche, Yogyakarta: LKiS, 1996, hlm. 125.

[3] Ross Poole, Moralitas dan Modernitas: Di bawah Bayang-Bayang Nihilisme, (Terj. F. Budi Hardiman), Yogyakarta: Kanisius, 1993, hlm. 156.

[4] Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil: Periode menuju Filsafat Masa Depan, (Terj. Basuki Heri Winarno), Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2002, hlm. 203.

[5] Ibid.

[6] Friedrich Nietzsche, Genealogi Moral, Op. Cit, hlm. 36.

[7] Bdk., F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiacelli sampai Nietzsche, Jakarta:Gramedia, 2007, hlm. 270.

[8] Friedrich Nietzsche, Genealogi Moral, Op. Cit, hlm. 31.

[9] Bdk., Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat: dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang, (Terj. Sigit Jatmiko, dkk), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002, hlm. 996.

[10] Bdk., St. Sunardi, Op. Cit.,  hlm. 112.

[11] F. Budi Hardiman, Op. Cit., hlm. 270-271.

[12] St. Sunardi, Op. Cit.,  hlm. 127.

[13] Bdk., Arthur Danto, NIetzche, dalam D.J. O’Connor (ed), A Critical History of Western Philosophy, New York: The Free Press, 1985, hlm. 395

[14] Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil: Periode menuju Filsafat Masa Depan, Op. Cit., hlm. 152.

[15] Dikutip dari Goenawan Mohammad, Bergman, Dalam Tempo, No 24/xxxvi/6-12 Agustus 2007, hlm. 130

[16] St. Sunardi, Op. Cit.,  hlm. 125.

[17] Bdk., Ibid, hlm. 73.

[18] Ross Poole, Op. Cit., hlm. 172.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s