KELAHIRAN ARTIFISIAL


Puluhan tahun lalu, kelahiran tidak bisa dimengerti tanpa adanya proses fertilisasi yang terjadi lewat persatuan seksual. Kelahiran seorang pribadi atau organisme hanya bisa dijamin ketika sel telur dibuahi oleh sel sperma dalam sebuah persetubuhan. Kelahiran tanpa proses tersebut hanya bisa diamini dalam imaji film-film fiksi ilmiah semata.

Namun, seiring dengan kemajuan penelitian di bidang medis, apa yang dulu dianggap mustahil kini telah jadi mungkin. Kelahiran artifisial yang dulu hanya jadi proyek film-film fiksi ilmiah pun tidak lagi dianggap sebagai isapan jempol belaka. Berita kelahiran domba dolly (1997), yang dihasilkan melalui proses kloning, telah membuktikan hal itu. Kesuksesan kloning pada domba dolly dengan segera meruntuhkan konsep kelahiran tradisional.

Kloning, pada domba dolly, merupakan suatu teknik reproduksi dimana material genetisnya (embrio/sel induk) dimanipulasi untuk memperoleh individu baru yang secara biologis identik dengan donor yang menyediakan warisan inti genetisnya.Teknik semacam ini tentu saja merupakan sebuah terobosan yang luar biasa dalam sejarah peradaban manusia, khusunya dunia medis. Banyak pengharapan yang lantas bisa disematkan pada pencapaian teknik kloning tersebut, misalnya, perbaikan reproduksi dan penyelamatan organisme dari kepunahan atau penyakit.

Meski menjadi terobosan ilmiah yang layak dipuji, teknik kloning sampai saat ini masih menyisahkan beragam masalah etis yang terus diperdebatkan, apalagi jika objek pengklonannya dialihkan pada manusia. Manusia hasil kloning jelas tidak bisa disebut sebagai pribadi “yang dilahirkan,” melainkan “yang dicopy.” Penyebutan ini mau tidak mau membawa sebuah konsekuensi pemikiran yang serius. Sebagai pribadi yang dicopy, manusia  hasil kloning bukanlah subjek atas kehidupan, melainkan objek dari sebuah eksperimen ilmiah, yang bisa saja dibuang dan dimatikan bila tidak sesuai dengan keinginan si pengcopy. Di sini, terdapat risiko bentuk baru rasisme, sebab teknik kloning dapat menjurus pada penciptaan “subkategori manusia”, dimana manusia hasil kloning melulu diperuntukkan (=dijadikan objek) bagi kepentingan orang lain.

Nilai kehidupan manusia, dengan demikian, menjadi sesuatu tidak ada harganya. Martabat pribadi manusia tak ubahnya benda mati di sudut ruang laboratorium yang bisa diperlakukan sekenanya.

Membela Martabat Manusia

Perdebatan etis seputar teknik kloning pada manusia memaksa banyak kalangan untuk angkat bicara, tak terkecuali Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pada pertengahan bulan Mei 1997, Organisasi ini mengeluarkan sebuah resolusi yang mengecam tiap usaha pengklonan manusia. Dalam resolusi tersebut ditegaskan bahwa penggunaan teknik kloning untuk menduplikasi manusia sesungguhnya bertentangan dengan martabat pribadi manusia. Sebab, dalam kloning, manusia hanya dilihat sebagai kelinci percobaan eksperimen ilmiah semata.

Berpijak pada hasil resolusi tersebut, kita bisa mengurai beberapa argumen etis yang memberatkan penilaian terhadap teknik kloning pada manusia. Pertama, usaha pengkonan manusia sesungguhnya merupakan sebuah usaha untuk mempermainkan kehidupan. Kehidupan manusia diredusir hanya menjadi sebuah produk material ilmu pengetahuan. Parahnya, sebagai sebuah produk, teknik kloning pada manusia, pada akhirnya harus tunduk juga pada logika pasar. Dalam logika pasar, permintaanlah yang menjadi raja. Sementara, penawaran produsen serupa hamba yang mengekor punggung permintaan pasar. Dengan demikian, jika produksi manusia kloning tersebut tidak sesuai dengan harapan dan permintaan pasar, maka tak tertutup kemungkinan bahwa di kemudian hari mereka akan “digudangkan.”

Kedua, kloning pada manusia sama artinya dengan penghancuran secara sengaja dan sistematis atas embrio/sel induk manusia. Sekadar contoh, dalam kloning domba dolly, ratusan embrio jelas dibuang demi menghasilkan produk kloning yang terbaik. Padahal, pada manusia, embrio tersebut bukanlah sekadar gumpalan sel, melainkan suatu entitas otonom yang insani. Embrio induk tersebut adalah individu manusia yang sungguh sedang berkembang! Dengan demikian, embrio manusia jelas tidak bisa dikurbankan dan dimatikan, apapun dalihnya.

Ketiga, proses kloning sesungguhnya menjungkirbalikkan hubungan mendasar antarpribadi manusia. Dalam kloning, hidup nampak sebagai unsur yang sama sekali tak berkaitan dengan keluarga. Manusia hasil kloning seolah menjadi alien yang tersesat di bumi ini. Padahal, setiap manusia berhak untuk dilahirkan dalam kasih yang integral, baik fisik maupun spiritual, dari orangtua mereka.

Maklumat Kematian Tuhan

Tak bisa dipungkiri bahwa pencapaian teknik kloning dalam menciptakan individu-individu baru jelas akan semakin meminggirkan keberadaan Tuhan. Tuhan seolah disepak dalam proses hidup manusia. Tesis Nietzsche: “Tuhan telah mati,” seolah mendapat kebenarannya dalam apa yang telah dihasilkan oleh teknik kloning. Sebagai sutradara panggung kehidupan, Tuhan telah tiada, posisi-Nya digantikan oleh rasio manusia! Penciptaan individu baru melalui teknik kloning merupakan isyarat bahwa kemahakuasaan Tuhan bisa diraih oleh manusia. Apa yang dikerjakan oleh Tuhan ternyata bisa dikerjakan oleh manusia.

Namun, pemakluman kematian Tuhan, dalam euforia akan kehebatan manusia,  justru membawa manusia pada jurang kematian moralitasnya. Demi usaha pencapaian teknologi yang lebih tinggi, koridor-koridor moral dilabrak dengan sengaja. Misalnya, melulu memandang manusia dalam hubungannya dengan produktivitas penelitian. Sementara itu, manusia tidak sadar bahwa usaha pembuktian kehebatannya malah menciptakan sebuah bentuk pentuhanan baru bagi dirinya sendiri, yakni pentuhanan teknologis yang akut. Jika demikian yang terjadi, maka teknik kloning yang diusahakan manusia tak ubahnya seperti parodi kemahakuasaan Allah yang sama sekali tak lucu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s