KEKRISTENAN SEBAGAI GEREJA


1. Pengantar

Sejarah keselamatan sejatinya tidak bisa dipisahkan dari misteri kehadiran Kristus ke dunia, mengambil bagian dalam ruang dan waktu. Dalam sejarah keselamatan tersebut, melalui Kristus, Allah yang transendental mendekatkan dan mengkomunikasikan diriNya pada manusia. Dengan demikian, kehadiran Kristus memberi bukti bahwa karya keselamatan yang ditawarkan Allah bukan sekadar omong kosong belaka. Kristus mengemban tugas sebagai pengantara keselamatan yang menghubungkan manusia dengan Allah! Sepeninggal-Nya, tugas kepengantaraan tersebut tidaklah berakhir, melainkan diteruskan oleh Gereja.

Gereja lantas menjadi satu komunitas umat beriman yang merayakan dan menghadirkan kembali karya-karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Kristus, sembari juga terus mengharapkan keselamatan yang sejati di akhir jaman. Sebagai satu komunitas umat beriman, maka Gereja pun senantiasa menghindarkan diri kecenderungan-kecenderungan religius yang individualistis, yang hanya mementingkan ego atau keselamatan orang per orang.

Sementara itu, dalam perkembangan sejarahnya, Gereja tidak bisa melepaskan diri dari kenyataan perpecahan yang terjadi di dalam tubuhnya. Sehingga, ada banyak Gereja baru yang tumbuh dengan orientasi kekristenan yang berbeda-beda. Lantas, masih adakah Gereja yang sejati? Masihkah Gereja yang ada saat ini bertumpu pada Yesus Kristus sebagai pondasi utamanya?

2. Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus

Pada bagian ini, kita akan melihat hubungan antara Gereja dan Yesus Kristus. Dalam diskusi sekitar abad ke-19 sampai abad ke-20, para teolog Kristen berargumen bahwa Gereja hanyalah sebuah komunitas spiritual yang terdiri atas orang-orang yang mengimani pesan-pesan yang dibawa oleh Yesus. Sebuah pesan tentang keselamatan yang ditawarkan Allah kepada manusia. Sementara, Yesus sendiri sejatinya tidak membawa pesan tentang keniscayaan untuk membentuk sebuah Gereja. Oleh karenanya, muncul sebuah keraguan apakah Yesus sendiri bermaksud untuk mendirikan sebuah Gereja yang dapat dilihat, terstruktur dan universal?!

Meskipun demikian, setiap umat Kristen, secara universal, sejatinya mengamini bahwa Gereja didirikan segera setelah peristiwa paskah. Gereja atau persekutuan umat beriman diawali ketika Petrus, dengan kelompok 12 rasul, meneruskan karya-karya kerasulan yang telah dilakukan oleh Yesus, selepas kebangkitan dan kenaikanNya ke surga. Selanjutnya, jabatan apostolik itu diteruskan ke tangan para uskup dan Paus di Roma, sampai sekarang. Dengan demikian, jejak-jejak tugas perutusan dan kepemimpinan yang ada di dalam Gereja sejatinya mengalir dari Kristus sendiri.

Sementara itu, ide tentang pendirian dan keberadaan Gereja seyogyanya bisa dilacak dengan melihat hidup dan karya Yesus yang historis. Yesus memberikan sebuah pesan eskatologis kepada Israel. Ia berkata bahwa di sini dan saat ini Kerajaan Allah telah datang di dalam diriNya. Ia menawarkan  kabar keselamatan itu pada setiap orang, tak terkecuali orang-orang berdosa. Selanjutnya, Ia pun lantas mengumpulkan orang-orang yang percaya akan kabar keselamatan tersebut, dan menjadi gembala yang sejati bagi mereka. Namun, rupanya sebagian besar orang Israel tidak menangkap kabar keselamatan yang diwartakan oleh Yesus. Hanya segelintir orang saja yang bisa sepenuhnya menangkap pesan Yesus. Mereka adalah para rasul. Maka, tak pelak, Yesus pun akhirnya digiring pada kematian di kayu salib oleh sebagian besar orang Israel yang meragukanNya. Akan tetapi, justru lewat kematian dan kebangkitanNya dari antara orang mati, itulah Yesus memberikan dasar yang kokoh bagi kontinuitas keberadaan dan perutusan komunitas umat beriman yang telah Ia dirikan tersebut.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Gereja didirikan oleh kristus yang telah disalibkan dan dibangkitkan. Akan tetapi, pernyataan semacam ini tak sedikit juga meninggalkan cercah-cercah keraguan, yakni akankah lingkaran para murid yang terbatas jumlahnya itu (12 orang saja!) meneruskan tugas yang  secara esensial sama dengan apa yang kita lihat di dalam Gereja kemudia hari, seperti uskup dan perkumpulan para uskup? Atau, dengan kata lain, apakah telah sejak awal Yesus menetapkan organisasi yuridis dari sebuah kominitas yang secara definitif menerima dan mewartakan pesan-pesanNya tentang Kerajaan Allah?

Guna menjawabi persoalan-persoalan diatas, ada beberapa hal yang harus kita ingat:

Pertama, Gereja pertama-tama dibangun dari fakta bahwa Yesus dipercaya oleh para pengikutNya sebagai seorang penyelamat satu-satunya. Ia telah masuk ke dalam sejarah manusia, dan secara historis menyerahkan diriNya pada kematian di kayu salib, demi manusia. Melalui persembahan diri inilah Ia meninggalkan kenangan akan kehadiranNya di dunia. KebangkitanNya pun meninggalkan jejak pada iman para rasul. Sehingga, dapat dikatakan bahwa Gereja merupakan komunitas dari mereka yang percaya sungguh kepada Yesus Kristus yang telah wafat dan bangkit.

Kedua, iman tersebut bersifat publik, dan merupakan iman komunitas. Oleh karena itu, Gereja dimiliki secara sejati imannya merupakan urusan publik dan diucapkan secara komunal dalam Dia.

Ketiga, iman dalam bentuk demikian harus memiliki sebuah sejarah. Oleh karena itu, Gereja menggariskan sebuah sejarah keselamatan. Disini, Tradisi memegang peranan yang sentral untuk menghidupkan sejarah keselamatan itu dari waktu ke waktu. Di sisi lain, Tradisi juga berperan untuk mengikat setiap keputusan/norma-norma baru yang diambil oleh Gereja di kemudian hari agar tetap mengalir dari keotentikan entitas historisnya. Dengan demikian, identitas historis dari Gereja dapat tetap bertahan di tengah arus perubahan jaman.

Lebih jauh, kontinuitas historis yang terjadi antara Yesus dan Gereja tersebut tak pelak mengandung beragam konsekuesnsi aplikatif, diantaranya:

Pertama, Komunitas Gereja sejatinya berakar pada Yesus. Sehingga, Gereja mendapat legitimasi kekuasaannya langsung dari Yesus sendiri, meskipun dalam perkembangan sejarahnya, komunitas Gereja tersebut mengadopsi stuktur-struktur yang berasal dari luar. Dalam cara pandang semacam ini, maka suksesi episkopal, yang digawangi oleh para rasul, dapat dillihat sebagai sebuah warisan dari Yesus dan termasuk sebuah iuris divini. Lebih jauh, harus diingat bahwa selama periode para rasul, sejarah umum revelasi belum ditutup. Sehingga, meskipun Injil Perjanjian Baru ditulis selepas Yesus wafat, tapi keotentikan Injil tersebut dapat dijamin oleh Para Rasul yang meneruskan iman akan Yesus dan kuasa kepemimpinanNya.

Kedua, Menengok eksistensi Gereja yang sekarang, yang masih tetap ada dan berkembang karena kekuatan Roh Kudus dan kesetiaan iman akan Yesus yang telah bangkit, maka sekarang tidak penting lagi mempersoalkan problem historis tentang kesatuan relasi antara Yesus dan Gereja. Sebab, eksistensi Gereja yang ada sekarang ini telah menunjukkan bahwa Gereja sejatinya telah berada dalam kesatuan dengan Yesus dan didirikan olehNya. Sehingga, yang perlu dilakukan saat ini adalah mengembangkan Gereja dalam kebebasan yang bertanggung jawab dan menanggapi situasi-situasi aksidental yang ada seiirng dengan perkembangan jaman dalam terang iman Kristus.

Sementara itu, jika kita menilik kembali hidup Yesus, maka kita akan menemukan bahwa sebagian besar kata dan tindakan Yesus memiliki artikulasi yang sama dengan apa yang diwartakan dan diajarkan oleh Gereja. Tesis ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama-tama, tidak dapat diragukan bahwa Yesus mengumpulkan para murid/ke-12 rasul di sekitarnya  untuk membentuk sebuah persekutuan umat Allah. Tindakan yang demikian merupakan sesuatu hal yang baru dalam lingkungan orang Israel. Dengan demikian Yesus  menyatakan klaimnya atas seluruh Israel. Lebih jauh, bilangan 12 dari kumpulan para rasul merupakan wakil atau simbol seluruh Israel. Israel secara eskatologis yang ada dalam pikiran Yesus. Karena itu, mereka diutus oleh Yesus untuk mengajar dan berpartisipasi dalam kekuasaan untuk menyembuhkan yang adalah tanda bahwa kerajaan eskatologis telah ada sekarang dan nyata berperan di sini dan sekarang dalam diri Yesus. Dengan demikian, sejatinya komunitas komunitas para murid tetap tinggal utuh meskipun ada penolakan akan Yesus dari mayoritas orang Israel. Selain itu, kita juga dapat menjelaskan Perjamuan terakhir dengan institusi ekaristi sebagai sesuatu yang melatarbelakangi era sejarah keselamatan, yakni Perjanjian Baru yang diikat oleh Yesus dengan darahNya sendiri.

Lebih jauh, kehendak langsung dari Yesus untuk mendirikan sebuah Gereja tercatat dalam Matius 16:18. Disini, Yesus menyatakan Simon sebagai batu karang Gereja, sebagai kunci penguasa dalam Gereja, sebagai seorang yang diberi kuasa untuk ‘mengikat dan melepaskan.’ Arti dari pernyataan ini adalah : Yesus ingin menemukan komunitas keselamatan pada Simon. Sebuah Gereja Yesus yang dibedakan dari Israel sebagai  umat Allah sebelumnya. Simon lantas diberi kuasa yang besar untuk memegang karcis masuk untuk kerajaan yang akan datang. Dengan melakukan itu, Yesus secara nyata memberikan sebuah konstitusi dasar bagi Gereja.

Terakhir, kita merujuk pada Yohanes 20:22 di mana terkandung sebuah gambaran kekuasaan yang dipercayakan  kepada Para rasul, setelah Yesus naik ke surga. Sesudahnya, kita meyakini bahwa dari surga Yesus akan menurunkan Roh Kudus yang dijanjikan untuk memelihara dan menjaga Gereja yang telah didirikanNya.

3. Gereja dalam perjanjian baru

Sampai pada poin ini, telah nyata bahwa Yesus sendirilah yang menumbuhkan benih lahirnya Gereja. Nama yang pertama kali dipakai oleh orang Kristen untuk diri mereka sendiri sebagai orang yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan yang bangkit dan penyelamat adalah ‘orang-orang kudus’ (Kis 9: 13, 32, 41; 26: 10), atau ‘komunitas dari Allah’ yang mengambil alih karakteristik Israel dalam Perjanjian Lama. Pada awalnya komunitas awali di Jerusalem disebut sebagai komunitas religius Israel. Tapi, komunitas tersebut tidak dipahami sebagai komunitas khusus di dalam Israel, tapi lebih merupakan komunitas yang telah dikumpulkan oleh Yesus Sang Mesias dan di panggilNya  untuk memanggil semua orang Israel – dan akhirnya juga semua orang – kepada iman akan Yesus (Kis 2:36). Sementara itu, dalam perkembangannya, Gereja akhirnya mendapat artikulasi makna baru dari refleksi-refleksi teologis para penulis Perjanjian Baru.

Dalam teologi Lukas diakui bahwa ada tiga periode dalam sejarah keselamatan, yakni: periode Israel, periode Yesus, dan periode Gereja. Dalam perspektif  sejarah keselamatan tersebut, Gereja pada mulanya diperuntukkan bagi orang Israel, yang mencikal-bakali iman kepada Allah. Akan tetapi, karena ketidakpercayaan orang Israel terhadap perutusan tersebut, maka Gereja lantas ditujukan kepada  orang-orang non-Yahudi. Gereja berpindah dari Yerusalem keluar ke seluruh dunia, tetapi masih merupakan kelanjutan dari sejarah keselamatan Israel.

Di samping itu, hampir sama dengan teologi Lukas, di dalam teologi Matius juga ditekankan tentang kedudukan bangsa Israel dan penafsiran akan kedudukan tersebut dalam sejarah keselamatan. Matius mengatakan bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari mereka dan diberikan kepada bangsa-bangsa lain yang menghasilkan buah (Mat 21:43). Orang-orang inilah yang disebut sebagai orang Israel sejati, yaitu mereka yang adalah orang Yahudi dan kafir yang percaya kepada Kristus. Hukum baru yang diberikan Kristus dalam kotbah di bukit disampaikan kepada umat Allah yang baru ini. Lebih jauh, di dalam teologi Matius ditegaskan bahwa panggilan Yesus tidak ditujukan kepada pribadi tertentu saja, tetapi dibangun dalam satu komunitas yang berkeliling disekitar Yesus. Komunitas didasarkan pada komunitas kedua belas rasul, yang mengimani karya keselamatan dalam diri Yesus, dan yang  bersandar pada hukum baru yang diajarkan oleh Kristus – hukum ini melampaui hukum yang tertulis dalam Perjanjian Lama

Sedangkan, Paulus dalam teologinya pertama-tama menghormai Gereja sebagai struktur yang dibangun atas legitimasi apostolik. Gereja tersebut di bentuk untuk semua orang, baik orang Yahudi maupun orang non-Yahudi, seperti termuat dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus. Komunitas Gereja ini lantas tersatukan dengan adanya sakramen pembaptisan  dan ekaristi.  Tubuh mistik Kristus hidup di dalam tubuh Kristus yang kita terima saat ekaristi. Sementara itu, Paulus mengenakan berbagai simbol untuk Gereja seperti: Bangunan, Bait, Yerusalem baru dan pengantin Kristus. Gereja juga dianggap sebagai pilar dan dasar kebenaran. Oleh karena itu, Gereja memiliki kuasa penuh untuk menguduskan dan mengajar umat beriman.

Sementara itu, Injil dan surat Yohanes dilihat agak bertentangan dengan surat Paulus yang melihat Gereja tidak memiliki nama yang tetap. Meskipun Gereja tidak memiliki nama yang tetap tetapi Gereja hadir dimana-mana, dan inilah yang disebut sebagai sakramen yang menghidupkan. Dengan demikian, melalui dan di dalam Gereja, Roh  Allah  datang membawa karya keselamatan.

Akhirnya, dari berbagai macam gambaran diatas, kita dapat menemukan sebuah keyakinan dan struktur dasar teologis yang sama tentang Gereja. Gereja merupakan komunitas yang didirikan oleh Kristus, dimenangkan Kristus dan disatukan bersama Kristus. Di sisi lain, Gereja juga dipandang sebagai tanda kepenuhan rahmat dan iman. Maka, tak pelak, jika kemudian Gereja dilihat sebagai peziarahan umat Allah, sebagai suatu komunitas umat yang berhimpun di dalam Kristus, dan/atau sebagai tubuh Kristus yang disatukan dalam pembaptisan, yang dikurbankan dan dikuduskan dalam perayaan perjamuan terakhir.

4. Dasar-Dasar Kodrat Eklesial dari Kekristenan

Pertama-tama harus dikatakan bahwa eksitensi Gereja itu lebih dari sekadar sebuah organisasi sosial untuk tujuan-tujuan religius atau praktek-praktek keagamaan melulu. Dimana ada komunitas umat beriman disana ada Gereja. Dan, di manapun sikap-sikap dan praktik-praktik religius ditemukan, bahkan di antara mereka yang protes melawan gereja, mereka membentuk sebuah komunitas yang dapat disebut sebagai komunitas Gereja. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa komunitas Gerejawi sejatinya mencakup setiap bentuk eksistensi religius manusia

Dalam cara pandang yang demikian, maka pengertian keselamatan mendapat artikulasi makna baru di dalam Gereja. Tidak berarti bahwa setiap orang yang tidak masuk dalam  organisasi Gerejawi, hilang keselamatannya. Sebab, pada dasarnya karya keselamatan Allah itu ditawarkan untuk semua orang. Keselamatan itu bisa mereka capai bila mereka patuh pada suara hati mereka. Di dalam suara hati itulah, Allah berbicara dan mengkomunikasikan diriNya pada manusia.

Namun, harus tetap diingat bahwa komunikasi diri Allah tersebut mencapai puncaknya secara definitf dalam diri Yesus Kristus, yang telah hadir dalam sejarah manusia. Sehingga, meskipun secara subjektif setiap manusia dapat menemukan Allah dalam suara hatinya, tetapi Gereja hadir untuk menyatukan dan merayakan secara bersama-sama pengalaman-pengalaman interiorisasi religius yang ada di dalam diri setiap orang tersebut dalam diri Kristus. inilah sifat eklesial dari Gereja. Dengan  demikian, kehadiran Gereja adalah sebagai penuntun arah atau pemberi norma bagi setiap pengalaman iman seseorang, agar mereka tidak jatuh pada kenaifan beriman yang semu.

5. Sebuah metode tidak langsung untuk menunjukkan legitimasi Gereja katolik sebagai Gereja kristus

Pendekatan untuk menemukan kontinuitas historis antara Yesus dengan Gereja, pada jaman ini, tak jarang menemui beragam kesulitan dan pertanyaan seputar bukti-bukti historis yang nyata akan kenyataan tersebut. Oleh karena itu, disini kita akan mencoba memakai sebuah pendekatan/metode tidak langsung, artinya tidak langsung dalam relasinya terhadap bukti-bukti historis, untuk menunjukkan identitas atau legitimasi bahwa Gereja saat ini merupakan Gereja Kristus.

Dalam pendekatan ini, prinsip pertama yang harus dipegang adalah kenyataan bahwa sejauh kristianitas merupakan sebuah komunikasi-diri secara personal akan misteri Allah, maka, dalam arti tertentu, pastilah ada sebuah sejarah yang real mengenai komunikasi diri Allah tersebut. Dengan kata lain, Komunikasi Diri Allah yang supranatural dan transendental itu perlu dimediasi secara historis. Dalam cara pandang semacam ini, maka Gereja haruslah tetap eksis untuk memediasi pernyataan diri Allah dalam sejarah dengan manusia.

Prinsip kedua yang mesti kita sebutkan adalah pengertian bahwa Gereja Yesus Kristus ini mesti menjadi satu Gereja. Sebuah Gereja yang sejati adalah Gereja yang berasal dari Kristus, yang menghampiri tiap orang beriman dengan segala tuntutannya demi kelanjutan sejarah keselamatan, dan bukannya sebuah komunitas Kristiani yang hanya didasarkan pada pemahaman subjektivitas religius mereka sendiri.

Jika demikian, apakah komunitas-komunitas lokal umat beriman, seperti yang disaksikan dalam Perjanjian Baru, yakni komunitas Gereja yang ada di Efesus, Kolose, dst, akan mencideri kesatuan Gereja?! Patut diingat bahwa yang dimaksud dengan kesatuan Gereja di sini tidak dilihat dalam pengertian komunitas-komunitas  lokal, tetapi lebih pada pengertian teologis, yakni di manapun Perjamuan Tuhan dirayakan, dimanapun ada Pembaptisan dan dimanapun sabda diwartakan.

Lebih jauh, adalah sebuah kenyataan bahwa komunitas-komunitas Gereja lokal beraneka ragam tersebut datang dari Yerusalem melalui pewartaan para rasul yang membawa keluar misi Yesus, tetapi mereka disatukan dalam tingkatan sosial juga. Ketika komunitas-komunitas Gereja lokal yang ada saling bertukar surat, pada akhirnya mereka mengetahui bahwa komunitas Gereja meraka dibangun di atas dasar yang sama, yakni Petrus sebagai batu karang Gereja yang memiliki legitimasi kekuasan dari Yesus.

Di sisi lain,  patut pula diketengahkan bahwa Gereja memiliki legitimasi yang sah untuk meneruskan iman Kristen yang otentik. Sehingga iman Kristen bukanlah iman yang ngawur, karena iman tersebut didasarkan oleh Gereja pada realitas sejarah keselamatan yang hadir secara nyata dalan diri Yesus. Oleh Gereja, keyakinan iman tersebut diteruskan lewat pewartaan sabda dan penerimaan sakramen-sakramen.

Lebih jauh, ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk menyelidiki keabsahan komunitas Gerejawi tersebut:

Pertama, komunitas Gerejawi tidak bertentangan dengan dasar substansi Kristianitas. Substansi dasar ini terjamin oleh struktur dan karakteristik dalam Gereja. Seorang Kristen menyadari bahwa dengan pengalaman imannya ia mengenal Kristianitas itu. Dengan demikian ia juga meyakini Gereja Kristus yang sejati jika di dalamnya terdapat realitas pneumatic (Roh Kudus), yaitu karya Roh Kudus yang bekerja di dalamnya. Realitas keberadaan Roh Kudus lah yang kemudian menjadi saksi realitas Kristiani yang dialami setiap orang Kristen secara pribadi dan konkrit.

Berhadapan dengan substansi dasar tersebut, Gereja Katolik tak jarang berhadapan dengan kontroversi yang diajukan oleh Gereja Reforamasi. Tesis yang biasanya diajukan oleh Gereja reformasi adalah soal sola gratia, sola fidei, dan sola scriptura.

Dalam sola gratia (hanya rahmat), diyakini bahwa keselamatan seseorang itu adalah hadiah cuma-cuma dari Allah. Sementara itu, Gereja Katolik, melalui Konsili Trente mengajarkan bahwa setiap orang mempunyai kebebasan dalam proses mencapai keselamatannya. Namun, Gereja Katolik tidak lantas  mengajarkan bahwa manusia dapat mengandalkan kebebasannya, kemampuannya dan kekuatannya untuk mencapai keselamatannya sendiri. Anugerah keselamatan dari Allah memang inisiatif bebas dari Allah, akan tetapi manusia juga bebas untuk menerima atau menolak anugerah tersebut. Seseorang yang mencapai keselamatannya dalam kebebasan akan membalas anugerah tersebut dengan  pujian dan ucapan syukur.

Kemudian, tesis soal sola fidei (hanya iman). Pandangan ini terkait dengan pandangan sola gratia. Jka keselamatan adalah hadiah Cuma-cuma dari Allah. Tanggapan atas karunia Allah itu adalah iman. Gereja Katolik mengajarkan bahwa iman bukanlah ajaran dogma belaka, sehingga iman haruslah didasarkan pada harapan akan rahmat Allah semata, dan iman ini harus diterangi dalam diri dan dipenuhi dengan kasih, kasih yang benar dan kudus.

Terakhir, tesis soal sola scriptura (hanya Kitab Suci). Pandangan ini secara jelas membedakan keyakinan antara Kristianitas Evangelis/Reformasi dengan Katolik. Berbeda dengan Gereja Reformasi yang menolak penafsiran Tradisi dan ajaran Magesterium, Gereja Katolik justru mengatakan bahwa kebenaran iman yang ada di dalam Kitab Suci juga didukung oleh tradisi dan ajaran magisterium. Tradisi, sebagaimana diajarkan dalam konsili Trente, merupakan perantara antara isi iman yang berasal dari zaman para rasul yang tidak tertulis dalam Kitab Suci. Sementara itu, lewat kuasa mengajar dari para Magisterium, Kitab Suci dimungkinkan untuk terus-menerus ditafsirkan sesuai dengan tuntutan jaman.

Kedua, komunitas Gerejawi ini mempunyai kaitan sejarah (kontinuitas historis) yang dekat dengan asal-usul Kristianitas. Penggunaan kriteria kontinuitas historis antara Yesus dengan Gereja sengaja dimaksudkan untuk melawan sikap relativisme Eklesiologis. Dalam relativisme eklesiologis diyakini bahwa Gereja apapun yang ingin diikuti oleh seorang Kristen semuanya sah. Artinya persoalan tentang Gereja yang sah tergantung pada selera pribadi dan nilai sejarahnya yang muncul bergitu saja. Pandangan semacam ini sejatinya bermula pada periode Reformasi, yang meyakini bahwa Gereja yang sejati adalah Gereja yang tumbuh pada periode tersebut, yakni pada abad ke-16. Kaum reformis saat itu menuduh bahwa adanya Gereja Katolik dan Paus merupakan wujud anti-Kristus.

Satu norma penting yang perlu dipegang saat berhadapan dengan relativisme eklesiologis adalah bahwa Gereja Kristus mendapat kontinuitas dan kedekatannya dengan sumber asli dari jemaat perdana. Jika kita percaya akan inkarnasi Allah dalam diri Yesus  dan sejarah kekristenan awali serta karunia yang diberikan-Nya dalam jemaat-Nya, maka tidak ada Gereja kristus yang baru dimulai. Semua kaum reformis perlu melihat kenyataan bahwa Gereja Kristus bukan berdiri di era reformasi namun jauh sebelumnya di masa jemaat perdana.

Sehingga, secara tegas dapat dikatakan bahwa Gereja Kristus ada dalam Gereja Katolik, karena keterkaitannya secara historis dengan gereja para rasul. Kuasa Petrus dan wewenang uskup mempunyai bukti  sejarah yang dapat dirubut sejak zaman para rasul. Memang terjadi perkembangan yang luar biasa dalam hal kuasa Petrus bila dibandingkan antara kekuasaan paus di abad pertama dengan abad pertengahan. Namun fakta juga membuktikan bahwa terdapat kekuasaan uskup Roma dalam Gereja sebelum terjadinya Reformasi, sehingga ada kesinambungan antara Kristianitas Katolik di era paska reformasi dan gereja purba.

Kristianitas Evangelis memang berpandangan bahwa Gereja Katolik tidak membawa ajaran Kristen yang sejati, seperti contoh ajaran mereka tentang keselamatan yang diperoleh hanya melalui rahmat belaka. Kenyataannya ada banyak hal dalam Gereja Katolik yang membawa berbagai hal yang diwariskan dari gereja purba, seperti pembaptisan, pewartaan sabda, Perjamuan Tuhan dan lain-lain.

Ketiga, adanya kriteria wewenang objektif. Artinya, Gereja sebagai komunitas religious haruslah hadir secara terlepas dari penilaian subjektif pribadi. Gereja adalah bagian dari Kristianitas yaitu sebagai unsur konsitutif dari inkarnasi kristianitas, maka Gereja tidak tergantung dari kehadiranku.

Melihat kriteria kebasahan Gereja diatas dan terlebih beragam kontroversi yang terjadi, dapat kita simpulkan bahwa gugatan dari Gereja Reformasi tidak dapat dianggap sebagai tantangan atau perlawanan dari pihak luar Gereja Katolik. Perlu disadari juga bahwa sebagai sesama umat kristiani, antara Kristen Reformasi dan Katolik terdapat hal-hal yang sejalan dalam soal keselamatan dan teologi tertentu. Keduanya merupakan komunitas yang hidup dalam kehendak Tuhan dalam otoritas Kitab Suci yang sama dan dalam pembaptisan. Lebih jauh, Pertanyaan dari Kristen Evangelis dapat menjadi refleksi bagi Katolik untuk kembali kepada Kitab Suci sebagai sumber pengajaran, serta refleksi teologis tentang rahmat dan iman sebagai sumber keselamatan.

Sementara itu, kesatuan Kristen juga ditemukan dalam pengakuan iman akan Tuhan Yesus Sang Penebus, dalam sabda-Nya, rahmat-Nya dan dalam keselamatan eskatologis yang diberikan Allah melalui Yesus Kristus. Kesatuan ini mempunyai makna yang lebih dalam dibandingkan perbedaan-perbedaan yang seringkali memisahkan Gereja. Memang sulit memahami mengapa Allah membiarkan perbedaan dan perpecahan terjadi. Yang pasti dalam perpecahan ini memang kesalahan manusialah yang menjadi akar permasalahannya. Namun kita tidak bisa membiarkan kesalahan ini semakin memperlebar jurang pemisah dan perpecahan antar umat kristen. Perlu ada upaya untuk menjalin persatuan itu kembali, yang salah satunya dapat dilakukan melalui pengembangan teologi yang semakin bersatu. Kesatuan pengajaran teologi ini diupayakan supaya dapat diterima oleh semua umat Kristen, meskipun dalam denominasi yang berbeda.

6. Kitab Suci Sebagai Buku Gereja

Kita tahu bahwa Kitab suci terbentuk beberapa lama sesudah komunitas Gereja muncul. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Kitab  Suci adalah perwujudan tertulis dari kesaksian iman Gereja. Kitab Suci lantas didaku sebagai buku Gereja. Dalam cara pandang yang demikian, Kitab Suci pun akhirnya menjadi norma non  normata bagi Gereja, yang diwariskan oleh Gereja awali kepada Gereja di masa depan.

Dengan kata lain, Sabda Allah yang tertulis Kitab Suci menjadi norma tertulis bagi Gereja paskaapostolik yang meneruskan pemahaman iman yang benar lagi otentik di masa depan, dan berlaku di sepanjang jaman. Sebab, Gereja sendiri mengamini bahwa tidak ada lagi pewahyuan baru setelah pewartaan para rasul, setelah Kitab Suci ditetapkan. Dengan demikian, otensitas kesaksian iman yang tertulis di dalam Kitab Suci itu dijamin keabsahannya oleh legitimasi apostolikPara Rasul yang sempat mengalami hidup Yesus.

Sebagai buku yang menyaksikan pengalaman iman Kristiani, maka Gereja di kemudian hari tidak ragu-ragu untuk mengobjektivikasi iman dan hidupnya ke dalam tulisan-tulisan Kitab Suci, dengan melakukan kanonisasi Kitab Suci. Hal ini dilakukan agar, sekali lagi, Kitab Suci menjadi norma yang mengikat bagi pemahaman iman Gereja di sepanjang waktu

Sementara itu, atas legitimasi siapa Kitab Suci itu ditulis?  Di dalam berbagai dokumen Gereja telah banya ditegaskan bahwa Allah sendirilah yang menjadi autor/pengarang Kitab Suci. Teologi yang tertuang dalam ensiklik Paus Leo XIII hingga Paus Pius XII berulang kali menjelaskan hal itu dengan bantuan teori psikologi. Namun, secara amat menarik, Konsili Vatikan II menegaskan bahwa pengertian mengenai Allah sebagai pengarang Kitab Suci tidak boleh mengurangi peran setiap orang yang dengan kelemahan manusiawinya mengarang tulisan-tulisan suci tersebut.  Allah membebaskan para penulis tersebut untuk  memakai karakter dan gaya penulisan mereka sendiri, namun ilham/inspirasinya tetap berasal dari Allah sendiri. Dengan kata lain, para penulis KS tersebut bekerja tepat seperti para penulis insani lainnya, tapi mereka menulis dari ilham/inspirasi Allah yang didapat melalui kemampuan membaca pengalaman konkret yang terjadi dalam kacamata reflektif/iman.

Lantas, apakah Kitab Suci itu tidak bisa keliru? Dalam terang Konsili Vatikan II (dei verbum art. 11), kita dapat mengatakan bahwa apa yang telah ditulis oleh para penulis suci tersebut telah ditegaskan oleh Roh Kudus, sehingga dapat kita akui bahwa mereka mengajar dengan kepastian, kesetiaan, dan tanpa kekeliruan akan kebenaran yang Allah sampaikan demi keselamatan manusia. Dengan demikian, tentu saja kita tidak bisa menemukan jawaban-jawaban atas setiap persoalan yang ada saat ini di dalam Kitab Suci, tetapi kita bisa membaca persoalan-persoalan yang ada tersebut dalam terang iman/Sabda Allah yang tertulis di Kitab Suci.

Disamping itu, harus dipahami bahwa  kita tidak bisa memisahkan Kitab Suci dari Tradisi. Sebab, Kitab Suci adalah juga hasil dari tradisi. Telah dikatakan pada bagian sebelumnya bahwaTradisi, sebagaimana diajarkan dalam konsili Trente, merupakan perantara antara isi iman yang berasal dari zaman para rasul yang tidak tertulis dalam Kitab Suci.

7. Tentang Kuasa Mengajar Gereja

Dalam perkembangan Gereja diakui bahwa Gereja, yang diwakili oleh  Petrus dan segenap penerusnya sebagai pemimpin komunitas Gereja, memiliki kuasa mengajar demi kelestarian dan kebenaran iman akan Yesus kristus. Kuasa Mengajar dari Gereja tersebut dapat dijelaskan dari sudut pandang kristologis. Yesus Kristus yang merupakan puncak sejarah keselamatan, menandakan komunikasi diri Allah yang nyata dan hadir di dalam dunia. Dengan demikian,  Yesus Kristus merupakan Sabda yang di dalam-Nya terjadi dialog antara Allah dan  kebebasan manusia. Allah tidak menghapus kebebasan manusia melainkan menuntun kebebasan manusia dalam kuasa rahmat-Nya sehingga manusia menerima seluruh kebenaran tersebut dan menjaganya.

Dengan demikian, nyatalah bahwqa Gereja memiliki suatu hirarki dan otoritas akan kebenaran yang telah diajarkan oleh Kristus. Jika Gereja mengajar dalam nama Kristus, maka Gereja tidak bertindak demikian dalam subjektivitas religious semata. Gereja diutus untuk berbicara sebagaimana Kristus diutus oleh Bapa untuk mewartakan Kabar Gembira. Dengan meneruskan ajaran Kristus, Gereja pun secara otomatis memiliki mandat dan kuasa untuk mengajar dan meneruskan iman akan Kristus.

Di dalam tubuh Gereja, kuasa mengajar tersebut menjadi milik seluruh uskup yang dikepalai oleh Paus. Ajaran mereka bukanlah wahyu yang kita terima dari Allah, melainkan sebuah otorisasi yang memberikan pemahaman yang benar akan pengaktualisasian  pesan serta karya keselamatan Kristus. Dengan demikian, pengajaran tersebut tidak meningkatkan pesan Kristus namun menafsirkan dan mengaktualisasikannya sesuai tuntutan dan perkembangan jaman.

Pada titik itulah letak kekhasan dan keunggulan kuaasa pengajaran yang diberikan kepada Paus. Paus, berkat legitimasi jabatannya, dengan demikian memiliki otoritas kebenaran atas kuasa pengajarannya. Namun, kuasa mengajar dari Paus tersebut hanya dijamin kebenarannya sejauh kedudukannya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas Gereja (ex katedra!), dan bukannya sebagai seorang pribadi. Dalam posisi semacam itu, Paus berhak untuk membuat interpretasi atas beragam pertanyaan menyangkut pewahyuan yang terdapat dalam Kitab Suci dan Tradisi. Jika dilaksanakan dalam kriteria tersebut, maka pengajaran Paus akhirnya tidak dapat salah. Sebab, Roh Kudus sendirilah yang menjamin dan menjadi dasar bagi otoritas kebenaran pengajaran Paus. Disini, Roh Kudus mengatasi segenap kelemahan manusiawi Paus.

Lebih jauh, berkat kuasa pengajaran tersebut, Paus pun berhak untuk memilah dan memutuskan setiap dogma yang ada di dalam Gereja. Misalnya saja penetapan dogma tentang Maria yang dikandung tanpa noda atau juga Maria diangkat ke surga. Namun, penetapan dogma semacam ini tak urung juga memancing beragam masalah. Banyak kalangan menilai bahwa dogma semacam ini tidak memiliki data historis yang jelas. Berhadapan dengan situasi semacam ini, prinsip utama yang harus dipegang adalah dogma ini berkaitan erat dengan ajaran tentang misteri inkarnasi Kristus sendiri, Sang Sabda berinkarnasi dalam daging. Lebih jauh, dalam syahadat iman telah juga dinyatakan bahwa Yesus dilahirkan oleh Perawan Maria Dengan demikian, Maria sejatinya memiliki tempat yang unik dalam sejarah keselamatan. Ia tidak semata-mata hanya ibu biolgis Yesus. Maria juga merupakan sumber realisasi penyelamatan, buah dari penyelamatan, dan eksepsi penyelamatan yang paling utama dan paling tinggi. Sementara itu, dogma tentang pengangkatan Maria merupakan suatu tanda pemenuhan keselamatan bagi setiap orang, sehingga dalam peristiwa ini kita pun juga menaruh harapan dan kepercayaan akan mengalami kenyataan yang serupa.

8. Kekristenan dalam kehidupan Gereja

Pada dasarnya, kekristenan bukanlah sebuah ideologi dari suatu antusiasme religius, juga bukan ungkapan pengalaman rohani dari individu tertentu. Kekristenan itu lahir dari sejarah. Sebuah sejarah keselamatan dimana Allah megkomunikasikann dirinya dalam diri Yesus. Gereja lantas hadir untuk memediasi sejarah keselamatan tersebut. Dengan demikian, tiap orang Kristen bisa menerima, merayakan, dan menjamin kepastian imannya dalam komunitas Gereja, yang memiliki kontinuitas sejarah dengan Yesus Kristus. Dalam komunitas ini, interkomunikasi iman berlangsung dalam diri setiap orang Kristen.

Sementara itu, ketika seseorang memutuskan untuk menjadi Kristen dan masuk ke dalam persekutuan Gereja, maka,  mau tidak mau, ia harus menerima dan melaksanakan hukum dan perintah-perintah yang dihayati oleh komunitas Gereja. Adanya hukum dan perintah tersebut bukannya tanpa tujuan. Gereja menyadari bahwa dirinya adalah tanda kehadiran Kristus di dunia, maka hukum dan perintah tersebut sengaja diciptakan supaya setiap orang Kristen memiliki cara penghayatan iman yang benar.

Meski demikian, harus diakui bahwa ada sebuah relativitas dalam hukum yang ditetapkan oleh Gereja. Relativitas dalam hukum Gereja teersebut bisa berubah-ubah  karena bergantung pada tingkatan dan modulasinya. Misalnya, apakah kita berhadapan dengan hukum-hukum Gereja yang bersifat sakramental ataukah nonsakramental atau juga apakah kita berhadapan dengan hukum ilahi atau hukum manusiawi, dengan hukum yang sifatnya kaku atau hukum yang  sifatnya lunak, dsb?! Namun, yang patut dicatat, ketika kita berbicara tentang relativitas hukum Gereja, maka relativitas hukum tersebujt sesungguhnya berkaitan dengan norma-norma tata tertib sosial  Gereja, dan bukannya norma-norma moral – menyangkut keniscayaan revelasi atau hukum ilahi, misalnya.

Berhadapan dengan relativitas hukum  tersebut, maka tiap orang Kristen seyogyanya kembali pada kedalaman suara hatinya, yang adalah juga suara Tuhan sendiri, dan mengambil suatu sikap kritis, sembari juga mempertimbangkan bahaya akan libertarianisme yang bersifat legal ataupun moral. Pilihan ini merupakan jalan keluar yang bijaksana, terlebih jika berhadapan dengan kemuingkinan adanya otoritas keputusan Gereja yang salah baik secar moral maupun iman. Lebih jauh, dalam suara hati itulah, setiap orang Kristen bisa mempertanggungjawabkan penilaian dan keputusannya di hadapan Tuhan.

Sementara itu, Ketika orang Kristen memahami Gereja sebagai fakta kehadiran Allah dalam sejarah yang mengkomunikasikan diriNya,  maka Gereja dialami  sebagai sarana untuk mencintai Allah dan sesama. Mengapa demikian? Sebab, tak dapat disangkal bahwa misteri keselamatan dari Allah adalah juga misteri cinta, karena Allah rela untuk mengorbankan puteraNya demi menyelamatkan manusia. Pengalaman saling mencintai dalam hidup manusia tersebut terjadi ketika mereka saling memberi satu sama lain  dan tidak mementingkan diri sendiri.

Lebih jauh, Gereja adalah sarana yang nyata untuk menjamin dan menyakinkan kita bhw Allah mencintai kita. Harus kita ingat bahwa pernyataan cinta Allah yang menyejarah itu pertama-tama diberikan kepada Gereja, dan di dalam Gereja, khususnya di dalam ekaristi, cinta Allah pada manusia itupun semakin nyata termanifestasikan. Pada akhirnya, setiap orang dalam komunitas Gereja pun bertangungjwab untuk menyalurkan cinta Allah yang telah mereka terima kepada orang lain dalam hidup sehari-hari.

Di sisi lain, patut pula diingat bahwa Gereja berada di dalam dunia yang semakin sekular. Dunia yang sekular itu adalah juga dunia yang menawarkan beragam pluralitas intelektual, spiritual, budaya, politik, dsb. Dari perspektif tersebut, kita melihat bahwa Gereja, sebagai sebuah komunitas umat beriman, hanyalah salah satu dari sekian banyak komunitas  yang ada di dalam dunia. Meski demikian, Gereja atau Kristianitas menawarkan keunikan/kekhasan yang tidak dimiliki oleh tiap komunitas di dalam dunia yang plural tersebut. Keunikan/kekhasan tersebut adalah bahwa Gereja/Kristianitas mengamini adanya revelasi diri Alah dalam sejarah, yang hadir dalam diri Yesus Kristus. Lewat sengsara, wafat, dan kebangkitanNya, Yesus lantas memberikan janji dan harapan akan kepenuhan keselamatan dalam diri manusia. Selain itu, secara amat menarik, Gereja/umat Kristen mengungkapkan pengalaman imannya kepada Allah mendekatkan diri pada mereka dalam komunikasi dan cinta, dan bukannya kepada Allah yang transenden, yang jauh dan tak terjangkau manusia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s