KEJAHATAN DALAM BINGKAI KODRAT MANUSIA MENURUT MENCIUS


Pengantar dan permasalahan

Kejahatan merupakan realitas yang tak terelakkan dalam sejarah hidup manusia. Mulai dari tindak kejahatan yang pertama kali tercatat dalam sejarah manusia, yakni penumpahan darah Habel oleh Kain, sampai dengan sekarang, kejahatan tak henti-hentinya menampilkan diri dalam wujud yang amat mengerikan. Ingat saja tragedi kemanusiaan yang menimpa bangsa kita sepuluh tahun yang lalu, tepatnya Mei 1998, dimana etnis Cina menjadi korban kekerasan rasial dari massa yang brutal. Puncak dari kekerasan itu adalah pembunuhan, pembantaian, penjarahan, dan pemerkosaan terhadap etnis Cina tersebut. Atau, ingat juga beragam bentuk kejahatan yang serasa tiada habisnya melingkupi kehidupan keseharian kita.  Tiap hari, mata dan telinga kita disuguhi berbagai adegan dan modus kejahatan, baik yang diberitakan oleh media-media cetak dan elektronik, maupun peristiwa tindak kejahatan yang kita alami sendiri.

Berpijak pada realitas kejahatan diatas, muncul sebuah pertanyaan mendasar menyangkut hakekat manusia; apakah sedari lahir manusia menyimpan potensi untuk menjadi jahat dalam dirinya?  ataukah sebaliknya, tendensi kejahatan pada manusia hanya merupakan suatu bentuk kegagalan moral yang muncul kemudian, tanpa memiliki kaitan apapun dengan kodrat awal manusia? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi pokok persoalan paper ini. Dalam paper ini, penulis akan memakai ‘kacamata’ pandangan Mencius[1] mengenai kodrat manusia dan analisisnya mengenai tumbuhnya kejahatan dalam diri manusia.

Kodrat manusia adalah baik

Persoalan mengenai apakah kodrat manusia itu baik atau buruk telah menjadi salah satu masalah yang sangat kontroversial dalam filsafat Cina.[2] Sebagai contoh, Gaozi, salah seorang filsuf yang hidup sejaman dengan Mencius, menyatakan bahwa sejatinya kodrat manusia itu tidaklah baik atau buruk, dan oleh karenanya moralitas merupakan sesuatu yang secara artifisial ditambahkan dari luar. Mencius menolak pandangan semacam itu. Baginya, kodrat manusia itu adalah baik. Ia memberi ilustrasi sebagai berikut:

“Seandainya ada orang yang tiba-tiba melihat seorang anak kecil jatuh ke dalam sumur: setiap orang  yang berada dalam situasi semacam itu segera akan merasa ngeri dan pilu, bukan karena  ia ingin terlihat baik di hadapan orangtua si anak kecil itu, bukan karena ia ingin menjadi terkenal diantara tetangga dan teman-temannya, dan bukan pula karena  ia tidak ingin mendengar teriakan si anak keci tersebut.”[3]

Dari ilustrasi tersebut, dapat kita simpulkan bahwa tiap orang tidak akan tahan melihat penderitaan orang lain. Perasaan ngeri dan pilu melihat penderitaan orang lain secara spontan mengalir keluar dari dalam hati setiap manusia, tak peduli bagi seorang kriminal sekalipun. Perasaan semacam itu adalah tanda dari kebaikan yang menjadi kodrat manusia.

Lebih jauh, Mencius berpendapat bahwa manusia memiliki benih-benih keutamaan moral dalam dirinya, yaitu: rasa kemanusiaan, kebajikan, kesopanan, dan kebijaksanaan. Ia menulis demikian:

“Semua manusia memiliki perasaan simpati. Semua manusia memiliki perasan malu dan segan. Semua manusia memiliki perasaan rendah hati. Semua manusia memiliki pembedaan antara baik dan buruk. Perasaan simpati itu adalah kemanusiaan. Perasaan malu dan segan itu adalah kebajikan. Perasaan rendah hati itu adalah kesopanan. Pembedaan antara baik dan buruk itu adalah kebijaksanaan. Kemanusiaan, kebajikan, kesopanan, dan kebijaksanaan tersebut tidaklah berada di luar diri kita. Itu semua sudah menjadi sifat dasar kita.”[4]

Keempat keutamaan moral tersebut adalah kecenderungan alamiah yang dimiliki manusia semenjak ia lahir. Keempat keutamaan moral tersebut tidaklah berasal dari proses eksternal manusia (diajarkan), tetapi merupakan sifat bawaan atau kodrat yang sudah tertanam di dalam hati manusia. Berbekal empat keutamaan moral tersebut, manusia senantiasa digerakkan untuk mengarah kepada kebaikan.

Lebih dari itu, Mencius beranggapan bahwa keempat keutamaan moral tersebut merupakan pembeda utama antara manusia dengan binatang. Meski manusia dan binatang memiliki keserupaan dalam aspek-aspek biologis, tetapi keutamaan moral yang menjadi bagian dari kodrat manusia senantiasa mengarahkan manusia pada tendensi tindakan atau perasaan yang bermuara pada kebaikan, tendensi tersebut jelas berbeda dengan binatang yang hanya mengikuti desakan naluri semata.

Kejahatan: bawaan kodrat atau kesalahan moral?

Telah dikatakan diatas bahwa kodrat manusia adalah baik. Jika demikian, mengapa masih saja ada manusia yang melakukan kejahatan? Berhadapan dengan soal ini, Mencius sendiri mengakui bahwa ada kontradiksi yang cukup tajam antara kodrat manusia dengan tindakan kesehariannya.[5] Dalam hidup kesehariannya, manusia seringkali bertindak mengingkari kodratnya, yakni dengan melakukan beragam perbuatan jahat. Namun, dengan mengakui bahwa tendensi kejahatan melingkupi diri manusia, tidak berarti Mencius dengan serta merta memverifikasi pandangannya. Kodrat manusia tetaplah baik sejak awal. Dengan demikian, kejahatan bukan kesalahan potensial manusia, melainkan akibat dari kesalahan moral manusia.

Lebih jauh, Mencius mengemukakan beberapa argumen tentang kesalahan moral manusia yang menjadi penyebab timbulnya kejahatan, yakni:[6]

Pertama, karena manusia mematikan keutamaan moralnya. Kejahatan yang dilakukan oleh manusia sejatinya terjadi karena manusia mematikan keutaman-keutamaan moral yang ada di dalam dirinya. Secara amat menarik, Mencius menganalogikan keutamaan moral manusia dengan proses pertumbuhan pada tanaman. Seumpama tanaman, keutamaan moral manusia akan mati jika tidak ‘disiram dan dipupuk, dan diberi sinar matahari yang cukup.’ Jika keutamaan moral tersebut telah mati, maka dorongan batin manusia untuk berbuat baik pun menjadi mati atau tumpul, misalnya ia akan cuek saja ketika menjumpai orang yang menderita

Kedua, karena manusia terlalu sibuk pada pemenuhan hasrat-hasrat material (seperti: kekuasaan, harta,  seksualitas, dll). Mencius meyakni bahwa pemuasan hasrast-hasrat material yang berlebihan seringkali menjauhkan manusia pada kecenderungan untuk berbuat baik. Mengapa? karena dalam usaha pemuasan hasrat material tersebut, manusia hanya mencari dan memikirkan apa yang menjadi kepentingan atau kepuasan dirinya sendiri. Kebaikan terhadap orang lain semata-mata diukur berdasarkan skema perbuatan-hasil, yakni: kalau aku melakukan ini/itu kepada orang lain, maka aku berharap akan mendapatkan ini/itu. Malahan, bila hasrat material tersebut begitu membutakan manusia, maka cara-cara kotor (seperti: menipu, membunuh, memerkosa, dsb) pun menjadi sesuatu yang lumrah demi terpenuhinya hasrat tersebut.

Ketiga, karena manusia sengaja berusaha untuk mengingkari kodrat kebaikannya dengan berulangkali melakukan perbuatan jahat yang disadari. Mencius memberi ilustrasi demikian:

“Pada jaman dulu, pohon-pohon di pegunungan kerbau sangatlah indah. Tetapi, ketika penduduk negeri menjadi banyak, orang-orang menebang pohon sehingga pegunungan itu kehilangan keindahannya. Meskipun demikian, alam masih berniat baik untuk mempertahankan keindahannya, adn tanaman pun tumbuh kembali. Tetapi, lagi-lagi orang mengirimkan ternak mereka di pegunungan itu, sehingga pegunungan itu kembali gundul dan kehilangan keindahannya.” [7]

Dari ilustrasi tersebut, Mencius menyatakan bahwa jika seseorang menyangkal kodrat kebaikannya dengan berulangkali melakukan perbuatan jahat, maka pada akhirnya ia akan benar-benar menjadi orang yang jahat. Hal ini bisa dijumpai pada orang-orang yang  menyerahkan hidupnya pada pekerjaan untuk membunuh, merampok, menindas, dsb.  Lebih jauh, Mencius menulis, “Siapapun yang memiliki keutamaan moral dan berkata bahwa ia tidak bisa berbuat kebaikan, artinya ia menyangkal diirnya sendiri.”

Keempat, karena manusia mengalami kelemahan kehendak atau kelemahan dorongan untuk berbuat baik. Sebagai contoh, kita bisa saja memutuskan untuk memberi kasih dan perhatian pada orang lain, tetapi keputusan baik itu lama kelamaan akan luput dari perhatian kita karena kita terlalu lemah untuk mempertahankan keinginan baik kita tersebut. Dengan serta merta keinginan baik tersebut terkikis oleh pikiran, perasaan, dan dorongan dorongan pribadi yang mencari sesuatu yang baik untuk diri sendiri, tidak untuk orang lain.

Pendidikan moral sebagai alternatif  jalan keluar

Kejahatan sebagai realitas yang melingkupi hidup manusia tidak dilihat oleh Mencisu secara naif. Selain mengakui adanya kecenderungan untuk berbuat jahat dalam diri manusia, ia juga menawarkan sebuah jalan keluar untuk mengatasi realitas kejahatan tersebut. Jalan keluarnya adalah melalui pendidikan moral.[8] Kodrat manusia memang baik, tetapi jika tidak diasah dengan pendidikan moral yang baik, maka kodrat kebaikan tersebut akan menjadi kerdil dan tidak memiliki daya pengaruh lagi bagi perbuatan manusia.

Pendidikan moral yang pertama dan utama ada dalam keluarga. Bagi Mencius, keluarga adalah sekolah nilai yang paling dini bagi tiap orang untuk mengembangkan keutamaan moralnya. Keluaraga adalah tempat tiap orang untuk belajar mencintai dan dicintai. Dari persinggungan dengan nilai-nilai moral dan juga pengalaman dicintai inilah tiap orang bisa merepresentasikan kecenderungan kodratinya untuk berbuat baik kepada tiap orang. Mencius menulis:

“…Jika seseorang kehilangan masa kecilnya, maka bisa jadi ia akan kehilangan perasaannya. Dan jika seseorang sampai kehilangan perasaannya, maka kejahatan akan mudah menghampirinya….Karena alasan ini, maka kehidupan masa kecil seseorang di dalam keluarga menjadi sangat penting.”[9]

Lebih jauh, Ia juga menulis:

“Perlakukan dengan penuh hormat orangtua di dalam keluargamu, dan kemudian kembangkan rasa hormat tersebut termasuk kepada orangtua di keluarga-keluarga lain. Perlakukan dengan  lemah-lembut orang muda di dalam keluargamu, dan kemudian kembangkan sikap lemah-lembut tersebut termasuk kepada orang muda di keluarga-keluarga lain.”

Penutup dan relevansi

Telah nyata sekarang bahwa sejatinya realitas kebaikan itu mendahului realitas kejahatan. Mengapa? Sebab, menurut Mencius, kebaikan adalah kodrat (kemampuan bawaan) manusia sedari ia lahir. Sementara, kejahatan adalah akibat langsung dari kesalahan moral manusia yang terjadi kemudian, karena manusia mengingkari kodrat kebaikannya.

Pemahaman semacam ini sangatlah penting dipegang oleh setiap orang, karena hanya dengan mengembangkan kebaikan lah dunia ini akan menjadi tempat yang indah, nyaman, serta layak untuk kita huni dan kita rindukan. Barangkali, nada pernyataan tersebut terdengar terlalu utopis! Namun, dunia yang semacam itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin tercipta jika setiap orang dengan jujur mau untuk mendengar dan mengikuti suara hatinya yang senantiasa mengarahkan pada apa yang baik.

Lebih jauh, senada dengan pandangan Mencius, manusia dalam teologi Kristen dilihat sebagai “citra Allah.” Penamaan  “citra” mengandaikan manusia berpartisipasi dalam ke-subjek-an Allah. Lantas, jika ke-subjek-an Allah itu dimengerti sebagai sumber segala kebaikan dan pencipta segala apa yang baik (bdk. Kej 1), maka sudah selayaknya manusia bertindak seturut dengan citra asalinya.  Kejahatan secara substansial lantas bisa dimengerti sebagai dosa atau pelanggaran karena mengingkari citra penciptaannya.

Disamping itu, harus diakui bahwa kejahatan individu tidak bisa dilepaskan dari tanggung orang-orang yang berada di sekitar individu tersebut. Jika lingkungan di sekitar individu tersebut mengajarkan nilai-nilai yang tidak baik bagi individu, maka individu tersebut pun akan memiliki kecenderungan untuk berbuat tidak baik pula, meskipun pada dasarnya ia memiliki kodrat yang baik. Kodrat tersebut lama-lama terfosilkan akibat pengaruh negatif dariluar individu. Oleh karena itu, menjadi tugas setiap orang, khususnya keluarga, untuk mengembangkan nilai-nilai moral yang benar kepada individu, agar dalam hidupnya ia senantiasa memiliki kecenderungan untuk berbuat baik.

Daftar Pustaka

Ivanhoe, Philip J. and Bryan W. Van Norden. Reading In Classical Chinese Philosophy. New York: Seven Bridges Press, 2001

Legge, James. The Works of Mencius. New York: Dover Publications, Inc, 1970

Liu, JeeLoo. An Introdustion to Chinese Philosophy. UK: Blackwell Publishing Ltd, 2006.

Yu-Lan, Fung. Sejarah Filsafat Cina, terj. John Renaldi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007


[1] Mencius hidup pada abad ke-4 SM,  lebih dari 100 tahun setelah kematian Confuisus. Ia menjadi filsuf kedua yang terpandang dalam tradisi Confusianisme. Sepanjang hidupnya, Mencius mengembangkan gagasan-gagasan Confuisus. Dan, sama seperti Confuisus, ia memusatkan diri pada dua aspek pembentukan moral, yakni: bagaimana menjadi orang yang taat hukum dan bagaimana menjadi orang yang baik. (Bdk. JeeLoo Liu, An Introdustion to Chinese Philosophy, UK: Blackwell Publishing Ltd, 2006, hlm. 65).

[2] Bdk. Fung Yu-Lan, Sejarah Filsafat Cina, (Judul Asli: Short History of Chinese Philosophy), diterjemahkan oleh John Renaldi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 88.

[3] Philip J. Ivanhoe and Bryan W. Van Norden, Reading In Classical Chinese Philosophy, (New York: Seven Bridges Press, 2001), hlm. 125.

[4] JeeLoo Liu, Op. Cit., hlm. 75.

[5] Bdk. James Legge, The Works of Mencius, (New York: Dover Publications, Inc, 1970),  hlm. 65.

[6] Bdk. JeeLoo Liu, Op. Cit., hlm. 78-79.

[7] Philip J. Ivanhoe and Bryan W. Van Norden, Op. Cit., hlm. 145.

[8] JeeLoo Liu, Op. Cit., hlm. 80.

[9] Philip J. Ivanhoe and Bryan W. Van Norden, Op. Cit., hlm. 118.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s