KARL JASPERS


I. Pengantar

Dunia filsafat seakan tidak pernah habis menelorkan manusia-manusia  yang haus akan ide-ide atau gagasan. Bagi mereka, hidup adalah berpikir dan tidak pernah berhenti untuk mencari jawab, bertanya. Tak pelak, kehadiran mereka pun memberi warna tersendiri bagi perkembangan alam pemikiran dan tatanan manusiawi yang ada. Adalah Karl Jaspers, salah seorang fisuf barat modern, yang turut memperkaya semesta filsafat dengan pemikirannya mengenai  filsafat eksistensi. Di bawah ini akan dipaparkan siapa itu Karl Jaspers? Apa saja pokok-pokok pikirannya? Dan Bagaimana relevansi pemikiran filsafatnya dalam jaman sekarang?

II.  Riwayat Hidup

Karl Jaspers lahir di   Oldenburg, Jerman Utara, 23 Pebruari 1883, sebagai anak sulung Carl Wilhelm Jaspers dan Henriette Tantzen. Ayahnya seorang ahli hukum, yang bekerja antara lain sebagai  direktur bank dan pemimpin dewan kota. Jaspers bersekolah di Gymnasium Oldenburg, dari tahun 1892 sampai tahun 1902. Ia tidak senang di sekolah itu, karena semua murid dipaksa untuk masuk organisai-organisasi siswa dengan struktur  yang hirarkis, dan kondisi kesehatannya pun tidak memungkinkannya untuk banyak beraktifitas – seumur hidup ia menderita penyakit paru-paru dan kelemahan jantung. Selepas mengenyam pendidikan di Gymnasium, Jaspers memutuskan untuk belajar hukum di universitas Heidelberg, tetapi kemudian ia belajar kedokteran di Munchen. Sebagai spesialisasi ia memilih  psikiatri. Studi Jaspers mengenai  psikiatri Allgemeine Psychopathologie, menjadi buku pegangan  klasik yang masih tetap dipakai.

Mula-mula Jaspers bekerja sebagai psikiatri  di universitas Heidelberg, dari tahun 1909 sampai tahun 1915. Melalui prakteknya sebagai psikiater, Jaspers makin tertarik dengan masalah-masalah psikologi dan filosofis. Akhirnya, pada tahun 1961 ia diangkat menjadi dosen untuk psikologi, dan pada tahun 1921 ia menjadi guru besar untuk filsafat di universitas yang sama. Dalam periode ini Jaspers menjadi  teman seorang tokoh filsafat eksistensi di Jerman, yaitu Martin Heidegger (1889-1976). Persahabatan mereka berakhir ketika kaum Nazi merebut kekuasaan politik, karena Jaspers melawan Nazisme, sedangkan Heidegger mendukung Hitler. Tahun 1937, Jaspers dipecat oleh kaum Nazi dan  setahun kemudian ia juga dikenai larangan publikasi.

Setelah Perang Dunia kedua, Jaspers mengalami jaman keemasannya. Ia diangkat  kembali menjadi guru besar dan senator universitas. Tahun 1948 ia menerima undangan untuk pindah ke  universitas Basel di Swiss. Beberapa tahun kemudian ia menjadi warga negara Swiss. Pada akhir hidupnya, Jaspers mengarang mengenai masalah-masalah pereang dan damai, masalah-masalah politik, dan tentang suatu  “iman filosofis”  yang  harus merupakan lapangan diskusi dalam usaha untuk mengatasi perbedaan-perbedaan antara agama-agama . Juga usaha Jaspers untuk mengarang suatu “sejarah filsafat seluruh dunia” yang dimaksudkan sebagai sumbangan untuk mempermudah  komunikasi antara kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Jaspers meninggal di Basel, tahun 1969.

III. Pokok-Pokok pikiran

a. Filsafat Eksistensi. Menurut Jaspers tugas filsafat itu: mencari jawaban atas pertanyaan mengenai makna hidup, serta mencari kejelasan mengenai cara hidup yang harus dipilih. Dalam bagian pertama tulisan Philosophie yang berjudul “Orientasi mengenai dunia,” dijelaskan bahwa kita tidak akan memperoleh keterangan mengenai makna hidup melalui “jalan pengetahuan,” kendatipun jalan ini sudah disempurnakan dalam ilmu-ilmu. Jawaban harus dicari dalam sesuatu yang oleh Jaspers disebut Existenzerhellung, “penerangan eksistensi.”

Apa itu “eksistensi”? Jaspers berkata bahwa apa yang dalam bahasa mitis disebut “jiwa” dan “Allah,” dalam filsafat disebut “eksistensi” dan “transendensi.” Manusia ada di dunia, tetapi “adanya” (Dasein) itu belum merupakan “eksistensi.” “Adanya” manusia termasuk bidang empiris, tertangkap dalam waktu. Sebagai Dasein kita akan meninggal. Tetapi “eksistensi” kita bersifat “kemungkinan.” Eksistensi itu  suatu panggilan untuk  mengisi karunia kebebasan kita. Dalam waktu manusia harus memutuskan bagaimana ia mau men jadi secara abadi.

Ada banyak hal yang tidak kita ketahui. Ketidaktahuan ini memaksa kita untuk mengambil keputusan-keputusan. Dalam keputusan-keputusan ini saya menjadi seorang pribadi, dan saya menentukan bentuk abadi saya. Melalui keputusan-keputusannya, manusia menciptakan eksistensinya. Itu  terjadi bersama ornag lain. Tema “komunikasi” memainkan peranan  yang amat penting bagi Jaspers. Keinginan untuk berkomunikasi dengan sesama menjadi alasan mengapa ia mulai berfilsafat.

b. Situasi-Situasi perbatasan. Adanya manusia selalu ditentukan oleh situasi-situasi konkret. Demikian juga eksistensi manusia selalu “nampak” dalam situasi-situasi tertentu. Situasi-situasi, dimana manusia menemukan diri sebagai “eksistensi,” disebut Jaspers “situasi-situasi perbatasan.” Dalam konfrontasi dengan kematian, penderitaan, perjuangan serta dalam kesalahan kita  merasa betapa fana hidup kita. Situasi-situasi perbatasan memperlihatkan bahwa hidup kita dan dunia kita tidak merupakan kenyataan terakhir, bahwa ada sesuatu yang lebih  besar, sesuatu  yang “memuat” kita dan “membawa” kita. Semakin kita sadar akan batas-batas hidup, dunia, dan pengetahuan kita, semakin jelas juga bahwa ada sesuatu di seberang batas-batas ini. “Yang di seberang semua batas” oleh Jaspers disebut “transendensi” atau “keilahian.” Ia tidak mau memakai nama “Allah.” Katanya, nama “Allah” atau “Tuhan” hanya merupakan suatu simbol untuk keilahian di belakang semua nama dan konsep. Keilahian selalu berbicara melalui simbol-simbol tertentu. Jaspers memakai istilah chiffer untuk simbol-simbol ini. Chiffer berasal dari kata Arab sifr, yang merupakan terjemahan kata Sansekerta sunya, “kekosongan.” Chiffer-chiffer itu simbol-simbol tanpa isi, tanda-tanda yang   ditulis oleh keilahian dan  yang harus diisi oleh manusia sendiri. Iman kita mendapat artinya melalui cara hidup kita.

c. Bahasa Chiffer-Chiffer. Bahasa chifer-chifer menjadi penengah antara eksistensi dan transendensi. Keilaihan itu tetap tersembunyi, tetapi manusia dapat “membaca” bahasa yang “ditulis” oleh keilaian, sejauh ia menjadi eksistensi. Artimya: sejauh ia mengisi kebebasannya. Manusia bebas karena Allah “menyambunyikan Diri.” Jaspers tidak percaya bahwa wahyu ilahi terbatas pada satu periode tertentu dalam sejarah. Menurut dia, segala sesuatu dapat merupakan wahyu. Segala sesuatu dapat menjadi chiffer, artinya: menjadi “bayang,” “gema,” atau “jejak” dari transendensi. Segala sesuatu dapat menjadi tembus cahaya, bening, jernih. Itu berlaku untuk alam, sejarah, kesusastraan , seni, kitab suci, filsafat, mistik, dan teologi. Namun, chifer-chifer berbicara paling kuat dalam situasi-situasi perbatasan.

d. Allah dan Agama. Jaspers yang menderita banyak dari kekacauan ideologis dan politik, dari prasangka-prasangka berdasarkan perbedaan-perbedaan agama, suku, dan kebudayaan, mengharap bahwa kita berhasil menciptakan suatu dasar yang kuat bagi kedamaian yang mantap. Untuk itu dibutuhkan komunikasi universal. Ia sendiri mulai menyusun “sejarah filsafat universal”-nya sebagai persiapan dialoig universal yang dibutuhkan. Dalam rangka itu, Jaspers juga menerbitkan dua buku mengenai “agama falsafi” sebagai dasar religius umum, yang mengatasi semua perbedaan agama-agama besar.

Allah tetap berbeda dari segala sesuatu yang dikatakan manusia mengenai Dia. Kalau kita semua mengakui hal itu, kalau disadari bahwa semua dogmatik harus dikembalikan kepad status chiffer, atau kepada ”bahasa simbolis,” maka dapat dimulai suatu dialog yang subur dna yang sangat dibutuhkan. Isi “iman falsafi” yang universal itu sama untuk semua jaman dan untuk kebanyakan kebudayaan. Antara lain diajar secara universal bahwa Allah ada, bahwa manusia harus memilih yang baik secara tak bersyarat, bahwa dunia tidak merupakan kenyataan terakhir, dan bahwa bahasa cinta kasih sudah memberikan makan pada segala sesuatu.

e. Di Seberang Semua Chiffer. Menurut Jaspers, dua kali dalam sejarah bangsa manusia diperlihatkan apa yang terjadi kalau manusia mencoba untuk mencapai kenyataan ilahi di seberang semua chiffer. Contoh pertama adalah candi borobudur, sedangkan yang kedua adalah pemikiran mistikus Eckhart(1260-1327). Baik borobudur maupun mistik Eckhart memperlihatkan bagaimana sesudah semua gambaran, simbol, perkataan dan pikiran ditinggalkan, akhirnya hanya masif tertinggal kesunyian. Jiwa manusia menjadi kosong. Semua taraf kesadaran dilewati dan ditinggalkan, dan justru itu merupakan persiapan optimal untuk bertemu dengan keilahian. Semua simbol harus ditinggalkan, seperti dikatakan Agustinus, cahaya kecil (akal kita) harus dimatikan supaya tidak menggangu lagi Cahaya Besar.

IV. Relevansi pemikiran filsafat Karl Jaspers dalam kehidupan jaman sekarang

Tujuan filsafat Jaspers adalah mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Manusia yang bagaimana? Manusia yang tahu akan makna hidupnya dan yang punya cara hidup yang jelas. Berkaca pada cermin realitas jaman sekarang, pemikiran Karl Jaspers seakan-akan menjadi “barang antik” yang amat mahal harganya – dengan demikian, hanya sedikit orang yang bisa “membeli”nya. Saya katakan barang antik karena realitas manusia jaman sekarang menunjukkan kemunduran dari apa yang telah dipikirkan oleh Karl Jaspers. Sebut saja, budaya anut grubyuk yang banyak melanda kaum muda jaman sekarang. Bagi mereka yang penting dalam hidup adalah trend, bisa gaul dan kongkow-kongkow sama teman, tak peduli apakah  “cara hidup” yang mereka anut bermanfaat bagi mereka atau tidak – yang penting asyik. Pemikiran Karl Jaspers mau tidak mau menjadi semacam kritik (dan barangkali pedoman bertindak) bagi kita – manusia-manusia jaman sekarang – untuk berbenah diri menjadi manusia yang seutuhnya dan sebenarnya.

Disamping itu, pemikiran lain Karl Jaspers mengenai Allah dan agama bisa menjadi mata air segar bagi kekacauan hubungan antaragama di negara kita. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini agama di Indonesia telah menjadi semacam bom waktu (konflik) yang bisa meledak sewaktu-waktu. Manusia beragama di Indonesia hanya mementingkan ibadah agama secara formal dan (hanya) mencari perbedaan-perbedaan agama yang ada. Malahan, esensi agama (yang pastinya baik dan benar) dinafikan oleh mereka. Hal ini pun juga pernah terjadi dalam pengalaman hidup Karl Jaspers. Dan, pemikiran Jaspers mengenai “agama falsafi” yang mengatasi perbedaan-perbedaan agama yang ada bisa menjadi titik tolak berpikir kita dalam membina hubungan baik antaragama di Indonesia.

Daftar Pustaka:

  1. Hamersa, Harry., Filsafat Eksistensi KARL JASPERS, Jakarta: Gramedia, 1985.
  2. Hamersa, Harry., Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, 1986.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s