Kaum Awam dalam KHK (225-230)


CATATAN PEMBUKA: KAUM AWAM SEBAGAI SUBJEK GEREJA

Konsili Vatikan II menegaskan arti penting mengenai Gereja. Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus (LG 7). Kepala tubuh itu ialah Kristus. Anggota-anggotanya ialah tiap orang beriman yang disatukan berkat pembaptisan. Lewat baptis, tiap orang beriman dihimpun menjadi satu tubuh dalam Kristus (bdk. 1 Kor 12:12). Sebagai satu tubuh, ciri hakiki hidup Gereja adalah persekutuan, dan bukan perbedaan. Secara teologis, persekutuan itu merupakan buah dari penebusan Kristus di salib (bdk. Ef 2:11-22). Secara eklesiologis, persekutuan itulah yang menjadi tali pengikat di antara keaneka-ragaman anggota, kharisma, dan jabatan dalam Gereja. Di dalam Gereja, keanekaragaman anggota tubuh Kristus itu secara nyata mewujud dalam apa yang disebut sebagai hierarki dan kaum awam.

Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium art. 31 mendefinisikan kaum awam sebagai orang beriman kristiani, kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Ciri khas dan istimewa kaum awam adalah sifat keduniaanya. Berbeda dengan golongan imam atau pun religius, kaum awam mengejawantakan seluruh hidupnya dalam dunia. Mereka hidup dalam dunia, artinya: menjalankan segala tugas dan pekerjaan duniawi, dan berada di tengah kenyataan biasa hidup berkeluarga dan sosial. Dunia, dengan demikian, menjadi tempat yang pertama dan utama bagi kaum awam untuk memenuhi panggilannya sebagai pengikut Kristus.

Subjek Gereja. Pintu pertama untuk masuk ke dalam kehidupan kristen adalah baptis. Pembaptisan menjadikan orang beriman sebagai ciptaan baru (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (KGK 265). Rahmat pembaptisan itulah yang menjadikan tiap orang beriman memiliki martabat yang sederajat di dalam Kristus. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Baik itu imam, kaum religius, atau pun kaum awam, semuanya adalah “kawanan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah” (Ef 2:19). Lebih jauh, dalam Kan. 96 dinyatakan bahwa “Dengan baptis, seseorang digabungkan pada Gereja Kristus dan menjadi persona di dalamnya, dengan tugas-tugas dan hak-hak yang khas bagi orang kristiani menurut kedudukan masing-masing…”. Baptis, dengan demikian, memasukkan dan memapukan kaum awam menjadi subjek Gereja. Di dalam Gereja, kaum awam berhak menerima harta-harta rohani yang mereka perlukan, misalnya: sakramen-sakramen, Sabda Allah, dan bantuan rohani Gereja lainnya (bdk. KGK 1269). Sementara itu, berkat rahmat pembaptisannya,  kaum awam pun diundang untuk mengambil bagian dalam imamat Kristus, yakni sebagai imam, nabi, dan raja, menurut cara hidup dan karakter mereka yang khas.[1]

Uraian tentang tugas/kewajiban dan hak-hak kaum awam secara eksplisit diatur dalam Kitab Hukum Kanonik, khususnya dalam kanon 225-231. Dalam tulisan ini, uraian tentang tugas/kewajiban dan hak kaum awam itu akan di dalami satu persatu sambil juga di dialogkan dengan kanon atau dokumen Gerejani yang lain.

 

KEWAJIBAN KAUM AWAM

Pewartaan Injil (kan. 225 § 1). Perintah untuk mewartakan Injil merupakan amanat agung yang diterima oleh Gereja dari Yesus sendiri (Mat 28: 18-20). Bagi Gereja, amanat agung itu merefleksikan jati dirinya yang terdalam (bdk. EN 14). Sebab, dari pewartaan Injil Yesuslah, Gereja lahir. Dengan mewartakan Injil, Gereja meneruskan karya-karya keselamatan dan menuturkan kabar baik tentang Kerajaan Allah yang telah dimulai oleh Yesus. Tiap orang beriman yang telah dibaptis, dan terlebih telah menerima penguatan, mengemban tanggung-jawab yang tak terelakkan untuk mewartakan Injil. Karena itu, ‹‹kaum awam terikat kewajiban umum untuk mengusahakan agar warta ilahi keselamatan dikenal di seluruh dunia››.

Sesuai dengan karakter keduniaanya, kaum awam dipanggil untuk mewartakan Injil dalam bentuk dan cara hidup mereka yang khas. Paus Paulus VI, dalam Anjuran ApostolikPaus Paulus VI, Evangelium Nuntiandi art. 70 mencatat-bidang-bidang khas yang menjadi tanggung jawab pewartaan bagi kaum awam:

“Bidang yang khusus bagi mereka (kaum awam – red.) untuk mewartakan Injil ialah dunia politik, masyarakat dan perekonomian, yang luas dan penuh masalah, tetapi juga dunia kebudayaan, ilmu-pengetahuan dan kesenian, kehidupan internasional, media komunikasi sosial. Termasuk juga kenyataan-kenyataa lain yang terbuka bagi evangelisasi, misalnya cintakasih manusiawi, keluarga, pendidikan anak-anak dan kaum remaja, kerja profesional, penderitaan”.

Sementara itu, ‹‹kewajiban (pewartaaan Injil – red.) itu semakin mendesak dalam keadaan-keadaan di mana Injil tidak dapat didengarkan dan Kristus tidak dapat dikenal selain lewat mereka››. Secara lebih tegas, hal tersebut dinyatakan dalam Kan 766 : “kaum awam dapat diperkenankan untuk berkotbah di dalam gereja atau ruang doa, jika dalam situasi tertentu kebutuhan menuntutnya atau dalam kasus-kasus khusus manfaat menganjurkannya demikian”. Perlu diperhatikan di sini bahwa yang diperkenankan oleh kanon adalah berkotbah (dalam pelayanan sabda), dan bukan homili. Sebab, homili, yang termasuk bagian dari liturgi, direservasi bagi imam atau diakon (bdk. Kan 767 § 1). Lebih dari itu, dalam pewartaannya, kaum awam perlu untuk menjadi saksi-saksi warta Injili dengan perkataan dan teladan hidup Kristiani (bdk. Kan 759). Dengan cara itulah, kaum awam memperdengarkan Injil dan mengenalkan Kristus secara lebih berdaya-guna bagi orang-orang di sekitar mereka.

Kesaksian Hidup (kan. 225 § 2). Injil terutama harus diwartakan lewat kesaksian (EN 21). Apa yang diwartakan lewat kata-kata, itu juga yang harus dihayati dan diejawantahkan lewat sikap dan tindakan dalam hidup keseharian. Melalui kesaksian hidup, tiap orang beriman, secara diam-diam dan tanpa banyak kata, sesungguhnya telah mewartakan Injil kepada tiap orang, dan pewartaan semacam itu pengaruhnya besar lagi efektif. Bagi kaum awam, pewartaan Injil lewat kesaksian hidup menjadi begitu mendesak lantaran mereka secara langsung hidup di tengah dunia dan memiliki kesempatan yang besar untuk berjumpa serta berelasi dengan banyak orang. Karena itu, ‹‹kaum awam terikat kewajiban khusus untuk meresapi dan menyempurnakan dunia dengan semangat injili; dengan memenuhi tugas-tugas keduniaan, mereka memberi kesaksian tentang Kristus››.

Hidup Keluarga (kan. 226). ‹‹Mereka yang hidup dalam status perkawinan terikat kewajiban khusus untuk berusaha membangun umat Allah melalui perkawinan dan keluarga§1››. Perkawinan kristiani bukan sekadar ikatan cinta manusiawi semata, melainkan juga sebuah ikatan cinta ilahi. GS 48 menegaskan bahwa Allah sendirilah Pencipta perkawinan. Di dalam Allah-lah, hidup perkawinan menemukan nilai dan tujuannya yang sempurna. Melalui sakramen perkawinan, Allah tinggal beserta dan di tengah keluarga. Ia menampung, memperkaya, dan meneguhkan cinta kasih suami-istri agar diteguhkan dalam tugas yang luhur sebagai ayah dan ibu. Karena itu, melalui perkawinan, pasangan suami-istri menghadirkan sebuah Gereja kecil yang hidup, yakni Gereja-keluarga, di dalam kehidupan khas mereka. Dengan menghayati diri sebagai Gereja-keluarga, mereka menampakkan kehadiran Allah kepada semua orang, terutama lewat cinta kasih suami-istri, kesuburan yang dijiwai semangat berkorban, kesatuan dan kesetiaan, dan kerja sama yang penuh kasih di antara semua anggota keluarga.

Menurut hakekatnya, perkawinan dan cinta kasih suami-istri tertuju pada adanya keturunan serta pendidikan (GS 50). Karena itu, ‹‹orangtua terikat kewajiban sangat berat dan mempunyai hak untuk mendidik anak-anaknya; maka tugas pertama orangtua adalah mengusahakan pendidikan kristiani bagi anak-anak menurut ajaran yang diwariskan Gereja§ 2›. Kewajiban dan hak mendidik anak ini tidak bisa diganggu-gugat. Dalam Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio art. 36 dikatakan demikian:

“Hak maupun kewajiban orangtua untuk mendidik bersifat hakiki, karena berkaitan dengan penyaluran hidup manusiawi. Selain itu bersifat asali dan utama terhadap peran serta orang-orang lain dalam pendidikan, karena keistimewaan hubungan cinta kasih antara orangtua dan anak-anak. Lagi pula tidak tergantikan dan tidak dapat diambil alih, dan karena itu tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada orang-orang lain atau direbut oleh mereka”.

Dapat dikatakan bahwa keluarga adalah “sekolah pertama” bagi anak-anak, dan dengan demikian, orangtua adalah pendidik mereka yang pertama dan utama. Di dalam keluarga, orangtua wajib untuk mengajarkan keutamaan-keutaman yang diperlukan dalam hidup sosial kepada anak. Selain itu, yang terutama dalam keluarga kristen, anak-anak sedari dini harus diajar mengenal Allah serta berbakti kepada-Nya dan mengasihi sesama. Dari situ, anak-anak akan menemukan pengalaman pertama tentang masyarakat manusia dan Gereja, dan lambat laun belajar untuk menyatukan diri di dalamnya (lih. GE 3). Dengan cara itulah, orangtua aktif mengambil bagian dalam kehidupan manusiawi dan kemajuan umat Allah.

 

HAK KAUM AWAM

Jabatan Gerejawi (kan. 228). ‹‹Orang-orang awam yang diketahui cakap, berkemampuan untuk diangkat oleh Gembala suci untuk mengemban jabatan-jabatan dan tugas-tugas gerejawi››. Selain itu, ‹‹orang-orang awam yang unggul dalam pengetahuan, kearifan, dan integritas hidup, dapat berperan sebagai ahli-ahli atau penasihat, juga dalam dewan-dewan menurut norma hukum, untuk membantu para Gembala Gereja››.Pernyataan kanon ini secara langsung menunjukkan hubungan kemitraan antara kaum awam dengan para gembala Gereja. kemitraan tersebut merefleksikan adanya kurnia Roh Kudus yang menghiasi dan membangun Gereja. Sebagaimana ditegaskan dalam Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium art. 12:

“Dari kalangan umat dari segala lapisan, Ia (Roh Kudus – red.) membagi-bagikan rahmat-rahmat istimewa yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya, menurut ayat berikut: ‘Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama (1Kor 12:7)”.

Jabatan gerejawi adalah setiap tugas yang diadakan secara tetap oleh penetapan, baik ilahi maupun gerejawi, yang harus dilaksanakan untuk tujuan spiritual (Kan. 145§ 1). Kanon menyebut dua prinsip utama dalam pemberian jabatan gerejawi: [1] orang itu harus berada dalam persekutuan Gereja; [2] cakap, artinya mempunyai kualitas yang dituntut untuk jabatan yang akan ia emban (kan. 149 § 1). Tiap orang beriman yang memenuhi kualifikasi itu dapat menerima jabatan gerejawi dari otoritas yang berwenang. Hanya saja, untuk jabatan yang membawa-serta pemeliharaan penuh terhadap jiwa-jiwa (mis: pelayan sakramen), tidak bisa diberikan kepada orang awam, melainkan hanya kepada mereka yang tertahbis (bdk. Kan. 150).

Lantas, jabatan dan tugas apa saja yang bisa diberikan kepada kaum awam? Diantaranya adalah sebagai hakim pengadilan gerejani (kan. 1428 § 2); notarius dalam pengadilan gerejawi (kan. 1437); auditor – pengumpul bukti-bukti perkara pengadilan gerejani (kan. 1428 § 2); kanselir kuria diosesan – pengatur, pembuat, dan pemelihara akta kuria (kan. 482); notarius-notarius – penyusun akta dan instrumen mengenai dekret/peraturan/kewajiban/hal lain (kan. 483); ekonom – pengelola harta benda keuskupan (kan. 494); reksa pastoral paroki (kan. 517 § 2); moderator untuk serikat-serikat publik kristiani; asesor – peninjau dalam peradilan gerejani (kan. 1424); defensor vinculi – pemeriksa akta peradilan gerejani (kan. 1433-1435); peneguh nikah (kan. 1112); atau dewan pastoral – pemberi suara konsultatif untuk reksa pastoral (512 § 1).

Pendidikan Tentang Ajaran Kristiani (kan 229). Kepada Gereja, Kristus mempercayakan khazanah iman agar Gereja menjaga tanpa cela kebenaran yang diwahyukan, menyelidikinya secara lebih mendalam, mewartakan dan menjelaskannya dengan setia (lih. Kan. 747 § 1). Khazanah iman kristiani itu sendiri sangatlah kaya. Sebab dibangun atas tiga pondasi utama, yakni Kitab Suci, Tradisi, dan Ajaran Magisterium. Kekayaan khazanah iman ini tidak hanya diperuntukkan bagi para gembala Gereja, melainkan juga bagi seluruh umat beriman. Karena itu, ‹‹orang-orang awam mempunyai hak untuk memperoleh pengetahuan tentang ajaran kristiani, agar mampu hidup menurut ajaran itu dan mewartakannya sendiri, dan jika perlu, membelanya, lagi pula agar dapat menjalankan perannya dalam merasul§ 1››.

Lebih jauh, ‹‹mereka (kaum awam – red.) juga mempunyai hak untuk memperoleh pengetahuan yang lebih penuh dalam ilmu-ilmu suci yang diberikan di universitas atau fakultas gerejawi atau lembaga keagamaan, dengan mengikuti kuliah-kuliah dan meraih gelar akademis§ 2››. Pada fakultas-fakultas gerejawi inilah Perwahyuan kudus didalami, kebijaksanaan kristen warisan para leluhur dibuka lebar, relasi dengan saudara-saudari yang terpisah dan dengan umat beragama lain didialogkan, juga masalah-persoalan yang timbul dari kemajuan ilmu-pengetahuan dijawabi dalam kerangka iman dan moral (bdk. GE 11).

Selain itu, ‹‹mereka (kaum awam – red.) juga dapat menerima mandat untuk mengajar ilmu-ilmu suci dari otoritas legitim gerejawi§ 3››. Mengapa harus ada mandat dari otoritas legitim gerejawi? Sebab, tugas mengajar dalam Gereja sebenarnya ada di pundak otoritas legitim gerejawi, dalam hal ini uskup. Tugas mengajar itu menjadi hak uskup. Jadi, perlu ada pelimpahan wewenang agar hak itu diberikan juga kepada orang lain, yang dalam hal ini adalah kaum awam.

Pelayanan Liturgi (kan 230-231). Konstitusi Liturgi, Sacrosanctum Concilium art. 14 menandaskan agar tiap orang beriman di bimbing ke arah keikutsertaan yang sepenuhnya dalam perayaan-perayaan liturgi. Keikut-sertaan itu mengalir dari rahmat pembaptisan yang menjadikan setiap umat beriman mengambil bagian dalam imamat Kristus. Pelayan utama dari liturgi Gereja memang adalah seorang tertahbis. Namun, berkat imamat umum yang diterima dalam pembaptisan, kaum awam juga dapat mengambil bagian dalam perayaan-perayaan liturgi Gereja. Misalnya, ‹‹orang awam pria dapat diangkat secara tetap untuk menjalankan pelayanan sebagai lektor dan akolit dengan ritus liturgi yang ditentukan; Gereja tidak memberikan hak atas sustensi atau imbalan atas pemberian tugas tersebut§ 1››.Dengan diangkat menjadi lektor, maka seorang awam memiliki tugas dalam pelayanan sabda, menghidupkan liturgi, dan mempersiapkan orang-orang untuk menerima sakramen. Sedangkan, dengan diangkat menjadi akolit, seorang awam bertugas dalam pelayanan di altar dan pembagian komuni, dan berdasarkan kan. 943, dalam situasi khusus juga dapat menjadi pelayan istimewa untuk menahtahkan Sakramen Mahakudus tanpa berkat sakramen. Di Indonesia, pelayanan akolit ini biasa disebut sebagai prodiakon/asisten imam. Hak untuk pengangkatan mereka ada di tangan uskup. Perlu juga diingat bahwa pengangkatan lektor dan akolit di dalam Gereja bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan sebuah pelayanan demi pembangunan umat Allah. Sebagai sebuah pelayanan, maka orientasinya adalah cinta kasih, dan bukannya pencarian bentuk-bentuk material demi kepentingan pribadi.

Selain itu, ‹‹dengan penugasan sementara, orang-orang awam dapat menunaikan tugas lektor dalam kegiatan-kegiatan liturgis, demikian pula semua orang beriman dapat menunaikan tugas komentator, penyanyi, atau tugas-tugas lain menurut norma hukum§ 2››. Selain yang telah disebutkan, tugas-tugas lain yang bisa dipercayakan kepada kaum awam dalam perayaan liturgi adalah: misdinar, pemazmur, organis, koor dan dirigen, pembaca doa umat, petugas kolekte, atau  juga petugas persembahan.

Semetara itu, hukum Gereja juga memberi kemungkinan ‹‹bila kebutuhan Gereja memintanya karena kekurangan pelayan, kaum awam, meskipun bukan lektor atau akolit, dapat menjalankan beberapa tugas, yakni melakukan pelayanan sabda, memimpin doa-doa liturgis, menerimakan baptis dan membagikan Komuni Suci, menurut ketentuan-ketentuan hukum§ 3››.Perlu diingat bahwa penerapan kanon ini hanya dimungkinkan dalam situasi-situasi khusus dan mendesak. Misalnya, dalam bahaya maut atau di daerah pedalaman yang sukar dijangkau oleh imam atau tenaga pastoral legitim lainnya. Dalam situasi semacam itu, setiap orang beriman (yang dianggap layak) dapat membagikan pula harta kekayaan rohani Gereja kepada umat beriman lain.

 

CATATAN PENUTUP: KERJASAMA AWAM-HIERARKI

Kehadiran dan karya kaum awam di dalam Gereja tidak bisa dipandang sebelah mata. Melalui karakter keduniaan mereka, mereka menjadi saksi-saksi utama Kristus di tengah dunia. Sementara itu, di dalam Gereja, mereka juga turut meyumbang dan membangun pertumbuhan Gereja lewat karya pelayanan yang mereka lakukan. Penghargaan terhadap hidup dan karya kaum awam dinyatakan secara tegas dalam Dekrit Ad Gentes art. 21: “Gereja tidak sungguh-sungguh didirikan, tidak hidup sepenuhnya, dan bukan tanda Kristus yang sempurna di tengah masyarakat, selama bersama Hierarki tidak ada dan tidak berkarya kaum awam yang sejati. Sebab Injil tidak dapat meresapi sifat-perangai, kehidupan dan jerih-payah suatu bangsa secara mendalam tanpa kehadiran aktif kaum awam”.

Karena itu, penting bagi hierarki untuk bekerja-sama dengan kaum awam. Di dalam Gereja, keduanya adalah subjek-subjek yang bertanggung-jawab atas kelangsungan hidup dan pertumbuhan Gereja, dengan cara mereka yang khas dan istimewa. Menyitir gagasan George Kirchberger, di dalam Gereja, kaum awam memiliki kekhasan dalam pembangunan ekstern Gereja. sebab, dengan beragam profesi di pelbagai bidang kehidupan yang mereka geluti, merekalah yang bisa meresapkan nilai-nilai Injili  di tengah dunia. Sementara itu, peran gembala Gereja yang menjalankan suatu profesi gerejani dan cara hidup khusus (selibat), secara khusus terlibat dalam pembangunan intern Gereja (bdk. George Kirchberger, 2007, 621).

Sekalipun memiliki karakter khas keduniaan, berkat pembaptisan yang ia terima, kaum awam juga diundang untuk mengerjakan berbagai pelayanan di dalam Gereja, sesuai dengan norma-norma hukum yang berlaku. Karena itu, “Hierarki dapat juga mempercayakan kepada kaum awam berbagai tugas, yang lebih erat berhubungan dengan tugas-tugas para gembala, misalnya di bidang pengajaran kristiani, dalam berbagai upacara liturgi, dalam reksa pastoral” (AA 24). Semuanya ini dilakukan sebagai ungkapan keterlibatan dan kerjasama yang berdaya-guna antara kaum awam dan Hierarki demi kemajuan umat Allah dan petumbuhan Gereja di dunia.

Sumber Rujukan:

Kirchberger, Georg. Allah Menggugat: Sebuah Dogmatik Kristiani. Maumere: Penerbit Ledalero, 2007.

Paulus II, Paus Yohanes. Anjuran Apostolik Familiaris Consortio, terj. R. Hardawiryana, SJ. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2005.

Paulus II, Paus Yohanes. Kitab Hukum Kanonik. Jakarta: Konferensi Waligereja Indonesia, 2006.

Paulus II, Paus Yohanes. Anjuran Apostolik Christi Fideles Laici, diiambil dari http://www.vatican.va/holy_father/john_paul_ii/apost_exhortations/documents/hf_jp-ii_exh_30121988_christifideles-laici_en.html (akses 1 Oktober 2012).

_____. Katekismus Gereja Katolik, terj. Herman Embiru. Ende: Percetakan Arnoldus, 1998.

Vatikan II. Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana (Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI). Jakarta: OBOR, 2002.


[1] Ketika berbicara tentang imamat Kristus, kita tidak bisa memungkiri adanya perbedaan tingkat dan hakekat antara imamat umum kaum beriman awam dengan imamat jabatan para gembala Gereja. Namun, sebagaimana dinyatakan dalam LG 10, keduanya saling terarahkan. Sebab keduanya dengan cara khasnya masing-masing mengambil bagian dalam satu imamat Kristus. Bagi kaum awam, kekhasan pelaksanaan imamat Kristus sebagai imam, nabi, dan raja itu disebutkan dalam Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II, Christifideles Laici art. 14: Sebagai imam, kaum awam diutus untuk membawa segala bentuk kehidupan dan jerih payah mereka sebagai persembahan rohani kepada Kristus. Dengan cara itu, kaum awam turut juga menyucikan dunia pada Tuhan; Sebagai nabi, kaum awam diberi kemampuan dan tanggung jawab untuk menerima Injil dalam iman dan mewartakannya kepada dunia di mana mereka hidup. Kaum awam diutus untuk menjadi saksi Kristus di tengah kehidupan sehari-hari dan sekular mereka; Sebagai raja, kaum awam diutus untuk mengusahakan pelayanan, dalam keadilan dan cinta kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s